Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 150. Selangkah lebih dekat



Bab 150. Selangkah lebih dekat


"


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Widaninggar


" Menikah?" Ia berucap sembari menatap Aji yang juga menatapnya. Apa pria itu buta akan statusnya saat ini? Lagipula, mengapa Aji justru tertarik kepada wanita macam dirinya?


Aji mengangguk, " Apa kau tidak percaya kepadaku?" Wajah Aji mulai resah.


" Aku miskin, dan aku sama sekali tidak menarik!"


" Siapa bilang kau tidak menarik?" Aji menarik sudut bibirnya sebelah. Membuat mereka berdua melempar tatapan sengit.


" Dan juga... apa aku bisa mempercayai pria pemabuk dan kerap bersama wanita malam?" Entah mengapa, Wida tak tahan untuk tidak mengungkapkan hal itu.


Wida ingin kejelasan akan hal itu. Apa yang terlontar dari bibirnya barusan adalah manifestasi dari rasa tidak sukanya kepada perilaku Aji. Hemmmm!


Aji mendelik " Mabuk?"


Oh tidak, jelas ini telah terjadi sesuatu.


" Mabuk kau bilang?" Aji seketika menjadi resah.


Wida mengangguk " Aku tahu Desinta mungkin wanita jahat, tapi... Video yang menunjukkan mas Aji mabuk jelas bukan buatan kan. Itu memang betul mas Aji kan yang ada dalam video itu. Mas Aji bersama wanita...!"


Wida menjeda ucapan dari kalimatnya yang menggebu-gebu itu, lantaran ia tersadar telah tersedak ucapannya sendiri. Ia tak mau menunjukkan kecemburuannya kepada Aji. Oh ya ampun.


Aji menyeringai " Kamu cemburu?" Goda Aji yang melihat Wida telah bersungut-sungut.


Wida kelabakan, sialan!


" Enggak kok. Untuk apa!" Elak Wida.


Entahlah, Wida harus senang apa harus sedih. Di sisi lain, ia belum legal alias dia belum menerima putusan dari pengadilan. Di satu sisi, entah mengapa sikap lembut pria itu lambat laun meruntuhkan sikap egonya. Ia wanita normal, yang tentu saja merasa bahagia akan sikap hangat lawan jenis.


Jujur, Wida mulai terbuai akan sikap hangat Ajisaka.


Aji menggenggam erat tangan Wida, sejurus kemudian pria itu terlihat berdiri dan menggeret Wida " Ikut aku!"


Wida terkejut dengan tindakan spontan Ajisaka. Benar-benar tak menyangka, jika ucapannya tadi akan berbuntut seperti ini.


" Kemana?" Alis Wida bahkan menjadi bertaut demi bingung akan sikap Aji yang mendadak mengajaknya pergi.


Aji tak menjawab namun justru menatap ke arah Pandu dan kawan-kawan.


" Woyyyy!" Aji berteriak ke arah gerumbulan manusia yang asik berdiri ,mirip seperti menonton konser musik.


" Cabut dulu!" Aji melambaikan tangannya kepada para sahabatnya yang tegah asik di depan stage bersama para kawula muda yang lain.


Meski terkaget-kaget, namun sebuah jempol yang terangkat menjadi sebuah penanda jika Pandu dan kesemuanya setuju.


.


.


Pandu


Ia tengah larut dalam permainan lagu yang di nyanyikan Yudha dan Sakti. Improvisasi dari talenta mereka boleh juga. Sakti memang mahir bermusik.


" Eh lihat tuh!" Fina yang tak sengaja menangkap kegiatan dua sejoli di meja itu terkikik demi melihat Aji yang menggenggam tangan Widaninggar.


" Mereka lagi...?" Dita cukup terperanjat. Pria dingin dan kaku itu bisa luluh juga dengan seorang wanita?


Pandu mengangguk " Aku belum terlalu tahu. Tapi sepertinya Aji benar-benar menyukai Mbak Wida!"


Belum selesai kegiatan bisik-bisik tetangga yang mereka lakukan, suara Aji yang terdengar keras menginterupsi pergunjingan mereka.


" Woy!!!"


" Cabut dulu!"


Ia bisa mendengar suara Aji yang membelah suara riuh rendah disana. Pandu sebenarnya terkejut. Mau kemana mereka?


" Loh, mau kemana mereka?" Tanya Fina bingung.


"Udah biarin aja dulu, mungkin mereka ada masalah. Si Aji galau terus, gak taunya pas mbak Wida datang wajahnya langsung sumringah!"


