Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 143. Di persimpangan pilihan



Bab 143. Di persimpangan pilihan


^^^" Tidak ada kata malu, untuk segala sesuatu yang sifatnya terpaksa!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


Ia mendapat tatapan sinis dan dakwaan bengis dari para tetangga yang entah mengapa sebabnya. Ia baru saja kena musibah lalu mengapa justru ia mendapat perlakuan seperti itu?


" Pak, kenapa ya kok mereka ngelihatin Wida kayak gitu?" Wida bertanya saat ia bersama Pak Atmojo masih berjalan beriringan. Risih akan tatapan tak menyenangkan dari para warga.


Pat Atmo terlihat menundukkan wajahnya. Hatinya sesak.


" Kita bicara dirumah saja !" Sahut Pak Atmo dengan raut tak terbaca. Membuat Wida makin bertanya-tanya.


Siang itu setibanya mereka dirumah , ia langsung di sambut oleh Ibu yang menangis tersedu-sedu. Ia tahu, selama ini ia hanya menjadi beban dan sumber kesedihan saja.


" Y Allah Wid, syukur kamu selamat nduk!" Ibu menubruk tubuhnya seraya menangis. Definisi dari memuncaknya kekhawatiran.


Wida memeluk ibunya. Kesedihan yang begitu kentara seolah tiada habisnya tercipta.


" Mana Damar Buk?" Tanyanya sesaat setelah melepaskan pelukannya, sembari mengusap air mata menggunakan puncak bajunya. Tampilan Wida yang lusuh dan berantakan, makin membuat hati ibunya nyeri.


" Dia barusan tidur siang. Ya Allah Wid, untung kamu selamat nduk!" Seolah tiada cukup, Ibu terus memeluknya. Membuat suasana mengharu biru.


" Kamu mandi dulu terus makan, setelah ini kita bisa bicara!" Tutur Pak Atmo sembari berlalu. Benar-benar tak bisa menunda lagi.


Wida menatap wajah ibu yang masih basah oleh air mata. Terlihat bingung karena ada apa sebenarnya? Mengapa terjadi kecanggungan disana.


Wanita itu menurut semua sugesti dari Bapaknya, ia pun kini telah berganti baju dengan rambut yang masih basah usai keramas tadi, sembari memangku piring berisikan nasi, sayur sawi hijau dan sepotong telur dadar buatan Ibu.


Terasa lezat meski berbalut kesederhanaan.


Ibu terus menundukkan kepalanya, sementara Bapak memasang raut tidak terbaca. Damar yang bisa ia intip dari bibir pintu kamarnya itu, terlihat masih mengeluarkan napas teratur. Itu artinya, Damar masih tertidur.


" Kamu mau tahu alasan orang-orang menatap kamu begitu? Dan enggak ada yang datang buat nanyain kabar kam?"


Tanya Bapak. Membuat suapannya ia hentikan. Ibu masih tertunduk layu. Ada apa ini?


Wida mengangguk sambil mengunyah makanannya. Bapak menarik nafasnya sebelum menjelaskan, terlihat serius sekali.


" Warga disini tahunya kamu kemaren berantem sama Pram karena kamu di tuduh kerja enggak bener di kota Wid!"


DEG


Apa-apaan ini? Bukankah segala bentuk tuduhan tanpa bukti adalah fitnah?


"Terus, sewaktu kamu buruh nyetrika ke tempat Pak Aji kemaren, ada yang ngelihat kamu...!"


Bapak tidak meneruskan ucapannya, membuat Wida seketika meletakkan piringannya. Hasrat makannya telah menguap. Jelas ini hal serius.


" Aku kenapa Pak?" Wida sudah hendak menangis. Apa kesalahpahaman tak sengaja tempo hari , digunakan orang untuk memfitnah dirinya?


.


.


...Flashback...


Pak Atmojo


Sewaktu Pram membawa Wida dengan paksa usai bertengkar kemarin, Pak Atmo benar-benar kehilangan cara dan akal untuk berpikir taktis. Pria tua itu tak bisa mengejar anaknya yang di bawa Paksa Pram. Selain langkahnya yang terseok-seok, ia juga tak mungkin tahu kemana Pram akan membawa anaknya pergi.


Tak sedikit warga yang menaruh iba dan berusaha membantu. Namun, hingga jelang sore hari keberadaan Wida masih tidak ada kabar.


Dan saat jelang malam, Pak Atmojo baru tahu jika Rukun bertemu wanita yang di serang pria masuk ke hutan.


Ya, Rukun turun gunung usai ikhtiarnya bersama Yudha tak membuahkan hasil.


