Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 224. The Soebardjo Vineyards



Bab 224. The Soebardjo Vineyards


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Anjana


Ia terus tekun mengoles krim bening yang terasa dingin di kulit itu, seraya memberikan pijatan pelan ke sekujur lengan Sakti yang terasa kaku.


" Keras juga lengan pria ini!"


Wanita itu tak berekspresi sama sekali. Namun ia tahu, jika Sakti memperhatikannya lekat-lekat.


" Kau tidak pernah berolahraga raga dan langsung mengangkat benda berat, sudah aku katakan tadi kan?" Kini Anjana menatap jengah Sakti yang terlihat terkesiap dari lamunannya.


Sialan!


" Enak aja kamu bilang, kau bilang apa tadi? Enggak pernah olahraga? Aku itu kalau di Kalianyar tiap sore selalu voly sama Yud.." Ia mendadak tak meneruskan perkataannya demi mengingat para sahabatnya. Perasaan bersalah itu menyeruak ,berevapurasi menjadi partikel kecil yang memenuhi atmosfer ruang sejuk itu.


Membuat Anjana memicingkan matanya. " Kenapa dia?"


" Tiba-tiba diam?"


" Sudahlah! Aku mau pergi, berkumpul dengan wanita setengah jadi sepertimu membuat ubun-ubunku mau mbledos saja!"


Membuat Anjana mendelik.


.


.


Sakti


Ia sebenarnya hanya beralibi, entah mengapa jantung bodohnya itu serasa baru berlari marathon saat Anjana dengan luwesnya memijat lengannya. Tangan wanita kaku itu lembut juga ternyata.


Dan Sakti cukup grogi akan hal itu.


Tapi Sakti tetaplah Sakti, pria pecicilan yang bar-bar itu lebih cenderung lebih senang menyimpan apa yang berkaitan dengan perasaannya. Sangat kontras dengan tingkahnya yang yak- yak'an.


Di suatu siang saat ia tengah duduk untuk makan siang, pandangannya bertumbuk pada segerombolan petani yang memetik anggur yang siap panen itu. Kilasan ingatannya kembali saat pertama kali ia memutuskan untuk menemui Tuan Liem, dan membuatnya kini bisa duduk di tempat itu.


...Flashback on...


Perasaan minder, kecil, kerdil dan tak bermakna makin hari makin setia menjadi temannya. Apalagi sejak Cak Juned mengatakan hal-hal yang kerap membuatnya baper. Tapi bukankah waktu terus berjalan?


Jujur, Sakti tak pernah membenci para sahabatnya. Sama sekali tidak. Ia hanya kecewa kepada dirinya sendiri, yang tak bisa seperti teman-temannya. Ia kerap tak sejalan dengan permintaan Ibunya yang menginginkan Sakti untuk membuat waralaba terlebih dahulu.


Ia yang waktu itu membuka dompet kurusnya , mengambil sebuah kartu dengan nama yang tercetak timbul yang ia dapat beberapa waktu yang lalu dari seorang pria uzur.


Kartu dari seorang aki- aki yang kelayapan seorang diri hanya demi ingin memakan sebuah ikan bakar, yang sukses membuatnya kasihan. Terdengar aneh namun itu kenyataan yang ia temui.


Terselip rasa aneh manakala ia berjabat tangan dengan pria itu, entahlah Sakti tidak tahu. Yang jelas, ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, kini membuatnya tentram.


Suatu ketika tanpa sengaja ia mendengar perbincangan Ibunya dengan Bapaknya, yang menyatakan jika mereka menemui kesulitan sebab memiliki hutang yang tidak Sakti ketahui selama ini.


" Mereka anggap apa aku? Kenapa hal sebesar ini tidak pernah sampai ke telingaku?" Sakti sempat tertegun dan merasa bagia terasingkan.


Persoalannya semakin runyam manakala ia rupanya menyukai gadis yang sama, dengan sahabatnya. Dan saat acara pernikahan Pandu berlangsung, ia baru sadar bahwa baik Rara maupun Yudha, sepertinya memiliki perasaan yang sama. Tidak ada celah baginya lagi. Lagipula, ia juga tidak ma menjadi si perusak bagi sahabat yang ia kasihi itu.


Hanya saja, ia juga manusia yang memerlukan waktu untuk menyembuhkan hati.


Berada di ujung persimpangan pilihannya, Sakti akhirnya memutuskan untuk menghubungi pria itu sehari setelah ia tiba dari kota X. Sakti sempat browsing tempat itu dan terlihat sangat bergengsi.


" Kalau aku ingin bekerja denganmu, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Sakti yang saat itu terkejut demi melihat pria uzur yang sempat ia ragukan itu, rupanya diantar oleh seorang pria bule yang bergaya parlente.


Tuan Liem tersenyum. " Aku memiliki perusahaan minuman yang aku produksi sendiri, kebun anggur milikku memiliki kualitas buah yang sangat baik. Dan jika kau tertarik, aku membutuhkan seorang sales marketing. Dan aku rasa, pria banyak omong sepertimu akan sangat cocok!"


Ia sempat mendengus begitu mendengar pria tua itu menyebut dirinya dengan sebutan ' Pria banyak omong'. Sialan!


Walau...bener juga sih. Hihihi.


" Tapi..kenapa kau mau menawariku?" Tanya Sakti asal. " Kalian bukan orang..."


Tuan Liem sempat kelabakan manakala cucunya menanyakan hal itu. Sama sekali tak memiliki persiapan jawaban.


