Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 9. Ayudya



Bab 9. Ayudya


^^^" Kesenangan itu mahal, jarang sekali mau mendekat dengan manusia rombeng yang berkawan dengan kemiskinan!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Pandu adalah pria lajang yang memiliki paras rupawan. Meski dalam keadaan ekonomi yang tidak baik-baik saja, tapi pria itu sama sekali tak pernah sambat ( mengeluh).


Ia tak bisa meninggalkan ibunya untuk sekedar merantau karena suatu hal. Ia lebih memilih bertahan, dengan keadaan seperti itu. Ia masih bisa berusaha dengan cara dan kemampuan yang ia miliki.


Adalah Desinta, anak dari tuan tanah di desa itu benar-benar menggilai Pandu. Gadis berusia 24 tahun itu benar-benar tak mau menyerah, meski Pandu bersikap biasa saja.


"Mas Pandu aku cari dari tadi kok gak ada" Desinta muncul secara tiba-tiba, saat ia hendak membongkar motor Lik Sarip.


Pria itu mengembuskan napas malas, namun ia tahu bila Desinta adalah anak orang berpengaruh di desa itu. Membuatnya harus bisa menjaga sikap.


"Oh ya, aku baru sampai!" Pandu tersenyum simpul lalu memfokuskan perhatiannya kepada motor jadul Lik Sarip.


" Pagi Bu!" Desinta menyapa Ambarwati yang tengah sibuk menampi beras.


" Eh Desi!" Ambarwati sebenarnya harap-harap cemas ketika berhadapan dengan jajaran orang nomer wahid di desa itu.


" Lagi apa Bu?" Desinta mendekat ke arah Ambarwati.


" Oh ini, biasa mau buat pesanan lontong orang-orang pasar!" ucap Ambarwati tersenyum.


" Desi bantu ya?"


" Oh enggak usah, ini udah selesai. Kamu disini saja, ngobrol sama Pandu!"


Ingin menolak tapi tak bisa terucap. Lalu harus bagiamana?


Pandu mendengus begitu mendengar ucapan ibunya. Ia lebih fokus kepada motor jadul itu, ketimbang mengobrol dengan Desinta.


Desinta cantik, hanya saja anak itu kerap menyalahgunakan wewenang jika ingin mendapatkan sesuatu. Ia kerap meminta ayahnya untuk membuat ambisinya berjalan lancar.


" Mas nanti malam kita jala yuk?" Desinta duduk di bale bambu yang berada di bawah pohon mangga, yang sudah berumur seusia Pandu.


" Gak bisa Des maaf, nanti malam aku ada acara!"


" Oh ya, acara apa?" kening gadis itu berkerut.


" Pembukaan panitia turnamen, bulan depan ada turnamen Voli se kabupaten!" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan. Ia sibuk dengan engkol dan obeng.


Desinta mengangguk, ia melihat lengan pandu yang mengetat saat mengerjakan pekerjaannya itu. Rahang kokoh serta mata tajam, juga tak luput dari pandangan Desinta.


Gadis itu mengkhayal bisa meraba lengan kekar Pandu yang kerap membuatnya gelisah itu.


.


.


Siang bolong motor beserta pemiliknya yang sama-sama sudah tua itu, terlihat sudah enyah dari rumah Pandu.


" Kamu mbok ya jangan cuek- cuek sama Desinta. Ingat bapaknya bisa berbuat apa saja Ndu!" Ambarwati mengantar secangkir kopi buat anaknya.


" Biarin Buk, Pandu gak suka sama dia!" ucapnya lalu menyeruput kopi panas buatan ibunya.


" Ini buat Ibu!" Pandu menyerahkan selembar warna merah dari Lik Sarip untuk ibunya. Karena ia masih menyimpan uang dari Sakti untuk beli rokok nanti.


Ambarwati hanya menghela napas. Rumah mereka berukuran sembilan kali sepuluh meter. Ukuran yang sedang untuk sebuah rumah di desa. " Maaf Ndu, karena Ibu kamu jadi terbelenggu!" Ambarwati hendak menitikkan air matanya.


" Ayu mana?" tanya Pandu.


" Barusan makan!" Ambarwati tersenyum dengan sorot mata sendu. Entah sampai kapan mereka menjalani hidup seperti ini.


" Aku kesana dulu!" Pandu beranjak hendak menemui adiknya.


.


.


Ambarwati


Seseorang yang ia kenal tanpa sengaja, seseorang yang membuatnya jatuh cinta karena kebaikan. Meski ia tahu, ia menjadi yang ketiga.


Dan semua hal ini, ia rahasiakan dari Pandu. Ia benar-benar ingin menutup akses Ayah biologis Pandu, yang kini mungkin berada di kota lain.


