Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 52. Revenge intent ( niat membalas dendam)



Bab 52. Revenge intent ( niat membalas dendam)


^^^"Saatnya berperang!!! Melawan kejamnya dunia yang semakin menginjak muka. Dengan semangat muka tebal, seraaaang!!!!!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Ia nyaris saja mencelakai sahabatnya sendiri jika ia tak segera menatap wajah sialan Sakti. Pandu bahkan telah menyikut diafragma Sakti yang dengan tanpa ia ketahui telah membungkam mulutnya dengan keras.


" Argggggghhh!" ringis pria itu menahan nyeri dibagian perutnya.


" Sakti?" Pandu membulatkan matanya kaget.


" Elu gila ya Ndu. Main sikut-sikut ajah!" Dengus Sakti dengan waja berengut sembari mengusap perutnya yang nyeri.


" Lagian kamu ngapain malem-malem disini, pakai acara bekap mulutku segala. Untung gak aku banting kamu tadi!" Pandu tentu tak mau kalah. Pria itu mendengus sebal.


Jam sudah menunjukkan pukul 23.17, mengapa Sakti mendadak menjadi makhluk nocturnal disana.


Ya sebenarnya dirinya juga sih.


" Yeeee...yang ada aku yang harusnya nanya, kamu ngapain malam-malam berduaan sama cucunya Bu Asmah!" ucap Sakti kesal seraya menunjuk rumah Bu Asmah dengan dagunya.


Membuat Pandu menelan ludahnya bingung. Apakah ia tengah terpergok?


" Dugaan ku bener deh kayaknya, kalian berdua itu ada apa-ap....!"


"Stttttt cangkemu!"


Pandu langsung membekap mulut Sakti sebelum sahabatnya itu terus nyerocos.


" Apa-apaan sih Ndu, sakit tahu!" Sakti kembali mendengus saat bekapan Pandu terlepas akibat dia yang memberontak.


" Udah, jangan jadi biang gosip. Tadi gak sengaja ketemu dia terus kasihan jadi aku antar. Ingat pria sejati mana mungkin membiarkan wanita seorang diri malam-malam!"


Namun sakti hanya menyebikkan bibirnya tak percaya.


"Kamu ngapain malam-malam begini keluyuran?" Pandu tentu saja tak mau membuat sahabatnya itu curiga.


Sakti hanya mencibir demi mendengar ucapan Pandu yang jelas sama sekali tak ia percayai. " Aku atau kamu yang keluyuran?"


Pandu menggaruk kepalanya belingsatan. Jelas ia kalah perbendaharaan kosakata malam itu.


" Kamu gak lihat aku udah pakai pakaian dinas begini? Pakai nanya lagi!"


" Nyari bekicot di sawah, habis hujan pasti mereka merajalela dimana-mana. Gak ada kerjaan mau apa lagi, nunggu lamaran gak di panggil-panggil!"


"Lumayan kalau dapat banyak, biar bisa beliin emak minyak goreng yang harganya mencekik!"


Pandu semakin meringis demi melihat Sakti yang memang sudah berpakaian lengkap, menggunakan suluh di kepalanya, juga memakai sepatu boots khusus ke sawah namun dengan bodohnya ia masih bertanya mau kemana.


Berciuman dengan Fina agaknya benar-benar membuat otaknya miring.


Damned!


.


.


Serafina


Ia meraba bibirnya sembari tersenyum kala mengingat sesapan Pandu yang sebenarnya ciamik banget.


" Ihhhhh!" Ia menghentak kesal seraya memukuli wajahnya dengan menye-menye.


Tapi ia langsung berengut demi mengingat Pandu yang mendadak mengehentikan kegiatan yahud itu secara sepihak.


Membuatnya menjadi wanita keranjingan.


" Apa nafas gue bau ya?"


" Hah?" Fina memantulkan napasnya sendiri ke telapak tangannya. Mengecek apakah aroma mulutnya meracuni?


" Enggak bau tuh, tapi kenapa dia begitu ya!"


" Aaaaaaa!!" Fina mendudukkan dirinya ke ranjang seraya memanyunkan bibirnya kesal.


Entahlah, Fina malah sebenarnya menginginkan yang lebih dari sekedar itu. Otaknya benar-benar liar saat bersama Pandu.


" Aaaa Pandu, kurasa aku menyukaimu!" ucapnya seraya melempar tubuhnya ke ranjang pegas kamarnya. Ia tersenyum sembari menatap langit-langit kamarnya yang tak peduli itu.


Oh andai disana ada cicak , sudah pasti cicak itu mencibir Fina yang sekarang mirip seperti wong edan.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


BPR Agung Wilis


Pagi menjelang.


Sesuai dengan permintaan Pandu tempo hari yang berniat ingin mengajukan pinjaman dana, dengan agunan BPKB motornya. Pria itu mengajak Pandu untuk ngobrol di warkop langganannya.


Warkop Bang Mimin.


