Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 47. Solusi yang tak solutif



Bab 47. Solusi yang tak solutif


^^^" Aku merindukan cintamu. Sudikah engkau membagi sedikit saja untukku?"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


" Goblok!!!" Maki Riko siang itu kepada seseorang yang kini tengah berwajah ketakutan.


Ya, Riko memanggil salah satu anak buah apanya yang tempo hari mengeksekusi adik Pandu.


Tuan Hartadi selaku papa Riko hanya diam sembari duduk menyilangkan kakinya. Menatap putranya yang tengah menatap bengis anggota mereka.


" Kenapa bisa sampai mati hah?" Riko menceng kerah baju pria di depannya dengan wajah berang.


...beberapa hari yang lalu...


Riko


Dengan kobaran emosi yang kian membuncah, Riko melesatkan mobilnya menuju hotel tempat ia tinggal yang tak jauh dari desa Kalianyar, usai dirinya merasa kalah pagi itu.


Rasanya sakit bukan melihat kekasih kita berciuman mesra dengan orang lain?


Bukankah itu yang dirasakan Fina tempo hari. Oh common, lantas untuk apa ia harus terbakar api kecemburuan?


Sialan!


Tak bisa menerima saat dengan sadarnya, Fina mencium pria yang belum ia ketahui namanya itu. Riko tahu, Fina mencintai dirinya.


" Pa, aku perlu bantuan papa!"


Pilihan terakhir selalu jatuh pada pemecah permasalahan terbaik.


Papa.


Ia menceritakan jika ia tengah berada di sebuah desa. Merasa perlu memberikan pelajaran untuk pria sok, yang sempat berciuman dengan Fina tadi.


" Memangnya siapa dia Ko? Kenapa Papa harus kirim anak buah papa jauh-jauh kesana?"


Berusaha meyakinkan papa, jika pria dewasa selalu memiliki masalah yang kompleks. Dengan kekuatan uang, Riko berhasil menghimpun informasi terkait siapa pria yang disinyalir dekat dengan Fina itu.


Dan benar aja. Si kupret itu harus segera merasakan pembalasan. Oh jangan, lebih baik orang terdekatnya dulu.


Ibunya.


" Namanya Pandu, belakangan memang sering terlibat dalam urusan bersama keluarganya Bu Asmah!"


Tutur seseorang yang kini melapor kepada Riko. Orang yang juga kenal dengan Pandu bahkan Bu Asmah.


Pengkhianatan rupanya bertebaran dimana-mana. Tentu saja uanglah yang menjadikan semua itu.


" Beri dia pelajaran!"


Usai mengetahui jika Ibu Pandu adalah seorang pedagang di pasar, mereka lantas menyerang lapak dagang Ibunya untuk memancing kedatangan Pandu.


Namun sialnya, meski mereka telah meluluh lantakkan lapak itu dengan mengancam beberapa preman pasar yang tentu saja kalah, Pandu tak kunjung datang.


Membuat pilihan jatuh untuk melesat menuju kediaman Pandu.


Namun tak di sangka, rumah itu telah kosong.


" Bos, Dia tidak ada dirumah!"


Laporan salah satu kacung papa itu jelas membuatnya makin berang. Pandu harus menerima pelajaran itu sekarang juga. Harus!.


" Rusak rumahnya, pastikan tetangganya tidak melihat atau mendekat. Atur saja gimana cara kalian. Beri pelajaran siapa saja yang turut melawan!"


Titahnya jelas.


Jelas sekali.


Namun tak di nyana, wanita buta yang bernama Ayudya yang saat itu merasakan haus berjalan merambat berpegang dinding rumahnya, terperanjat lantaran mendengar suara gaduh.


PRANG!!!


Tak sengaja pula dia menyenggol sebuah guci bunga di bufet miliknya. Membuat dua orang asing yang bak menggarong rumahnya itu, terlonjak kaget.


" Heh, siapa kamu!" Terdengar suara orang yang membentaknya hingga membuat Ayu berjingkat.


" Mas Pandu!" gadis buta itu nampak ketakutan.


" Ibuk!"


Ayudya meraba-raba dengan ketakutan. Berusaha mencari keluarganya.


" Cantik juga dia!" kacung itu tergiur saat melihat rok selutut Ayu yang tak sengaja tersibak. Menampilkan paha seputih susu, yang membuat otak seronok mereka bekerja lebih cepat.


" Sini kamu!" Salah satu dari dua pria yang memporak-porandakan rumah Pandu itu menyeret Ayudya. Tentu saja wanita itu memberontak.


Brakkkkk


"Kurang ajar!"


Merasa kesakitan, pria itu langsung mencabut sebilah pisau di balik punggungnya dan berniat menakut-nakuti Ayudya. Namun mereka lupa kalau Ayudya adalah wanita buta.


