Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 169. Rarasati



Bab 169. Rarasati


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Rarasati


Ia merupakan wanita mandiri yang menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja di sebuah Departemen store yang belum lama ini buka. Departemen store milik seorang pengusaha muda yang tentu saja tajir melintir.


Baginya hidup adalah tentang dirinya dan bagaimana agar bisa melanjutkan hidup. Dengan cara apapun.


Ia pagi itu tengah bertugas untuk membawa berkodi-kodi tumpukan pakaian menuju meja kasir, atas permintaan temannya. Namun, sebuah kaki yang menurutnya kurang ajar itu malah membuatnya tersungkur lantaran minimnya jarak pandang, akibat ia yang membawa tumpukan baju berplastik itu terlalu banyak.


BRUK!


Sial!


Jelas saat ini ia pasti tengah merutuk, mengumpat dan mendecak kesal dalam hatinya. Siapa pula orang yang berani berdiri di tengah rutenya untuk riwa- riwi itu.


" Kamu lagi?"


Belum sempat ia bangkit, sebuah suara bariton sukses mengalihkan atensinya. Suara milik pria sialan yang semalam sempat gelut dengannya.


" Pria itu?"


Namun ucapan itu hanya sebatas terucap dalam hati , demi melihat pria yang semalam baku hantam dengan dirinya.


Kebetulan macam apa ini?


Namun belum sempat ia menyahut ,lebih tepatnya ingin mendamprat pria itu, sebuah suara datang menginterupsi.


" Ra? Kamu enggak apa-apa?"


Weny yang merupakan seorang teman sepekerjaan itu terlihat mendatangi dirinya dengan tatapan khawatir, dan kini mencoba membantu memunguti satu persatu baju itu dibawah gempuran tatapan bengis seorang pria.


" Sayang, ada apa?" Ia sempat melirik saat seorang wanita datang dan langsung menggamit tangan yang terlihat besar dan berotot itu.


" Cih!" Ia mendecih demi melihat adegan norak di depannya.


" Sory Wen, tadi kesandung barang kurang ajar!" Sahut Rara yang menatap pria tinggi berkaos putih itu dengan sebal.


Jelas dialah biang keroknya!


Membuat pria itu mengeraskan rahangnya karena tersinggung ucapan Rara.


" Ngomong apa kamu, hah?" Yudha berang. Pria itu tak suka dengan cara bicara Rara yang menurutnya kasar.


Namun Rara sama sekali tak meladeni ucapkan Yudha, dan memilih fokus memunguti satu persatu pakaian itu.


Melihat ketegangan yang mulai terasa, Weny akhirnya ambil bagiannya detik itu juga. Jelas temannya itu akan beradu mulut dengan seorang pelanggan pria.


" Udah sini, aku bantu. Buruan ke kasir 3. Udah di tunggu itu sama mbak Hani itu!" Tukas Weny yang juga tekun mengambil baju yang sudah berserakan itu.


Takut dengan wajah Yudha yang menurutnya sangat mengintimidasi.


" Kalau jalan pakai mata makanya!" Cibir pria itu yang kini membuat ia dan Weny mendongak.


Rara seketika meletakkan tumpukan baju yang sudah ia bawa barusan. Sudah cukup ia bersabar.


" Ngomong apa lu?" Rara berdiri seraya melipat kedua tangannya ke dada. Membuat Weny kini mendelik demi ketegangan yang kini tercipta.


Pria itu terlihat melepas tangan wanita yang sedari tadi menempel ke lengannya, dan kini memajukan langkahnya seraya menatap Rara tajam


" Kalau jalan....pakai mata!" Ulang Yudha dengan penuh penekanan di tiap kalimatnya. Menatap tajam wanita dengan alis hitam tanpa sulaman itu.


" Heh!!!! mana ada orang jalan pakai mata, jalan itu pakai kaki!"


"Kaki elu aja yang kurang ajar, malang megung di tempat orang mondar-mandir!" Rara menatap sengit Yudha dengan emosi membara. Melontarinya dengan kata-kata menohok.


Hesti dan Weny sampai bingung dibuatnya. Mereka tengah adu mulut? Oh astaga Rara!


" Udah Ra udah! Tuh dilihatin banyak orang. Jangan sampai dia lapor ke bos!" Bisik Weny yang mulai panik.


Sebenernya Rara tidak akan menjadikan ini masalah jika bukan Yudha yang melakukan hal ini. Kejadian semalam soal Yudha yang berani mengganggu dan sempat menendang perutnya itu, jelas memantik amarah Rara detik itu juga.


" Eh mbak, kamu itu gimana sih? Masa sama pelanggan begitu? Gak profesional banget. Kerja yang bener dong!"


Hesti tak terima Yudha di perlakukan buruk oleh pegawai dengan rambut pendek sebahu itu.


" Udah Ra udah! Maaf ya Bapak Ibuk, sekali lagi kami mohon maaf, permisi!"


Weny mendorong paksa dirinya untuk berjalan seraya masih saling melempar tatapan sinis kepada Yudha. Memungkasi perdebatan sengit itu agar mereka tak terjerumus kedalam masalah yang lebih dalam lagi.


Dasar pria gila!


.


.


Yudhasoka


Sejak pagi ia sudah badmood, dan bertemu wanita itu jelas membuat harinya makin keruh dan runyam saja. Tapi... bagiamana ceritanya copet itu bisa bekerja di departemen store besar seperti ini?


" Kamu enggak apa-apa?" Tanya Hesti mengusap lengannya.


