
Bab 100. Kenyataan menyakitkan
^^^" Hidup laksana asap. Sebentar terlihat, sebentar lagi tidak terlihat!"^^^
.
.
.
Pandu
DOR
DOR
DOR
Ia sempat terkejut kala mendengar berondongan senjata yang bagai letusan sebuah kembang api dari arah ruang tamu itu.
" Kuharap aku belum terlambat!" Rupanya Andreas, Abimana dan Harimurti terlihat lebih dulu memasuki rumah itu. Sengaja memberikan tembakan peringatan saat mereka melihat Pandu berserta Willy dan Kadek telah di kepung.
Ia tersenyum menatap Pandu dan rekannya.
Kini, seulas senyum terbit dari bibir Pandu, Kadek juga Willy. Terimakasih karena sudah datang tepat waktu! Begitulah kira-kira yang terucap dari sorot mata mereka. Yes!
Detik itu juga, aksi saling serang pun tak terelakkan. Kadek yang terluka itupun, juga terlihat menyerang sekuat tenaga. Selama nyawa masih di kandung badan, pantang bagi laksar KJ untuk menyerah.
Hartadi kini panik dan berlari lantai atas, membuat Pandu kini berlari dan berniat menyusul Riko seorang diri.
" Kadek! Aku ke atas dulu!"
Kini, ia harus menyelamatkan Fina. Harus! Bukan karena dia adalah anak dari pria yang menjadi client Kijang Kencana, melainkan karena perasaan cintanya kepada wanita itu.
.
.
Sementara diluar,
" Kami bisa membantu!" Ucap Ajisaka yang terlihat menata Aksa bersama Theodor.
Theodor mengangguk " Pakai ini, tenang saja. Tembak jika kau merasa dalam bahaya!" Ia menepuk Pundak Ajisaka yang tercenung lantang diberikan sepucuk senjata oleh pria bermata sipit itu.
" Sudah aku isi!" Theo menepuk lengan Ajisaka yang masih tertegun. Theo menatap ke arah Bayu yang mengangguk. Tanda menyetujui idenya.
" Wah!" Sakti terperangah kala melihat Ajisaka yang kini memegang sepucuk senjata api.
" Ngiri lu?" Yudha menyenggol tubuh Sakti hingga terhuyung.
" Enggak lah, bukan ngiri. Tapi ngeri tahu. Aku biasa pegang selang AC mana bisa pakai begituan!" Sakti bergidik ngeri.
" Yang ada malah salah tembak aku nanti!" Sakti terkekeh.
" Nembak cewek sih ga masalah, nah ini...Bisa brabe urusan!" Sakti terkekeh.
" Aku pakai tangan kosong aja lah!" Sahut Sakti dengan gaya jenakanya. Membuat Theodor terkikik geli. Teman Pandu itu rupanya bocor juga.
" Kus, Markus!" Ucap Theodor memanggil pria dengan kulit gelap itu.
" Saya?" Markus setengah berlari mendatangi Theo yang menggerakkan tangannya sini!
" Mereka sahabat Pandu, kita bisa sama-sama kedalam!" Rupanya Theo memasangkan Markus dengan Sakti. Couple bar-bar.
" Ucok, sini Cok?" Theo juga memanggil Ucok.
" Ya Bang?" Sahut Ucok dengan logatnya yang khas. Berjalan antusias ke arah Theodor.
" Temani dia ya!" Theo menepuk Pundak Yudha.
Membuat mereka kini benar-benar memantapkan hati untuk mengakhiri kerumitan ini. Yudha tersenyum kepada pria yang jelas memiliki logat yang sama dengan mamaknya saat berucap itu. Yeah!
" Pak! Emmm...Ibu..!" Aksa menunjuk ke arah Ambarwati dengan sedikit menggantungkan ucapannya. Menatap Bayu penuh kecurigaan.
Astaga bos bos!
" Kalian kedalam dulu, biar saya yang dampingi ibu Pandu!" Sahut Bayu dengan wajah serius. Karena tak mungkin mengajak Ambarwati untuk turut ke dalam. Dangerous!
Aksa menyebikkan bibirnya " Jangan modus ya Pak, istri orang itu!" Bisik Aksa terkekeh.
" Saya tembak juga kamu Sa!" Bayu mendelik dengan wajah merah menatap Aksa yang malah menggodanya. Merah karena malu lebih tepatnya.
Aksa tergelak sembari memposisikan tangannya ke dahi sembari hormat. " Siap salah Pak!" Membuat Theodor terkekeh. Bisa-bisanya Aksa berkelakar disaat genting seperti itu.
Ambarwati masih diam dengan wajah cemas. " Maaf, apa saya boleh kedalam?" Wajah khawatir akan keselamatan anaknya benar-benar tak bisa ia sembunyikan.
" Tidak, anda harus tetap disini. Terlalu berbahaya!" Entah mengapa Bayu merasa nyaman kala berbicara dengan Ibu dari Pandu itu. Wanita sederhana yang masih terlihat cantik di usianya yang tak pasti ia perkirakan sama dengan dirinya. Oh Sh*it!
