
Bab 214. Panas Asmara Yudha
.
.
.
...πππ...
Group WA yang beranggotakan Pandu, Ajisaka, Yudhasoka dan Sakti sudah sepi selama sebulan terakhir. Tak lagi ramai seperti sebelum negara api menyerang.
Puncaknya hari ini, Yudha dan Ajisaka duduk bersidekap di meja favorit mereka di kedai Cak Juned dengan wajah tak terbaca.
Pria kurus pemilik kedai itu bahkan turut merasa kehilangan. Biasanya Sakti paling bisa bikin suasana rame, tapi sekarang?
" Aku pergi dulu, mau ke pabrik?" Aji bahkan tak menghabiskan kopinya sebab tak berselera. Pria itu meninggalkan selembar uang bergambar I Gusti Ngurah Rai berwarna biru di meja bambu itu.
Yudha masih bergeming, ini hari Sabtu dan dia libur, dan semenjak kepergian Sakti yang belum di ketahui keberadaannya itu, Yudha merasa hidupnya berubah. Sama sekali tak memiliki selera humor lagi, kecuali saat bersama Rara.
" Sabar mas, mungkin ini sebagai bentuk ujian persahabatan. Ujian hanya untuk orang yang mau naik kelas. Jadi ..mungkin dibalik hal ini, akan ada kejadian baik mas. Ojo nelongso terus, saya jadi ikutan nelongso mas!" Ucap Cak Juned dengan wajah muram.
Malam Minggu ini terasa berbeda. Aji pergi mengantar Damar membeli buku ke sebuah mall , yang tentu saja itu hanya sebagai dalih agar pria ganteng itu bisa mengencani ibunya. Benar-benar masih menjadi juara bertahan pemegang predikat pria licik.
Sementara dirinya kini terlihat menunggu Rara, karena ia akan bersiap mengantar wanita itu untuk pergi ke La Amor. Semenjak unggahan dirinya yang bernyanyi indah di berbagai kesempatan, wanita itu kini menjadi singer tetap di sana.
" Maaf ya lama!" Ucap Rara yang kini sudah terlihat begitu cantik. Wanita itu sedikit memberikan volume pada rambutnya, dengan meng-curly ujung rambut sebahunya yang sudah ia warnai dengan warna brown. Terlihat manis.
Yudha mengangguk," Enggak pamit Bapak dulu?" Tanya Yudha menunjuk ke arah dalam.
" Beliau udah tidur habis minum obat, aku tadi udah bilang kok kalau di jemput sama kamu!" Ucap Rara sembari memutar anak kunci.
Yudha mengangguk setuju, pria itu terlihat membukakan pintu untuk Rara. Membuat Rara tersipu karena belum pernah di perlakukan semanis ini oleh lawan jenisnya.
Rara melihat Yudha yang kini setengah berlari mengitari mobil. Pria itu terlihat maskulin dengan kemeja polos yang digulung sebatas siku warna green Army, yang di masukkan kedalam jeans lengkap dengan sepatu boots merk terkenal yang makin membuat penampilan pria itu kece badai, dan terlihat bergaya parlente.
Rara suka sekali dengan pria rapi seperti Yudha.
Yudha menatap Rara yang begitu cantik saat memainkan instrumen musik yang membersamai suaranya yang khas itu. Ia sabar menunggu karena malam ini, ia ingin mengajak Rara jalan selepas Rara menunaikan tugasnya.
Malam Minggu malam yang panjang, malam yang asik buat pacaran. Begitu kaca kata orang. Ahay!
Pria itu membawa Rara ke sebuah tempat makan yang di dalamnya memiliki danau buatan. Menyuguhkan kesan romantis.
" Yud, kamu serius ngajak aku makan di sini?" Tanya Rara dengan wajah berbinar. Selama ini ia hanya bisa mengangumi tempat hits yang biasa dikunjungi kalangan sultan itu, hanya dari jejaring sosialnya.
" Serius dong, yuk!" Rara menatap tangan Yudha yang kini menggenggamnya erat. Yudha terlihat tenang dan sama sekali tidak terlihat sungkan.
Mereka duduk di pinggiran danau yang airnya sangat tenang. Diatas mereka terdapat lampu Tumbler yang membentang dengan warna jingga yang cerah.