" Total belanjanya dua juta tiga ratus dua puluh dua ribu ya Mbak?"


Rara masih sibuk meladeni satu orang pelanggan yang rupanya lebih dulu mengantre ketimbang dirinya dan Hesti.


Ia memperhatikan dengan saksama wanita pencopet yang kini menjelma menjadi petugas kasir di tempat itu.


" Astaga, berbeda sekali dia dengan semalam. Apa orang-orang disini tahu kalau dia...?"


" Antrian selanjutnya!" Ucap co kasir yang bertugas memasukkan barang belanjaan pelanggannya kedalam sebuah paper bag berlogo departemen store itu.


Ia bersama Hesti maju selangkah. Hesti menyerahkan pakaian yang ia beli, sementara dirinya masih beradu tatapan dingin dengan petugas kasir itu.


" Rarasati?" Ia sempat membaca nama yang tercetak di papan akrilik meja kasir itu.


" Pakai ini!" Tuturnya menyerahkan sebuah kartu kredit diatas meja itu untuk membayar beberapa potong pakaian Hesti.


Weny yang kini menjadi asisten Rara menelan ludahnya demi melihat seorang pelanggan yang beradu pandang bengis dengan temannya itu.


Apa mereka akan mendapat masalah karena hal ini? Oh ya ampun.


" Ini tempat punya Ko Bian ya?" Tanya Yudha kepada Weny yang ia rasa lebih manusiawi.


Weny seketika menegang kala Yudha menanyainya dengan waja datar.


" B-betul Pak!" Jawab Weny tergagap.


" Baguslah, siap-siap kamu!" Ia menunjuk wajah Rara sesaat setelah ia mengambil kartu miliknya dan langsung pergi meninggalkan meja kasir itu. Membuat Hesti berlari dengan langkah tersuruk-suruk demi mengejarnya.


.


.


Kediaman Ambarwati


Sebuah truk kini terlihat terparkir di depan rumahnya yang sudah lebih bagus kondisinya ketimbang beberapa bulan yang lalu.


Truk itu merupakan milik sebuah Departemen store yang khusus menjual berbagai furniture kelas kakap.


Ya, Bayu seketika mengganti semua kasur yang ada di rumah Ambarwati dan meminta orang untuk mengaturnya sekalian.


Pandu sudah ke bengkel dan akan mewawancarai beberapa orang untuk menjadi mekanik baru disana. Membuat Bayu kini harus mengatur sendiri para kuli disana.


" Beres pak, sudah kami atur sesuai permintaan. Kalau begitu kami pamit!" Ucap pria itu dengan mengangguk sopan kepada Bayu.


" Maksih ya, ini tolong di bagi rata sama yang lain!" Bayu menyerahkan sebuah amplop kepada pria berkulit hitam yang menjadi koordinator kuli itu.


" Buat beli rokok!" Imbuh Bayu seraya tersny ramah demi melihat wajah bingung pria di depannya itu.


" Wah....!!! Terimakasih banyak Pak, terimakasih!" Sahut pria itu dengan wajah sumringah sembari mengatupkan kedua tangannya.


Benar-benar tak menyangka akan mendapatkan rezeki nomplok, berupa tip dari pria gagah bertubuh harum itu.


Jika dirasa, amplop yang baru diberikan Bayu itu sangat tebal. Benar-benar pria kaya. Begitu batin empat orang kuli itu.


Ia kini masuk dan mendapati Ambar yang mesam-mesem sendiri. Membuat Bayu sebal.


" Kamu kayaknya seneng banget lihat aku tersiksa semalam ya?" Bayu berengut demi mengingat nasibnya semalam.


...Flashback...


" Kok bisa begini Buk?" Tanya Pandu serius. Menatap benda yang kini ajur mumur.


"Tadi Ayahmu mau ganti lampu diatas itu!" Tunjuk Ambarwati pada lampu yang memang berasa tepat di atas kasurnya.


" Belum sempet ngambil lampunya lakok ambruk Ndu!" Entahlah, Ambarwati hanya berusaha menyelamatkan suaminya dari deraan rasa malu.


Pandu menatap iba Bayu yang terduduk sambil memijat keningnya.


" Harusnya nunggu Pandu aja tadi, ada tangga kok di belakang. Ya udah, sini biar Pandu beresin. Ibuk tidur di kamar Ayu aja dulu yang kasurnya lebih besar!"


Ucap Pandu sembari melepaskan jaketnya yang sedikit basah, dan berniat akan membereskan kekacauan itu persegera. Ini sudah malam, dan semua ingin beristirahat.


Usai menolong Pandu membereskan kekacauan yang mereka buat, Bayu kini memeluk istrinya sembari memejamkan matanya saat ia sudah saling berbaring diatas kasur mendiang ayu.


" Maaf ya Mas, gara-gara keadaan dirumahku...mas jadi...!"


" Pssstttt. Enggak apa-apa, udah, ayo kita tidur aja. Masih ada hari esok dan seterusnya. Aku udah minta Rendy buat ngurus semuanya. Besok kita ganti semua. Nanti kalau kita balik kesini biar aman. Aku ngantuk banget Mbar, begini aja dulu ya!" Ucap Bayu yang memang sudah terserang kantuk dan rasa lelah.


Ia kini benar-benar ingin tertidur sambil memeluk istrinya dari belakang. Posisi yang benar-benar nyaman.


Ambarwati terkikik geli bercampur malu demi mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Jelas suaminya itu pasti sangat merasa tersiksa.


...Flashback end...


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komentarnya ya πŸ€—