
Bab 126. Dua manusia terlibat dalam amuk asmara
^^^" Pijar kehidupan yang sebenarnya adalah kala kita mau berbagi kebahagiaan, kepada orang lain agar turut merasakannya pula. Lewat cara apapun!"^^^
.
.
.
...πππ...
Widaninggar
Ia tengah bersiap untuk menuju rumah Mas Aji malam itu, usai meninabobokan Damar yang merengek minta di keloni. Masih belum terlalu malam sebenarnya, masih jam enam lebih seperempat. Tapi, mungkin putranya itu lelah karena seharian bermain.
Wida mengecup kening lalu pipi putranya dengan mesra, lembut dan lama. Mengusap rambut hitam Damar dengan senyum yang merekah.
" Doakan Ibuk bisa biayain kamu nanti ya le. Semoga kelak kamu jadi laki-laki yang baik!" Menjadi doa yang rutin tiap malam itu ucapkan.
Wida dengan cepat menyusut air matanya saat mendengar suara langkah Ibu yang mendekat. Tak mau sampai ia kepergok tengah menangis.
" Si Damar udah tidur Wid? Cepetan berangkat biar gak kemalaman kamu!" Tutur Ibu yang telah membawa selimut dengan wajah lelah di saat jam masih segini, berniat akan menemani Damar malam ini.
Ia mengangguk " Aku berangkat dulu ya Buk?"
Ibu mengangguk " Hati-hati!"
Ia mengenakan celana jeans panjang dan kaos berlengan tanggung yang ia lapisi dengan jaket guna menghalau dinginnya angin malam.
" Wida berangkat Pak!" Ia berjalan pamit saat Bapak masih tekun membuat sebuah meja dari kayu mahoni milik mereka. Membuat dibawah suluhan lampu kuning ber-watt rendah.
" Ya Wid, kamu berani sendiri kan? Jalannya masih rame kok jam segini. Kamu jangan aneh-aneh disana, Pak Aji orangnya agak tempramen. Kalau bisa ngerjain segala sesuatunya musti bener!"
Wida sempat tertegun beberapa detik. Kenapa Bapak baru bilang sekarang jika Ajisaka temperamen.
Apa yang diucapkan Bapak benar adanya, jalanan ke rumah Mas Aji masih ramai karena banyak muda mudi yang duduk di dudukan tepi jalan, juga banyak warga yang ngobrol di pos-pos yang ada di tiap sudut penjuru kampung. Terlihat menenangkan.
Ia mengetahui lokasi rumah Ajisaka berbekal petunjuk dari Bapak.
" Dari pertigaan kamu ke barat sedikit sekitar 50 meter!"
" Rumah besar tinggi biasanya mobil hitamnya di parkir di samping rumahnya, rumahnya cat warna kuning, dua pilar di depan rumahnya besar, pagarnya warna putih!"
" Rumah besar disana ya cuma satu itu!"
Saat sampai di sebuah rumah yang clue-nya persis dengan yang di sebutkan Bapak, ia agak heran. Pasalnya kenapa gerbang itu tidak tertutup rapat. Wida menengok ke sisi kanan dan sisi kiri, benar tidak ada rumah besar lagi selain rumah itu.
Ia mendorong motornya masuk ke dalam pagar, meski ragu namun ia akhirnya melangkahkan kakinya.
TOK TOK TOK
Ia mengetuk pintu rumah Ajisaka. Memburu waktu sambil menikmati kekaguman akan kondisi rumah Aji yang besar.
" Rumah sebesar ini cuman di tinggali sendiri?"
TOK TOK TOK
Saat ketukan yang kedua, ia mendengar sahutan dari dalam namun tidak begitu jelas. Mirip orang bergumam. Ia memundurkan langkahnya kala melihat handle pintu yang lekas di putar.
"Ada apa lagi Kro...!"
" Selamat malam Pak Aji!" Ucapnya yang bersamaan dengan suara dari bibir pria itu. Entah hendak mengucapkan apa.
Namun, ia sedikit kaget melihat tampilan Ajisaka yang kusut. Memakai celana pendek krem sebatas lutut dan sebuah kaos navy polos. Rambutnya tidak terlihat basah meski masih rapi. Hanya saja... bau pria itu sangat aneh. Bau minuman.
Apa mas Aji sedang?.....
.
.
