
Bab 42. Sebuah Pelukan
^^^" Otakku di paksa berpikir, namun ragaku lelah dan tak sanggup untuk sekedar mengecap lidah!"^^^
.
.
.
...πππ...
" Ayu harus di bawa ke rumah sakit, dia harus di operasi!
Pesan itu sudah Pandu kirim kepada Ajisaka yang sedari tadi menanyakan kabar adiknya. Pria itu tahu persoalan yang menimpa keluarga Pandu dari Yudha.
Kini Sakti sudah lebih dulu tiba di UGD lantaran dia masih belum mendapatkan pekerjaan baru. Alias menjadi pengangguran berkantong tebal. Untuk saat ini lebih tepatnya. Entah esok hari, entah lusa nanti.
Bersamaan dengan datangnya Sakti, ia yang masih menunggu prosedur rujukan itu selesai, di kagetkan dengan suara Dita.
" Mas Pandu?" Dita baru saja dari poli umum yang berada di bangunan lain gedung itu. Definisi dari berbakti kepada negeri.
" Mas kok disini? ia juga melihat Ambarwati yang nampak murung dengan mata sembab lantaran sehabis menangis yang duduk dengan tatapan kosong, sambil di peluk oleh seroang wanita paruh baya.
Pandu lantas menceritakan yang ia alami kepada Dita. Entahlah, Pandu hanya ingin kesesakan hatinya lega dengan membagi kisah pilu tersebut pada orang lain.
" Apa?'' dita terperanjat demi mendengar kejadian pilu yang di alami pandu. Sejurus kemudian ia mendatangi perawat yang ada disana
''kalian tolong cepat urus prosedurnya, harus segera dibawa ke rumah sakit, ayo cepat!" Dita memarahi para perawat yang terbilang lelet dalam menangani. Sebagai dokter, ia sadar jika fasilitas kesehatan disana masih belum lengkap.
" Saya temani mas, biar nanti disana lebih cepat!" Dita sangat merasa kasihan kepada Pandu.
Jam di siang itu sudah waktunya puskesmas untuk menutup layanannya. Hanya UGD saja yang masih buka 24 jam. Membuat Dita bisa membantu Pandu pikirnya.
" Terimakasih Dit!" ucapnya sedikit lega karena mendapat bantuan dari Dita.
.
.
Rumah Sakit
Telah lebih dari 30 menit mereka berada di dalam mobil Dhita. Pandu terlihat tegang. Ia masih diam membisu dan tak berniat untuk berbicara.
Dita mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi persis di belakang ambulan yang membawa Ayudya menuju rumah sakit.
''Nak Dita, terimakasih banyak sudah membantu kami!'' ucap Ambarwati yang masih di peluk oleh Pandu. Merasa bila Dita telah berbaik hati untuk menolongnya.
''Sama-sama Buk, yang penting sekarang keselamatan anak ibuk !''
Sesampainya di rumah sakit apa yang di takutkan oleh Dita rupanya terbukti. Ayudya ia duga semakin kritis lantaran luka di perutnya yang kian parah. Dita bisa melihat banyaknya darah yang semakin keluar meski sudah di berikan penghalauan dari Puskesmas tadi.
''Ndu! Gimana Ayu Ndu? Bagaimana jika ...'' Ambarwati benar-benar berada di titik nadirnya.
''Udah Buk, jangan berfikir macam-macam dulu. Kita serahkan semuanya kepada Dokter!''
Pandu sebenarnya tak kalah bingungnya seperti ibunya, namun jika ia turut panik siapa yang akan menjaga ibunya?
Waktu yang berjalan terasa begitu menegangkan. Sampai pintu ruang operasi itu terlihat mengayun. Menampilkan wajah dokter yang menunduk dan sendu.
''Dokter, bagaimana anak saya Dok? Ambarwati tergopoh-gopoh menyongsong kedatangan Dokter bedah tersebut, Pandu beserta Dita turut berjalan mendekati dokter tersebut dengan perasaan ingin tahu yang membuncah.
''Pasien dalam keadaan kritis Bu. Luka tusuk-nya juga terlalu dalam dan mengenai organ dalam anak Ibu!''
Dan tebakan Dita benar adanya. Ayudya tengah kritis.
Seketika Ambarwati merasa tak sanggup untuk sekedar menahan bobot tubuhnya.
...πππ...
