Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 34. Ikatan Batin



Bab 34. Ikatan Batin


^^^" Banyak permasalahan yang tak akan selesai, hanya karena emosi!"^^^


...☘️☘️☘️...


.


.


.


Rizal


Usianya menginjak 26 tahun. Berasal dari keluarga yang cukup mumpuni di daerahnya. Perangai yang lumayan serta wajah hitam manis, tak jarang membuatnya di gandrungi kaum hawa.


Ia adalah pria lulusan salah satu universitas nomer Wahid dengan gelar sarjana pertanian. Ia kini bekerja di Dinas Pertanian dan Pangan di daerahnya, serta kini lekas mengelola gudang gabah dan usaha jual beli gabah milik petani.


" Rizal!" ia berucap seraya menatap Fina penuh kekaguman.


" Fina!" jawabnya biasa saja. Cenderung risih.


" Ehem! Fina berdehem sembari berengut lantaran tangannya tak jua di lepaskan.


" Maaf!" ucap Rizal kikuk. Mungkinkah jika ia kena serangan pandangan pertama?


.


.


Serafina


Dengan wajah semakin berengut, ia menutup pintu mobilnya dengan keras. Menandakan kemarahan.


Brak


Bu Asmah menggelengkan kepalanya " Kamu ini kenapa lagi? berangkat senyam-senyum, pulang jadi monyong begini!"


Fina masih memanyunkan bibirnya, seraya sibuk bermanuver dengan kasar. Memainkan perseneling mobilnya dengan hati dongkol.


Ia kesal karena sedari di sana tadi, Rizal malah terus saja menatapnya. Membuatnya rikuh. Tak suka degan pria yang sok kenal sok dekat.


" Oma lagi, pakai acara ngomong Fina ini masih Single lah, masih jomblo lah!" Fina menggerutu kesal. Kedua alisnya yang berkerut, jelas menandakan bila Fina benar-benar marah.


" Lah, kan kamu memang masih belum menikah Fin. Oma salahnya dimana?" elak Bu Asmah. Sembari terkekeh tentunya.


Fina masih gencar memunculkan raut wajah kesal dengan alis yang tak henti-hentinya bertaut, " Pokoknya Fina ogah kalau berurusan sama itu orang, Fina gak mau titik!"


Fina emosi, urusan Riko belum beres kini malah Oma-nya basa basi dengan anak si Kemal. Fina semakin menginjak pedal gasnya kencang saat ia teringat ucapan gila dari kemal.


" Anak saya juga sendiri, dan Single Bu. Siapa tahu..."


" Kalau jodoh gak kemana!"


Ucap yang di sinyalir mengandung kadar aroma urusan yang jelas tidak Fina sukai itu, benar-benar membuat Fina kesal. Stop untuk membahas soal itu begitu pikirnya.


" Oma kan cuma bilang kalau jodoh gak kemana, kan benar Fin!"


" Kan memang benar!"


" Iya tapi gak usah lah kasih- kasih sinyal kayak gitu. Fina gak suka Oma! Oma gak lihat apa, si Rizal dari tadi ngelihatin aku?" makin mendengus kesal.


Citttt


Tanpa di nyana, karena terpantik emosi yang membuncah ia tak senagaja hampir menabrak perjalan kaki yang tengah bersama anaknya. Fina tak fokus ke jalanan yang saat itu tengah ramai.


" Fina! kamu ini gimana sih?" Bu Asmah seketika panik, wajah wanita tua itu menjadi pias, degub jantungnya kini menjadi berdetak kencang.


Fina langsung membanting setirnya ke arah kanan demi menghindari bocah dan ibunya yang sudah sangat terkejut. Bisa dipastikan pasti saat ini dua manusia yang hampir meregang nyawa itu, tengah mengumpat.


Berhasil menghindari dua manusia itu, tanpa di ketahui dan ia sadari ada sebuah mobil mini bus yang membawa rombongan anak sekolah melaju kencang dari arah berlawanan tepat di hadapan mobil Fina.


" Fina!!! awas!!!" dalam sepersekian detik, keadaan berubah menjadi kacau. Panik tak terukur.


" Woy sialan, yang benar kalau nyetir!" umpat supir yang membawa rombongan anak sekolah itu dengan wajah kesal maksimal,karena nyaris saja bertabrakan.


" Awas Fin!" teriak Bu Asmah. Kini Fina semakin kehilangan kendali, ia terpaksa membanting kembali setirnya ke arah kiri dan..


Brakkkkk


Bruakkkk


Fina kehilangan kendali dan tabrakan pun tak terhindarkan. Jalan itu jalanan sempit dua arah, kaca mobil Fina retak dan bemper sebelah depan Fina mengeluarkan kepulan asap.


