Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 19. Titik Nadir



Bab 19. Titik Nadir


^^^" Cinta bisa datang dari mana saja, kadang yang mati-matian ingin kita gayuh, justru itu bukan yang terbaik!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Dalam perjalanan pulang


Pandu mengeraskan rahangnya serta memijat keningnya yang mendadak pening. Ucapan dokter Andik tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya.


Membuat otaknya serasa mau pecah saja.


"Pendonor kornea hanya bisa dari orang yang baru meninggal, dan beliau bersedia untuk memberikan organ vitalnya itu untuk di donorkan!"


"Karena satu kornea untuk satu mata, kita tidak bisa mengambil kornea dari orang yang masih hidup!"


" Maafin aku Ndu, gak bisa bantu lebih jauh lagi!" Ajisaka turut merasa bersedih. Pria itu berucap sambil terus fokus dengan setir bundarnya. Hatinya turut merasakan sesak.


" Kalau masalah biaya, aku bakal usaha sebisa dan semampuku Ji. Meski aku sendiri belum tahu gambar dan rupa duit sebanyak itu seperti apa!" tukasnya meluapkan kegundahan.


"Tapi kamu denger sendiri, syarat lain yang sepertinya mungkin gak bakalan bisa aku penuhi!" Pandu menautkan alisnya seraya wajahnya terlihat muram.


Ajisaka menelan ludahnya, ia tahu perasaan Pandu. Sahabatnya itu belum pernah terlihat sesusah seperti saat ini.


.


.


Saat sore hari kepala Pandu kian terasa pusing dan berat. Ia tak bisa berhenti memikirkan ucapan dokter spesialis mata yang membuatnya resah. Bagaimana dengan adiknya kalau sudah begini.


" Tadi gimana?" Ambarwati meletakkan secangkir kopi untuk anaknya itu di meja makan sederhana rumahnya.


Sore itu, ia yang melihat putranya melamun rasanya perlu menanyakan sesuatu. Mungkin ada sesuatu yang bisa ia dengar.


Pandu mendadak tidak menjawab namun ia menundukkan kepalanya. Ambarwati membulatkan matanya demi menyadari tubuh putranya yang bergetar. Pandu menangis tanpa suara.


" Kamu kenapa nak?" tentu saja Ambarwati terkejut. Tak pernah putranya itu terlihat selemah ini.


Pandu menghela napas, ia mencoba menetralisir buncahan rasa sedih yang menyesakkan dadanya. " Dokter bilang ada cara untuk Ayu sembuh Bu. Biayanya sekitar lima puluh lima sampai seratus juta!" ucapnya dengan tatapan kosong. Nanar menatap permukaan meja klasik peninggalan almarhum bapak sambungnya.


Ambarwati langsung terkejut begitu mendengar nominal yang disebutkan putranya itu. " Ibu jangan terkejut dulu, sebab yang lebih mengejutkan belum aku katakan!" ucap Pandu menambahi.


" Apa maksud kamu?" tentu saja Ambarwati tidak mengerti maksud anaknya. Dan kalau masalah biaya, mengapa anaknya sampai menangis seperti itu. Jelas bukan seperti Pandu putranya.


" Dokter bilang yang bisa mendonorkan kornea mata untuk ayu adalah orang yang sudah meninggal dan yang memang berkenan untuk mendonorkan kornea matanya untuk Ayu buk!" Pandu menekan keningnya usai mengatakan hal itu. Tak bisa lagi berpikir.


Ia merasa hidupnya benar-benar sulit.


Mulut Ambarwati ternganga demi mendengar penuturan anaknya. Itu sama artinya peluang Ayu untuk bisa melihat semakin kecil.


" Kalau masalah uang, Pandu bakal usaha buk. Pandu bakal cari meski Pandu harus bersusah-susah Pandu gak masalah. Tapi kemana nyari orang yang mau dan...." Pandu tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Semua ini terlalu sulit untuk keluarganya.


Ambarwati hanya bisa menangis. Wanita itu benar-benar merasa sedih. Ia meremas ujung bajunya. Ia langsung teringat wajah putrinya yang kini jarang terkena sinar matahari.


" Kalau aja Pandu bisa gantiin Ayu Buk, Pandu mau jadi kayak Ayu. Biar Pandu aja yang gak usah ngelihat Buk. Pandu gak sanggup lihat Ayu begitu terus. Bahkan dia gak mau bicara sama Pandu, Pandu jadi kakak gak berguna sama sekali buat dia!" Pria itu memukul dirinya sendiri.


Merasa tak bisa berbuat banyak. Ia kesal dengan keadaannya. Terlebih degan orang yang menabrak Ayu dan tak mau bertanggungjawab hingga detik ini.


Suasana sore itu mendadak menjadi sendu. Ambarwati berusaha menahan tangan anaknya yang terus menyakiti dirinya sendiri.


" Sudah Pandu jangan seperti ini, kita harus sabar. Manusia di uji tidak akan pernah melebihi batas kemampuannya!" Ambarwati mencekal tangan anaknya yang terus bersikeras menyakiti dirinya sendiri.


Membuat Pandu seketika terdiam.


" Kita diberi ujian seperti ini, karena kita bisa. Kita mampu!" Ambarwati menyusut air matanya. Hatinya nyeri dengan semua kenyataan ini, tapi jika memberontak seperti ini sama saja meragukan kekuasaan sang pemilik kehidupan.


