
Bab 151. Jurang Afeksi
.
.
.
...πππ...
Widaninggar
Ia masih larut dalam buaian alunan cinta yang di tawarkan oleh Ajisaka. Tangan berotot pria itu terlihat menekan tengkuknya dengan lembut, mempererat pagutan yang semakin menuntut itu.
Wida merasa begitu dicintai.
" Ehhh!" Suara itu bahkan lolos dari bibir Wida. Membuat Aji menyeringai.
"Kau pasti menyukainya bukan?"
CUP
Aji mengecup kening Wida sangat lama usai melepas bibirnya. Entah mengapa jalaran rasa aneh kini menggerayangi diri Aji. Menuntut dan meminta lebih.
Wida benar-benar bisa dan mampu membangkitkan gejolak jiwa lelakinya. Yeah!
Aji mengecup bibir Wida sekilas. Bagian dirinya kini terasa sesak namun ia masih bingung untuk mengatasinya. Lebih sialnya seluruh tubuhnya kini panas.
Damned!
" Mas kenapa?" Wida menatap wajah Aji yang merah dan terlihat gelisah.
Aji kikuk, aduh bagiamana ini " Emmm...tidak ada, hanya saja...." Aji bingung dan malu mau mengungkapkan hal itu.
" Aku antar kamu pulang sekarang ya?" Ucap Aji yang mati-matian menahan gejolak yang kian menyiksa dirinya itu. Pusing tiada banding.
" Aku... enggak mau pulang dulu!" Tukas Wida dengan wajah tertunduk.
Aji mendelik. Jadi maunya gimana? Icikiwir!!!
Wida terkekeh, " Jangan mikir jelek dulu. Aku cuma mau nepatin janji ke mas. Aku mau masak buat mas dirumahnya mas. Besok aku harus ngantar Damar buat daftar ke sekolahnya yang baru, jadi...."
" Oke siap bos. Kita kerumah sekarang!" Potong Aji dengan cepat sebab ia tentu tak mau kehilangan kesempatan langka ini. Berduaan dengan Wida.
Yihaaa!
Pria itu langsung tancap gas dan ngacir. Jelas ini merupakan durian runtuh untuk bagi bujangan itu.
Ahay!!!
.
.
Ajisaka
Pria itu terlihat mendecak kesal bercampur sedikit tertawa ,kala membaca pesan dari para sahabatnya saat ia tengah menunggu Wida merampungkan kegiatan masak memasaknya.
Aji tak membawa Wida menuju rumahnya yang di Kalianyar. Ia membawa Wida kerumahnya yang jarang ia singgahi di kebunnya yang lain. Cari aman saja lah pikirnya.
Aji tidak mau banyak orang yang tahu. Bukan perkara dia yang takut, namun ia baru saja baikan dengan Wida. Tak ingin membuat wanita itu tak nyaman kembali.
Kadang, yang berat itu memang penghakiman dari orang lain.
" Si Anjing tadi di cafe manyun aja tuh bibir, sekarang minggat sama Bu Wida enggak ada pamit lu. Sialan!"
Sakti menggerutu melalui pesan WA nya. Namun alih-alih marah, Sakti malah terkikik geli demi membaca kalimat Sakti.
" Awas bablas lu Ji, giliran enak-enak aja lu enggak ingat kita!" Pesan kedua dari Yudha yang membuatnya terkikik.
" Bos, jangan lupa kunci pintunya. Saya rela pulang numpang mas Sakti ini, demi si bos. Kita tunggu kabar baiknya bos!" Bahkan Sukron juga makin membuat hati berbunga-bunga.
Aji terlihat mengetik sesuatu.
" Aman! Kalau bablas itu namanya rejeki. Partnerku orang berpengalaman coy!" Aji benar-benar terkikik geli demi membaca kalimat yang barusaja ia kirimkan kepada tiga orang tersebut.
" Kamu kenapa mas ketawa-ketawa sendiri?"
