Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 231. Ucapan yang menyadarkan



Bab 231. Ucapan yang menyadarkan


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Anjana


Pria konyol di sampingnya itu sedari tadi diam membisu. Ya, tanpa sadar, sedari tadi ia melirik Sakti yang nampak tak fokus saat Pieter menerangkan materi di depan.


" Kenapa dia? Biasanya dia berisik sekali!" Ia membatin. Tiba-tiba ia bergidik ngeri saat mengingat benda sialan yang benar-benar membuatnya ketakutan itu.


Sialan!


" Kita mulai nanti. Dan, oh ya Sak..." Tunjuk Pieter yang membuat pria itu seketika mendongak. " Khusus untukmu, nanti kau akan di briefing langsung oleh Tuan Liem perihal beberapa client penting, yang menjadi pelanggan setia kita!"


Sakti mengangguk. Entah mengapa, ia sangat terganggu dengan wajah wanita yang sempat ia lihat di ruangan milik Tuan Liem. Benar-benar aneh.


Dan kebisuannya itu, sukses membuat Anjana angkat bicara saat mereka di dalam kamar. Menepikan kecanggungan yang mendera, akibat kejadian mengerikan tadi pagi.


" Kau kenapa? Ada masalah?" Anjana bersidekap seraya menatap Sakti yang kini sudah berada di kamarnya, terlihat menekuni laptop dan mempelajari beberapa hotel yang akan ia datangi nanti.


" Apa kau pernah bertemu dengan anak Tuan Liem?" Sakti menatap Anjana yang nampak terkejut.


" Apa Tuan Liem sudah mengatakan yang sebenarnya?"


" Belum, dia sudah tiada bahkan sebelum aku lahir. Begitu yang aku tahu!"


Sakti tercenung. Berarti tidak ada yang bisa ia tanya-tanya lagi soal itu dong?


"Kenapa foto mengusikku sekali!"


.


.


Dan kebingungan yang menderanya bahkan awet manakala ia menghadap kepada pemilik perkebunan itu. Sesuatu yang aneh, yang menurutnya sangat tidak relevan dengan anggota baru, macam dirinya.


" Apa ini?" Ucap Sakti saat menerima sebuah buku tebal, berisikan silsilah keturunan yang mengelola perkebunan itu.


" Bacalah!" Ucap Tuan Liem menatap lurus kearah Sakti yang saat ini terlihat bloon.


Sakti terlihat membuka lembar demi lembar tulisan ,.yang lengkap dengan foto para leluhur yang pernah menempati kursi kebesaran direktur utama The Soebardjo Vineyards.


Mereka semua bermata sipit.


" Beny Suryo Soebardjo?"


" Tan Malaka Soebardjo?"


" Sri Rama Seobarjo?"


Liem Soebardjo merupakan garis keturunan ke empat yang memegang peranan penting dalam tubuh perkebunan itu.


" Kenapa saya musti tahu soal ini?" Tanya Sakti yang semakin heran. Bukankah ia hanya karyawan baru yang memiliki jabatan tidak penting-penting amat?


Tuan Liem memajukan tubuhnya seraya melipat kedua tangannya ke atas meja, lalu menatap lekat Sakti. " Karena di silsilah selanjutnya adalah namamu yang wajib tercetak disana!"


DEG


" Namamu?"


" Nama apa maksudnya?"


Tubuh Sakti mematung. Tunggu dulu, apa-apaan ini, kenapa si pria uzur di depannya itu makin kesini makin ngelantur?


" Apa dia tidak waras?"


Tangis tuan Liem mendadak pecah detik itu juga. Sudah cukup, ia tak bisa lagi menahan buncahan rasa yang mendesaknya untuk membuat Sakti tahu, jika pria itu merupakan cucunya. Membuat Sakti makin mengerutkan keningnya demi bingung.


" Sakti, entah kau percaya atau tidak, tapi..." Tuan Liem menarik napasnya dalam-dalam sebelum menguatkan apa yang ia tahan selama ini. Membuat Sakti kini berwajah tegang. " Kau adalah anak dari wanita yang fotonya berada di ruanganku!"


Hah?


Lelucon macam apa ini? Bagiamana bisa orang itu berbicara seperti ini? Apa pria itu gila?


Sakti menggeleng tak percaya, ia jelas memiliki orang tua, tapi kenapa pria itu mendadak mengaku-ngaku jika Sakti merupakan anak dari wanita yang notabene merupakan anak dari Tuan Liem?