Mobil pickup itupun juga rusak parah, bahkan beberapa tray buah naga juga terlihat berjatuhan ke jalan. Membuat suasana seketika menjadi mencekam.


Bunyi klakson kendaraan lain makin membuat runyam. Telah terjadi tabrakan beruntun di jalan itu.


Kepala Fina menghantam setir dengan begitu kerasnya. Anak Guntoro itu terlihat tak bisa membuka matanya karena merasakan pandangannya tiba-tiba gelap, kepalanya bak di hantam sesuatu yang berat.


Cairan kental asin juga terlihat keluar dari hidung Fina. Perlahan ia mulai kehilangan kesadaran


" Fina!!!!!" teriak Bu Asmah di samping cucunya yang melihat Fina dalam keadaan sebegitu kacaunya.


" Tolong!!! tolong cucu saya!" Bu Asmah berteriak meski ia sendiri merasakan seluruh tubuhnya remuk redam. Ia juga bisa melihat jalan itu kini dipenuhi oleh banyak sekali manusia, serta guguran buah naga yang jatuh ke jalanan.


Keadaan seketika menjadi kacau balau.


...☘️☘️☘️...


Nyonya Lidia


Pryang!!!


Tangannya tak sengaja menyenggol foto Fina di nakas dekat ranjang, saat ia sibuk memvacum kamar anaknya itu. Meski dirumahnya ada ART, khusus kamar Fina ia sendiri yang merawat, selama Fina berada di desa.


Sedari pagi Nyonya Lidia merasa perasaannya tidak tenang. Ia juga tak tahu sebabnya. Wanita itu hanya merasa rindu dengan anaknya. " Kenapa makin gak enak perasaanku ya?" ia bergumam seraya memunguti pigura yang pecah.


" Astaga Buk, ada apa ini?" ucap Siti assiten rumah tangga mereka yang mendengar bunyi benda terjatuh. Wanita itu tergopoh-gopoh menuju sumber suara itu berasal.


" Gak sengaja ke senggol Sit. Gak tahu nih, lagi kangen Fina jadi bersihin kamar dia. Eh gak taunya malah nyenggol ini. Kamu beresin ya, saya mau ganti pigura yang baru!" tukasnya kemudian berlalu seraya mengambil selembar foto yang menampilkan foto cantik Fina yang sedang tersenyum.


" Nggeh Bu!" sahut Siti sembari langsung memunguti pecahan kaca bening itu.


" Oalah mbak Fina, semoga gak terjadi apa-apa!" ucap Siti tak sadar di sela-sela aksi pungut memungut.


Nyonya Lidia tak sengaja mendengar Siti yang bermonolog" Apa kamu bilang?" membuatnya sedikit menaikkan intonasi suaranya, demi mendengar ucapan Siti.


Siti terperanjat, tak mengira jika majikannya masih berada di sana " A-anu Buk, kata orang kalau kita sedang memikirkan orang, terus ada benda pecah itu menandakan orang tersebut dalam..."


" Jangan ngaco kamu! udah gak usah banyak omong, cepet beresin!" sergah Nyonya Lidia dengan wajah kesal.


Siti menelan ludahnya karena menyesali kebodohannya. " Ma-maaf Bu!" ia menunduk sungkan.


Sudah dua hari ini ia merajuk dengan suaminya. Ia ingin menyusul Fina ke desa. Ia merasa tak tahan, namun tak di ijinkan oleh Guntoro.


Membuat kedua orang tua Fina itu kini tak saling bicara.


Tiga puluh menit kemudian usai ia mengganti dan memasang foto Fina ke dalam pigura yang baru, ponselnya berdering.


Yayuk calling....


" Yayuk? tumben!" Nyonya Lidia bermonolog demi melihat abdi dalem ibu mertuanya yang menghubungi dirinya.


Terakhir Yayuk menghubungi dirinya saat ia menanyakan tentang keadaan Fina yang baru sampai ke desa. Mengingat Lidia sangat sungkan kepada Bu Asmah.


Merasa penasaran, Nyonya Lidia Langsur menggeser tombol hijau miliknya. " Hallo Yuk"


" Nyonya! Mbak Fina sama Ibu mengalami kecelakaan!"


Petir seolah menyambar diri Nyonya Lidia secara tiba-tiba meski tidak ada hujan apalagi mendung. Tubuhnya seketika lemas, lututnya bergetar. Ia seakan tak sanggup menopang tubuhnya sendiri.


" Fina!" ucapnya lirih dan sejurus kemudian


Bruk


Wanita itu tak sadarkan diri bersamaan dengan ponselnya yang kini turut beringsut ke lantai.


.


.


.


.