Wida telah selesai memasak. Makanan di cafe tadi tak sempat Wida habiskan karena makan dalam suasana terkejut akibat keberadaan Aji, tentu membuatnya sangat kesulitan.
" Oh enggak. Ini si Sukron!" Tukas Aji beralibi.
" Teman-teman mas pasti lagi membicarakan aku ya? Fina juga?" Wida menatap murung ke arah Aji.
" Hey! Mereka tidak seperti itu. Udah jangan mikirin yang enggak perlu. Intinya mereka Yes kok kalau aku sama kamu!" Senyum yang mereka dari wajah ganteng Aji jelas membuat Wida senang.
Tak mengira jika pria itu sungguh memanusiakan wanita seperti dirinya. Terlebih lagi , Aji benar-benar membuat dirinya seolah menjadi wanita yang beruntung.
" Udah ayok makan dulu, ini pasti enak!" Aji menyodorkan piringnya dan meminta Wida untuk mengambilkan masakan.
Wida mengambilkan nasi, cumi saus tiram dan juga beberapa masakan lokal sesuai permintaan Aji.
" Mmmm, tahu nggak Wid..masakan kamu beneran mirip sama masakan mbahku dulu!"
" Rasanya enak banget!"
Wida terkekeh demi melihat cara Aji makan. Pria itu terlihat lahap sekali. Bahkan sampai blepotan.
" Pelan-pelan makanya!" Pinta Wida seraya mengelap bibir Aji yang penuh lelehan saos tiram.
Aji senang dengan perhatian Wida. Oh astaga, begini rasanya punya kekasih?
" Ini rumah siapa yang ngurus mas? Katan mas tadi, rumah ini kan jarang mas datangi!" Tanya Wida memperhatikan Aji yang masih lahap.
" Ada yang ngurus, aku kalau capek habis nunggu pekerja yang panen tidurnya ya disini. Wong ndeso mana mungkin ke hotel. Selain jauh, aku enggak biasa. Kalau gini hitung-hitung bantu orang biar bisa kerja sama aku Wid!"
" Kasihan mereka!" Ucap Aji dengan mulut penuh suapan.
Wida tertegun. Tak menyangka di balik sikap pemarah Aji tersimpan sebuah hal luar biasa yang tak ia ketahui. Pria itu rupanya memiliki jiwa welas asih.
" Kenapa natap aku begitu? Heran ya?" Aji seperti seolah tahu isi pikiran Wida.
" Kok aku ngerasa kamu itu dukun deh mas. Seringnya tahu isi kepalaku loh!" Ucap Wida sembari mengangsurkan segelas air putih kepada pria di depannya itu.
Aji terkekeh, Wida lucu sekali. Oh astaga, ia benar-benar bahagia malam ini. Pria itu terlihat meneguk segelas air putih yang diberikan Wida. Dalam hitungan beberapa kali tegukan saja, gelas itu telah kosong. Tandas tak bersisa.
" Rasanya aku pingin cepet-cepet serumah aja sama kamu Wid. Kenapa enggak dulu-dulu ya kita ketemu!" Aji menyunggingkan senyum, memperhatikan gerakan Wida yang cekatan kala membereskan sisa makan.
Wida berucap sambil berlalu, menuju ke dapur dan terlihat hendak mencuci piring bekas pakai ke wastafel pencucian.
Sebuah spons yang barusan di tuangi cairan pencuci, kini di remas oleh Wida dan mengeluarkan busa yang melimpah, wanita itu benar-benar cekatan dan terlihat luwes meladeni Aji.
Aji berjalan mengikuti Wida lalu melingkarkan tangannya ke perut wanita yang berhasil mencuri hatinya itu.
" Mas!" Wida terperanjat saat sepasang tangan kekar melingkar ke perutnya. Meletakkan dagunya diatas pundak Wida dengan posisi sedikit menunduk.