Sakti tertawa sumbang. " Tuan... sepertinya anda..."


" Baca ini!" Sahut Tuan Liem memotong ucapan Sakti, lalu menyerahkan sebuah buku yang berisikan catatan penting dari ibu panti tempat dimana Sakti dulu berada.


Ya, pria itu sudah meminta James untuk mengatur segala sesuatunya agar lebih mudah beres.


Sakti mendelik demi melihat semua catatan dan juga bukti foto dua manusia yang ia ketahui sebagai Bapak dan Ibunya yang kini berada di Kalianyar.


" Bapak, Ibuk? Kenapa foto mereka ada disini? Dan siapa bayi yang mereka gendong ini?"


" Tidak mungkin!" Sakti berwajah pias, sejurus kemudian pria itu meletakkan buku yang baru saja ia pegang lalu beringsut mundur.


" Tidak mungkin!" Sakti berjalan mundur dengan mata menatap kosong, kenapa selama ini ibunya sama sekali tidak memberitahunya. Apa pria itu sedang mengajaknya bercanda?


" Tolong percayalah nak!" Tuan Liem menangis, pria itu terlihat berusaha membujuk Sakti untuk mau percaya.


" Tidak mungkin!"


Ia terus berjalan dan kini terlihat menitikkan air matanya sembari menjauh dari Kris itu itu. Terlepas dari benar atau tidaknya ia adalah cucu pemilik perkebunan itu, namun mengapa semuanya mendadak berubah seperti saat ini. Apa dunia tengah mempermainkan dirinya?.


Kenapa orang tuanya tak mau bercerita? Apa karena dia anak haram?


" Sakti?" Anjana yang kini saling berpapasan dengan Sakti mendadak gusar demi melihat pria yang kini terlihat marah.


Anjana menatap ke arah ruangan Tuan Liem yang pintunya terjeblak. " Oh sial!" Anjana kini berlari, sepertinya pria itu kini sudah tahu kebenarannya.


" Sakti tunggu!" Ucap Anjana yang berlari mengajar Sakti yang berjalan seraya berkali-kali mengusap wajahnya.


Pria itu berjalan dengan kobaran amarah yang memuncak. Ia kecewa kepada dirinya, terlebih kepada takdir akan hidupnya.


" Sakti tunggu du..."


" Elu tahu ternyata kan?" Tanya Sakti sesaat setelah berhenti di sebuah tempat sepi yang memang menjadi tujuannya untuk menenangkan diri. Menatap kecewa Anjana yang kenapa tidak memberitahunya sejak dulu " Kalian pasti menertawakan aku kan? Karena aku hanya anak haram! Iya kan?"


Anjana membulatkan matanya. Benar dugaannya, Sakti telah tahu. Tapi ini diluar dugaannya. Ia pikir Sakti akan langsung senang. Namun tak di nyana, pria itu justru memikirkan hal lain.


" Apa dia menyalahkan dirinya sendiri?"


" Kenapa? Kenapa Ibukku tidak memberitahukan hal ini sama sekali kepadaku?" Sakti menangis pilu. Merasa dibohongi dan tak memiliki arti. Kilasan ingatannya mendadak juga kembali , saat kedua orangtuanya yang memiliki hutang tanpa melibatkan dirinya juga semakin memperparah pikirannya.


"Jelas mereka tak membutuhkan aku!"


" Ternyata aku cuma anak haram...aku cuma anak har..."


PLAK


Anjana menampar wajah Sakti karena tak tahan dengan yang pria itu katakan. Napas wanita itu memburu dengan emosi yang kian membuncah.


" Elu enggak kasihan sama mendiang Bu Fenny karena terus ngomong kayak gitu, hah?" Anjana geram. Sakti sudah keterlaluan.


" Elu masih beruntung Sak, kakek elo, Tuan Liem selama ini enggak lelah berjuang buat nyari elu! Gue saksinya!" Napas Anjana memburu.


Sakti tertegun masih dengan isak tangisnya. Membiarkan Anjana untuk berbicara sesuka hatinya.


" Enggak ada di dunia ini anak haram Sak, enggak ada!"


Anjana menangis dan menatap Sakti yang juga terlihat sama hancurnya.


