Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 218. Menjelang hari bahagia Aji



Bab 218. Menjelang hari bahagia Aji


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Di kesunyian hatinya malam itu, ia masih dilanda keresahan , sebab ia benar-benar kehilangan sosok Sakti secara utuh. Pernikahannya tinggal beberapa Minggu lagi dan besar harapannya Sakti akan datang, namun hingga saat ini, ia masih tak berhasil mengendus kemana rimbanya pria sableng itu.


Hah, susahnya!


Nomor ponsel reguler maupun nomer WhatsApp pria itu juga sama sekali tidak bisa di hubungi. Sebenarnya menenggelamkan diri kemana sih pria koclok itu?


" Bos kopinya!" Ucap Sukron yang membawa dua cangkir kopi ke meja putih di depan layar TV raksasa itu.


" HM, gimana undangannya Kron?" Tanya Aji yang duduk menyilangkan kaki, sembari tekun memproduksi asap. Bergaya santai macam orang yang tak memiliki hutang.


" Aman, sudah sesuai permintaan. Besok tinggal list daftar yang di undang bos!" Jawab Sukron yang kini menyeruput kopi hitam dengan takaran gula yang pas itu.


Sllrruuuppp!!! Ah mantap.


Aji tertegun, mendadak ia teringat dengan bibinya yang berada di penjara khusus wanita yang masih menjalani hukuman, pasca menyerang Damar beberapa waktu lalu. Bibi yang nelangsa sebab dikirim oleh keponakannya sendiri kedalam penjara.


Dan dari kesemuanya itu, membuat Aji pagi ini nekat mengunjungi wanita itu seraya membawakan beberapa makanan.


Ia kini duduk di sebuah kursi yang di hadapannya berada sebuah meja persegi, dengan taplak biru pucat yang senada dengan cat di ruangan itu. Terlihat kuno dan membosankan.


Tak berselang lama, datang seorang sipir wanita yang berjalan di belakang bik Arning yang kini terlihat kurus. Membuat Ajisaka menelan ludahnya sendiri demi melihat penampilan bibinya yang menyedihkan.


Wanita itu tak banyak bicara dan terlihat pucat.


" 15 menit!" Tukas sipir wanita itu singkat, yang segera di balas anggukan oleh Ajisaka.


Keheningan menyeruak. Bik Arning terlihat tak menatap Aji. Wanita itu seperti tak memiliki semangat hidup.


" Apa kabar Bik?" Sapa Aji mencoba meraih tangan bibinya yang ia kirim ke penjara itu.


Suasana masih hening. Bik Arning diam, cenderung malu. Wanita itu terlihat menyedihkan sekali. Tak bermake-up, tak berhias maupun bersolek, dan terkesan tak terawat.


" Bik Aku..." Aji mencoba merendahkan diri untuk mulai berbicara.


Buk Arning menarik tangannya perlahan saat Ajisaka hendak meriah tangan wanita itu. Membuat Aji menghembuskan napas panjang. Sepertinya wanita itu masih menyimpan rasa sakit di hatinya.


" Aku akan segera menikah dengan Wida..." Ucapnya menatap lurus ke arah Bik Arning yang kini menatap kosong ke arah lain. Bagai kehilangan pengharapan.


" Semoga dengan semua ini bibi mau sadar. Aji cuma mau minta doa restu dari Bibik Tolong doakan acara Aji lancar tanpa suatu halangan apapun Bik!" Aji menggigit bibir bawahnya demi rasa sesak di dadanya. Bagiamanapun juga, wanita itu merupakan satu-satunya orang tua dari garis keturunan yang masih ia miliki.


Merasa tak sanggup lebih lama lagi berada di sana, Aji terlihat bangkit dan berniat undur diri.


" Aku pergi Bik!" Pria itu menghela napas berat sesaat sebelum beranjak dari kursi kayu itu. Setidaknya ia sudah memamiti bibinya, walau bagaimanapun keadaannya. Selebihnya, ia hanya pasrah kepada semesta.


Aji terlihat mengusap wajahnya. Pria itu sepertinya mengeluarkan air mata. Bagiamana tidak, Ia menikah bahkan tanpa sosok orang tua.


" Tunggu!" Ucap Bik Arning yang berhasil membuat langkah Aji terhenti.


Aji membalikkan badannya dan menatap punggung Bik Arning yang masih terduduk. Perlahan wanita itu memutar tubuhnya, dan kini berjalan beberapa langkah menuju tempat Aji berdiri. Menatap wajah Aji dengan tatapannya yang layu.


" Semoga hidupmu beruntung. Berbahagialah selalu!" Bik Arning menepuk pelan pundak Ajisaka dan sejurus kemudian pergi meninggalkan Aji yang masih mematung.


" Maafkan aku!"


Sebulir air mata meluncur manakala hati Ajisaka merasa tersentuh. Ia percaya, doa baik dari orang-orang terdekatnya jelas menjadi barang mujarab yang bisa ia jadikan bekal.


Aji merasa, mungkin bibinya sedikit banyak telah berubah. Berbulan-bulan menghabiskan waktu di penjara pasti telah merubah keangkuhan hati wanita itu. Ia percaya, semua orang selalu memiliki kesempatan untuk berubah.


.


.


Jelang H - 7 pernikahan, Aji masih memiliki ganjalan di hatinya, terkait keberadaan Sakti.