Ambarwati menurut dan menunggu di dalam mobil. Ia terlihat memandang wajah pria yang bernama Bayu itu dengan raut cemas. Apakah pria itu bisa di percaya?
Pria itu seusai dirinya jika dilihat dari rona wajahnya. Meski ia sendiri belum yakin. Bayu terlihat berbicara serius dengan seorang pria muda. Mungkin anak buahnya.
Sejurus kemudian pria itu membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya. Pria itu wangi meski terlihat sangat lelah.
" Saya harap anda tenang, saya sudah kerahkan semua anak buah saya!" Ucap Bayu dengan serius.
Suasana canggung menyeruak. Mereka diam dan larut dalam pikirannya masing-masing. Jelas hal itu terjadi, Ambarwati bahkan baru bertemu pria itu kurang dari dua jam.
Namun, ia tak memiliki harapan lain saat itu.
" Tolong jangan sampai anak saya celaka Pak!" Ambarwati berucap dengan mata berkaca-kaca seraya memegangi lengan kokoh Bayu. Membuat hati Bayu berdesir saat menatap jemari lembut itu.
" Hanya Pandu yang saya punya!" Isak tangis mengiringi ucapan Ambarwati.
Bayu tertegun, sungguh ia tak tega melihat wanita di depannya itu. Apalagi ia ingat sikap impulsif Pandu yang berapi-api, keukeuh ingin membalas dendam kepada Raditya.
Jelas menandakan jika hidup mereka selama ini tidaklah mudah. Oh astaga!
" Kita masuk nanti jika kondisinya lebih aman ya!" Bayu mengangguk seraya tersenyum menatap Ambarwati yang kini menyusut air matanya dengan ujung bajunya.
Membuat hati Bayu nyeri. Kasihan sekali wanita ini!
.
.
Pandu
Ia meninggalkan rekan-rekannya yang berjibaku melawan anak buah Hartadi. Ia kini naik ke lantai atas mencari Riko yang jelas tengah bersama Fina.
Ia tak menyadari, jika Ibu dan para sahabatnya berada di sana. Entah bagaimana reaksi Pandu jika ia melihat orang-orang terdekatnya beras di tempat yang bahaya seperti saat ini.
Pandu terlihat membuka pintu-pintu di rumah besar Riko itu. Ia juga kehilangan jejak Hartadi yang tadi sudah pergi terlebih dahulu. Sial!
BRAK!
Kamar itu kosong, Pandu benar-benar kebingungan. Kemana mereka?
" Kau mencari ku!" Riko tiba-tiba muncul di belakang Pandu seraya memiting leher Fina dari belakang.
" Fina!" Pandu terperanjat saat melihat Riko yang sudah mengalungkan tangannya ke leher Fina.
DOR
Riko menembak ke arah Pandu, namun pria itu berhasil menghindar. Hati Fina benar-benar cemas. Ia takut jika Riko mencelakai Pandu.
" Eeeeeee!" Fina mengigit lengan Riko hingga dalam. Ia sudah muak dengan sikap Riko yang gila .Membuat pria itu merasa sangat kesakitan. Sejurus kemudian ia menendang telor milik Riko dengan ngawur. Rasain lo!
" Argghhhh brengsek!!" Riko memegangi benda berharganya itu sembari meringis tak karuan. Melihat ada kesempatan, Fina berlari dan menuju ke arah Pandu.
" Fina!" Pandu memeluk Fina dengan lega. Pria itu benar-benar takut jika terjadi sesuatu terhadap wanita pecicilan nan nakal yang telah mencuri hatinya itu.
" Kamu ga apa-apa?" Pandu dengan wajah pias meraba wajah Fina. Memandang wanita itu dengan tatapan cemas.
Fina mengangguk " Aku ga papa!" Fina meremas tangan Pandu yang masih menangkup wajahnya.
Melihat Riko yang hendak meraih pistolnya yang baru saja jatuh, Pandu berlari lalu merusutkan tubuhnya ke lantai. Tak mau sampai kecolongan lagi.
BRUK
KROPYAK!
Pandu berhasil menjauhkan senjata itu dari tangan Riko.
" Kurang ajar!" Umpat Riko mengeraskan rahangnya kala ia melihat senjatanya telah terpelanting sejauh beberapa meter.
BUG
Riko melayangkan pukulan ke wajah Pandu dengan keras. Kali ini tepat mengenai pelipis mata Pandu. Membuat Pandu terhuyung.
Tak berhenti sampai disitu, kini Riko meninju perut Pandu. Membuat Pandu sangat kesakitan dan langsung menekuk lutut ke lantai mengkilap sembari memegang perutnya yang terasa sakit. Sejurus kemudian Riko terlihat menjambak rambut Pandu dengan kasar.
" Pandu!" Teriak Fina dari jarak lebih kurang satu meter. Bingung harus melakukan apa. Riko brengsek!
" Jadi cuma segini kekuatan elo hah? Elo cuma pria miskin! Pria yatim yang menjijikan! Ingat pria miskin!" Riko berteriak dengan emosi yang membuncah. Tubuh Fina bergetar menyaksikan pertengkaran keduanya. Apalagi perkataan Riko yang benar-benar menyakitkan hati.
