Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 117. Pie to Iki? ( Gimana ini ?)



Bab 117. Pie to Iki? ( Gimana ini ?)


^^^" Sudah berulang kali aku katakan, banyak persoalan yang tidak akan selesai hanya dengan emosi!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kota X


***


Pandu


Telah lebih dari tiga hari dia bersama Ibu berada di kota itu. Terhitung sejak terbongkarnya bisnis terselubung keluarga Hartadi ,yang membuat mereka gagal untuk maju ke pencalonan diri menuju kursi Kota X 1.


Kapokmu kapan.


Bayu melarang mereka untuk mencari kontrakan sebenarnya. " Tinggallah disini, atau jika tidak, dirumahku!"


Pria yang usianya sepadan dengan Ibunya itu sebenarnya tulus saat berucap. Namun, ia tak mau aji mumpung dan menyalahgunakan kebaikan orang lain demi keuntungannya sendiri. That's not Pandu.


Lagipula, Bayu bukanlah siapa-siapa buat mereka saat ini. Lebih tepatnya belum menjadi siapa-siapa. Yeah!


Mereka kini tinggal di sebuah hotel yang lebih layak untuk sementara waktu . Tidak seperti hotel Minceu tempo hari, yang membutuhkan kekebalan telinga saat ******* dari kamar sebelahnya cukup mengusik indera pendengarannya sebagai pria lajang. Tak mungkin Pandu membawa ibunya ke tempat seperti itu. No way!


Ah jadi kangen Fina kalau ingat hal itu.


Pandu memang berniat akan menemui Fina pagi ini. Selasa rindu yang membuncah selalu menjadi dalih untuk bersua. Jatuh cinta memang membuat segala sesuatunya lebih indah ya?


Tapi , tanpa ia duga dan ia nyana, Rival terbesarnya mendatangi dirinya ke hotel pagi itu. Selalu saja, hidup kerap memberinya kejutan yang tak terduga. Lagi dan lagi.


" Riko?"


Pandu membulatkan matanya saat dengan nyata sosok pria yang sebenarnya memiliki hubungan darah dengannya itu, kini berdiri di hadapannya. Mau apa lagi dia?


" Apa kau tidak memintaku untuk masuk?"


"Kakak?" Riko menaikkan alisnya sebelah.


.


.


Kalianyar


***


Widaninggar


Senin pagi yang di nanti bertepatan dengan awal bulan yang mengharuskan Damar untuk memulai kisahnya ke TK Kasih Ibu. Ia tidak tahu, andai Fina saat itu tidak menolongnya, pasti saat ini jalan cerita hidup mereka sudah berubah.


Mencoba menjalani hidup sebagai manusia wajar dan normal di tengah-tengah masyarakat. Bergaul dengan kelas sosial yang bervariasi, bersekolah, bekerja dan menjalani peran sebagai single mother.


" Harus ada yang di kerjakan agar hidup berjalan wajar!" Kata Bapak yang selalu saja benar.


" Buk, tapi Damar enggak ada temen!" Ucap anaknya yang masih menurut kala ia mengancingkan satu persatu bulatan yang menyambungkan tautan baju itu.


Damar tengah ia dandani. Seragam baru berwarna biru benar-benar pas di tubuh bocah cilik itu.


" Kan belum kenal. Nanti pasti kenal!" Ucap Wida menumpas keresahan putranya yang selalu saja mengkhawatirkan sesuatu yang belum di jalani.


" Tenang aja, nanti bakal punya teman banyak kok disana!" Ia menyapukan bedak putih ke wajah Damar saat mengatakan hal itu.


Ia menyemprotkan parfum merk khusus anak-anak yang ia beli di pasar seusai membelikan sepatu untuk Damar kemarin. Ok sip. Damar sudah ganteng dan wangi.


" Tunggu di depan dulu ya, ibuk mau siap-siap!" Pintanya kepada Damar yang dibalas anggukan oleh putranya itu setelahnya.


Damar melesat keluar dengan riangnya. Bocah itu semalam bahkan susah tidur, dan lekat menatap seragamnya yang ia gantung. Dasar bocah.


" Nduk?" Suara bapak mengejutkannya.


" Loh kok udah wangsul ( pulang) Pak?" Jawabnya sambil bersiap-siap memburu waktu. Hari pertama dan keterlambatan jelas bukanlah sesuatu yang relevan.


Ia kini juga sedikit memoleskan bedak ke wajahnya yang berkulit kuning langsat. Sambil saling berdialog dengan sang Bapak.


Wida cantik meski tanpa alis palsu dan blush on Chibi Maruko Chan.


" Bapak cepat-cepat tadi, nanti keburu kamu pakai kan motornya?"