Rukun juga menjelaskan jika ia bertemu dengan Pak Aji dan rekannya, yang berusaha mencari ke hutan namun nihil.


Dan entah kabar burung dari mana, warga banyak yang mencibir dengan kata-kata tidak enak di dengar.


" Mo, jadi anak kamu di kota kerjaannya ngelon*te?"


" Pantas aja suaminya kesini marah-marah!"


" Pantesan pulang-pulang enggak bawa suaminya!"


" Eh ia bener, kemaren ada yang cerita ke aku kalau si Wida itu masuk ke rumah Pak Aji. Padahal setahu kita kemaren Pak Aji kan udah dekat sama anaknya Pak Widiantoro!"


" Mo, anakmu itu masih istrinya orang . Tapi malam-malam kok malah tumpuk undung ( tumpang tindih sama Pak Aji sih. Jual diri sama orang kaya aja maunya dia!")


Bagai tersambar petir, pria tua itu seketika dipenuhi amarah yang menggebu. Apa maksudnya ucapan mereka.


" Hati-hati kalau ngomong! Anak saya sedang kena musibah, dan sampean malah ngomong ngawur kayak gitu!"


" Itu fitnah, anak saya justru di dzolimi sama suaminya!"


" Lah..ngawur gimana? Kamu enggak tahu kan kalau sekarang Pak Aji nyari ke hutan? Pasti anak kamu itu ada - ada sama Pak Aji, anakmu emang gak bener dari dulu Mo! Mo!"


" Maling juga mana ada yang mau ngaku!"


Pak Atmojo benar-benar tidak bisa lagi menahan diri, jika sudah menyangkut putrinya. Mereka miskin, tapi tentu saja tidak akan melakukan hal seperti itu.


Malam hari usai berpikir keras, pria kurus itu akan bertekad untuk menemui anak dari Mariana yang ia ketahui turut Andil saat berusaha mencari Wida ke hutan.


Ya, Pak Atmojo pagi itu mendatangi rumah Yudhasoka.


Namun tak di nyana, di rumah pria dengan wajah datar itu, ia juga bertemu dengan dua pemuda lain yang berwajah rupawan, ia merendahkan diri dan tidak mau membahas derita di hatinya terkait Wida yang mendapat cap buruk.


Fokusnya hanya satu, menemukan Wida dan berniat pergi dari tempat yang ia rasa susah tak aman lagi untuk keluarganya itu.


Ia percaya Wida, dan ia tak meragukan hal itu. Jika ia tak bisa mengehentikan laju bibir kurang ajar orang lain, maka setidaknya ia masih bisa pergi guna kesehatan diri dan hati mereka.


Di dalam mobil, tak sepatah katapun ia ucapkan. Meski ia tahu, ketiga pemuda tampan itu merupakan sahabat mantan juragannya dulu.


Ia hanya fokus mencari Wida bersama seorang pemuda yang ia ketahui bernama Pandu. Pemuda tinggi tegap bersikap ramah dan terlihat begitu baik.


Hatinya sebenarnya terbakar saat Wida bersama Pak Ajisaka. Ia bukannya tak menyukai pria kaya itu. Secara pribadi ia malah segan kepada Ajisaka yang dermawan meski mudah emosi.


Tapi kini, jika mereka pulang nanti, jelas tuduhan masyarakat akan tingkah Wida akan seolah terbukti.


Tuhan memang sedang baik, ia bersama Pandu yang mendengar suara teriakan minta tolong segera berlari.


"Wida!" Ucapnya saat melihat anaknya yang bersimpuh di hadapan Ajisaka yang terlihat sibuk dengan suatu hal.


Ia kasihan dengan tampilan anaknya. Hatinya sebagai Bapak bak teriris sembilu tatkala melihat kondisi Wida yang lusuh


" Nduk!!!" Ia memeluk tubuh putrinya erat. Tak memperdulikan Aji yang tengah di sambut oleh Pandu.


" Untung kamu slamet nduk!" Pak Atmojo mengusap punggung anaknya.


" Aku enggak apa-apa pak, tolongin mas Aji! Dia kena kalajengking!" Wida kini menangis dan terlihat panik. Keterkejutan kini nampak menghiasi wajah Pak Atmojo dan Pandu.


" Mas Aji! Tenang mas, kita udah ketemu bapak. Kit bisa pulang setelah ini. Ayo pak cepat bawa Mas Aji turun!"


Ia ingin mengatakan keresahan yang menggelayut di hatinya, tapi ia tak boleh egois. Melihat Wida yang mencemaskan Ajisaka, membuat pria itu kini terdiam.


Ia jelas berhutang Budi kepada Ajisaka.


