Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 185. Sisi lain di tiap diri manusia



Bab 185. Sisi lain di tiap diri manusia


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sakti


Jika diibaratkan elemen kehidupan, Pandu adalah air. Tenang namun kadang menghanyutkan. Ajisaka adalah api, karena mudah tersulut emosi, Yudha merupakan tanah, lantaran paling cuek dengan sikapnya yang membatu.


Sementara dirinya, ia merupakan penggambaran elemen udara yang sifatnya ringan dan tak menentu.


Memang dari ketiga sahabatnya yang lain, dialah yang paling memiliki pembawaan santai dan kocak. Sangat relevan bukan dengan penjabaran diatas.


Namun, bukan berarti pria itu tak bisa memiliki sisi geram. Karena dalam diri manusia, salah dan luput itu jelas merupakan kewajaran.


Ia berniat mengambil sesuatu yang tertinggal di jok motor matic milik Ibunya. Ya, Sakti tengah mengantar ibunya untuk berbelanja pagi jelang siang itu.


Ibunya sudah mengomel karena ia dinilai tidak cermat saat dimintai untuk mengkoordinir semua kebutuhan belanjaan, untuk persiapan usaha mereka.


Parkiran khusus motor berada di tepi barat dan berada di jajaran pohon beringin yang besar. Pemerintah daerah setempat sengaja mengatur tempat parkir sedemikian rupa, guna mengurangi kemacetan yang akan timbuljika kendaraan tumpah ruah dan parkir sembarangan di bahu jalan, maupun di samping trotoar.


Apalagi, pasar Kalianyar sangat dekat dengan komplek perumahan warga sipil. Jelas hal itu harus di tanggulangi per segera, sebelum menjadi sebuah ancaman serius.


Namun tak di nyana dan di sangka, angin tanpa sengaja menerbangkan catatan penting yang barusaja ia ambil dari jok motornya. Membuat secarik kertas itu melayang - layang ke arah selatan.


Pria itu kini sibuk mengejar sebuah kertas, yang terbang ringan akibat hembusan angin. Jauh dan semakin jauh.


" Ehhh, stop!" Ucapnya puas saat sepatu kets yang ia kenakan, berhasil menginjak keras tersebut.


" CK, pakai acara kabur segala lagi! Bisa brabe urusan sama ibu negara kalau ini catatan sampai hilang!" Ia bergumam seraya menyelentik kertas yang baru saja kabur darinya. Melampiaskan kekesalan pada benda tak bernyawa itu.


"Pikirkan diri lu juga, ini sudah masuk tindakan kriminal Ra!"


Sebuah suara yang familiar membuatnya mengalihkan pandangan. Membuatnya terus berjalan, dan segera mengantongi benda yang barusaja membawanya dalam masalah itu.


DEG


Tubuhnya seketika menegang demi melihat Yudha yang memeluk Rara.Entah mengapa tatapan Sakti berubah murung.


Tangannya seketika terkepal dan kilasan ingatannya kembali saat Yudha melarangnya untuk mendekati Rara.


Aku kayaknya suka deh sama cewek tadi gaes!" Ia ingat saat dengan semangatnya ia mengatakan hal itu, demi rasa yang memang membuncah di hatinya.


" Enggak boleh!"


" Kenapa?"


" Pokoknya jangan. Yang lain aja!"


Sakti menelan ludahnya demi menghalau rasa tak nyaman yang kini bersarang di hatinya.


"Jadi ini alasanmu ngelarang aku buat suka ke dia Yud? Karena ternyata kamu juga menyukai wanita itu!" Ucapnya lesu.


Ia bergumam dan sejurus kemudian pergi. Apa yang ia lihat sudah lebih dari cukup, untuk membuktikan jika ia tak mungkin bisa melangkah lebih jauh lagi.


Ada persahabatan yang terbentang di sana. Meski saat ini entah mengapa, ia merasa kecewa kepada Yudha.


Apakah persahabatan itu masih ada artinya?


.


.


Yudhasoka


" Lepas!" Ucap Rara seraya mendorong keras tubuh Yudha. Membuat pelukan itu terlepas dengan paksa. Wanita itu kesal lantaran Yudha sudah menjadi penyebab kaburnya Suwarno.


" Itu orang tua Ra, kok elu segitunya sih?" Ucapnya sambil menatap Rara tak habis pikir. Bagiamana bisa wanita itu berbuat impulsif di kawasan ramai macam itu.