Dita dan Fina mengangguk setuju untuk membiarkan mereka berdua pergi. Jelas akan membereskan sesuai.


Pandu dengan gerakan cepat terlihat mengangkat jempolnya sebagai tanda untuk mengiyakan ucapan sahabatnya itu. This your time buddy!


.


.


Ajisaka


Ia masih gencar menggeret lengan lembut itu meski sang pemiliknya tengah meronta-ronta.


" Mas, kita mau kemana? Aku enggak enak sama Fina!" Wida benar-benar tak mengerti apa yang berada dalam isi kepala Aji.


" Ikut aku sebentar, nanti aku yang ngomong ke Fina!"


Wida mendecak sebal. Pria itu selalu saja sak karepe dewe.


Mereka menuju parkiran tempat dimana mobil Aji terparkir. Untuk saja si Sukron menyerahkan kunci mobil itu kepada dirinya, sesaat sebelum mereka masuk ke cafe itu.


" Kamu ingin tahu jawabannya kan? Apa kamu bisa mempercayai pria pemabuk sepertiku? Mari kita cari tahu, apa aku memang pria pemabuk!"


Wida mendelik, ia hanya berkata sekenanya saja namun mengapa ia justru di eret- eret begini? Menyesal juga dia berucap seperti tadi.


Aji tersenyum sembari terus membawa Wida menuju ke mobilnya. Memasukkannya dengan cepat lalu dengan gerakan setengah berlari, ia memutari mobilnya untuk sejurus kemudian turut masuk dan duduk di depan ruang kemudi.


" Mau apa mas?" Wida terlonjak kala Aji mencondongkan tubuhnya.


KLIK


" Safety belt mu!" Ajisaka tersenyum. Membuat Wida malu karena dugaannya salah.


Oh astaga pria itu, membuat jantung Wida mau copot saja. Aroma pria itu membuat dirinya dag dig dug.


Aji wangi.


Aji terlihat begitu bersemangat, entah apa yang akan di lakukan pria itu. Yang jelas, suasana hatinya sedang dalam kondisi baik. Wida lah penyebabnya.


Mobil yang dilajukan Aji terlihat berhenti di sebuah tempat karaoke yang lumayan besar. Mau apa membawa kemari ? Begitu pertanyaan yang kini bersarang di otak Wida.


" Aku bukan pria yang tahir dari dosa Wid. Tapi saat ini, membuatmu percaya kepadaku adalah hal penting!" Pria itu terlihat berucap sembari melepas sabuk pengamannya.


Wida terdiam barang sejenak, astaga pria itu! Kenapa bisa sampai sejauh ini sih? Nyesel deh ngomong panjang lebar tadi.


Entah mengapa Wida malah kini yang ganti merasa ketakutan. Suudzon itu manusiawi.


Ia melihat pria yang mengenakan jaket hitam yang melingkupi kaos polos dengan warna yang sama itu berjalan memutari mobilnya. Aji terlihat keren sebenarnya.


" Ayo!" Ucap Aji membukakan pintu mobil untuk Wida.


" Untuk apa mas? A..aku!" Wida takut jika Aji akan berbuat macam-macam jika mereka masuk nanti.


" Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, tenang aku tidak akan macam-macam!" Aji tersenyum.


" Kenapa orang ini selalunya tahu isi hatiku?" Gumam Wida dalam hati.


.


.


Aji mengajak Wida masuk ke sebuah tempat karaoke. Bukan untuk bersenang-senang apalagi menghibur diri, melainkan ingin menunjukkan bukti kepada Wida.


Wida keluar meski dengan keraguan yang kian menjelma. Hatinya berada di dua jurang perasaan. Bimbang dan mulai nyaman.


Bimbang karena apakah pria itu benar-benar menyukai dirinya seperti yang sering terucap? Dan nyaman karena Aji benar-benar bisa membuat Wida merasa berharga sebagai wanita.


"Mas!" Wida terlihat menggamit lengan Aji karena sedikit rikuh dan risih akan tempat gelap itu. Tempat yang banyak di lalui pasangan manusia dengan segala warna dan bentuk kehidupan mereka.


Aji justru senang kala Wida mau bergantung kepadanya. Ya...meski sebenarnya itu bukan kesengajaan.


" Kenapa?" Tanya Aji yang sebenarnya tahu jika Wida risih melihat wanita yang berjalan sempoyongan bersama pria tua dengan bau naga yang menyengat. Mereka mabuk.


" Kita balik aja ya, mau ngapain sih sebenarnya kesini?" Wida benar-benar tak nyaman. Sungguh, itu bukan dunianya.