Ajisaka
Ia sempat mengutuk dirinya sendiri beberapa detik lantaran kenapa bisa lupa untuk mengantisipasi semua ini. Semua ini gara-gara bik Arning yang membuat moodnya berantakan.
" A..emmm masuk...ayo silahkan masuk!"
Ia gelagapan dan bingung, dengan langkah cepat ia kini mencoba melawan rasa pusing akibat jalaran efek dari alkohol yang ia tenggak.
" Mas Aji minum?"
DEG!
Habislah dia sudah. Wida jelas tahu.
" Emm enggak, tadi su Sukron habis minum gak di beresin langsung pulang. Maaf ya aku buka pintu lama, soalnya ketiduran!"
Ia bahkan sudah berbohong. Jelas bukan dirinya.
Wida terlihat memicingkan matanya, really?
" Jadi saya harus melakukannya dimana?" Tanya Wida dengan wajah yang masih kebingungan. Mengabaikan Aji yang terlihat keranjingan kala membereskan botol minuman dengan nama rumit itu.
" Hah melakukan apa?" Otak gemblungnya benar-benar tak bisa diajak berpikir taktis.
Wida mengernyitkan dahinya " Loh bukannya mas Aji tadi minta saya buat menyetrika baju?"
Astaga, memangnya menurut Aji, Wida akan melakukan apa? Haduh Aji Aji!
" Oh astaga, maaf ya maaf. Gini ini kalau aku sedang capek, maklum ngurus kerjaan sendiri jadi ..!" Dalih Aji sambil meringis.
Ia melirik Wida yang menatapnya aneh. Seperti orang curiga.
" Ah lupakan, kamu nyetrika bajuku di belakang saja ya, ga papa kan?"
Lebih bodohnya lagi, dia malah mengajukan pertanyaan seperti itu. Memangnya mau nyetrika dimana lagi kalau bukan di tempatnya yang di belakang? Helloooo!
.
.
Wida berjalan mengekor di belakang punggung Aji sambil memindai tampilan rumah Aji yang benar-benar bagus. Tapi sejenak ia heran, mengapa pria sekelas Aji masih betah hidup sendiri?
" Disini! Ibunya Sukron biasanya nyetrika disini!"
" Bentar ya aku ambilkan bajunya!"
Aji mempersilahkan Wida untuk masuk ke ruangan yang bersebelahan dengan dapur dan tempat makan, sebelum ia pamit untuk kembali ke kamarnya, guna mengambil baju.
Wida mengangguk canggung, ia melepaskan jaketnya sebelum memulai pekerjaan itu. Jelas ia akan kegerahan jika melakukan aktivitas satu itu.
Di dalam kamar, Ajisaka menatap dirinya di cermin besar. Dear jantung, kenapa detaknya mendadak lain? Ah sial!
Sebenarnya bajunya yang kusut tidak terlalu banyak , tapi tentu ia tak mau jika melewati kesempatan ini bukan? Aji mengeluarkan semua bajunya bahkan yang sudah tersetrika rapi agar durasi keberadaan Wida di sana bisa lebih lama.
Benar-benar licik!
Sejurus kemudian ia merapikan penampilannya dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya guna mengurangi aroma alkohol sialan itu.
Aji mengangkat satu keranjang penuh berisikan pakaian kusut. Ah kenapa pria itu bisa segila ini sekarang? Jika Yudha dan Sakti tahu, jelas ia akan di buly habis-habisan.
" Nih!" Aji meletakkan pakaian itu persis di samping Wida yang telah memanaskan setrikanya di atas papan khusus.
Ia bisa melihat raut penuh keterkejutan dari wajah Wida saat melihat isi keranjangnya.
" Ini semua ?"
Aji mengangguk " Sudah kubilang, bajuku banyak yang kusut. Tenang, nanti langsung aku bayar kok!" Pria itu mencoba bersikap tak mencurigakan terlebih dahulu.
Wida mengangguk, ya sudahlah. Toh yang namanya pekerjaan gak ad yang enggak capek. Begitu pikirnya.
" Aku kesitu dulu. Kalau perlu apa-apa panggil aku aja!"
Wida mengangguk dan langsung memilah pakaian Aji yang kesemuanya jelas terlihat bagus.
" Harganya pasti mahal!"