Pun di dalam mobil, ia juga masih diam seribu bahasa. Hingga ia melihat Bu Arning dan anak dari Pak Widiantoro yang bersikap dingin kepada anaknya, membuat dia yakin jika sumber berita tidak benar itu mungkin saja berasal dari mulut dua wanita sombong itu.


"Wid!" Pak Atmojo mencekal tangan Wida yang hendak melangkah , lalu menggeleng dengan wajah putus asa. Membuat langkah anaknya itu terhenti.


" Tidakkah kau lihat raut wajah bibinya Pak Aji? Dan juga anak Pak Widyantoro tadi?" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh ia ingin mengatakan kesesakan di hatinya saat itu juga. Ingin sekali.


Ia bisa melihat wajah Wida yang tertegun.


" Kita pulang. Ada Damar yang menunggu. Setelah ini bapak yang akan mengucapkan matur nuwun pada pak Aji!"


Ia terpaksa mengucapkan hal itu. Ia sadar akan semuanya, dan berniat menanyai Wida saat tiba di rumah nanti.


Dan untuk Ajisaka, ia akan tetap berterimakasih nanti. Aji memang orang baik, hanya saja ia kini lebih mementingkan anaknya. Ia takut jika dua wanita tadi berbuat jahat kepada Wida.


Pria tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan itu, jelas bisa menyimpulkan jika anaknya akan mendapatkan masalah jika terus berada circle Ajisaka. Terutama Arninggara.


...Flashback end...


.


.


Pak Atmojo akhirnya menceritakan suara-suara sumbang yang beredar. Tentang tuduhan tak beralasan dari beberapa orang yang cukup mengusik pikirannya.


Wida seketika terduduk lemas. Bukan soal ia jauh dengan Aji, tapi mengapa warga di sana justru mempercayai jika ia berlaku cemar tanpa bukti. Mengapa fitnah semudah itu di telaah tanpa godokan matang?


Dan untuk malam itu...hanya dua pria itu yang mengetahui jika ia tak sengaja tertindih Ajisaka. Sakti dan Yudha.


" Bapak sudah putuskan kita harus pindah dari sini Wid!" Ucap Bapak penuh kesungguhan. Sorot matanya menyimpan keresahan.


" Tapi pak..."


" Bapakmu benar. Pram tahu tempat kita, warga disini terlanjur mandang kamu jelek nduk. Apalagi kebetulan yang nolongin kamu kok ya Pak Aji !" Wajah ibu muram. Semua bersedih karena dirinya.


Pertengkaran besar seperti itu memang bukan prestasi yang baik. Apalagi jika ada di desa seperti itu.


" Tapi kita baru aja buka warung, terus sekolah Damar?" Wida benar-benar mumet, ia juga belum menengok kondisi Ajisaka yang entah kini seperti apa.


" Bapak sudah pikir matang-matang nduk. Kita pindah ke rumah Mbah buyut mu yang di Alas Jati. Rumah ini ya biar dulu, nanti kedepannya bapak pikir sambil jalan!"


" Masalah setoran kita nanti cari gimana caranya. Yang penting Pram gak nemuin kita dulu nanti!"


" Terus terang nduk, bapak enggak kuat kalau kamu di bilang ini itu sama warga. Hati bapak sakit!"


Wida menitikan air matanya kala melihat bapak yang menangis sambil berbicara. Membuat Ibu turut larut dalam tangis. Bagiamana ini?


" Hari ini juga kita Pindah. Orang-orang kalau ngomong enggak enak nduk. Bapak Enggak kuat. Masalah Pak Aji, nanti Bapak akan menghadap ke sana. Bapak akan berterimakasih nanti!"


" Kita ini orang nggak punya nduk. Kalau bisa kita nggak usah cari masalah sama Bu Arning apalagi sama anaknya Widiantoro. Buat bapak yang penting sekarang kamu sama Damar!"


Ibu hanya mengangguk sambil sesekali menyeka air matanya menggunakan ujung bajunya. Entah mengapa meski hati Wida tidak rela, tapi semua yang di katakan bapaknya itu benar.


Mas Pram yang tahu jika dia masih hidup, jelas akan kembali menyakitinya lalu membawa Damar suatu saat nanti. Tidak! Itu tidak boleh terjadi.


Kini, dalam hati ia memantapkan hati untuk mengikuti saran Bapak guna mengamankan diri dulu. Meski entah mengapa hatinya ingin bertemu Ajisaka, tapi semua yang di katakan Bapak itu merupakan sebuah kebenaran.


.


.


Ajisaka


Ia merasa tubuhnya lemas dan kakinya bengkak. Mulai kehilangan kendali atas dirinya. Nyaris pingsan.