Yudha sudah membooking tempat itu meski ia harus merogoh kocek lebih dalam. Sengaja ingin mengkudeta tempat beberapa saat lantaran ingin mengungkapkan perasaannya kepada wanita itu.
" Aku enggak biasa makan dengan cara table manner Yud, aku malu sama kamu!" Rara berbicara terang-terangan jika ia bukanlah wanita Hedon yang mengerti birokrasi makan ala sultan.
" Aman! Aku udah langsung pesen makanan sama dessert aja kok. Biar enggak ribet. Aku juga nggak biasa ama begituan!" Ringis Yudha dengan berbohong. Ia hanya tak ingin Rara merasa keki.
" Ra!" Panggil Yudha saat mereka kini senyap, menanti menu yang tengah di persiapkan oleh pelayan disana. Benar-benar saat yang pas untuk mengatakan hal serius.
" Ya?"
Rara menatap Yudha. Tidak terkejut dan nampak biasa saja.
" Singkat kata..aku sama dia.."
" Dia pernah tanya sesuatu sama aku!" Jawab Rara memotong ucapan Yudha. Menatap Yudha lekat-lekat.
Yudha terdiam. Yudha ingat, ia bahkan mendengar sendiri jawaban dari Rara waktu itu. " Itu yang mau aku tanyakan!"
" Jujur Ra, selama kurang lebih dua bulan ini...aku nggak bisa ngelupain kamu walau sejenak aja. Aku...suka sama kamu!"
" Aku tertarik banget sama kamu!"
DEG
Rara seakan terkena panah dewi asmara yang melesatkan anak panah cinta tepat ke jantung hatinya.
Rara menelan ludahnya bingung. Ia sebenarnya mulai menyukai Yudha sejak pria itu kerap menolongnya. Bukan karena uang atau jabatan yang dia miliki, karena selama ini tidak ada orang yang tulus mau tahu keadaan dirinya bersama Bapak.
Dari Yudha, ia akhirnya mengerti jika kasih nyata itu masih ada. Ya ..walau ia tahu, awal mula pertemuan mereka tidaklah baik. Penuh kesalahpahaman dan juga hal menggelitik.
Ibu juga adiknya telah meninggalkan dirinya. Dan dengan hadirnya Yudha ke kehidupan mereka, membuta secercah harapan kebaikan kembali muncul. Ia percaya dengan arti kasih sayang juga pertolongan.
" Tapi...aku enggak tahu apa kamu..."
" Aku juga suka sama kamu!" Potong Rara cepat dengan wajah memerah. Ya, dia mengakui.
Membuat Yudha tercekat dengan hati yang tak percaya. " Apa kamu bilang?" Tanya Yudha kembali. Masih berusaha memastikan.
" Aku juga suka sama kamu Yudhasoka!" Ucap Rara dengan keras. Membuat mata Yudha mengembun dengan hati mengharu biru. Ini pertama kalinya ia mengatakan hal serius kepada wanita. Karena selama ini, apa yang jalani benar-benar tanpa kejelasan. Hanya mengikuti naf*su dan jarang melibatkan hati.
" Makasih Ra?" Ia mencium tangan Rara dengan rasa sayang." Makasih udah mau nerima aku!"
Rara tersenyum demi melihat tangannya yang kini di genggaman erat oleh Yudha.
" Tapi...soal Sakti..." Yudha mendadak murung.
" Cinta mengenal tempatnya. Aku yakin kok, pria santai macam Sakti pasti bisa mudah berbaur dimanapun. Dan...aku yakin, akan ada wanita beruntung yang bisa melengkapi sisi jenakanya dia!" Ucap Rara sembari mengingat sikap konyol Sakti saat pertama mereka bertemu.
Yudha mengangguk setuju, ia semakin kagum dengan knowledge yang dimiliki Rara. Wanita luar biasa, yang mampu mengubah sudut pandang kehidupannya.
" Jadi kamu tahu kalau dia pergi?" Tanya Yudha.
Rara mengangguk, " Dia sempet kirim pesan ke aku!"
Membuat Yudha mengerutkan keningnya.
Pesan?
.
.
.
.