" Biarkan seperti ini Wid, aku kangen banget sama kamu!" Aji memeluk tubuh Wida dengan posisi Wida masih tekun membilas piring bekas pakainya. Benar-benar manja.
Aji menghirup sisi leher Wida yang wangi.
" Kamu habis keramas ya, wanginya aku suka!" Aji bahkan kini sudah berani menghujani pipi Wida dengan ciumannya.
Wida tak menolak namun sebenarnya sedikit rikuh. Namun, hatinya tak bisa di bohongi. Ia menyukai sentuhan Aji. Apalagi, ia adalah wanita yang sudah familiar dengan hal biologis macam itu.
Wida terlihat mengelap tangannya usai meniriskan beberapa perabot yang digunakan Ajisaka untuk makan tadi. Kini tangan kekar itu terlihat membalikkan tubuh Wida.
Mereka kini bertatapan dengan posisi yang sudah sangat dekat. Benar-benar tak berjarak.
CUP
Aji seperti sudah kecanduan dengan bibir wanita itu. Manis dan menggoda. Wanita sederhana yang mengusik hatinya. Wanita cerdas dalam balutan hidup yang nestapa.
" Kita ajak Damar jalan-jalan ya besok?" Ucap Aji sambil mengeratkan pelukannya pada wanita itu. Wida bahkan bisa merasakan sesuatu yang keras dan mengganjal di bagian bawah Aji, menempel di pahanya. Oh sial.
Wida mencoba bersikap biasa saja, ia menggeleng. " Lain kali aja. Aku masih nunggu kabar dari pengadilan. Gimana penilaian orang jika saat aku nunggu putusan, aku udah menggandeng pria lain!" Wida tersenyum sumbang.
Ya meski ia kini jelas merasa jika dirinya seperti wanita yang tidak tahu malu. Tapi ia bisa apa, semua wanita berhak merasakan cinta bukan? Toh ia tidak merebut apalagi menjadi pelakor.
" Baiklah, sepertinya aku harus sabar!" Bisik Aji dengan tatapannya yang mulai terlihat sendu. Pria itu terlihat menyibakkan rambut Wida yang menjuntai ke bawah, seperti hendak melakukan sesuatu.
Aji meraba tengkuk Wida, menelan ludahnya saat merasa ia ingin terus bersama wanita itu. Aji menundukkan kepalanya karena tinggi Wida yang jauh dari dirinya, pria itu memiringkan kepalanya sesaat sebelum melahap habis bibir wanita itu. Lagi dan lagi. Seolah tak cukup.
Tangan kiri Aji menekan tengkuk Wida, sementara tangan kanannya meraba punggung dan meremas bokong Wida dengan lembut.
Wida kini terlihat lebih ekspresif. Wanita itu mungkin sebenarnya memang ingin meluapkan rasa juga. Bertahun-tahun hidup dalam belenggu kekusaman rumah tangga bersama Pram, jelas membuat setumpuk hasrat yang menggelora itu menuntut untuk di ledakkan.
Napas mereka berdua sudah semakin terengah-engah, sorot mata Aji yang semakin menuntut seolah dimengerti oleh Wida.
Aji mencium bibir Wida kembali seraya mengangkat tubuh wanita itu. Otot lengan Aji yang mengetat saat tubuh wanita itu sudah dalam rengkuhannya, terlihat sangat menantang.
Mereka berciuman dengan posisi Aji mengangkat tubuh Wida ala bridal style.
Aji mendorong pintu kamar yang tak tertutup itu dengan punggungnya yang lebar. Perlahan namun pasti, pria dengan wajah yang sudah memerah akibat tuntutan hasrat itu meletakkan tubuh Wida keatas ranjang kamar itu.
"Kau sangat cantik Wid!"
Dengan posisi yang sudah berbaring, Wida menatap wajah Aji dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. Aji merayap diatas tubuh wanita itu, kembali meraup bibir lembab yang seolah tiada duanya.