Ya, Bapak Wida menggunakan sebagian uang pinjaman itu untuk membeli motor matic second. Motor disana hanya satu, itupun sebuah motor bebek yang sama tuanya dengan usia bapaknya.


" Mahal Pak?" Ia sempat mengkhawatirkan uang yang akan semakin menipis.


Bapak menggeleng " Enggak, itu motornya tahun agak lawas Wid, tapi ya masih bagus. Yang penting bisa kamu pakai wira- wiri ngantar Damar sama buat keperluan kamu dulu!"


" Kalau ada rejeki, kita tukar tambah!"


Ia mengangguk setuju sambil menyisir lalu mengikat rambutnya dengan satu ikatan. Gaya sederhana yang selalu nyaman untuk ia pilih.


" Kalau enggak nanti sore, besok pagi mesin jahitnya datang. Nanti Bapak mau buat dulu tempat buat kamu jualan, ada esbes sama triplek bekas itu di belakang. Masih bisa bisa digunakan!"


Wida amat bersyukur, di tengah kesulitannya yang kian mendera, orantuanya lah yang selalu menjadi solusi untuknya. Entah kapan ia bisa membalas segala kebaikan orang tuanya itu. Berjanji dalam hati akan berusaha melakukan yang terbaik setelah ini.


.


.


Ajisaka


Hari-harinya kedepan bisa ia prediksi akan makin sibuk. Jelas, ia akan di sibukkan dengan mengontrol tempat yang akan ia gunakan sebagai gudang kedua tempat sortir buah naga yang baru saja ia beli.


" Bos! Mungkin dalam waktu sebulan akan selesai pembangunannya. Itu... info dari tukangnya!" Sukron sebagai abdi setia pagi itu datang membawa informasi sambil mengangsurkan kopi untuk Ajisaka.


Harusnya istri pak yang membawakan kopi, malah Sukron pak pak!


" Apa tidak bisa lebih cepat?" Ia sudah hendak marah pagi itu. Time frame yang ia buat jelas tak sama.


" Kulinya di bagi Bos. Itupun sudah mereka usahakan estimasi waktu pengerjaan tercepatnya!" Sukron menundukkan kepalanya.


Aji tertegun, itu artinya semuanya akan molor dari jadwal seharusnya.


" Ya sudah, setelah ini ikut aku ke rumah produksi!" Ucapnya tegas.


Buah Naga tersebut tidak hanya di distribusikan dalam bentuk utuh, namun sebagian Ajisaka kembangkan menjadi panganan lain. Pria itu tergolong manusia yang inovatif.


Kripik buah naga dan dodol buah naga produksinya kini makin di kenal oleh beberapa stakeholder terkait. Bahkan menembus pasar dan distributor besar.


Pemilik bisnis oleh-oleh se antero Nusantara misalnya. Panganan produksi AF ( Ajisaka's Food) kini pasti bisa dijumpai di toko-toko oleh-oleh yang ada di kota-kota besar.


"Loh kok masih banyak banget yang belum di kirim?" Ajisaka melihat tumpukan limbah produksi yang menumpuk.


Sampah itu harusnya sudah tak terlihat pagi jelang siang itu. Tapi..kenapa pemandangan tak mengenakkan itu masih ia jumpai?


" Din!


" Dino!"


" Sini kamu!" Ajisaka memanggil Dino, pria muda yang bertugas menjadi narahubung disana. Pria itu banyak sekali pekerjaannya.


" Ya bos?" Dino mengangguk sopan. Lari tergopoh-gopoh saat mendengar suara Ajisaka.


" Saya kan udah bilang, itu sampah tiap hari harus segera dibuang biar gak jadi limbah!" Aji benar-benar terlihat marah. Jelas terlihat dari alisnya yang sedari tadi berkerut.


Tak mau sampai menimbulkan persolaan yang kompleks terkait limbah bekas produksi.


" Nganu bos, yang biasanya mengerjakan itu tiba-tiba mengundurkan diri!" Terang Dino menunduk sambil menggaruk-garuk kepalanya.


" Siapa dan kenapa?" Aji menatap sengit Dino.


Dino melirik Sukron. Bagiamana ini, kadang rasa empati mengalahkan semua aturan yang ada.


Harusnya kalau mau undur diri wajib memberitahu minimal seminggu sebelumnya. Karena mencari pengganti juga memerlukan waktu.


" Pak Atmojo Bos. Dia cuma bilang udah gak bisa kerja lagi, soalnya....!"


" Antar aku kesana Kron. Pekerja yang begini ini yang musti di tatar!" Aji kepalang berang. Tidak boleh seenaknya begini.


Belum sempat Dino menyelesaikan kalimatnya, Aji kepalang marah. Haduh gimana ini?


