
Bab 58. Makin dekat dengan tujuan
^^^"Sakit sama mengaduh, luka sama mengeluh.^^^
^^^(Seiya sekata dalam semua keadaaan)"^^^
.
.
.
...πππ...
Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul. Seberat apapun penderitaan orang yang melihat, masih lebih menderita orang yang menjalaninya.
Pandu makan dengan khusyu. Meski ia tahu jika sebentar lagi ia akan memulai hal yang memang secepatnya harus diakhiri. Pria itu selalu saja tak menyia-nyiakan Rizki berupa makanan dari sang kuasa.
" Bang bungkus tiga ya, cepetan!"
" Kayak biasanya!"
" Ingat kita duluan, kalau enggak...!"
Suara arogan seseorang membuat Pandu terusik dan mengalihkan pandangannya. Ia melihat dua orang pria dengan seragam safari hitam bertuliskan sebuah nama perusahaan yang familiar.
Kijang Kencana Safety Group.
" Itu kan?" gumamnya dalam hati seraya meneguk jeruk hangat sebagai teman santap malamnya yang senantiasa sederhana.
Sejurus kemudian ia menatap wajah pedagang nasi goreng itu. Terlihat wajah kusut yang mencerminkan kekesalan.
Pandu kembali melanjutkan makannya sembari sesekali melirik dua orang yang masih menanti nasi goreng milik pria dengan logat Madura itu.
Dugaan Pandu, berati ia semakin dekat dengan tujuannya. Bisa jadi, mereka merupakan salah satu dari mereka. Hanya dugaan, belum kenyataannya.
" Apa maonya nak kanak ria'. Bongkos selalo minta pat cepat!" Pemilik warung nasi goreng itu terlihat menggerutu usai dua pria itu enyah dari warungnya.
Melempar kasar uang dari dua pria mengesalkan tadi kedalam kaleng biskuit yang ia jadikan sebagai wadah duit, dengan kasar. Benar-benar geram.
Pandu tak berani menyela. Ia hanya diam saat kita itu terus menggerutu.
" Berapa cak?" Pandu telah selesai dengan makannya. Berniat kembali ke hotel. Ia sangat letih hari itu.
" Dua poloh rebo saja dek!" Intonasi pria itu kini sudah kembali normal saat berbicara kepada Pandu.
Pandu membuka dompetnya dan mengambil pecahan warna hijau, seperti yang pria itu sebutkan. Uang pas makin mempercepat urusannya bukan.
" Ngomong-ngomong tadi yang pakai seragam itu siapa ya cak? Maksud saya karyawan mana kok sudah makan masih belum pulang!"
Pandu sebenarnya tahu . Tapi ia merasa penasaran dengan kebenarannya dan agaknya pemilik warung itu cukup supel untuk dimintai keterangan.
" Oh ito? Coma satpam di kantor bodyguard tapi sombongnya minta ampon. Mon melle kakanan edinnak masteh tak gelem adentek tak gelem antre beremma kareppa! "
Pandu menggaruk kepalanya keranjingan. Sesungguhnya ia tak mengerti arti ucapan pria itu.
Pria itu tergelak demi menyadari kebingungan Pandu.
"Kalo beli makanan deseneh selalu tak mao menunggu. Tak mau antri. Apa maunya coba!" pria itu kini mengulang kembali ucapannya demi melihat Pandu yang bingung karena tak mengerti bahasa Madura.
" Jadi kantornya dekat sini cak?" Ucap Pandu kembali ingin mengetahui informasi lebih.
" Dekat, sana di sebelah mall besar ito ke kanan sedikit!"
Benar-benar sambil menyelam minum air. Niatnya ingin mengisi lambung, kini mendapat keberuntungan karena mendapat informasi yang ia butuhkan. Tadinya Pandu akan Googling atau searching ke portal media sosial guna mengetahui alamat kantor bodyguard itu.
Namun agaknya ia kembali mendapatkan keberuntungan.
.
.
Pandu berjalan melintasi trotoar sembari merasakan hembusan angin malam yang menerpa kulitnya. Melintasi berbagai toko pakaian dengan lampu terang bervoltase besar.
Ia juga melintasi beberapa lapak franchise minuman terkenal yang di gandrungi beberapa kawula muda.
Boba.
Ia terus berjalan hendak kembali ke hotel melati tersebut. Ia bahkan telah menguap berkali-kali saat berjalan. Jelas kantuk telah menyerangnya meski jam belum menunjukkan waktu yang terlalu malam.
Pandu lelah.
Saat ia melintas di sebuah jembatan yang sebenarnya tinggal beberapa meter lagi ia akan sampai, tak sengaja ia di tabrak oleh seorang wanita yang tampilannya kacau.
Bruk
" Astaga maaf!" Ucap Pandu yang terkaget. Padahal ia adalah korban.
Wanita itu terus menunduk dengan wajah ketakutan. Sejurus kemudian wanita itu berlari tanpa mengucap sepatah katapun kepada Pandu. Benar-benar aneh.
" Huft!" Pandu menggelengkan kepalanya. Makin aneh-aneh saja jenis manusia yang ia temua dalam kurun waktu kurang dari 24 jam itu.
Mulai dari pria berbadan tambun dengan bau minyak nyong- nyong yang mengusik hidung. Makhluk jenis tulang lunak yang menjadi resepsionis di hotel tempatnya menginap, dan barusaja seorang wanita dengan penampilan kacau lengkap dengan leleran maskara dan eyeliner yang membuat wajah wanita itu mengerikan.