Wida tak bisa mengontrol dirinya saat ini, ia hanya wanita dengan nasib nestapa yang sudah sangat kekurangan nafkah lahir apalagi batin.
Ditatap enam cetakan otot milik Aji yang membuat wajah Wida meremang. Saat ini biarlah ia sejenak menjadi wanita egois dan tidak tahu diri. Ia memang bukan manusia yang tahir dari dosa. Surga tahu akan hal itu.
Aji merupakan pria yang tidak terlalu memusingkan perihal kriteria wanita seperti apa yang bisa memenangkan hatinya.
Namun, semuanya berubah saat ia di pertemukan dengan Wida yang sederhana namun memiliki daya tarik tersendiri. Wida yang mampu memanjakan lidahnya dengan cita rasa masakan yang bukan kaleng-kaleng.
" Mas!" Wid menatap Aji yang sudah hendak melucuti pakaiannya. Seketika menjadi ragu untuk meneruskan kegiatan itu. Tapi...jujur Wida juga bukan golongan manusia munafik yang bisa menolah suguhan rasa manusiawi paling memabukkan itu.
" Bolehkah?" Ucap Aji dengan suara parau dan sorot mata yang semakin sendu.
Usai memantapkan hati, Wida mengangguk pelan, dua manusia yang sama-sama ingin memiliki itu kini terlihat saling melepaskan pakaian mereka.
.
.
Aji bukan pria kawakan yang sudah malang melintang di dunia seperti itu, namun sebagai pria dewasa tentu ia sudah paham naluri macam itu.
Tangan Wida menyusuri lengan Aji yang terlihat liat, otot punggung pria itu begitu keras dan terasa kekar sewaktu ia pegang.
" Kau sudah siap rupanya!" Bisik Aji menyeringai saat ia meraba bagian bawah Wida yang sudah begitu lembab. Membuat Wida malu.
Sungguh, dua anak manusia itu hanyalah insan biasa yang tak dapat menolak tawaran indah dari nikmatnya duniawi yang sudah sangat lama tak mereka dapatkan.
Kini, perlahan namun pasti Aji lekas memulai gerakan maju mundurnya. Wida yang Merasakan gesekan itu, seketika memejamkan matanya. Meresapi irama dengan tempo sedang yang membuatnya kini bagai melayang.
Menggapai lautan kenikmatan.
Aji kini benar-benar merasa semakin gila. Beginikah rasanya menyelam di lautan hasrat? Sungguh nikmat tiada tara. Merasa dirinya bak disulut gelombang dahsyat, Aji menaikkan tempo kecepatan menghentaknya. Lama dan begitu membuat keduanya melesat bersama menggapai puncak tertinggi kenikmatan.
Wida mencengkeram punggung kekar Aji yang sudah basah karena keringat. Gerakan yang makin cepat itu sukses membuat rasa dalam dirinya kian beraneka.
Wida benar-benar menikmati sentuhan Aji yang telah berhasil memasuki dirinya itu.
" Mas!!!" Wida bahkan kini mencakar punggung Aji saat ia merasa sesuatu akan meledak dari miliknya yang masih dihujam oleh Aji. Wida mencapai pelepasannya terlebih dahulu.
Aji membiarkan wanita itu sejenak mengatur napasnya, sejurus kemudian ia terlihat memulai kembali gerakannya dengan tempo yang begitu cepat. Wida bahkan merasa, Aji seperti pemain kelas kakap saja saat mereka bercumbu.
Aji terus memompa dan menghujam tubuh Wida dengan sangat cepat.
" Sssttt!"
" Ahhhh!"
Dan hingga saat ia merasa laharnya mendesak ingin segera keluar, ia mencabut benda pentingnya itu dan menyemburkan cairan kental itu keatas perut Wida yang rata.
Sungguh, Ajisaka benar-benar terlihat seperti pemain lama.
Yeah!!!
.
.
.
.
.
.
.