" Fina cuma pantes sama gue, denger Lo!"
Pandu benar-benar kehabisan kesabarannya. Sudah cukup.
PRAK!
Pandu meraba Gucci mahal di atas meja tepat dimana ia tengah di siksa oleh Riko. Dengan gerakan cepat ia membanting benda keras itu tepat diatasi ubun-ubun Riko.
" Argghhhh!" Riko mengerang usai guci keras itu menghantam tepat di kepalanya. Sakit sekali.
BUG
" Bacotmu benar-benar sudah kelewatan!" Pandu dengan gerakan cepat mendorong tubuh Riko dan langsung melayangkan hantaman tepat ke wajah pria itu.
BUG
" Gue miskin, benar gue miskin. Terus kenapa!'' Pandu kembali kalap. Ia memukuli wajah Riko bertubi- tubi, tanpa ampun.
" Gue Yatim, tahu apa elu soal hidup gue hah!" Pandu terlihat sangat kalap. Kini Riko benar-benar menuai hasil dari perbuatannya.
Kini ia menduduki tubuh Riko yang sudah terkulai ke lantai. Telak dan tanpa perlawanan.
" Bangsat!!!!"
" Adik gue yang baik malah mati duluan,kenapa bukan elo yang mati bangsat!!!"
BUG
Pandu memungkasi perkelahiannya dengan menghantam wajah Riko menggunakan kepalan tangannya yang besar.
BUG
Darah segar bahan keluar dari mulut dan hidung Riko yang jelas telah patah itu. Sejurus kemudian pria itu tak sadarkan diri. Napas Pandu tersengal-sengal, ia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
" Riko!" Rengganis bersama Hartadi yang melihat hal itu sontak meradang. Rupanya Hartadi menemui istrinya terlebih dahulu saat ia tahu jika istrinya pingsan sewaktu membuka pintu kamarnya.
" Kurang ajar!" Teriak Hartadi demi melihat putranya yang kini sudah tergelak tak berdaya karena perbuatan Pandu.
BRUK
Hartadi menendang wajah Pandu menggunakan kakinya. Membuat bibir Pandu robek karena tekena sepatu Hartadi. Oh sial!
Pandu mengelap sudut bibirnya yang dipenuhi cairan asin warna merah itu. Sudah cukup! Ia ingin memungkasi semua kepedihan ini.
Rengganis kini terlihat menangkup wajah putranya lalu meletakkan kepala Riko ke atas pangkuannya. Meratapi wajan anaknya yang hancur itu.
" Riko! Bangun Riko!" Rengganis menangis sejadi-jadinya. Wanita itu terlihat hancur.
BUG
Kini Pandu ganti menyerang Hartadi dengan anarkis. Membuat pria berusia sama dengan Bayu itu terhuyung ke belakang dengan wajah yang terasa pedih.
" Brengsek!" Maki pria itu saat ia merasakan ngilu di wajahnya
" Tak akan ku biarkan kau hidup setelah membuat anakku seperti itu!" Hartadi berkata dengan nada penuh kegeraman saat menatap Pandu.
" Pun dengan saya. Anda kan yang memerintahkan pria brengsek itu untuk menusuk adik saya kan, hah?"
" Keluarga biadab macam kalian memang pantas untuk mati!" Sergah Pandu dengan emosi yang memuncak.
Fina yang berasa di belakang Pandu terlihat gemetaran. What should I do?
" Kurang ajar!" Hartadi menarik pistol dari balik punggungnya. Kesabarannya benar-benar telah habis. Ia ingin melenyapkan Pandu saat itu juga .
" Jangan kau bunuh anakmu!" Suara seorang wanita yang familiar membuat Hartadi, Pandu, Fina dan juga Rengganis menatap ke arah depan.
Mata Pandu membulat kala melihat Ibunya berada di sana dengan di papah oleh Bayu. Bayu bahkan juga terlihat terperanjat kala mendengar perkataan dari wanita yang ia papah itu. Kenyataan macam apa ini?
Petir seolah menyambar diri Hartadi saat itu juga. Rengganis bahkan langsung terkejut dengan apa yang ia saksikan saat ini. Tak menyangka jika wanita yang telah ia singkirkan dulu itu, kini berdiri tepat di hadapannya.
" Kalau kau membunuhnya, bunuh aku juga!" Wajah Ambarwati telah berurai air mata. Ia benar-benar lelah. Ucapannya yang kian bergetar seolah menerangkan betapa hatinya saat ini terlalu sesak.
Jauh sudah ia memendam semua ini, namun mengapa Tuhan malah mempertemukan Pandu dan ayah biologisnya dengan jalan yang seperti ini.
" Wati....!" Dengan bibir bergetar dan suara yang nyaris tak terdengar Hartadi berucap seraya menatap Ambarwati dengan mata berkaca-kaca. Pria itu menjatuhkan pistol yang tadi ia pegang. Tubuhnya benar-benar bergetar hebat saat itu.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
.
.
.
.
.
.
Semoga menjawab pertanyaan reader ya siapa bapak Pandu πππ.
Sesuai outline awal, memang begitu ππ