Ia terpaksa menyimpan rahasia itu, karena takut bahaya akan mengancam putranya itu. Ya, istri pertama mengetahui bila ayah pandu menikah dengannya dan telah memiliki seorang anak.


Merasa keselamatannya terancam, ia kabur dan menghilangkan jejak. Hanya satu yang ia pikirkan waktu itu, keselamatan Pandu.


Kebohongannya bahkan bertahan hingga saat ini. Sementara Ayudya, ia adalah anak kedua dari pernikahannya dengan Sulaksono. Pria baik yang tewas karena bertugas di perbatasan.


Prajurit berani itu meregang nyawa karena ulah kelompok bersenjata. Tak ada yang tersisa selain piagam yang terpajang di dinding rumahnya.


Gelar anumerta yang tersemat di nama mending suaminya itu, menjadi pengingat perpisahannya yang tanpa terucap itu.


Dan hal itu, menjadi titik balik Pandu yang enggan mengabdikan dirinya untuk negara. Semua orang punya pilihan sendiri. Ia hanya tak mau, bila kelak ia juga akan bernasib sama dengan ayah sambungnya.


Nasib yang membuat ibunya selalu bersedih, disaat ia dan adiknya masih sangat membutuhkan sosok ayah.


Ambarwati menikah dengan Sulaksono saat Pandu berusia 7 Tahun kala itu. Lalu memiliki Ayudya setahun setelahnya.


Sulaksono gugur disaat Pandu berusia sebelas tahun, dan Ayudya berusia tiga tahun.


Yang Pandu ketahui, ayahnya sudah meninggal. Itulah yang dikatakan Ambarwati sedari kecil. Sulaksono yang begitu baik kepada Pandu membuat pria itu begitu menyayangi mendiang ayah sambungnya itu dengan tulus.


Selaras dengan rasa sayangnya kepada Ayu. Baginya, Ayu tetaplah saudara kandungnya. Karena ia dan Ayu sama-sama berada dalam kandungan yang sama, yakni rahim Ambarwati.


" Maafkan Ibu nak!" Ambarwati meremas baju di dadanya seraya menahan sesak. Wanita itu menyusut air matanya.


Ia kerap merasa bersalah dengan putranya yang baik itu. Anak yang selalu menjadi pelindungnya.


.


.


Pandu mendudukkan tubuhnya ke atas kasur ukuran 140x 200 itu. Tubuh adiknya miring dan tak bergeming.


" Yu..." Panggilnya kepada adik perempuannya itu.


Ayu masih terdiam, ia tak menjawab panggilan kakaknya.


Pandu menghela nafasnya pasrah. Sudah lebih dari dua tahun terakhir, adiknya itu mengurung diri pasca musibah yang menimpanya.


Ayu mengalami kebutaan pasca ia pulang dari merayakan kelulusan sekolahnya. Ia adalah korban tabrak lari, ketiadaan biaya membuat ia harus menerima keadaan apa adanya.


" Yuk, kamu mau jalan-jalan?" Pandu menyentuh lengan adiknya yang terbaring miring.


Masih senyap, gadis berusia dua puluh tahun itu tak berniat apalagi berminat untuk menyahut ucapan kakaknya.


" Mas ada simpanan kalau kamu mau beli baju baru!"


Suasana senyap beberapa detik. Hanya jakun Pandu yang terlihat naik turun karena menahan sesak.


" Gak ada gunanya pakai baju bagus mas, aku juga gak bakal bisa ngelihat!" adiknya itu menjawab dengan suara bergetar.


Membuat hati Pandu Nyeri. " Mas bakal kerja keras buat pengobatan kamu, mas bakal kerja apa aja biar bisa bawa kamu pergi berobat!"


Ayu menangis. Ia buta namun kelenjar air matanya masih berfungsi. Ayu hidup dalam kegelapan, ia minder dengan keadaannya. Kesehariannya ia habiskan hanya untuk makan dan berbaring di ranjangnya.


Ia kasihan dengan kakaknya itu. Sungguh ia sebenarnya tidak mau menyakiti siapapun.


"Kamu yang sabar ya!" Pandu menyusut air matanya. Hatinya sesak, ingin rasanya ia pergi dari desa itu dan merantau agar mendapatkan uang yang banyak. Tapi, ia mana tega meninggalkan dua wanita kesayangannya itu.


Ambarwati yang melihat interaksi kedua anaknya dari ambang pintu itu menangis' seraya meremas ujung bajunya. Bolehkah ia mengeluh?


Ia hanya janda penjual lontong dengan pendapatan pas-pasan yang menggantungkan hidupnya pada penghasilan putranya.


" Maafkan ibumu nak!" lirihnya dalam hati yang tak kuasa menanggung keharuan.


.


.


.