Aji mengabaikan rengekan Wida dan terus berjalan menuju resepsionis.


" Bilang pada Ronald, Ajisaka ingin bertemu!" ucap Aji kepada karyawan tempat karaoke plus-plus kelas kakap itu.


" Baik Tuan!" Sahut pria dengan nametag Deny , yang sejurus kemudian terlihat menekan tombol ekstensi pada pesawat telepon di meja kerjanya.


Wida terlihat menyapukan pandangannya ke segala penjuru tempat yang kesemuanya bercat gelap itu. Benar-benar tak nyaman.


Aji terus menatap wajah Wida yang bingung. Sikap lolos Wida benar-benar membuat Aji makin klepek-klepek.


" Anda di tunggu di ruangan Bos tuan!" Ucap Deny sesaat setelah menutup sambungan ekstensinya.


" Ada di lantai dua, ruangan paling ujung!" Tutur Deny menginformasikan.


Aji mengangguk " Terimakasih!"


Pria itu sejurus kemudian menggandeng tangan Wida kembali untuk berjalan menuju ruangan Ronald. Banyak sekali room- room bernuansa gelap yang isinya sudah pasti adalah para manusia yang larut dalam kesenangan duniawi.


Ah! Nikmat mana lagi yang kau dikatakan kawan?


Wida benar-benar menyesal karena tadi menanyakan hal itu kepada Aji. Kini, ia malah harus terseret ke tempat yang membuatnya tak nyaman seperti ini.


TOK


TOK


TOK


Ia bisa melihat tangan Aji yang mengetuk pintu berdesain modern itu. Pintu dengan aksen kaca pada bagian tepinya itu terlihat mahal dan futuristik.


" Masuk!" Sahutan dari dalam seolah menjadi penegas jika kehadiran mereka telah mendapatkan izin dari sang empunya.


Aji memasuki ruangan itu dengan posisi masih menggandeng tangan Wida yang lekas berkeringat karena ketakutan.


" Ohh, hallo bro apa kabar?" Pria bermata sipit yang tenggelam dalam kesibukan di depan laptopnya itu terlihat senang akan kedatangan Aji.


Pria itu mengulurkan tangannya lalu berjabat tangan dengan Aji. Ber-high five dan saling berpelukan. Terlihat akrab dan membuat Wida makin dibuat bertanya-tanya. Sebenarnya mau apa sih?


" Wow lama tidak ketemu, sekarang kamu...?" Ronald menjeda kalimatnya saat pandangannya bertumbuk pada tangan dua sejoli yang masih saling bertaut itu. Membuat Wida segera menarik tangannya karena malu.


Ronald terkekeh demi melihat reaksi Wida.


Aji hanya bersikap santai dan tenang. " Calon istriku mencurigaiku, jadi...bisa aku minta tolong padamu untuk menjelaskan?"


Wida menatap Aji dengan wajah tak percaya. Calon istri gundulmu! Seenaknya saja deh kalau bicara. Wida mendengus karena malu.


" Ini Ronald, yang punya karaoke ini. Desinta pasti menunjukkan video waktu aku minum di tempat ini. Karena aku tidak pernah minum di tempat lain selain disini!" Ucap Aji menatap Wida.


" Kecuali dirumah!" Sahut Ronald yang langsung mendapat tatapan sengit dari Aji. Oh tidak, apakah dia salah bicara?


Ronald belingsatan saat melihat wajah Aji yang mendengus. Mengapa si Ronald turut menjadi mulut combe seperti Sakti sih?


" Jadi aku harus gimana ini?" Tanya Ronald ingin mempercepat tujuan kawannya itu. Mencoba menebus kesalahannya dalam waktu singkat.


" Semuanya, jelaskan pada calon istriku ini tentang diriku. Aku kemari bahkan tanpa perjanjian denganmu kan? Ayo katakan!"


Aji ingin Wida tahu, jika meski ia buka pria dari golongan putih, namun ia juga tak sebejat yang di tuduhkan.


.


.


Widaninggar


Ia memijat keningnya saat Aji baru saja menutup pintu mobilnya. Terlihat jumawa saat pembeberan kasus dari Ronald tadi membuat Aji menang. Dasar pria itu!


Aji tersenyum penuh arti saat mereka sudah kembali ke mobil. Hatinya penuh kemenangan saat melihat wajah berengut Wida yang kalah telak.


" Aji ini bos besar, adalah suatu kehormatan bagi saya jika hasil usahanya yang besar itu turut kamu rasakan!"


