Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 40. Persoalan yang datang tak kenal kasihan



Bab 40. Persoalan yang datang tak kenal kasihan


^^^" Aku tidak akan pernah sanggup bahkan untuk sekedar menjanjikan kebahagiaan dengan materi, sungguh aku tidak mampu. Sebab aku ini miskin dan sengsara!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Pandu


Ia menyipitkan matanya kala melihat dua sosok pria yang datang menuju tempatnya berada bersama Serafina.


" Rizal!" ucapnya dalam hati demi minat sosok yang ia kenali.


"Mbak Fina, apa yang terjadi? kami baru saja mendengar kabar bila Mbak dan Ibu..." ucapan Kemal terjeda lantaran ia melihat Fina tak seorang diri melainkan bersama orang lain.


" Loh kok kamu disini Ndu!" ucap kemal menatap Pandu yang kini berdiri. Menatap sinis


" Iya Pak, tadi saya ngantar Fina!" ia menatap Rizal yang juga menatapnya tajam tanpa menyapa. Tak mengira akan bertemu Rizal, pria yang gemar membulinya sewaktu sekolah dulu.


Seketika Pandu merasakan atmosfer yang lain. Ia berniat undur diri saja. Ia tahu mungkin mereka berniat menjenguk Fina dan neneknya. Pandu mengenal siapa mereka. Membuatnya untuk memilih pergi.


" Fin aku balik ke tempat Aji dulu, kamu lanjut ngobrol ya?" Pandu tersenyum kecut. Ia tak bisa lagi berada di sana.


" Tapi Ndu..!" sergah Fina yang tak rela Pandu pergi.


" Emm Fin, ini aku bawakan sesuatu buat kamu. Semoga suka ya!" tukas Rizal sengaja mengeraskan suaranya. Sembari tersenyum senang karena Pandu pergi.


Pandu hanya diam meski ia mendengar. Entah mengapa hatinya mencelos nelangsa demi mendengar ucapan Rizal.


" Loh mas Pandu mau kemana, saya udah siapakah makanan di belakang!" Ucap Yayuk yang tiba-tiba muncul dari depan.


" Lain kalau aja mbak , itu ada tamu. Buat mereka aja. Mbak Yayuk temani Fina dulu ya!"


" Saya musti ke tepat Aji!"


Pandu ogah berurusan dengan Rizal. Ia tahu, Rizal adalah pria otoriter. Berasal dari keluarga berada namun kerap menyalahgunakan kepunyaannya.


Ia sadar dan sudah berjanji kepada ibunya untuk tak berbuat onar dengan berkelahi lagi. Ia memiliki kisah buruk akan hal itu, terutama Rizal.


Ia lebih memilih untuk melesat pergi meski masih ingin sekali rasanya ia berasa disana.


.


.


" Udah bisa beli mobil dia!" ucap Kemal setengah mencibir.


" Apaan, mobil si Aji itu. Mana kira dia punya!" ucap Rizal menimpali ucapan papanya.


Fina yang mendengar ucapan mereka berdua langsung merasa kesal. Sepertinya mereka mengenal Pandu. Tapi dari nada bicara yang di tangkap, jelas mereka berdua memiliki hubungan yang tak baik dengan Pandu.


" Mbak Fina gimana bisa kecelakaan, kenapa tidak menghubungi kami tadi biar gak usah cari mobil sewaan!"


Fina berengut, ia malas untuk sekedar meladeni dua manusia yang sebenarnya menjadi pangkal penyebab Fina kecelakaan.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Tiga hari berlalu. Selama itu pula Pandu tak mengetahui perkembangan kabar kesehatan Fina. Hal itu terjadi bukan karena Pandu sengaja menghindar, melainkan ia disibukkan dengan pengerjaan motor milik orang yang rusak parah dan harus bongkar mesin.


" Ndu! buruan ke pasar, lapak ibumu dirusak orang!"


Pandu tersentak.


.


.


Ia terpaksa meninggalkan Ayu seorang diri karena adiknya itu tengah tidur siang. Dengan kecepatan tinggi ia melesatkan Kawasaki KLX miliknya menuju pasar yang jaraknya berkisar tiga kilometer dari rumahnya.


Pikirnya hanya satu. Ibunya.


" Pokoknya hancur Ndu, gak ada yang berani nolong. Orang yang datang serem- serem, ada yang bawa pistol sama pakaian mereka serba hitam!"


Ucapan Lik Sarip terus saja terngiang-ngiang. Membuat laju darah Pandu kian santer.


Pandu sampai di lokasi lapak ibunya sekitar pukul sebelas lebih seperempat. Ia melihat ibunya duduk dan di kerubungi orang.


Wajah ibunya terlihat ketakutan dan tersirat kesedihan yang kentara disana. Wajah murung yang pernah ia lihat sewaktu mendiang ayah sambungnya meninggal.


" Buk, ibuk!" Pandu datang dan langsung bersimpuh di hadapan ibunya yang duduk diatas trotoar.


" Ibuk gapapa kan?" Pandu meraba seluruh lengan ibunya dengan khawatir.


" Ndu! Lapak ibuk dirusak orang Ndu!" Ambarwati menangis, ia merasa selama ini tak memiliki musuh namun mengapa kejadian ini sampai terjadi.


Pandu berdiri dan melihat kekacauan disana sembari mengeraskan rahang. Siapa yang tega berbuat biadab seperti itu terhadap keluarganya.


" Kenapa bisa sampai begini?" tanya Pandu kepada preman pasar yang biasa menarik retribusi keamanan disana. Preman itu kini bahkan terlihat seperti ketakutan.


" Kalah jumlah Ndu. Gila! mereka banyak banget, senjatanya juga ngeri. Kita di ancam, mana berani kita!" ucap Thoriq yang berlaku sebagai preman pasar berusaha menjelaskan keadaan yang ada.


" Iya Ndu, tadi kayaknya mereka udah nutup jalan dulu sebelum kesini. Mereka sempat tanya di tukang baso itu lapak ibumu!" tukas pedagang tahu yang lapaknya berada persis di sebelah ibunya.


Dengan rahang mengeras Pandu segera memunguti sisa dagangan ibunya dan memasukkan kedalam anting anyaman.


" Ayok Buk kita pulang, yang penting ibuk gapapa. Besok Pandu minta si Thoriq buat bantu betulin!"


" Iya buk, besok kami betulkan. Maaf Ndu, kita tadi gak bisa banyak bantu. Asli ngeri banget, mereka juga mengancam kita buat gak ngelapor polisi Ndu. Kita orang kecil gak berani. Kalau dilihat dari mobilnya, mereka dari kota. Platnya plat jauh!" tukas Thoriq menatap Pandu.


Pandu mengangguk paham. Kini otaknya di paksa berpikir keras. Siapa yang berani mengusik keluarganya. Apalagi selama ini ia merasa tak memiliki musuh dan selalu menjauhi kerusuhan.


Belum sempat otaknya mencerna ucapan Thoriq seutuhnya, Yudha datang tergopoh-gopoh dengan masih berseragam lengkap. Seragam salah satu Bank pengkreditan.


" Ndu, Pandu!" Yudhasoka berteriak dengan wajah pias.


Ia turun dari motornya dengan tergesa-gesa.


" Gawat, rumah elu di serang orang Ndu!"


Mata Pandu terbelalak demi mengingat jika adiknya tengah tidur dirumahnya.


.


.


.


.


to be continued