" Kita hadapi sama-sama!"


.


.


Gadis itu hendak ke dapur. Ia agak haus. Berjalan merambat seraya mengahafal dan menandai sumber suara. Matanya selama dua tahun ini bak melihat kabut putih yang tak kunjung hilang, matanya silau jika terkena cahaya. Bahkan ia lebih nyaman jika memejamkan matanya.


Tanpa sengaja ia mendengar semua pembicaraan kakaknya bersama ibunya dengan jelas. Pembicaraan yang membuat hatinya merasakan pedih.


Baru mengetahui bila kakaknya itu amat memikirkan dirinya, bahkan rupanya kakaknya itu mengupayakan kesembuhan dirinya.


Seketika ia merasa bersalah karena kerap mengacuhkan ibu dan kakaknya itu. Selama ini ia terlalu egois dan merasa jika dirinyalah yang paling menderita, ia merasa hanya dialah yang mendapat beban.


"Kalau aja Pandu bisa gantiin Ayu Buk, Pandu mau jadi kayak Ayu. Biar Pandu aja yang gak usah ngelihat Buk. Pandu gak sanggup lihat Ayu begitu terus. Bahkan dia gak mau bicara sama Pandu, Pandu jadi kakak gak berguna sama sekali buat dia!"


Ia menangis demi mendengar kalanya yang terdengar kacau. Ayu menangis seorang diri tanpa suara.


Praktis, kejadian barusan membuka mata hatinya. Ia kini sadar, keluarganya sama sakitnya dengan dirinya. Keluarganya sama juga merasakan kesedihan yang menerpanya.


" Maafin Ayu Buk, Maafin Ayuk mas!" Ia mencengkeram ujung bajunya, lalu kembali ke kamarnya. Ia meraba dengan perlahan sampai akhirnya ia bisa kembali ke kamarnya dengan hati campur aduk.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Malam menjelang, kerempongan terjadi dikediaman Bu Asmah. Tepatnya di kamar dua gadis yang saling berebut kamar mandi.


" Duh Fin, aku kan tamu. Kamu aja sana yang mandi diluar!" Dita menggerutu.


" Bentar aja lah, aku mau cepet- cepet nyelesein lukisanku!" Sergah Fina.


" Elu tu ya, dari tadi gak mandi ngapain aja. Sekarang giliran aku mau mandi malah nyerobot aja" Dita mendengus. Ia memang baru bangun tidur. Ia benar-benar letih sekali.


Ya, mau tidak mau Dita menunggu. Perdebatan mereka baru selesai satu jam kemudian. Mereka berdua kini juga sudah terlihat lebih segar dan wangi.


Dita menyipitkan matanya, melihat Fina yang sibuk dengan kuas dan canvasnya. Tengah melukis wajah seseorang di malam itu.


" Siapa tuh?" ucap Dita sembari mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


" Someone yang mengusik hati!" ucap Fina tersenyum.


" Jang mudah jatuh cinta deh Fin. Entar jadinya kayak si Riko!" ucap Dita seraya mendudukkan tubuhnya ke ranjang empuk itu.


" Kok elu gitu sih!" Fina mendengus sebal. Sahabatnya itu tak mengerti apa jika hatinya tengah berbunga- bunga.


" Si Riko kemaren ngubungin gue terus. Elu blokir semua medsosnya dia ya?" tanya Dita.


" Gak ada alasan buat gue untuk gak ngelakuin hal itu. Hati gue sakit Dit!" Kini Fina kembali pada mode sebalnya. Ia mendadak teringat dengan wajah Riko.


" Makanya gue ngingetin elo. Cinta itu gak salah satu aja yang suka. Perlu keseimbangan. Alias saling suka, saling jatuh cinta. Sementara selama ini elo sama Riko...."


Fina tertegun.


Dita benar, selama ini ia yang tergila-gila dengan Riko. Pria paling populer itu kerap menarik perhatiannya. Ia juga yang selama ini terlalu mendewakan Riko. Ia juga kerap menghamba kepada pria itu, bahkan sesuatunya yang paling berharga miliknya telah ia berikan pada pria brengsek itu.


Fina menghela napas seraya memejamkan matanya. Ucapan Dita seolah menampar kesadarannya malam itu.


" Gue tau Dit, gue emang yang selama ini ngejar!" Fina meletakkan kuas itu keatas meja di samping tegakan canvas itu.


Terlihat lesu.


" Gue cuma gak mau elu patah hati lagi kayak kemarin. Elu masih galau, jangan sampai jadinya elu malah membuat orang lain jadi pelampiasan elu Fin. Kalau elu tau rasanya di sakiti, mending elu jangan coba-coba buat menyakiti deh!"


Hening beberapa detik. Saling menelaah ucapan.


" Hati gue cuma sepi Dit!" sebulir cairan bening lolos dari netra jernihnya. Apa yang kini ia rasakan benar-benar diluar kendalinya.


Mungkinkah perasaannya kepada Pandu hanya euforia sesaat karena ia memaksa diri untuk melupakan Riko yang sebenarnya masih bersemayam di hatinya.


Atau dia yang tak becus menahan diri?


.


.


.


.


.