Membuat Sakti tertegun. Masuk akal juga sih, mengingat dandanan pria tua itu tempo hari terlihat seperti manusia fakir.


" Memangnya berapa gaji disana? Aku pernah bekerja di toko elektronik dan hanya habis untuk bayar kriditan motorku, jika jadi ..aku bahkan meninggalkan orangtuaku setelah ini, akan sangat rugi jika aku tidak tahu berapa gajiku!" Ucap Sakti mulai mengeluarkan jurusnya. Berdiplomasi.


Tuan Liem terkekeh. " Kau benar-benar mirip Fenny!"


Tuan Liem menyebutkan sejumlah angka yang fantastis, yang selama ini tak pernah ia dengar. Membuatnya meneguk ludahnya dengan susah payah.


" Aku bisa beli mobil jika dapat gaji segitu dalam beberapa bulan saja!"


Dari hasil pertemuannya dengan tuan Liem beberapa waktu lalu, membuat Sakti akhirnya memutuskan satu pilihan. Mau bekerja dengan pria itu.


Tempat yang jauh, dan ia ingin membuat orang lain tahu, bila ia juga bisa sukses dengan cara dan kemampuan yang ia miliki.


Namun, jika ia pamit, tentu ia tak akan mendapatkan izin. Membuatnya untuk melakukan hal yang out of the box.


Menghilang tanpa berpamitan.


Sakti malam itu terlihat menulis surat yang ia tujukan kepada kedua orangtuanya. Batin pria itu rapuh begitu menggoreskan tinta di kalimat pembuka. Hatinya nyeri, tapi ia juga ingin merubah nasibnya menjadi lebih baik. Terlebih demi kelangsungan hidup kedua orangtuanya.


Kadangkala merantau itu terjadi karena saking sulitnya merubah nasib di negeri sendiri.


Pagi buta dia berangkat, diam-diam dan masih sempat menyelimuti Ibunya yang tertidur dengan mulut terbuka. Di tatapnya lekat-lekat wajah yang mungkin akan sangat lama tidak ia lihat.


Sakti terharu.


Sakti terkejut saat sebuah sedan mewah menjemputnya di sebuah tempat yang sudah merka sepakati. Sakti bahkan sudah menutup semua akses. Pria itu mematahkan SIM card nya dan mengganti dengan nomer yang baru.


Namun, ia sudah menyalin semua nomor orang yang dekat dengannya, kedalam sebuah notebook kecil.


" Aku James, kita akan bekerjasama nanti!" Pria bule yang beberapa waktu lalu mengantar kakek tua itu kini menjemputnya seorang diri.


Dan betapa terkejutnya ia, manakala melihat sebuah rumah besar, yang berada di areal kebun anggur yang begitu luas bertuliskan,


...The Soebardjo Vineyards....


" Soebardjo? Nama Indonesia?" Gumam Sakti terkagum-kagum dengan bangunan besar berdinding kokoh itu.


"That's right!" Sahut James.


Dan dia juga heran, mengapa begitu ia datang , sudah banyak sekali manusia yang berjajar rapih disana. Membuatnya mendelik. " Hey, kenapa mereka semua berbaris?" Sakti tentu saja bingung dengan pemandangan tak biasa itu. Ia biasanya melihat orang baris hanya saat agustusan, atau ketika lewat di depan Koramil.


James faham bahasa Indonesia, hanya saja pria tinggi itu kerap kesulitan untuk membalas ucapan lawan bicaranya. " Emm mereka selalu begitu tiap saya datang!" Bohong James, mereka semua datang karena ingin menyambut Sakti sebetulnya.


" Kau sudah sampai?" Sapa Tuan Liem yang kini berjalan dengan tongkatnya. Menyongsong Sakti yang masih larut dalam kekagumannya.


" Istirahatlah, besok James akan mengajarimu. Feng, tolong antar pegawai baru kita!"


Sakti sedikit meringis saat seorang pria kurus kini mengajaknya masuk. Sakti benar-benar tak mengira, jika pria yang pernah makan di warung reot bersamanya itu, memiliki rumah yang bahkan Sakti takut tergelincir sewaktu menapakinya.


Terlihat kinclong dan licin.


" Silahkan mas, anda bisa istirahat dulu!" Feng membukakan pintu untuk Sakti, pria itu terlihat lebih terkejut lagi saat melihat kamar yang benar-benar hanya ada dalam imajinasinya selama ini.


" Gila, ini mah hotel!"


" Eh tunggu dulu!" Ucap Sakti saat Feng telah membalikkan badannya.


" Ya mas?"


" Emmm apa semua pegawai memang harus tinggal di sini?" tanya Sakti yang penasaran. Baru kali ini ia tahu jika pegawai harus tinggal bersama tuannya. Satu rumah lagi.


Feng tersenyum. " Benar tuan, saya, mas James dan masih banyak lagi. Makanya rumah Pak Liem ini besar. Besok pagi mas pasti tahu sendiri!" Tutur Feng meyakinkan. Membuatnya mengangguk paham.


Dan benar saja, saat pagi menyapa dengan segala keramahannya. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat. Pohon anggur berjajar rapih membentang sejauh matanya memandang.


Sakti benar-benar tak mengira bisa bekerja di tempat keren seperti ini. Walau jauh sudah ia melangkahkan kakinya, meninggalkan Ibu- Bapak seraya para sahabatnya.


The Soebardjo Vineyards.


...Flashback off...


.


.


.