" Aji ini masih ingat dengan teman-teman seperti kami yang mencari uang dengan jalan seperti ini. Secara tidak langsung, Aji yang membawa banyak orang untuk datang kemari sedikit banyak mendatangkan income bagi usaha saya mbak!"


" Di dunia ini ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari bekerja di dunia malam. Saya sengaja kerap mengundang Aji minum karena ya untuk simbol keakraban saja!"


" Wanita yang ada di video itu merupakan karyawan saya, saya panggilkan setelah ini!"


" Bahkan saya heran ini...soalnya mbak adalah orang pertama yang dibawa Aji kemari, maksud saya Mbak orang pertama yang di kenalkan Aji kepada saya!"


" Dan kalau soal video itu, sebenarnya di video itu ada banyak orang. Ada saya juga. Video ini kan yang anda lihat kemaren?"


Wida tertegun kala mengingat ucapan Ronald di dalam tadi, lengkap dengan penjelasannya terkait video itu. Astaga, ia tak menyangka jika Aji bahkan sampai membawanya ke tempat ini demi membuatnya percaya.


" Wid!" Ucap Aji yang kini miring menghadap ke arahnya. Membuat Wida kini gugup.


Wida menatap wajah Aji yang terlihat sendu, terasa aura kasih yang begitu mendominasi ruangan sempit di dalam mobil itu.


" Aku ngelakuin semua ini cuma agar kamu percaya sama aku kalau aku ini benar-benar serius sama kamu!" Aji mengusap lembut pipi Wida. Membuat jantung wanita itu seakan meledak.


Mata Wida memanas, terharu akan kegigihan pria itu dalam meluluhkan hati Wida yang seolah mati. Meski ia masih minder karena pengadilan belum mengetuk palu akan statusnya.


" Aku cuma gak ingin mas malu karena aku..mas tahu sendiri kalau aku belum..


?"


" Sssst!" Aji meletakkan telunjuknya ke depan bibir Wida yang lembab. Membuat ucapan wanita itu terjeda.


" Aku enggak peduli masa lalu kamu, aku juga udah bilang kalau aku bakalan nunggu sampai semuanya beres, aku bakal sabar!" Aji menatap lekat dua netra Wida dari jarak yang begitu dekat.


Wida terharu akan hal itu. Ia juga adalah wanita, yang selalu mengedepankan perasaan sama seperti yang lainnya. Wanita mana yang tidak bahagia jika disentuh hatinya seperti itu.


" Yang penting kamu mau membuka hati untuk aku, sisanya biar aku yang urus!" Dalam posisi yang tak berjarak, obrolan serius itu semakin merasuk kedalam hati dua sejoli itu.


" Izinkan aku menjadi ayah bagi Damar, dan calon anak-anak ku nanti Wid!"


Aji menelan ludahnya kala mengatakan hal itu. Ucapan tulus yang juga membuat mata Aji berkaca-kaca. Aji mencintai Wida dengan segala kurang dan lebihnya.


Bibir Wida bergetar, dadanya berisikan rasa haru, senang dan kelegaan. Ketulusan dan kasih sayang yang tak pernah di berikan mas Pram, membuat dirinya merasa tak percaya akan arti sebuah cinta.


Namun bersama Aji selama beberapa waktu terkahir, membuat dia mengerti akan artinya ketulusan. Pria lain yang justru menjadi penyelamat saat suaminya berbuat gila.


Pria yang justru mau menenggelamkan diri pada persoalan-persoalan pelik rumah tangganya yang tiada bertepi.


" Aku akan sabar sampai urusanmu selesai, kau bisa pegang kata-kata itu, hm?" Aji membelai lembut pipi Wida yang baru saja teraliri oleh buliran air mata kebahagiaan.


" Aku mencintaimu Wida!"


Aji mengecup mesra bibir Wida sesaat setelah mengatakan kalimat itu dengan suara sendunya. Wida yang sudah sangat lama tak mendapatkan sentuhan lembut dari sosok pria, akhirnya luluh juga.


Bibir yang turut terbuka saat menyambut ciuman Aji itu, menjadi penegas jika hati Wida sudah terbuka untuk Aji.


Dalam keheningan, dan dalam hati yang diliputi rasa bahagia dua sejoli itu saling berciuman, saling melu*mat, saling menerima satu sama lain.


Wida yang selama ini seolah lupa akan rasanya dicintai, lupa akan rasanya dibahagiakan, kini seolah mendapatkan suluhan cahaya cinta dari pria yang tak lelah berjuang untuk mendapatkan cintanya.


Jatuh cinta memang kadang membawa berjuta rasa, siapkah kau untuk jatuh cinta?


.


.


.


.