" Jadi kuat berapa?" tanya Pandu yang kini asik menyeruput kopi di warung Bang Mimin. Sebenarnya namanya Muslimin, tapi entah mengapa orang-orang di sana malah lebih senang memanggilnya dengan sebutan Mimin.


" Kamu butuh berapa sih, dan tumben. Biasanya kamu...!"


" Ini mas kopinya, sesuai request gulanya cuma sesendok!" tukas Bang Mimin menyerahkan pesanan Yudha. Membuat ucapan Yudha terjeda.


" Makasih Bang Min!" sahut Yudha.


" Kalau bisa sih dua puluh. Aku mau ke kota Yud. Aku mau cari siapa yang nusuk adikku!"


" Aku mau ngirim dia ke neraka!" ucap Pandu serius.


" Brrttttr!" Yudhasoka bahkan menyemburkan kopi yang baru saja ia seruput, demi mendengar ucapan Pandu.


Apa sahabatnya itu sudah gila?


" Hah?" Yudha benar-benar tak mengerti jalan pikiran sahabatnya saat ini.


" CK!" Pandu mendecak kesal demi melihat cipratan kopi dari bibir Yudha yang kini merajalela di lengannya.


Sungguh menjijikkan.


" Yang bener? Ndu, saranku jangan!" Yudha meletakkan cangkir kopinya. Kali ini ia lebih berminat untuk mendakwa Pandu.


" Aku gak bisa tidur Yud. Aku bakal berusaha semampuku. Aku gak takut di penjara. Asal aku bisa balas dendam ku!" ucapnya seraya mengusap bekas kopi Yudha di lengannya, menggunakan tissue.


Yudha tertegun mendengar ucapan Pandu yang terlihat seserius itu. " Kita gak punya bukti ataupun petunjuk apapun loh Ndu. Kamu mau nyari dimana?"


Pandu menyerahkan sebuah kalung dengan bandul cetakan nama yang jelas. Kalung yang di berikan oleh tetangga kemarin.


" Aditya?" Ucap Yudha menatap Pandu dengan alis bertaut. Siapa Aditya.


" Itu yang kasih kang Jono. Kemaren aku kesana sebelum kerumah kamu. Kang Jono bilang itu mungkin milik salah satu orang yang datang ke rumahku kemaren!"


Yudha terlihat berpikir. Ia membalikkan bandul itu dan membaca sebuah nama perusahaan bodyguard terkenal.


...Kijang Kencana Safety Group...


" Kalau ternyata ini bukan gimana Ndu. Maksudku, kamu gak bisa ke kota hanya dengan modal nama ini. Ini gak cukup kuat?"


" Bisa aja ini bukan yang...!"


" Setidaknya aku harus mencoba Yud. Nyawa harus di bayar dengan nyawa!"


" Aku gak peduli!"


.


.


" Apa?" Ajisaka menatap Yudha tak percaya. Pria itu bahkan kini menutup buku pembukuannya kala mendengar cerita Yudha soal Pandu yang akan mencari siapa orang yang menikam adiknya. Ayudya.


Ya, Yudhasoka membelokkan motornya ke rumah Ajisaka sepulang bekerja. Tak mampu menahan diri untuk tak bercerita kepada sahabatnya itu.


Terlalu runyam untuk ia pendam sendiri.


" Dia bahkan mau ngajuin pinjaman buat biaya hidup di sana Ji. Jujur ya, duit segitu bisa aja cair cepat sebenarnya. Soalnya Pandu juga ada usaha dirumahnya. Tapi yang aku gak habis pikir, kenapa Pandu jadi senekat ini?"


" Selain bisa di penjara, resikonya juga bakal lebih buruk lagi. Dia gak ada saudara ataupun teman di kota!"


" Kamu tahu kan maksudku. Bisa- bisa dia pulang tinggal nama!"


Yudha memijat kepalanya pusing. Bagiamana caranya menghentikan niat beresiko sahabatnya itu.


Ajisaka tertegun seraya memikirkan sesuatu. Jelas ia tak mungkin hanya berdiam diri disaat sahabatnya itu tengah dirundung kemalangan.


" Berapa duit yang dia butuhkan?"


" Dua puluh juta!"


"Ya mungkin sebagian buat ibunya, kamu tahu kan Pandu paling anti soal duit kalau sama temen!"


" Mending minjam ke bank dari pada ke teman!"


Sakti, Yudhasoka dan Ajisaka sudah paham betul karakter Pandu. Mengeluhkan uang kepada sahabatnya merupakan hal tabu yang patut pria itu hindari sebisa mungkin.


Jelas Pandu tak mau menciderai arti persahabatan hanya dengan uang yang kerap membuat segala sesuatunya menjadi runyam.


" Pakai uangku! Tapi jangan sampai Pandu tahu kalau itu uang ku!"


.


.


Keterangan :


Nocturnal : Mahkluk yang hidup di malam hari. ( Kelelawar, musang dll)