.


.


Sukron menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana . Terlihat seorang pria tua yang sibuk memaku sebuah triplek seorang diri .


" Ini Bos, rumah Pak Atmojo!" Tutur Sukron sambil melirik eskpresi tak terbaca dari raut muka Ajisaka. Selalu saja nesu- nesu ( marah-marah).


Ajisaka tak menjawab dan langsung turun, berniat menemui pegawainya yang menurutnya sudah sak karepe dewe ( semaunya sendiri) itu.


" Dengan pak Atmojo?" Ajisaka melepas kacamata hitamnya dan menatap pria yang tak menyadari kehadirannya itu.


" Pak Aji?"


" Ya Allah Pak..Monggo... Monggo!" Oka Atmojo sampai mengusapkan tangannya ke bajunya sebelum menyalami tangan Ajisaka. Membuat pria itu sedikit menurunkan tensi kemarahannya.


Pria tua itu bahkan terlihat terkejut dan sungkan saat bos-nya menyambangi rumahnya. Lebih tepatnya mantan bosnya.


.


.


Pak Atmojo


Dua hari yang lalu


" Saya enggak bisa lagi kerja mas Dino. Saya repot dirumah. Enggak enak kalau bolak-balik izin!" Ia sungkan karena sudah sering izin semenjak Widaninggar pulang ke rumah. Tak mau lagi kejadian buruk menimpa putri dan cucunya itu.


Ia ingin konsen membanu Wida sambil kerja seadanya dirumah. Kembali menjadi buruh harian lepas mungkin.


" Jadi Bapak mau berhenti sekarang?" Dino menatap muram pria bersahaja di depannya itu. Kasihan betul.


Dino bekerja sebagai pelaksana tugas Ajisaka's food yang membawahi beberapa puluh pekerja. Pak Atmojo kebetulan bertugas memastikan pengelolaan sampah dan limbah. Sebab, pekerja disana sudah memiliki tupoksi masing-masing.


Dino menawarkan pekerjaan kepada Pak Atmojo sekitar enam bulan yang lalu saat tempat tersebut tengah memerlukan tenaga tambahan.


" Saya benar-benar minta maaf mas. Tapi anak saya sekarang tinggal sama saya, saya repot dirumah!"


Dino kasihan, ia tahu keadaan yang menimpa anak Pak Atmojo. Sebab ia merupakan tetangganya.


***


Saat Ini


" Saya mau bicara!" Ajisaka ketus dan ingin meluapkan kekesalannya. Ia tahu yang di depannya itu orang tua. Tapi enggak boleh seenaknya begini dong.


Rumah pria itu tergolong sederhana. Berukuran 9x 6 meter. Ukuran rumah yang lumrah di perkampungan seperti ini. Tempat duduknya merupakan kursi kayu yang belum di plitur. Tapi dindingnya sudah rapat, atapnya juga terlihat wajar, lantainya merupakan ubin yang tenar di era tahun 80-90 an. Sedikit kuno.


" Bapak tahu kan kalau keluar musti seminggu sebelumnya bilang, itu sampah numpuk dan belum ada yang ngurus!" Aji meluapkan isi hatinya.


Sukron diam. Ia kagum dengan bosnya itu. Jika ada masalah langsung mendatangi yang bersangkutan seperti ini. Meski marah, Aji masih bisa mengontrol intonasi suaranya.


" Tapi saya udah bilang mas Dino Pak?" Pak Atmojo terlihat muram.


" Bapak bilangnya kemarin lusa, kemarin sama hari ini bapak udah enggak masuk, terus kapan Dino sempatnya mencari penggantinya?" Suara Ajisaka terlihat kecewa.


Pak Atmojo hanya diam sembari memainkan ujung jemarinya, pun dengan Sukron yang tak bisa melakukan apapun. Aturannya memang begitu, tapi di setiap aturan selalu ada kebijakan kan?


" Saya minta maaf Pak Aji..tapi say..!"


" Kakung!!" Suara bocah laki-laki menginterupsi perbincangan panas Ajisaka. Bocah itu ngeloyor begitu saja dan langsung menghambur ke pelukan Pak Atmojo.


Mata Aji mendelik. "Itu kan anak yang...?"


" Kakung?" Ucapnya dalam hati yang makin membuatnya bingung.


Saat menoleh ke arah luar, tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata wanita yang juga baru memasuki rumah itu.


Deg!


Seketika Ajisaka menatap wajah Pak Atmojo. Apakah pria yang baru saja ia marahi itu merupakan Bapak dari wanita yang ia cari selama ini?


Waduh! Bagiamana ini?


Kenapa urusannya menjadi runyam begini?


.


.


.


.