" Manisnya wanita itu!" Ajisaka terus saja tersenyum saat melihat Wida yang tekun menggosok pakaiannya. Ya ..meski ia sedikit merasa bersalah karena banyak dari baju yang berjubel di keranjang itu, merupakan baju hasil kekusutan dari tangannya.
Benar-benar kurang ajar!
Entah mengapa hati Aji menghangat kala menatap wajah teduh itu. Wajah wanita yang sepertinya tidak aneh-aneh. Cantik meski tanpa alis palsu maupun bulu mata, bahkan Aji bisa melihat jika Wida tak memakai riasan apapun di wajahnya saat itu. Semua terlihat natural.
Wida cekatan, wanita itu juga terlihat lihai sekali dalam bekerja. Dan satu lagi, wanita itu bersuara lembut.
Merasa tak tahan, Aji memilih untuk mondar-mandir ke arah dapur yang jelas akan melewati tempat Wida bekerja.
" Cepet banget, udah tinggal dikit ya?" Tanya Aji basa-basi. Dasar!
" Belum Pak..eh Mas. Masih lumayan kok. Aku duluin yang kaos-kaos dulu!" Ucap Wida tanpa menoleh.
Aji mengangguk " Kamu udah makan? Emmm maksud aku, aku mau bikin mie..kamu mau?"
Astaga naga! Apa dia sudah gila?
Wida mendelik " Mas Aji belum makan? Semalam ini?"
Aji mengangguk kembali " Kan udah aku bilang, ibunya Sukron dua hari pergi. Jadi..."
" Apa gak ada bahan lain? Biar aku masakin. Jangan mie terus mas. Kakangku dulu pernah masuk rumah sakit karena kebanyakan makan mie!"
Ajisaka tercenung. Demi apapun yang ada di dunia ini, apa Wida mau memasak untuknya? Ihirrr!!!
" Ada di dapur!" Jawab Aji dalam mode tak percaya.
" Sebentar aku selesaikan yang ini, habis ini aku masakin!"
Dan benar saja, Wida menyelesaikan beberapa potong kaos dan meninggalkan setumpuk kemeja dan beberapa celana katun yang masih teronggok di keranjang.
Memasak tidak akan membutuhkan waktu lama pikirnya.
" Ini ada nasi, mas juga masak nasi sendiri hari ini?" Wida membuka rice cooker warna hitam bermerek sambil mengajukan pertanyaan kepada Aji.
Mampus aku! Itu adalah nasi yang tadi di masakkan ibunya Sukron.
" Iya..tapi gak taunya malas mau masak yang lain!" Aji nyengir sambil belingsatan. Jelas dia telah berbohong dua kali.
Wida mengangguk polos, sama sekali tidak tahu jika ia tengah dikibulin.
" Nasi goreng saja ya, ini di kulkas ada sayur sama sosis, oh ini ada bakso juga!" Wida melihat isi kulkas besar Aji yang sebenarnya sangat komplit sekali isinya.
" Boleh, eh Wid..kalau kamu belum makan, buat dua porsi. Aku....biar gak makan sendirian!" Ia memperkecil volume suaranya di kalimat akhir.
O dasar pria gak beres!
Suara telenan yang beradu dengan pisau dan bahan-bahan yang di potong, membuat Aji terkesima. Ia heran, mengapa ia tidak mengenal Wida sedari dulu.
Haishh lagi-lagi pikirannya berkelana. Untung dia tidak bocor seperti Sakti. Sehingga, ia tidak terlihat sableng di hadapan wanita. Padahal, dimanapun pejantan, jika sudah merasa jatuh cinta, mereka agak mikir itu milik siapa.
Dalam waktu sekejap saja, nasi goreng lezat terhidang di depan Ajisaka. Baunya benar-benar menggugah selera.
" Cepet banget!" Ucapnya yang sebenarnya masih ingin berlama-lama memandang Wida yang nampak makin cantik kala beradu dengan peralatan memasak.
" Cuma nasi goreng kenapa harus lama. Mas Aji makan dulu..saya tak melanjutkan setrikaan, nanti keburu malam!" Ucapnya lalu berbalik.
" Tunggu!" Membuat langkah Wida terhenti.
" Kamu makan dulu, itu bisa di lanjut nanti!"
" Tapi...!"
" Ini perintah!"
Wida mengernyitkan keningnya, perintah macam apa ini.
.
.