Pandu
Siapa yang tega berbuat seperti itu terhadap keluarganya? Dan apa persoalannya? Otaknya benar-benar tak mampu untuk sekedar menggali spekulasi.
Ia sanggup hidup miskin, ia juga sanggup menghadapi kekurangan hidup. Tapi, ia tak sanggup bila melihat adiknya yang terus menderita seperti saat ini.
Ibunya dan Dita tengah berada di ruangan adiknya yang kini sudah di pindahkan ke ruang ICU karena keadaannya yang masih memerlukan perawatan intensif. Sementara ia, benar-benar ingin sendiri.
Namun tak berselang lama datang Ajisaka, Yudhasoka dan Sakti. Mereka bertiga nampak lebih segar karena sudah berganti baju dan mandi. Hanya menyisakan Pandu yang masih terlihat kacau.
Pandu seketika berdiri menyambut kedatangan sahabatnya.
" Ndu, gimana keadaan Ayu?" Sakti kini nampak lebih serius dari biasanya. Pria itu nampak tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
" Kritis!" Jawabnya dengan lesu seraya menyenderkan kepalanya ke dinding rumah sakit itu.
Ketiga pria ganteng itu saling pandang. " Sebaiknya kita lapor polisi!" ucap Ajisaka seraya mengeraskan rahangnya. Ia sudah mendengar semuanya dari Yudha dan beberapa tetangga yang tahu tadi.
Kejadian itu, sontak menjadi buah bibir di lingkungan Pandu tinggal.
Pandu menggeleng " Aku akan mencari tahu sendiri setelah ini. Aku tidak mau berpikir kesana kemari. Kau tahu, berurusan dengan polisi akan banyak menyita waktu. Sementara ibuku saat ini lebih membutuhkan aku!"
Pandu merasa selain membuang banyak waktu, berurusan dengan penegak hukum juga pasti akan membutuhkan biaya. Mereka hanya orang kecil, birokrasi semacam itu jelas akan memperumit manusia darah rakyat macam mereka.
" Kalau masalahnya uang ak...!" Ucapan Ajisaka menguap percuma.
" Biarkan aku menyelesaikan dengan caraku Ji!" ucapnya menatap Ajisaka dengan rahang mengeras.
Pandu adalah orang yang paling anti untuk urusan meminjam uang. Baginya itu adalah hal tabu yang terjadi di lingkup pertemanan. Terkecuali bekerja bersama.
Yudha menganggukkan kepalanya menatap Ajisaka, memberikan peringatan untuk tak membuat Pandu tersulut emosi.
" Sudahlah, masalahmu masalah kami juga. Ini bukan masalah sepele Ndu. Apapun yang kamu putuskan, kita pasti bantu!" Ucap sakti menepuk pundaknya.
" Benar, aku merasa orang yang melakukan ini jelas punya dendam kepadamu!" imbuh Yudha demi mengingat banyaknya orang yang menyerbu rumah Pandu.
Pandu tertegun demi mendengar ucapan sahabatnya. Selama ini ia tak pernah memiliki masalah dengan orang lain.
" Ibu! Aku harus menanyakan kepada Ibu, apa beliau memiliki persolan dengan orang lain!" Ucapnya menatap ketiga wajah sahabatnya.
" Tidak mungkin ibumu memiliki musuh. Ibumu orang baik dan selalu berlaku wajar!" Sergah Ajisaka yang tak terima.
" Benar Ndu. Apalagi plat nomer mobil mereka merupakan plat nomor jauh. Aku tahu dari Thoriq tadi cerita!" sahut Sakti.
" Apa?" tapi...kenapa mobil yang aku lihat sewaktu aku berada di depan rumahmu tadi tak memiliki plat nomor?"
Mereka semua kini bingung, ketidakadaan CCTV di area rumah Pandu semakin mempersulit bukti. Salah berucap malah akan menjadi fitnah.
" Mereka bahkan mengancam semua orang yang mau menolong keluargaku!" Ucap Pandu geram.
Ke empat pria itu saling berpikir. Mencoba memecah keruwetan yang bersarang di otak mereka.
Dan beberapa saat kemudian.
" Pandu!" Fina tiba-tiba muncul dari arah depan.
Gadis itu berlari dengan wajah panik dan langsung memeluk tubuh Pandu yang berdiri. Fina benar-benar terlihat menyesali sesuatu.
Membuat ketiga pria disana saling menatap bingung.
.
.
.
.
.