
Bab 186. Just other person
.
.
.
...πππ...
Yudhasoka
Rasa sakit yang menderanya, tak sebanding dengan rasa bersalah yang kini mulai menjalari dirinya, saat kupingnya dengan jelas mendengar sendiri ucapan Rara yang terdengar memilukan.
" Pak bertahan ya Pak!" Ucap Rara pasrah saat bapaknya telah di geledek oleh petugas menuju ruang tindakan.
" Mbak... silahkan sambil di urus dulu administrasinya ya, loketnya di depan! Kami akan tangani pasien " Tutur petugas wanita yang terlihat ramah itu.
Pasca merampungkan urusan pendaftaran bapak , agar mendapatkan kamar inap dengan kelas yang sesuai dan yang bisa ia jangkau, Rara kini terlihat duduk seorang diri. Ia tak tahu kemana Yudha. Otaknya terlalu mumet saat ini, sampai tak memikirkan pria yang tadi menolongnya itu.
Rara mengusap wajahnya gusar. Kenapa ada saja hal yang membuat hidupnya runyam.
" Minum dulu!" Ucap Yudha memberikan minuman dingin kepada Rara. Siang itu cuaca cukup terik.
Pria itu rupanya dari kantin rumah sakit membeli minum untuknya. Namun yang di tawari ,hanya menatap kosong ke arah lantai keramik putih di depannya itu.
Yudha tersenyum meski Rara tak fokus kepadanya. Ia paham, wanita itu terlihat terguncang sekali saat ini.
Yudha kini mendudukkan tubuhnya di sebelah Rara sembari masih memegang botol yang di anggurkan oleh Rara . Otot lengannya bahkan mengetat , kala dengan satu gerakan membuka seal botol itu untuk Rara.
" Hidrasi yang cukup bisa membuat kita fokus. Minum dulu, biar lebih tenang!" Ucapnya tersenyum sembari mengangsurkan sebotol minuman itu kepada Rara.
" Ketidakfokusan bisa membuat segala sesuatu menjadi lebih runyam!" Imbuhnya lagi demi melihat Rara yang masih termangu.
Rara akhirnya meraih botol itu dengan wajah layu dan kosong. Benar-benar tak memiliki cahaya dan sangat terlihat lelah. Lelah dengan semuanya.
Ia hanya ingin menghargai kebaikan pria asing yang kini berada di dekatnya itu. Pria yang entah mengapa selama beberapa hari ini, selalu terlibat hal-hal tak terduga dengannya.
"Thanks!" Ucap Rara dengan suara lesu.
Yudha mengangguk.
"Elu bisa balik sekarang. Sory, lain kali ...gue janji bakal ganti ongkos mobilmu!" Ucap Rara dengan wajah murung dan tak bersemangat.
Yudha bahkan melihat wanita itu kini terlihat berbeda dengan dirinya yang beberapa waktu yang lalu terlihat sangar saat menghajar Suwarno.
Titik lemah manusia memang berbeda-beda rupanya.
" Kenapa kamu ngomong gitu?" Yudha bahkan kini merasa iba kepada Rara.
" Lebih baik elu pulang, gue bisa sendiri. Lagian...elu punya kerjaan kan?" Rara menatap name tag yang masih di pakai oleh Yudha saat ini.
...Yudhasoka...
...Head of Credits...
Yudha bahkan turut melihat pas dengan foto wajahnya yang terlihat tak kalah acuhnya dari visual asli perwujudannya itu.
" Tapi Ra..aku...!"
" Pulanglah, aku tidak ingin merepotkan orang lain!"
Rara menatap Yudha tajam. Wanita itu terlihat tidak mau di debat lagi. Sungguh ia lelah.
Yudha tertegun dan meneguk ludahnya, demi mendengar kata orang lain yang baru saja terlontar dari bibir Rara.
Jelas dan telak, ia memang hanya orang lain bagi wanita itu.
...πππ...
Ajisaka
" Kron mampir ke minimarket itu bentar dong!" Pinta Aji kepada pria dengan jambul putih yang sangat kontras dengan warna kulitnya itu.
" Mau beli apa bos?" Lirik Sukron dari depan rear vission mirror.
Sukron menyebikkan bibirnya tanpa suara, demi melihat Ajisaka yang terlihat biasa saja, usai berketus-ketus ria kepadanya.