" Elu enggak takut dia ngelaporin elu ke polisi?"


" Polisi? Ayo panggil! Gue enggak takut! Memangnya elu siapa hah?" Rara yang sudah diliputi kemarahan seketika mendorong lengan Yudha dengan keras.


" Aaaargghhh!!"


Yudha memekik dengan kerasnya demi merasakan sakit yang luar biasa. Pria itu kini memegang lengan kanannya dengan wajah meringis karena Rara mendorongnya tepat di lukanya yang kembali koyak.


Membuat Rara mendelik.


.


.


Mata pria itu sejurus kemudian terlihat jelalatan kesana-sini. Menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah tamu dengan ukuran tak terlalu luas itu.


Hingga saat pandangannya kini bertumbuk pada tubuh Rara yang sepertinya sangat padat berisi. Wow!


Ya, Rara membawa Yudha kerumahnya yang kebetulan dekat dengan area pasar Kalianyar demi membayar rasa bersalahnya karena membuat luka Yudha, lagi-lagi berdarah.


Kewarasan dan rasa belas kasih, rupanya masih mengalahkan egonya yang sebesar busa lutan.


Definisi dari merasa kasihan.


Dua manusia itu masih terlihat sama-sama membisu. Tak ada yang berniat untuk berbicara sama sekali. Hanya terdengar suara motor yang riwa-riwi di jalan depan rumah Rara.


War wer tidak karuan.


"Grumpyang!!"


Ia baru saja menyelesaikan simpul perban di lengan kekar Yudha saat mendengar suara keras itu.


Kini, baik Rara maupun Yudha langsung saling bertatapan demi mencerna gelombang suara yang mereka tangkap.


" Bapak!!" Ucap Rara yang langsung mencampakkan gunting yang akan ia gunakan untuk memotong perban Yudha.


Wanita itu kini sama sekali tak memperdulikan Yudha yang baru saja ia obati. Jelas Bapaknya dalam masalah.


" Astaga Pak?!" Rara panik demi melihat Bapaknya yang jatuh dari kursi roda, dan membuat nakas yang berasa di samping kasur bapaknya rubuh.


Membuat batang pecah belah berupa piring dan gelas yang masih berada di sana, kini luluh lantak tak bersisa.


Yudha yang turut menyusul Rara seketika terkaget dengan pemandangan yang dia lihat. Sama sekali tak mengira jika Rara memiliki orang tua yang memerlukan perhatian khusus seperti ini.


" Bapak kenapa enggak nunggu Rara dulu, sih?" Ucap Rara panik dengan wajah murung dan terlihat sangat sedih.


Tubuh Pak Hari mati separuh akibat stroke. Membuat gerak pria itu sangat terbatas. Kemungkinan pria itu mau mengambil minum dengan bertumpu di kursi roda saat pria itu masih berada di kasur.


" Ra, kayaknya kita musti cepet bawa Bapak kamu kerumah sakit?" Ucap Yudha demi melihat Pak Hari yang kini terlihat kejang.


Rara sudah panik dan terlihat bingung. Yudha yang melihat Rara menangis, seketika merasa ada sesuatu yang tak bisa ia artikan.


Yudha peduli.


" Sini aku bantu!" Yudha tak menggubris rasa nyeri yang semakin parah, kala lengannya ia paksa untuk mengangkat beban berat dari badan Pak Hari.


Dengan bergotong royong bersama Rara, ia kini berhasil mendudukan tubuh pria itu ke jok belakang mobilnya.


" Ayo Ra cepet, kamu kunci pintu rumahmu dulu!" Ucap Yudha yang turut panik. Berjalan menuju ruang kemudi mobilnya.


Rara mengangguk, ia sempat tertegun demi melihat Yudha yang terlihat cemas. Tak mengira jika pria itu rupanya mempedulikan ia dan bapaknya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Buat yang mengkhawatirkan Sakti, tenang. Sama seperti kehidupan kita, besi menajamkan besi, dan manusia menajamkan sesamanya.


andesten ( understand/ mengerti) 😁😁😁😁


Mommy baru pulang dari giat di dunia nyata. Langsung cus kesini demi rindu dengan kakak kakak pembacaku yang selalu bisa membuat perutku seneb akibat komentar yang jos gandos.


Big hug from meπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—