Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 145. Dimana akan ku cari?



Bab 145. Dimana akan ku cari?


^^^" Bagai Bumi dan Langit!"^^^


^^^( Dua hal yang sangat jauh berbeda)^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


Hati kecilnya mengatakan jika ia harus mengucapkan terimakasih kepada Ajisaka. Bagiamanapun juga, pria itu telah menolongnya. Ia menepikan larangan Bapak dan lebih menuruti kata hatinya.


" Aku mau ikut ya pak, sekali ini saja. Wida janji enggak akan bilang-bilang kalau kita mau pindah!"


" Gimanapun juga, kalau bukan karena mas Aji, mungkin Wida enggak ada disini Pak!"


Pak Atmojo menatap muram wajah anaknya. Ia pikir tadi akan menghadap ke Ajisaka sendirian saja. Namun, sewaktu Wida mengutarakan jika ingin memberikan makanan untuk Ajisaka, pria itu lantas mengijinkan Wida untuk ikut.


Tak apa lah, toh hanya sebentar.


Namun diluar dugaannya, dua wanita ketus itu membuat segala sesuatunya menjadi tidak sesuai ekspektasi. Di tambah perasaannya kini menjadi sedikit tidak senang dengan Ajisaka usai melihat video berdurasi sekitar tiga menit itu.


Apakah pria itu seorang players?


" Udah jangan kamu masukkan ke hati ucapan Bu Arning tadi nduk. Mereka memang terkenal judes kalau ke orang!"


" Yang penting kita sudah niat kesana, Tuhan yang tahu!"


Bapak sedari tadi mengeluarkan kata-kata penguat hati untuk dirinya. Namun yang membuatnya menitikan air mata bukan hal itu. Bukan ucapan setajam silet, maupun kata-kata tak bermoral lainnya yang keluar dari mulut Desinta. Tapi video yang menunjukkan jika Ajisaka terlihat bersenang-senang dengan seorang wanita dan terlihat banyak sekali minuman keras di meja sebuah tempat karaoke.


Tunggu, apa dia cemburu? Oh tidak. Jelas ini hal lumrah saat seseorang syok. Begitu pikirnya.


Jelang tengah malam, geliat malah terlihat di kediaman pak Atmojo. Pria itu sengaja akan meninggalkan rumah lamanya saat malam hari. Berharap tidak ada tetangga kanan kiri yang tahu.


Ia dan keluarganya hanya berpamitan dengan dua orang tetangganya yang masih sangat baik. Mereka juga meminta pada tetangganya itu untuk tidak memberitahu kemana mereka pindah. Semua itu mereka lakukan agar Pram tidak menemukan mereka.


" Apa mobilnya sudah siap pak?" Tanya Wida yang sudah melihat sebuah pickup telah terparkir di bahu jalan depan rumah mereka.


" Udah nduk, itu si Karyono sama keneknya udah pada naikin barang-barang!"


Wida bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia sudah mendapati Damar dan Ibu yang sibuk membantu mengeluarkan barang- barang untuk di tata.


" Kamu sama ibukmu sama Damar naik motor, nanti bapak kawal di belakang. Barang-barang kita biar di belakang sama Karyono!"


Wida mengangguk. Entah mengapa hatinya justru teringat akan Ajisaka saat ini. Ia teringat akan bayangan samar- samar dirinya yang dicium oleh pria itu. Ciuman yang ia sangka bagian dari mimpinya kala tersesat di hutan tempo hari.


Dan entah mengapa, Wida reflek memegang bibirnya saat desiran aneh timbul detik itu juga, kala kilasan ingatannya kembali pada kejadian waktu di hutan.


.


.


Pak Atmojo


Sebagai orang tua, ia benar-benar di tuntut untuk berpikir taktis. kejadian kemaren lusa saat Pram memperlakukan ia dan anaknya dengan kasar, jelas menjadi modal yang cukup untuk dirinya meninggalkan rumah yang lama.


Belum lagi, cibiran kata tetangga yang makin Membuat mereka tak tahan dalam menjalani kehidupan.


Mungkin sementara waktu, atau...mungkin selamanya. Entahlah. No one will know.


Beruntung, ia masih memiliki warisan rumah tinggal peninggalan orang tuannya dulu. Rumah itu beberapa bulan telah kosong karena tidak lagi di huni oleh orang yang mengontraknya.


Kondisi rumahnya hampir sama dengan rumah tinggalnya sendiri. Tidak besar dan tidak kecil. Semua serba sedang. Dapurnya masih terbuat dari dinding tepas. Tapi, kondisinya masih layak untuk digunakan tempat bernaung.


