
Bab 93.Menyelesaikan Misi ( 1)
^^^" Penderitaan melahirkan tahan uji!"^^^
.
.
.
...πππ...
Riko
Ia kini panik kala mendengar kabar jika Raditya tengah di serang oleh team KJ. Kini selain reputasi keluarganya, ia juga mumet dengan dirinya sendiri. Fina harus tetap bersamanya. Apapun yang terjadi.
" Apa yang elo lakuin Riko!" Ucap Fina panik kala melihat Riko mengeluarkan ponsel miliknya yang ia cari sedari tadi.
DOR
Riko menembak ponsel milik Fina hingga membuat benda pipih itu hancur lebur.
DOR
Fina menggeleng tak percaya saat melihat ponsel miliknya yang di hancurkan oleh Riko. Benar-benar pria biadab!
" Andai kau membuat segala sesuatunya lebih mudah. Tentu semua ini tak terjadi!"
" Sini kamu!" Riko menarik lengan Fina. Entah akan dibawa kemana wanita itu. Riko benar-benar berada di ujung kemarahannya.
" Lepasin, gue ga mau Riko!" Fina memberontak, namun sia-sia saja. Kekuatan Riko lebih besar dari daya nya yang hanya sebagai wanita.
" Jon, kita pergi sekarang!"
Fina seketika membulatkan matanya. Mau dibawa kemana lagi dia. Oh tidak!
Riko benar-benar tak memiliki pilihan saat itu. Ia akan membawa Fina kerumahnya sekarang juga. Untuk urusan mama, akan ia pikirkan nanti.
" Riko lepas!"
Namun Riko dengan wajah datar terus menggeret Fina yang masih berjuang melepas tautan tangannya yang kini tergandeng dengan erat pada tangan Riko. Sial!
Kini, Riko terlihat memasukkan Fina kedalam sedan mewah miliknya yang akan di kemudikan oleh Joni. Fina benar-benar dibuat geram olehnya.
Fina menitikan air mata. Harapannya ingin bertemu Pandu pupus sudah. " Ndu... tolongin gue!" Rintihnya dalam hati.
.
.
...πππ...
Adalah Abimana, pria dengan postur tinggi tegap itu terlihat lihai dalam mengemudikan berbagai jenis kendaraan. Beruntung sekali Bayu, lantaran memiliki anak buah yang unggul di masing-masing bidang.
Definisi dari semua tajam dan tumpul di bidangnya masing-masing.
" Itu dia!" Ucap Abimana kala melihat mobil yang di kendarai Radit.
Waktu dini hari itu benar-benar membuat jalanan lengang. Hanya beberapa kendaraan bermuatan berat yang terlihat berseliweran.
Pandu terlihat memasukkan peluru usai menekan magazen senjatanya. Pria itu terlihat mengkokang senjatanya. Ilmu dari Theodor, kini siap ia implementasikan.
DOR
Peluru itu tepat mengenai kaca belakang mobil Radit.
" Kerja bagus Ndu!" Abimana memuji ketangkasan Pandu dalam membidik sasaran. Pun dengan Bayu.
" Sebaiknya kita ikuti saja. Jelas Radit akan mencari bala bantuan!" Ucapan sang komandan memang benar-benar selalu tepat.
Peluru yang memecahkan kaca mobil pria bangsat itu, sudah lebih dari cukup untuk memperingatkan. Membuat Pandu kian tak sabar.
.
.
Raditya
" Brengsek!" Ia sudah mengumpat berkali-kali kala terperanjat usai mendengar suara pecahan kaca yang di tembak oleh orang di mobil yang mengejarnya.
Ia makin gusar kala melihat dan mengetahui sebuah mobil yang mengikutinya dari pantulan rear vission mirror mobilnya. Ia tak mau mati konyol seperti ini. No way!
" Anjing!" Ia mengumpat kala nomor ponsel Riko maupun Joni yang tak bisa ia hubungi. Ia tak memiliki pilihan selain meluncur ke Markas Argopuro. Setidaknya disana ia memiliki bala bantuan juga beberapa persenjataan.
Persetan dengan anak buahnya di kantor ekspedisi tadi. Tanpa curiga, Radit menginjak pedal gasnya dengan kecepatan maksimal. Berusaha menyelamatkan diri sebisa mungkin.
Dan benar saja, ia menabrak pagar dari kayu itu dengan tanpa pikir panjang. Radit sebenarnya ketakutan dan tak mau mati konyol.
" Dimana bos dan Joni!" Tanyanya usai turun dari mobilnya dengan wajah pias.