" Ini minum dulu!" Ia bisa mendengar suara Bik Arning yang ada di kamarnya. Antara sadar dan tidak sadar.


" Des, kamu bantu Aji buat duduk dulu gih!" Tutur Bik Arning kepada Desinta. Aji yang benar-benar lemas, kini hanya pasrah saat wanita itu merengkuh tubuhnya untuk duduk.


Pandu, Yudha dan Sakti hanya bisa saling melirik. Jelas mereka muak akan hal itu.


" Aji biar aku rawat. Terimakasih kalian sudah membatu Aji!" Ucap Bik Arning kepada tiga pria ganteng itu.


" Kalian boleh pergi!"


" Kami disini dulu, Aji membutuhk....!" Sergah Sakti.


" Tidak perlu, aku bibinya. Aku yang akan merawat. Ah Des, itu mungkin mobil dokternya. Kamu jemput dulu ke depan!"


" Baik Bik!" Jawab Desinta yang menatap sinis Sakti dan mencibir Pandu. Aji terlihat memejamkan matanya dan tak bisa lagi mendengar semuanya.


Yudha mencegah langkah Sakti yang sudah hendak maju, Pandu menggeleng mengingatkan Sakti untuk tidak membuat onar. Kini, mereka bertiga keluar dari tempat itu.


.


.


" Asu emang nenek lampir itu! Masa kita di usir dari sana coba, mana bawa di belatung nangka itu lagi!" Sakti ngomel-ngomel kesal. Ia benar-benar sebal dengan sikap Bibi Aji yang seenaknya.


Yudha masih duduk bersidekap, pria itu juga berpikir kemana Wida? Kenapa wanita itu tidak masuk? Bukankah wanita itu tadi bersama mereka?


" Tenang. Bi Arning memang bibi Aji kan? Jadi biarkan dulu. Kita tunggu saja disini. Kita bisa tanya dokter nanti!" Sahut Pandu.


Pandu selalu bisa menenangkan keresahan para sahabatnya, meski kini ia menjadi resah menunggu kabar dari dokter.


Kini, ketiga pria itu terlihat hanyut dalam pemikirannya masing-masing. Yudha yang masih duduk bersidekap, Pandu yang berdiri sambil menghisap rokoknya, dan Sakti yang berwajah mendengus sambil duduk menjahit bumi.


Sialan!


.


.


Arninggara


" Terimakasih banyak dokter!" Ucapnya sambil mengantar dokter tersebut keluar, usai mengedipkan matanya kepada Desinta untuk bersama Aji beberapa waktu.


Ia dan Desinta yang mengetahui jika Aji terlibat dalam pencarian Wida jelas merasa tak terima. Apalagi, ia kemaren mengetahui jika anak Atmojo itu tengah tumpah tindih dengan keponakan. Hak itu ia ketahui dari aksi mengintipnya dari jendela.


Brengsek!


Kebetulan sekali, ia yang mendengar berita jika anak Atmojo itu tengah bertengkar hebat dengan suaminya, mencuci otak para warga untuk mempercayai ucapannya yang penuh tipu muslihat.


Ia tak ingin keponakannya yang kaya itu jatuh ke tangan wanita lain selain pilihannya. Benar-benar perdagangan yang tidak pernah merugi.


" Pantas saja suaminya kesini marah. Lawong dia jual diri!"


" Eh tahu nggak, kemaren dia juga kegatelan tahu ke keponakan saya. Ya kalian tahu kan, Aji itu kaya, banyak duit, jadi dia nyodorin diri ke sana. Enggak tahu malu banget!"


" Tapi mbak, kalau si Wida jual diri, ngapain Pak Aji datang ke hutan nyari?"


Ia sempat kebingungan saat hendak menjawab.


" Duh aku enggak tahu kalau masalah itu, yang jelas kayaknya keponakan saya kena- kena itu. Pasti wanita itu pakai pelet atau apalah. Ini makanya nanti kalau keponakan saya ketemu, mau saya carikan orang pintar juga!"


Sungguh licik dan benar-benar pemain kelas kakap. Lebih bodohnya lagi, kenapa warga malah banyak yang percaya jika sudah menyangkut hal tabu seperti itu?


Sekembalinya ia dari mengantar dokter, ia mengunci pintu rumah Aji dan tak membiarkan siapapun untuk masuk.


Kini, ia bersama Desinta merasa diatas angin. Benar-benar wanita rendahan.


.


.


.


.


.


Mommy belum bisa up banyak gaes, tapi ini mommy sempatkan. Masih silaturahmi ke sanak saudara yang lebih tuaπŸ€—πŸ€—πŸ€—