Namun hal yang membahagiakan, belakangan ini ia mendengar kabar jika ibunya Yudha sangat menyukai Rara. Bahkan mereka sudah mengunjungi orang tua Rara yang sakit. Benar-benar progres yang baik.


Jangan-jangan dalam waktu dekat mereka juga akan menikah? Ah entahlah, yang jelas ia juga bahagia jika sahabatnya bahagia.


Makin dekat dengan hari pernikahannya, pria itu terlihat makin posesif terhadap sang calon istri. Pria itu kini bahkan telah bersekutu dengan Kang Darman, untuk melarang Wida bepergian jauh.


Kata orang, calon manten jelang pernikahannya itu sangat rawan kena sengkala.


" Wid jangan kecapekan ya, ingat seminggu lagi!"


" Kalau perlu apa-apa kamu bilang aja sama Sukron, dia bakal beliin nanti!"


Dan sudah seperti sebuah hukum alam, bahwa apa yang kita tunggu, justru akan semakin terasa lebih lama datangnya. Demi memburu waktu, Aji juga terlihat lebih sering menyibukkan dirinya untuk workout secara mandiri, demi melatih staminanya yang sebentar lagi jelas akan sering ia pacu. Membuat Sukron menggelengkan kepalanya, tiap memergoki Aji yang berolahraga malam hari.


" Jatahmu tinggal seminggu lagi disini Kron, baik-baik elu ya!" Aji terkekeh saat mencibir Sukron yang kini melahap tiga bungkus mie instan, sebagai teman menonton film action dengan adegan wik- wik yang menjadi headline disana.


Benar-benar cabul.


Aji semakin sering menggoda Sukron demi membunuh rasa bosannya di hari-hari sebelum ia melepas masa lajangnya, kepada janda montok pencuri hatinya itu.


Sukron sampai hapal, setiap malam pasti bosnya itu mencibirnya selepas berolah raga. Seperti malam ini misalnya.


" Jatahmu tinggal...."


" Dua hari!" Sahut Sukron memotong ucapan Aji, sembari melirik malas bosnya yang kini sudah lebih sering tersenyum ketimbang nesu ( marah). Membuat Aji terkekeh.


" Kamu ngitung juga?" Tanya Aji yang kini mendudukkan tubuhnya ke sofa samping Sukron dan terlihat meneguk minuman isotonik.


" Ya ngitung lah bos, jangan sampai waktu hati H, saya masih tidur disini. Bisa disuruh momong si Damar saya nanti!"


Ucap Sukron makin membuat Aji tergelak. Sejurus kemudian pria itu terdiam. Menatap Sukron yang kini tekun mengeruk sisa mie goreng porsi jumbo edisi terkahir, dengan tatapan haru.


" Makasih ya Kron, selama ini kamu selalu ada buat saya!" Aji menepuk pundak pria dengan rambut biru bak kemoceng rumput Jepang itu. Membuat Sukron menatap kaget ke arah bosnya, yang mendadak bersuara sendu.


" Kalau enggak ada kamu dalam hidup saya, saya enggak tahu lagi Kron" Aji memijit-mijit pundak pria dengan brewok tipis itu dengan hati penuh rasa syukur . " Terimakasih karena selama ini kamu mau jadi penampung kemarahan saya."


Sukron kini meletakkan piring kosong itu dengan hati sesak dan air mata yang sudah antri di pelupuk matanya. Benar-benar terharu. Oh astaga bos, anda bisa mellow juga ya?


" Jangan begitu Bos, saya kok jadi merinding ini!" Sukron menyusut air matanya menggunakan ujung kaosnya. Ini merupakan kali pertamanya, Ajisaka berucap dengan tutur lembut.


" Saya yang terimakasih bos, Karena bos udah mau memperkerjakan saya. Saya...!" Sukron tercekat dan menangis. Ia merasa Ajisaka selama ini sudah seperti kakaknya. Bahkan seperti dewa penolongnya.


Pria yang mudah marah itu memiliki sisi baiknya sendiri. Seperti mudah memberi sesuatu ke orang yang berkekurangan, ataupun selalu mengatakan 'Ya' saat para anak buahnya meminjam uang, jika ada salah satu anggota keluarga mereka yang menyandang susah, maupun masuk kerumah sakit.


Aji memeluk Sukron yang tercekat karena tangisnya yang pecah. Membuat suasana menjadi mengharu biru.


" Udah, it's Ok!" Aji menepuk-nepuk punggung Sukron yang bergetar karena tangis. Pria itu terharu demi mengingat kisah hidup Ajisaka yang dulunya benar-benar sulit. Sama sekali tak mengira jika dua hari lagi, pria itu akan menyudahi masa lajangnya.


" Bos, souver..."


" Astaga bos?" Dino yang membuka pintu tanpa mengetuk karena terburu-buru itu seketika membulatkan matanya demi melihat hal mengejutkan di hadapannya.


Baik Aji maupun Sukron kini saling mendorong tubuh satu sama lain. Sungguh Din, ini tidak seperti yang kamu bayangkan.


Membuat Dino tersenyum licik seraya menyipitkan matanya. Auuu!


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari ini banyak urusan yang tak masuk di akal. Jadi... membuat Geng bang Pandu sama Bang Raka only one chapter ya. Sepuntene ✌️