
Bab 77. Kekecewaan
^^^" Aku adalah insan yang tak punya, cuma rasa cinta membara. Lalu tercipta, rinduku padanya..."^^^
^^^( Diambil dari lirik lagu Iklim ~ Hakikat sebuah cinta)^^^
.
.
.
...πππ...
Pandu
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Perasaan tak nyaman ,cenderung marah menguasai dirinya. Masih belum hilang dari ingatannya. Ia yang bercumbu bersama Fina dengan penuh cinta tempo hari, mengapa seolah tak memiliki arti.
Apa mau wanita itu pikirnya.
Ia masih berdiri di balkon rumah sakit. Menatap nanar hamparan angkasa yang berbaur dengan matahari yang kian meninggi.
" Ya Mel?"
Terdengar suara yang familiar di telinganya. Membuat pria itu kini mengkonsentrasikan telinganya pada suara wanita itu.
Sejurus kemudian ia menjenguukkan kepalanya ke samping. Rupanya wanita yang baru saja mengusik pikirannya tengah berada di balkon sebelah.
Ya, posisi mereka yang berada di leter L balkon panjang itu, membuat Fina tak mengetahui jika dirinya berada di sana.
" Ya udah kamu atur dulu, aku lagi nungguin papah ini. Mungkin sore nanti aku kesana. Pokoknya kamu tandatangani aja faktur barang yang datang ya, nanti biar aku hubungi distributornya!"
Pandu masih tekun mendengar ucapan Fina yang sepertinya tengah membicarakan urusan perihal tempat usahanya.
.
.
Serafina
Ia memijat keningnya yang sudah pusing sedari kemarin- kemarin, sembari sibuk membalas chat dari para karyawannya. Oh astaga, andai ia sedari dulu mau belajar mengelola bisnis papanya. Pasti gak akan seriweh ini.
Sesal emang selalu ada di belakang!
Dan saat ia masih sibuk menekuni ponselnya, sebuah tangan kekar menariknya dengan posesif, lalu membawanya masuk ke sebuah ruangan.
BRAKK!
KLAK KLEK!
Ia bahkan terperanjat saat kedua telinganya mendengar bunyi pintu tertutup dengan kerasnya, dan bunyi engsel yang di tarik. Pintu itu telah terkunci.
" Pandu?" Matanya membulat kala menatap sosok pria yang berwajah datar, dengan sepasang mata elang yang begitu mengintimidasi.
Menyiratkan raut kemarahan juga kekecewaan. Ia juga menangkap sekelebat raut kekesalan disana.
" Ndu, aku-aku bisa jelaskan!" Ucapnya dengan wajah muram dan hendak menangis. Ia tahu jika Pandu pasti telah salah sangka kepada dirinya.
" Oh jelas! Jelas kamu harus jelaskan!" Pandu kini melipat kedua tangannya ke dada. Membuat otot lengan tangan kekar itu kini mengetat. Membuat Fina menelan ludahnya, belum pernah ia melihat Pandu se amarah itu.
" Semua yang terjadi antara kita, semua yang terlewati... Bagiku itu bukan hal biasa Fin!" Pandu berucap dengan nada tinggi. Kedua alisnya bahkan tak berhenti berkerut.
" Hampir seminggu kamu sama sekali gak balas pesan aku, gak jawab telpon dari aku. Dan terkahir, nomor kamu sekarang gak bisa aku hubungi!" Pandu menggeleng tak percaya.
" Apa sebenarnya niat kamu, hah?" Pandu menatap Fina dengan napas memburu. Buncahan kemarahan itu akhirnya tersalurkan.
Ia kini benar-benar pasrah kala Pandu meluapkan emosi. Jelas itu salahnya.
" Atau....kamu ini memang bukan wanita baik sebenernya,hm?" Pandu terpaksa mengucapkan hal itu lantaran teringat beberapa hal.
Pertama, ia yang lebih dulu bersama Riko dan...ah entahlah. Kedua, ia dengan segala pesonanya yang hadir dalam hidup Pandu, menumbuhkan percikan api cinta, dan kini dengan mudahnya seolah menggemaskan Pandu.
Dan terkahir. Mengapa dengan mudahnya juga, Fina mau menerima Rizal?
Pandu terus mendekatkan langkahnya seraya menatap Fina penuh kemarahan. Ingatannya akan tangan Rizal yang menempel indah di pinggang Fina, membuat darahnya mendidih.
Mereka memang tak saling mengucapkan cinta, atau pernyataan sejenis. Tapi pernah berpeluh bersama dengan keadaan sadar, jelas bukan perkara biasa yang tak mungkin tak melibatkan satu perasaan nyata. Cinta.
" Ndu! Apa yang...!" Dengan perasaan takut, Fina terus mundur. Ia bahkan kini mentok ke dinding dengan warna hijau pastel itu.