Sukron mengekor di belakang pria yang senang mengenakan sepatu boots itu. Merasa heran kenapa pria itu kini berjalan di samping susunan rak, yang menyuguhkan aneka jajanan dengan bumbu micin yang beranekaragam itu.
" Anak- anak biasanya suka yang mana Kron?" Tanya Aji sembari celingak-celinguk melihat nama jajan di depannya.
Kini Sukron makin menyebikkan bibirnya. Pasti ia ingin membawa upeti bagi Damar kan? Ia baru sadar, jika mereka nanti kan akan melewati jalan rumah Wida.
"Haishh dasar si bos, pasti dia pingin lihat apa Bu Wida udah pulang apa belum."
Dasar!
" Kalau itu sih gampang bos. Nih beliin yang begini..pasti suka!" Sukron menunjukkan beberapa makanan ringan berlogo tulisan warna- warni yang tersusun dengan rapi disana.
Sebuah permen mirip karet dengan rasa kecut yang membuat mata kita ngier- ngier itu telah Sukron masukkan ke keranjang belanjaannya.
Tak hanya itu, Sukron sengaja mengerjai bosnya dengan mengambil semua coklat yang ada di depan meja kasir. Coklat compound berbentuk telur yang sering meresahkan emak-emak karena seringkali di panjang di depan kasir. Sebutir telur dengan harga tak wajar.
" Mas, ini...ini..sama ini...terus itu, semuanya ya!" Ucap Sukron terkikik geli. Ajisaka pasti akan kerepotan saat membawa semua belanjaan itu nanti. Ia ingin mengerjai bosnya itu.
Ajisaka tak menaruh curiga saat membayar. Ia bahkan sanggup membeli semua isi minimarket itu. Membuat Sukron makin terkikik geli.
Sukron sebenarnya sudah tahu jika Wida pulang. Lawong ibunya kemaren cerita kalau ketemu Widaninggar di pasar waktu beli ayam.
.
.
Wajah Ajisaka sumringah demi mendapati pintu rumah Wida yang terbuka. Menandakan jika pasti ada orang dirumahnya. Ya...meski ia tak yakin apa Wida berada dirumah apa tidak.
" Memangnya, Bu Wida udah datang bos?" Tanya Sukron pura-pura.
" Enggak tahu, tapi...aku kesini mau ketemu Damar!" Ucap Ajisaka sembari menyisir rambutnya menggunakan jari. Menghadap ke spion mobilnya.
" Bos, aduh saya kebelet nih. Sebentar ya!" Pamit Sukron yang terkikik dalam hati.
" CK, kemana? Bawa ini dulu!" Aji ngeremon sebab lima kantong kresek itu jelas akan sangat membuat performanya turun.
" Duluan aja bos, saya enggak tahan!" Ucap Sukron yang berlari terbirit-birit.
" CK, sialan si Sukron!"
Aji terpaksa membawa semua belanjaan itu sendirian. Pria itu benar-benar terlihat kerepotan karena banyaknya yang ia beli.
Enam kantong kresek besar berisikan snak dan aneka panganan untuk bocah cilik.
Dengan bodohnya, pria itu langsung membawa semua kantung-kantung itu sekali angkatan. Membuat ia tak bisa melihat jalanan di depannya. Pria itu kenapa mendadak menjadi bodoh kalau sudah berurusan dengan Wida dan perintilannya.
BRUUUAAAKK!!!
Baru saja dibicarakan, kini sudah terlaksanakan.
" Ya Allah, opo Iki?" Suara Ibu Wida terdengar terperanjat.
Sukron dengan sengaja melempar sebuah biji bayi kelapa, tanpa sepengetahuan bosnya itu. Aji yang tak melihat sebuah bluluk teronggok di depannya, lantaran pandangannya tertutup oleh kresek yang sudah menggunung itu, seketika kehilangan keseimbangan.
Jelas membuat penampilan necisnya berada di ujung tanduk.
" Astaga Mas Aji?" Mendengar suara gaduh, membuat sang pemilik rumah keluar dengan diri terkejut.
Ajisaka seketika membulatkan matanya demi mendengar suara yang ia rindukan itu. Astaga, bagiamana ini. Aji malu. Jelas penampilan pria itu pasti saat ini sangat tidak layak untuk di saksikan oleh Wida.
Sukron sialan!!!
.
.
.
.