" Sial, kamu buta ya ternyata!"


Merasa dihina, Ayu tentu saja geram. Ia menyerang pria itu dengan memukulinya.


Ayu melawan sebisanya, dan tanpa senagaja pisau itu menusuk perut Ayu saat mereka terlibat perkelahian.


" Aduh sial!" umpat pria yang menyadari kecerobohannya. Tak sengaja tangannya justru menikam perut wanita itu.


" Argghhhh!" Rintih Ayu merasakan sakit, pedih dan panas di bagian perutnya.


Merasa telah melakukan hal yang diluar rencana, mereka berdua akhirnya kabur. Mereka meneriaki anggotanya yang lain yang tengah sibuk berjaga agar para tetangga Pandu tak keluar.


Meninggalkan Ayudya yang malang dengan keadaan mengenaskan.


Seorang diri.


...Masa Sekarang...


Tuan Hartadi


" Ma-maaf bos, kami hanya menuruti ucapan bos tempo hari untuk menyingkirkan siapa saja yang menghalangi!" ucap pria itu ketakutan.


" Argghhhh!!" Riko meninju dinding itu melampiaskan kegeraman. Tak mengira jika ia memiliki anak buah bodoh.


Ia masih tekun melihat Riko yang meluapkan amarahnya. Sebenarnya ia ada disana di saat dua kacung itu kabur usai menusuk Ayudya


Namun, ia tak sempat melihat langsung siapa korban karena dua kacung bernama Bowo dan Adit itu tak memberitahu bila mereka telah menikam Ayudya.


" Sudahlah Riko, mereka hanya menjalankan tugasnya. Lagipula papa bisa jamin kalau kita aman. Memangnya sebenarnya apa masalahmu degan pria itu!"


Hartadi tidak tahu jika persolan yang tegah Riko murkai adalah persoalan pribadi. Menyangkut wanita lagi. Benar-benar memalukan. Dimana harga dirinya sebagai pria sejati?


" Pergi kamu!"


" Brengsek!"


Riko mendorong pria yang menusuk Ayu itu hingga menabrak tembok. Riko kesal, meski ia ingin memberikan pelajaran namun tidak segitunya juga.


Adit pergi meninggalkan dua bosnya sebelum bosnya kembali terpantik emosinya kembali.


" Urusan perempuan!" sahut Riko degan memalingkan wajahnya kesal. Mendudukkan dirinya diatas sofa seraya memijat kepalanya yang mumet.


Meski dia akan aman dan disinyalir kebal kerangkeng, tapi membunuh orang yang tak bersalah jelas bukan tujuannya.


Hartadi tertawa sumbang " Kalau tahu urusan kacangan macam ini, nyesel papa bantu kamu. Papa bahkan sampai kesana demi melihat siapa musuh kamu. Ternyata tak lebih dari urusan perempuan!" Ia berdiri seraya mengancingkan jasnya.


" Urusan kacangan papa bilang?"


" Jangan minta bantuan papa lagi kalau hanya untuk urusan perempuan. Lagipula papa juga heran sama kamu. Mengapa Seorang Riko Wijaya anak dari Hartadi Wijaya bisa mendapat penolakan dari seorang perempuan!" ucapnya sambil berlalu.


Brak


Riko sampai tersentak saat ia membanting pintu itu dengan kesal. Urusan receh dan tidak penting benar-benar membuang-buang waktunya dengan sia-sia pikirnya.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


" Sebaiknya saya akan bawa Fina kembali ke kota saja Buk. Gun pikir dia disini bisa berubah, nyatanya..." Tuan Guntoro bersama istrinya tengah berbicara serius dengan Bu Asmah malam itu.


Fina yang berdiri di belakang tembok hanya bisa menahan sesak. Harusnya ia senang bukan kalau harus kembali ke habitatnya.


Harusnya ini yang ia tunggu-tunggu kan. Tapi mengapa rasanya sangat bertolak belakang sekali.


" Ibuk menyerahkan semuanya sama kamu Gun. Kalau jaman kamu dulu, menghentikan kenakalan anak dengan jalan menikahkannya saja!"


" What? Menikah? No way!" rutuknya dalam hati seraya mengintip tiga orang dewasa yang tengah membicarakan dirinya.


" Kemaren Ibu ajak Fina ke gudang gabahnya kemal. Anaknya yang bernama Rizal kayaknya suka sama Fina!"


Dunianya sedang runtuh akibat di diamkan Pandu. Dan mendengar Oma memberikan solusi pada papa untuk segera menikahkannya, jelas akan membuat kiamatnya semakin dekat.


Menjadi kenyataan.


" Aku gak mau nikah!"


Ucapnya yang tak tahan, dan kini membuat ketiga manusia tua itu menatapnya dengan wajah terkaget.


.


.


.