Ajisaka
" Ayo kamu makan dulu, jangan pernah sia-siakan rejeki yang kita dapat!"
Wida tertegun dengan ucapan Ajisaka. Mengapa pria di depannya mengucapkan perkataan yang sering di ucapkan oleh Bapak. Ucapan yang tidak boleh menyia-nyiakan makanan atau rejeki lainnya.
Wida kini duduk di meja makan putih di depan Ajisaka. Ia memang belum sempat makan malam tadi.
Mereka akhirnya makan bak sepasang kekasih. Sayangnya, itu bukan keadaan sebenarnya.
" Emmmm!" Gumam Aji usai menyuapkan satu sendok nasi goreng terakhir kedalam mulutnya.
" Rasa nasi goreng kamu kayak rasa yang biasa di jual di warung wong telu ( warung nasi goreng terkenal di kampung itu)"
Wida menyebikkan bibirnya, entah mengapa perlahan kecanggungan keduanya mulai memudar. Mungkin karena sikap Aji yang sudah berbeda dari awal mereka bertemu, atau mungkin juga Wida hanya perlu sedikit hiburan.
" Ya enggak lah mas, wong telu yang masak udah kawakan. Nah aku cuma masak pakai bumbu yang ada aja!"
" Loh beneran, enak ini. Aku heran, kenapa wanita seperti kamu malah disia-siakan sama suam...!
Lidah Aji sepertinya keseleo. Membuat Wida seketika menatap Ajisaka. Perubahan yang terlihat di raut wajah Wida jelas membuat Ajisaka menyadari sesuatu hal.
Ia telah salah bicara.
" Mas Aji!" Hardik Wida dengan wajah tegang.
" Apa kamu baik-baik saja?"
Bak basah karena terciprat air, sekalian saja berenang.
" Maksudku...apa kamu dan suami kamu..!"
Ajisaka kini menatap dua netra Wida yang terlihat memerah. Jelas wanita di depannya itu menatap dirinya gak suka. Tapi ia tak peduli, kepalang tanggung untuk tidak mengorek informasi dari narasumber utama.
" Mas Aji bisa tidak kita bahas yang lain saja !" Ketegangan mendadak tercipta. Oh this my bad!
Aji menelan ludahnya. Jakunnya sampai naik turun. Ia telah terlalu jauh saat itu, tapi...ia benar-benar penasaran dengan kehidupan wanita di depannya itu.
" Berlari dengan wajah babak belur saat dini hari dengan menggendong seorang bocah, tau-tau aku ketemu kamu di sini. Kemana suami kamu?"
" Gak mungkin suami kamu enggak tahu, atau benar ucapanku kalau suami kamu...!"
" Mas!" Wida merasa Aji sudah terlalu jauh.
Aji malah terus mencecar Wida dengan pertanyaan yang selama ini membuatnya penasaran.
" Mas Aji gak ada hak untuk nanya hal itu ke aku!" Sergah Wida yang matanya sudah memulai memanas. Ia hendak menangis.
Aji menatap murung wajah Wida. Wida benar, jelas ia tak memiliki hak. Tapi jujur saja jika dia benar-benar ingin dan mau tahu. Jangan di tanya mengapa, karena dia juga tidak tahu.
" Saya memang gak ada hak. Tapi sebagai orang yang tahu kejadian malam itu, saya wajib kamu beritahu!"
Kini Wida menatapnya sengit.
" Saya agak ada niat apa-apa. Tapi kasus yang kamu alami jelas sudah masuk dalam kasus kriminal Wid. Kenapa suami kamu gak ada nolong?"
" Bener kan kalau suami kamu yang ngelakuin hal itu?"
Wida makin resah. Kenapa pria di depannya itu ngenyel sekali mau tahu soal kehidupannya?
" Kalau saya ada niat jahat sama kamu, niat jelek sama kamu ,udah dari kemaren saya bongkar semua waktu ada Sukron dan bapak kamu. Tapi nyatanya ,aku enggak ada ngomong kan? Kamu bahkan enggak tahu kan kalau aku yang buat kamu jatuh waktu berjalan di dekat mobil ku waktu di terminal?"
Wida menatap Ajisaka tak percaya, apa sebenarnya mau pria itu? Wida menangis. Luka yang sudah tertutup seolah terbuka kembali karena Ajisaka yang seolah mengingatkannya.
.
.
.
.
.