Dulu, ia tak mau menempati rumah itu karena lokasinya yang jauh dari pemukiman penduduk. Namun, ia kini justru merasa beruntung memiliki rumah itu. Ia bisa bersembunyi dari kejaran Pram, dan cercaan mulut manusia-manusia yang mudah terprovokasi.


Ia tahu jika sesuatu telah terjadi antara anaknya dan mantan juragannya itu. Namun, ia tak mau menambah masalah lagi dengan berurusan pada Arninggara dan Desinta.


Dalam hatinya ada banyak rencana. Selain mempercepat proses perceraian anaknya Wida, ia juga harus bekerja keras guna membatu Wida menutup hutang yang ia pinjam di BPR Agung Wilis.


Semoga!


.


.


Ajisaka


" Desinta!" Ia berteriak memanggil wanita yang jelas menjadi sumber keonaran dirumahnya.


" Ya mas?'' Ucap Desinta tersenyum dan di iringi oleh bibi Arning.


" Mana ponsel saya?" Ia geram. Ia sudah bertanya kepada Sukron, namun pria dengan rambut jagung itu menggelengkan kepalanya sebagai tanda tak mengerti.


Desinta kini tertunduk. Baru saja ia jumawa kepada Wida. Tapi kenapa pria itu malah marah kepadanya?


" Ponselmu bibi simpan di kamar sebelah, kam..."


" Bawa kemari, siapa yang nyuruh bibi buat nyimpan hah?" Sahut Aji yang membuat ucapan Bik Arning menguar.


" Gini deh, Aji udah sehat, sebaiknya kalian pulang! Aku bisa sendiri!" Aji sudah benar-benar tersulut emosi. Ia tak suka dengan dua wanita itu. Sama sekali tak suka.


" Mas...?!" Desinta mengerucutkan bibirnya karena lelah. Aji selalu saja sulit untuk di dekati.


" Kron ambilkan ponselku!" Titah Ajisaka yang benar-benar muak.


Sukron mengangguk lalu membalikkan tubuhnya. Menatap sini Bik Arning yang juga melempar tatapan sengit.


" Kron! Minta ibumu besok untuk kerja seperti biasanya!" Tutur Ajisaka kembali saat Sukron sudah hampir sampai di ambang pintu kamarnya.


Pria itu mengangguk sebagai tanda menerima perintah yang mulia Ajisaka.


"Bibi bisa pulang, dan Terimakasih sudah mengurusku!"


Dengan berjalan sedikit pincang, Ajisaka menuju kamar mandi dan meninggalkan dua manusia itu dengan tanpa peduli.


Membuat Desinta ingin menangis karena lelah.


Keesokan paginya,


Ajisaka merasa dirinya lebih baik. Sukron pagi itu telah datang seperti biasanya. Rapih dan akan mengurus logistik pabrik dan urusan pendistribusian produk.


" Bos, bagaimana keadaan sampean?" Sukron datang menuju meja halaman belakang tempat dimana Ajisaka duduk dan menyeruput kopi buatan Buk Esi. Ah mantap!


Sukron terlihat menundukkan kepalanya. Bingung harus memulai dari mana.


" Kamu kenapa?" Aji melihat gelagat aneh dari Sukron.


" Tadi...!"


Ajisaka menyipitkan matanya. Penasaran akan gelagat Sukron.


" Kenapa? Cepet bilang!" Tutur Aji tak sabar.


" Tadi saya mau nengok Bu Wida, tapi .. rumahnya kosong melompong bos. Saya ketuk juga enggak ada yang nyahut, setelah saya memutar ke belakang baru ada yang ngasih tahu kalau Pak Atmojo sekeluarga pindah bos!"


DEG


Pindah? Kemana? Apa dia melakukan kesalahan?


Tunggu dulu, kenapa dia percaya diri sekali?


" Kemana?" Sahutnya dengan wajah penasaran.


Sukron menggelengkan kepalanya, jelas ia juga tidak tahu. Gimana sih si bos!?


" CK!" Seketika Aji memijat keningnya yang terasa mumet. Kenapa Wida dan keluarganya mendadak pindah sedari setelah mereka pulang dari gunung.


" Kau bahkan tidak menengokku Wid?" Lirihnya menyatakan sesal dalam hati.


" Apa semua yang kulakukan ini benar-benar enggak ada artinya di matamu?"


Aji berkata nelangsa dalam hati. Wida pergi. Dan ia tak tahu. Apakah Wida hanya memanfaatkan dirinya saja?


" Bisa saya minta tolong Kron?"


Sukron mendelik seketika. Jelas ia akan menjalankan misi penuh dramatisasi kedepannya. Astaga Bos Bos!


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Dua hari berlalu, ini adalah kali pertamanya Pandu bersama Yudha dan Sakti bertandang ke rumah Ajisaka di hari Minggu. Hati sejak Ajisaka pulang hutan. Kondisi Aji juga sudah semakin membaik.