" Mereka enggak bisa milih lahir dari rahim siapa Sak, dan dari pasangan mana. termasuk gue? Gue yang bahkan enggak tahu siapa ibu bapak gue, masih bisa bersyukur karena punya Tuan Liem yang mau ngerawat gue! Sementara elu?" Anjana terdiam menahan tangis dengan bibir bergetar. " Elu harusnya bersyukur Sak! silsilah elu jelas, enggak seperti gue!"


Anjana menangis. Pria yang beberapa waktu ini , berhasil membuat cara pandangnya dalam melihat kehidupan berubah itu, membuat dirinya memahami jika hidup itu hanya sebatas siang dan malam.


Yang berjalan juga pasti akan menemui titik temunya.


" Elu selama ini terlalu melihat ke atas Sak, makanya elu enggak pernah tenang. Terus dan terus bandingin diri elu sehingga membuat elu terus merasa nestapa" Anjana terlihat menelan ludahnya, mengurangi kesesakan di hatinya. " Tapi coba elu lihat gue. Jika tanpa belas kasihan dari kakek elu, mungkin gue udah tidur bareng anjing jalanan!"


" Hidup melarat sebagai fakir miskin!"


Entah mengapa Sakti merasa tertampar dengan ucapan Anjana. Wanita itu benar, harus ia akui jika selama ini ia memang selalu melihat para sahabatnya yang sudah mapan dengan hoki mereka masing-masing. Tanpa melihat orang lain yang mungkin lebih susah darinya.


Sakti yang merasa iba dengan Anjana kini berjalan perlahan mendekat ke arah Anjana yang menangis pil. Sejurus kemudian pria itu merengkuh tubuh Anjana kedalam pelukannya. Wanita itu tidak menolak dan kini justru menangis manakala Sakti memeluknya.


Kadang sebagai wanita kita juga perlu dan butuh sandaran untuk sekedar menampung luapan kesedihan.


" Elu bener!" Sakti memeluk Anjana yang masih berdiri dengan tubuh mematung dan tangan menganggur itu. Mengusap lembut punggung bergetar Anjana. " Gue emang manusia picik Ja. Gak pernah mau ngelihat sesuatu dari sudut pandang lainnya." Sakti merasa berada di titik tersendu dalam hidupnya.


Oh Tuhan!


Sejurus kemudian Sakti melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Anjana yang kini sudah basah karena simbahan air mata. Menatap dua mata itu lekat-lekat. " Thanks udah mau buka mata gue yang buta akan kemurahan Tuhan yang sebenarnya selalu ada buat gue!" Ucap Sakti dengan jarak yang sangat dekat.


Anjana tersenyum di sela tangisnya. Sungguh, sekuat apapun dia, ia juga masihlah manusia biasa yang juga memiliki kesedihan.


Anjana yang malam itu berada di titik sedih dalam hidupnya, sejenak menjelma menjadi wanita rapuh yang memang membutuhkan teman untuk bicara.


Dua manusia itu saling menatap. Tersimpan banyak sekali perasaan yang bercampur setangkup senada, secara tidak langsung, mereka berdua sama-sama memiliki garis hidup yang nyaris sama.


" Makasih karena udah nydarin gue Ja!" Bisik Sakti lirih yang menatap wajah Anjana dengan jarak yang sangat dekat.


Sejurus kemudian Sakti yang terbawa suasana terlihat mendekatkan wajahnya sedikit miring ke wajah Anjana. Dan karena entah rasa haru ataupun rasa lainnya, wanita itu terlihat turut memejamkan matanya saat Sakti kini mengecup mesra bibir Anjana.


CUP


Sakti yang masih menangkup lembut wajah Anjana kini terlihat meraup bibir sexy Anjana dengan penuh kelembutan. Pria itu merasa beruntung karena mengenal pribadi yang unik macam Anjana.


Dalam pekatnya malam dan dinginnya udara, dua anak manusia itu saling meluumat dan saling bertukar saliva. Tangan yang tadi menganggur, kini terlihat meraba dada pria yang kini menyerangnya dengan lamutan yang membuat dirinya merasa begitu berharga itu.


Pieter yang menyaksikan hal tersebut seketika menitikkan air matanya, dadanya sesak dan hatinya bak di hujam benda berat.


Sejurus kemudian pria itu pergi meninggalkan dua anak manusia yang kini saling melebur rasa nelangsanya itu, lewat cara yang mengejutkan.


Membuat pria berkacamata itu kini berteman dengan kesesakan yang tiada bertepi.


.


.


.


.