Pandu tak mau ambil pusing, ia lebih memilih untuk terus berjalan. Sebab esok ia akan membutuhkan banyak sekali tenaga dan energi.
...πππ...
Mata Fina membulat demi mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Rizal. Apa maksud Rizal bertanya seperti itu. Kalau dia menjawab punya, jelas dia akan melapor kepada papanya.
Kalau dijawab enggak, kayaknya juga malah bikin dia keenakan. No way!
" Udah!" Sahutnya berbohong.
" Oh ya, siapa?" Rizal langsung menampilkan wajah serius. Menatap Fina beberapa saat sebelum ia kembali fokus kepada setir bundarnya.
" M- maksud ku pacar kamu orang mana? Soalnya tadi Om Gun hilang kalau kamu baru putus sama mantan kamu!"
Deg
" CK, sialan bener papah nih. Ngapain juga cerita begituan ke orang ini!" Ia menggerutu seraya mengumpati papanya dalam hati.
" Emm, ya ada lah. Ngapain juga cerita ke kamu!" ketus Fina makin muak.
" Bukan Pandu kan?" cibir Rizal mengejek.
" Ya, soalnya keluarga sekelas kalian pasti juga pilih-pilih mantu dong. Mana mungkin car..."
" Bisa nggak bahas yang lain aja. Kenapa musti bahas soal aku sih?" Fina kini menatap kesal ke arah luar. Apa maunya pria itu coba.
" Oke..oke , maaf ya aku gak bermaksud buat kamu badmood!" Ucap Rizal namun ia sungguh tak peduli.
.
.
" Selamat malam mbak Fina!" Sapa karyawan Pelangi Sari yang sangat ramah. Tentu saja musti ramah, lawong yang datang anak owner-nya.
Rizal menatap toko oleh-oleh dua lantai yang sangat bersih dan nyaman itu. Dalam rak besar dan memanjang berisikan banyak sekali aneka makanan kering dan oleh- oleh khas kota itu
" Mmmmm!" Fina hanya bergumam seraya menganggukkan kepalanya. " Nih kalian temani masnya ya mau cari oleh-oleh. Beres sama papa itunya!" ucap Fina menerangkan kepada para karyawannya, jika Rizal tak perlu merogoh kocek untuk oleh-oleh yang ia mau.
Kesemua pegawai yang disana mengangguk paham. Mereka kini fokus kepada pria manis yang datang bersama Fina.
" Loh, kamu gak...?" Rizal menatap Fina kikuk. Apa itu artinya Fina tak menemaninya?
" Aku tunggu sini aja, kamu pilih aja. Itu semua karyawannya papa kok!" Fina menyibukkan diri dengan menggulir ponselnya. Masih sama , tak ada balasan apapun dari Pandu.
Rizal hanya bisa mengembuskan napasnya pasrah. Sungguh, Fina benar-benar sulit ia taklukkan.
" CK!" Fina mendecak sebal demi melihat ponsel yang sama sekali tak ada notifikasi dari nama Pandu.
Bodohnya lagi, ia tak memiliki nomer Yudha atau Sakti atau teman yang lainnya yang bisa ia gunakan untuk bertanya. Benar-benar naas.
Fina membiarkan Rizal sendirian. Ia sungguh malas meladeni pria sombong dan gila hormat seperti Rizal dan papanya.
" Fin, ini sama ini enak mana?" Rizal datang membawa dua jenis kue kering.
" Enak semua lah, orang yang jual papaku. Kalau gak enak gak mungkin dijual!" Mulutnya sudah sangat pedas, tapi agaknya Rizal tak memperdulikan. Rizal justru suka saat melihat wajah Fina yang cemberut.
" Oke mbak, bungkus ini aja sama itu!" Tukas Rizal kepada karyawan yang standby disana.
.
.
" Fin, kamu gak mau makan dulu. Kayaknya ini belum malam!" ucap Rizal begitu keluar dari Pelangi Sari.
" Belum malam apanya, lain kali aja lah ya!" Fina benar-benar ogah berbasa-basi lagi. Moodnya seharian ini rusak.
" Fin!" sergah Rizal dengan mencekal tangan Fina pelan.
" Apaan sih!" Fina menarik paksa lengannya yang di pegang Rizal.
" Please jangan cuek dong ke aku, kita bisa berteman baik kan!"
" Kalau kamu gak mau pulang, aku bisa naik taksi!"
" Oke oke, kalau gak mau kita bisa pulang sekarang!" Rizal merasa Fina merupakan orang yang musti diperlakukan secara slow. Agaknya wanita cantik itu berbeda dengan para wanita yang selama ini ia dekati.
Wajah Fina sudah sangat berengut. Ia benar-benar tak suka dengan Rizal yang main pegang-pegang tangannya.
Cih, kalau sama Rizal sak begitu. Andai yang pegang itu Pandu. Ciha!!!
" Siapa lagi dia Fin?" Suara seseorang membuat dua insan tersebut menoleh ke arah depan.
Fina yang melihat wajah orang itu langsung terkaget demi melihat ekspresi tak ramah yang mencuat dari raut wajahnya.
Oh sial! Batin Fina seolah mendapat kesialan dalam paket combo.
.
.
.
.
Hallo Readers, di novel mommy ini akan mommy suguhkan action yang bakal membumbui aksi Pandu dalam mencari siapa itu Raditya. Benarkah bila pria itu yang menikam Ayudya?
Dan apakah ia dapat membongkar kelicikan Riko yang katanya kebal kerangkeng?
Jangan lupa like dan komennya ya readers. Besok hari Selasa loh, boleh kasih vote sama hadiah jika berkenan πππ