" Bos tadi saja pergi dengan Joni membawa wanita itu!" Sahut Kalifi yang notabene merupakan assiten Joni.
" Sial!"
" Aku tengah di buntuti seseorang. Minta orangmu untuk turun!" Titah Radit sembari berjalan kedalam hendak mencari persenjataan.
Saat melewati ruangan, tanpa sengaja ia mendengar suara anak buahnya yang tengah enak-enak. Lebih tepatnya, pria itu tengah menikmati tubuh salah satu wanita yang mereka sandera.
" Anjing! Apa yang kalian lakukan! Cepat bereskan tempat ini dan bawa wanita itu ke tempat yang lebih aman. Tempat ini sudah diketahui seseorang!"
Radit memarahi anak buahnya yang justru kempret disaat yang tidak tepat. Namun reaksi pria itu datar-datar saja. Oh astaga.
Ia menjadi marah-marah tidak jelas. Selain karena efek dari alkohol yang ia tenggak sewaktu di kantor ekspedisi tadi, sebenarnya semua itu adalah manifestasi dari kepanikan yang melanda dirinya. Radit ketakutan.
Namun, rupanya kecurigaan Radit tak terbukti. Lebih dari tiga puluh menit mobil yang tadi mengejarnya tak menampakkan eksistensinya.
Membuat Radit kini tertawa lepas. Mereka kehilangan jejak pikirnya. Selalu saja jumawa.
" Apa bos tadi bilang mereka hendak kemana?" Tanya Radit kepada puluhan anak buahnya yang tengah bersiap.
" Tidak bos. Tapi, kita diminta untuk mengirim wanita-wanita itu siang nanti!"
" Kita diminta standby sampai mereka di ambil"
" Tuan Zack akan datang kemari siang nanti!"
Kini Radit paham. Mungkin Riko membawa Fina ke suatu tempat lantaran bos-nya sudah mengetahui bila dirinya tengah di serang oleh Pandu.
Dan para wanita tawanan itu, harus segera mereka salurkan kepada Zack. Pria yang menjadi pemasok wanita untuk dijadikan pekerja malam.
Namun, ketenangan yang ia rasakan rupanya hanya bersifat sementara. Perasaan lega itu hanya bersifat fana. Ketenangan sesaat yang kini berubah menjadi kecemasan kala ia mendengar suara riuh puluhan kendaraan.
"Sial!" Umpatnya kala melihat mobil berlogo KJ yang kini membentuk barikade sepanjang bangunan itu berdiri.
" Kalifi!" Ucapnya memberikan kode kepada anak buahnya untuk melindunginya.
" Cepat menyebar ke seluruh bagian tempat ini!"
Jelas pertarungan sesungguhnya telah dimulai.
.
.
Bayu
Ia rupanya benar-benar mengerahkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Termasuk meminta team Delta dan team Echo untuk bergabung. Menyisakan Tanjung dan Diah Ayu yang kini menjaga kediaman Guntoro.
Tak mau menunda lagi.
" Semua bergerak! berpencar!" Bayu bahkan memimpin langsung aksi ini. Atas nama pria yang merasa di tipu oleh anak buahnya, juga atas nama pimpinan yang mendedikasikan dirinya kepada client yang telah menyewa jasa keamanannya.
" Pandu!" Tetap bersamaku!" Pinta Bayu menahan lengan pria dengan tato di punggungnya itu. Membuat langkah Pandu terhenti.
Why?
Andhika, Satya, Abimana, Andreas serta Harimurti kini terlihat memimpin anak buah mereka masing-masing. Sementara Theodor bertindak sebagai snipers dengan Laras panjangnya, sembari bersembunyi di tempat yang strategis. Dengan bantuan komando dari Rendy sang IT tentunya.
" Arah jam tiga untuk Delta Satu, dan arah jam sembilan untuk Charli satu!" Rendy menginstruksikan pandangannya dari dalam mobil. Memantau pergerakan musuh lewat teropong yang ia gunakan.
.
.
DOR
Nyaris saja Satya terkena serempetan peluru itu jika ia tak di tarik oleh Aksa. " Awas Pak, mereka juga membawa senjata!" Aksa benar-benar jeli dalam membaca pergerakan lawan melalui insting suara.
" Thanks Sa, aku berhutang nyawa padamu!" Satya menepuk bahu anak buahnya dengan tersenyum. Korelasi dan koordinasi yang match.
Disisi lain, Andreas yang kini tengah berjibaku dengan pria botak yang membawa senjata tajam terlihat berwajah serius.
DUG
PRAK
Andreas yang notabene ahli beladiri itu, jelas membuat pria botak itu kesulitan dalam melawan. Andreas terlihat menendang tangan pria itu, membuat senjata tajam yang dibawanya terpelanting ke lantai.