Tempat itu rupanya merupakan sebuah gudang perkakas medis yang telah tak terpakai. Tempat kosong yang kini menjadi saksi pertengkaran mereka, untuk pertama kali.
" Ndu tolong jang...!"
Pandu menangkup wajah Fina dengan kedua tangannya yang berotot saat wanita itu telah tak bisa bergerak lagi. Pria itu mencium kasar bibir Fina. Ia marah, ia kecewa dengan sikap Fina. Benarkah kegiatan panas mereka tempo hari sama sekali tak memiliki arti?
Damned!
" Mmmmm!" Fina memukuli lengan Pandu yang terasa mengeras.
" Mmmmm!"Fina menggigit bibir Pandu. Pria itu benar-benar telah menyakitinya. Sejurus kemudian Fina mendorong tubuh Pandu sekuat tenaga. Membuat ciuman mereka terlepas.
PLAK!
Dengan napas memburu dan air mata yang nyaris tumpah, Fina menampar pipi Pandu. Oh astaga, Pandu telah menyakitinya.
Lebih tepatnya, mereka kini saling menyakiti.
Pandu menatap Fina dengan sorot mata penuh kekecewaan sembari merasakan pipinya yang kini berdenyut usai di tampar. Pedih dan terasa menebal.
Namun rasa itu tak sebanding dengan sakit yang saat ini menghujam relung hatinya. Apalagi, pria itu jelas mendengar sebutan 'calon suami' yang di lontarkan oleh papa kepada Rizal.
" Aku gak jawab atau gak bales pesan dari kamu karena ponselku hilang!" Fina menjawab dengan suara bergetar karena menangis.
" Papa sakit! Riko...!" Ia menangis kala mengingat foto dirinya yang tercetak dengan posisi memalukan. Foto yang menjadi sumber segala bencana ini.
Pandu masih mengatur napasnya. Sungguh, ia benar-benar telah mencintai Fina. Tapi, mengapa dalam beberapa saat saja situasinya menjadi tak terkendali.
" Mall papa kebakaran! Dan sekarang papa sedang dalam keadaan sulit!"
" Riko terus ngancam papa. Usaha papa dalam masalah!'
" Om Kemal dan Ri..!"
" Mereka yang bisa bantu keluarga kamu. Sementara aku enggak. Iya kan?" Sahut Pandu memotong ucapan Fina. Membuat wanita itu kini menatap Pandu yang tersenyum kecut.
" Harusnya dari awal kamu memang gak kenal sama aku Fin!" Pandu menelan ludahnya dengan tatapan ironi. Ia sadar siapa dirinya saat ini.
" Circle pertemanan kita dan circle orang-orang yang hadir dalam hidup kita emang beda!"
Pandu menatap Fina dengan tatapan muram. Ia merasa kecil, kusam, tak memiliki nilai.
" Ndu...bukan maksud ak..!"
" Jadi bener apa yang di katakan papa kamu kan? Kamu mau menikah dengan Rizal?" Pandu menatap tajam Fina. Ia ingin memastikan sendiri segala sesuatunya.
Fina terlihat gelisah dan juga...oh astaga, ia tak menginginkan semua ini. Ia juga mencintai Pandu. Tapi, papa?
" Aku...!" Fina berada di titik bingung. Di satu sisi kesehatan papa menjadi hal yang membuat ia harus menitikberatkan persolaan ini pada dirinya sendiri. Namun, ia juga memiliki hati yang tak bisa di bohongi apalagi di paksakan. Ia tak menyukai, apalagi mencintai Rizal. No way!
" Kamu gak perlu jawab Fin. Aku udah tahu jawabannya. Aku memang cuma pria gak berada. Yang nyasar ke kehidupan orang-orang berada seperti kamu!"
Pandu seketika membalikkan badannya dan rasa kecewanya. Ia menuju pintu dan hendak keluar. Membuat Fina kini benar-benar stres.
" Aku cinta sama kamu Ndu! Aku suka sama kamu bahkan ketika kamu belum memiliki perasaan ke aku..!" Isak tangis mengiringi getaran ucapannya kepada Pandu.
Membuat langkah pria itu terhenti.
Fina menangis dengan segala kelemahannya. Ia benar-benar tak memiliki pilihan. Bagai menelan simalakama. Apalagi, jika ia membangkang. Jelas akan memperburuk kondisi papa.
" Papa kamu gak butuh cinta Fin. Dia butuh orang- orang berada yang bisa nolong di saat-saat keluarga mu seperti ini!"
"Dan itu jelas bukan aku!"
BRAK!
Pandu kembali membanting pintu itu dengan keras. Fina bahkan bisa mencium aroma kemarahan dari pria itu.
Ia kini beringsut ke lantai dan menangis. Hatinya sesak. Sungguh, ia tak menginginkan semua ini.
"Tolong jangan salah paham Ndu...!" Lirihnya dalam tangis.
.
.
.