" Ya sorry kalau ceritanya begitu. Kan aku lagi enggak sadar!" Aji membela diri kala Sakti mencecarnya dengan omelan karena mereka di usir oleh Mak Lampir.


" Lagian ya, elu itu kenapa bisa dekat sama si Desinta sih?" Gerutu Sakti tak habis pikir.


" Dia enggak dapat si Pandu, sekarang mepet ke Aji Sak!" Sahut Yudha.


Aji benar-benar mumet sekali. Disaat mereka sudah berkumpul pun, pikirannya masih tertuju kepada Wida. Dimana wanita itu kini berada?


Pandu malah terlihat senyam-senyum sendiri, pria itu tengah si selimuti rasa bahagia saat berbalas pesan dengan kekasihnya. Serafina.


" Ini malah senyam-senyum sendiri, sialan lu Ndu!" Sakti memukul dengkul Pandu menggunakan lintingan koran.


Pandu terkekeh " Apa- apa, hm?" Pandu terlihat senang sekali pagi itu. Sangat kontras dengan wajah Ajisaka yang kusut dan terlihat mumet.


" Elu sahabat lagi galao malah cengengesan gak jelas. Teman gak ada akhlak!" Ucap Sakti dengan menye-menye.


Yudha terkekeh, kenapa Sakti yang sewot?


" Si Fina mau nyusul kesini. Rencananya mau buka cabang Pelangi Sari di dekat stasiun Kalianyar!" Tutur Pandu tersenyum.


" Wah, enak dong lu. Bakalan ketemu terus!" Sakti masih mendominasi perbincangan disana.


Pandu mengangguk, ia senang. Itu berarti Fina sudah mau meneruskan usaha papanya walau hanya secuil. Tapi jelas itu baik, apalagi Pandu juga tengah menggarap sebuah usaha. Bengkel yang ingin ia perbesar dan juga ingin memiliki toko sparepart.


Berharap mereka bisa segera menikah jika sama-sama telah mapan.


" Belum tahu Bu Wida pindah kemana?" Yudha bertanya sembari menggerus batang rokoknya yang sudah habis.


Sementara Pandu, terlihat membalas pesan dari seorang pria. Bayu.


Aji menggelengkan kepalanya lemah, tak berona bahagia dan tak memiliki semangat juang.


Ajisaka mengembuskan napasnya dengan wajah muram, " Yang aku heran, kenapa dia enggak ada datang buat jenguk aku. Dan juga...kenapa mereka pindah mendadak!"


Aji benar-benar terlihat lemah, membuat ketiga sahabatnya saling pandang. Benarkah jika itu Ajisaka? Pria mudah marah itu kenapa terlihat mellow sekali?


" Astaga!!!" Teriakan terdengar dari bibir Buk Esi.


" Pie to Iki!!??"


" Kenapa tuh?" Sakti langsung berlari melesat ke arah belakang demi mendengar suara teriakan dari ibunya Sukron yang tengah bekerja, membuat ketiga sahabatnya yang lain turut menyusul.


Di dapur kotor yang terletak di halaman belakang, ia melihat Buk Esi yang meraih benda mirip rantang yang sudah berantakan.


" Ada apa Buk?" Tanya Sakti saat ia sudah tiba.


" Ya Allah mas..mas, ini siapa buang-buang makanan kayak gini. Ora ilok ( pamali) loh mas buang-buang makanan kayak gini!" Ucap Buk Esi sembari mengangkat rantang yang berisikan makanan yang telah basi itu.


" Ini kayaknya bukan rantang rumah ini!" Gumam Buk Esi sambil menumpahkan isi makanan yang telah basi itu, lalu mengambil rantang yang masih bagus untuk dan berniat untuk mencucinya.


Ke empat pria ganteng itu masih diam melihat ibu Sukron yang ngomel perihal rantang itu.


" Gek ya siapa yang buang makanan kaya gini. Saya nemu ini pas mau buang sampah disitu mas Aji!"


Aji kini membelah kerumunan sahabatnya, dan berjalan menuju ke tempat Bu Esi berada.


" Damar?" Buk Esi mengernyitkan keningnya saat membaca pahatan nama yang ada di pantat rantang itu.


" Coba lihat buk!" Ajisaka seketika menyahut rantang itu. Benar saja, ada nama Damar terpahat di benda berwarna putih itu.


" Damar?" Gimana Ajisaka sembari terlihat tertegun.


Mungkinkah makanan itu berasal dari Wida?


Kini, baik Pandu, Yudha maupun Sakti makin dibuat heran dengan sikap Ajisaka yang tak biasanya.


Is it true that he is in love?


.


.


.


.


.