KROMPYANG!
Andreas mengangkat lalu membanting tubuh pria itu keatas meja. Membuat meja itu kini ringsek tak berbentuk.
" Wow! Amzing Pak!" Tukas Gerson anak buahnya yang takjub akan kemampuan leadernya itu.
" Sekarang giliranmu!" Ucap Andreas tersenyum sembari melirik salah seorang yang geram karena rekannya kini tak sadarkan diri usai di banting oleh Andreas.
Tempat itu kini benar-benar menjadi gaduh. Semua melawan tanpa ada yang menganggur.
Di jam yang sama, lokasi yang sama namun di ruangan yang berbeda , Ucok dan Ryan yang merupakan anak buah Harimurti dari team Echo terkejut kala melihat dua orang yang sedang wik- wik.
BRAK!
Suara pintu yang di tendang oleh Ucok itu, membuat dua manusia yang saling menyatukan tubuhnya itu menatapnya dengan mata membulat.
" Brengsek!" Umpat pria itu yang langsung mencabut aset berharganya yang terbenam di liang wanita sanderanya itu. Dasar pria tidak benar!
Ya, Ryan sengaja mendobrak pintu-pintu di ruangan itu guna menyisir semua tempat. Tak di nyana, ia malah mendapat suguhan sialan macam itu. Asu lu!
" Wih, Anjing nih orang!" Ryan misuh- misuh kala melihat adegan penyatuan tubuh yang terjadi di waktu yang tidak tepat itu. Orang yang sama dimana Radit sempat turut terperanjat tadi. Dasar setan!
" Baaaa! Orang tengah sibuk baku hantam, kelen malah asik i'ok i'ok disini rupanya!" Ucok berkacak pinggang seraya menggelengkan kepalanya tak percaya.
" Cepat ganti bajumu! Setelah ini, kuhajar juga kau!" Ucok berbicara dengan logat yang kental. Benar-benar menggelitik.
Sejauh mata memandang, Pandu kini melihat semu rekan-rekannya beradu otot dan tenaga bersama anak buah Radit dengan segala kurang dan lebihnya.
Pandu bahkan tak mengira bisa berada di titik seperti itu. Ia merasa dirinya bak di kisah film yang pernah ia tonton. Namun, ini merupakan sebuah kenyataan yang benar-benar melibatkan dirinya.
" Tolong!"
" Tolong!"
BRAK
BRAK
"Tolong!"
" Tolong!"
Bayu dan Pandu yang kini fokus mencari Radit yang entah masih bersembunyi dimana, tak sengaja mendengar suara dari sebuah ruangan yang berada di ujung paling belakang.
" Apa kau mendengarnya?" Tanya Bayu kepada Pandu.
Pandu mengangguk dan langsung berlari. Suara yang awalnya samar kini semakin terdengar jelas.
" Buka!"
" Tolong!"
Astaga, ruangan itu rupanya berada di ujung dan seperti terpisah dari bangunan utama. Dari suara yang mereka tangkap, jelas ruangan itu tengah menekan banyak sekali orang.
" Apa yang kau lakukan?" Tanya Bayu saat melihat Pandu yang mencabut senjatanya dari balik punggungnya.
" Membuka pintunya lah, apa lagi?" Pandu mendengus. Entah mengapa Bayu seperti terlihat mencemaskan dirinya.
" Ok...Ok!" Bayu bahkan sampai tak berpikir ke arah sana. Pintu besi itu di gembok dari luar. Mustahil mereka mendobraknya. Entah apa yang dipikirkan pria matang itu.
DOR
DOR
Pandu menembaki gembok itu sebanyak dua kali. Membuat suara riuh dan gedoran dari dalam seketika tak terdengar. Sunyi senyap.
Pandu dengan cepat membuka pintu itu usai gembok itu hancur karena pelurunya. Syukurlah.
Mata Bayu dan Pandu membulat lantaran melihat banyak sekali perempuan lintas usia yang berwajah muram dan terlihat ketakutan.
Ada yang saling memeluk, ada juga yang menutup wajah mereka dengan tangan karena ketakutan.
" Apa yang sebenarnya terjadi!" Gumam Bayu tak menyangka jika Radit telah menyandera banyak sekali wanita seperti ini.
Oh astaga!
" Jangan takut, kami akan menyelamatkan kalian!" Ucap Pandu demi melihat wajah ketakutan dari para wanita disana. Dari keadaan yang tersaji, jelas membuat Pandu menyimpulkan satu hal. Mereka semua adalah korban human trafficking.
.
.
.