
Bab 142. Keluar Hutan
.
.
.
...πππ...
Ajisaka
Ia mungkin tak sengaja menginjak hewan yang menjadi lambang zodiak Scorpio itu. Mungkin sewaktu bermigrasi, hewan itu merasa terganggu dengan pijakan kaki Ajisaka, sehingga membuat hewan itu perlu merasa untuk melindungi dirinya.
Menyengat kaki Ajisaka.
" Arrrggh!" Ia bahkan langsung limbung kala sesuatu yang menusuk tajam, terasa menghujam kulit kakinya. .
"Kenapa Mas?" Tanya Wida yang terlihat panik saat dirinya lekas merasakan jalaran rasa sakit dan kakinya seolah mati rasa.
Ia bahkan kini tak enak hati karena hampir membuat Wida celaka. Sial!
" Maaf, kamu enggak papa?" Ia benar-benar tak enak hati dengan Wida. Harusnya ia bisa lebih hati-hati dalam mengantisipasi hal seperti ini.
Hutan dengan segala binatang beracunnya.
Wida menggeleng cepat, dan lebih mengkhawatirkan dirinya. Aji tahu itu. Yeah!
" Ada yang nusuk kakiku Wid, aduh sebentar!" Ucapannya memberikan penjelasan sambil hendak memeriksa kakinya. Berharap ia bisa menemukan jawaban atas apa yang terjadi.
" Astaga mas, itu kalajengking!" Pekik Wida yang membuat dadanya berdebar. Ah sial! Kalajengking beracun.
Ia masih sempat melihat binatang berwarna coklat pekat dengan ukuran yang sangat kecil, yang kini meratap ke atas kayu lapuk yang mungkin menjadi tempat persembunyiannya.
" Ya Allah mas gimana ini?" Wida benar-benar terlihat mencemaskan dirinya, ia suka akan hal itu. Tapi tentu ia tak suka dengan dirinya yang benar-benar kelihatan lemah saat ini. Ini benar-benar sakit.
" Argghhhh!" Sekuat tenaga Aji mencoba menahan racun yang mulai menjalar itu. Harusnya ia bisa menjaga Wida, kini justru ia yang benar-benar akan merepotkan orang lain.
" Tolong!" ucap Wida yang makin panik. Membuat dirinya makin merasa bersalah.
Racun kalajengking yang disebarkan lewat sengatannya dapat menyebabkan berbagai gejala di bagian kulit yang terdampak, yakni: Rasa sakit yang intens. Sensasi kesemutan dan mati rasa di bagian kulit yang tersengat , bahkan embengkakan di bagian kulit yang tersengat.
Ada beberapa gejala yang umumnya dialami seseorang yang digigit kalajengking, salah satunya mengalami rasa nyeri di bagian atau area penyebaran racun.
Nyeri itu dapat memburuk, hingga akhirnya menyebabkan mati rasa dan kesemutan, bengkak dan terasa hangat
Meski kecil, kalajengking menjadi salah satu hewan yang paling mematikan di dunia. Sengatan dan racun hewan oktopoda ini bisa membuat manusia atau korban yang terkena sengatannya meninggal dalam waktu yang relatif singkat.
Namun saat ia masih tekun menahan jalaran rasa sakit di area kakinya yang mulai membengkak, ia mendengar suara seseorang yang membuatnya terkejut dan bernapas lega.
" Wida!" Ucap Pak Atmo yang membuatnya lega. Namun, ia terkejut demi mendapati Pandu yang ada bersama bapak dari wanita yang ia sayangi itu.
Sialan Pandu, kapan dia balik?
" Nduk!!!" Pak Atmojo berlarian dan langsung memeluk tubuh Wida. Ia bisa mendengar jika perempuan itu menangis dalam dekapan bapaknya.
" Untung kamu slamet nduk!" Pak Atmojo mengusap punggung anaknya dan saat ini belum mengetahui yang terjadi kepada Ajisaka.
Sementara Pandu langsung berjongkok dan menepuk Pundak Aji.
" Kau berhutang penjelasan kepadaku!" Pandu tersenyum penuh arti saat melihat Aji yang meringis.
Pandu tidak tahu jika sahabatnya itu tengah di jalari racun.
" Kau juga!" Jawab Aji yang meringis. Kakinya kini bengkak dalam hitungan beberapa menit saja.
" Aku enggak apa-apa pak, tolongin mas Aji! Dia kena kalajengking!" Wida kini menangis dan terlihat panik. Keterkejutan kini nampak menghiasi wajah Pak Atmojo dan Pandu.
" Mas Aji! Tenang mas, kita udah ketemu bapak. Kit bisa pulang setelah ini. Ayo pak cepat bawa Mas Aji turun!" Wida menangis dan berjongkok mengusap lembut punggung kekar Aji yang kini merem melek karena sakit yang luar biasa.
Membuat Pak Atmojo dan Pandu saling adu pandang.
Sepanik itu?
.
.
Di jalan Perhutani
Aji kini di bawa menggunakan mobil off-road dengan wajah yang pucat dan kaki yang benar-benar bengkak.
Pandu mengemudikan mobil itu, lalu Pak Atmojo di depan. Sakti dan Yudha yang sudah berada bersama mereka kini berada di bak belakang mobil itu, bersama Aji dan Wida.
Membuat Yudha dan Sakti yang berada di bak belakang bersama wanita itu kini saling melirik.
"Kira-kira, apa yang telah terjadi? " Bisik Yudha pada Sakti dengan wajah serius.
" Lu bolot banget sih, kan udah di kata si Aji kena sengatan kalajengking. Pasti si Aji itu kena azab karena dia pasti juga udah nyengat yang lain-lain dari wanita ini!" Sakti terkekeh saat berbisik kepada Yudha.
Ia yakin, pasti si Aji sudah enak-enak dengan calon janda ayu itu.
" CK, matamu Sak!" Yudha sebal. Tapi, bisa jadi sih!
" Ngomongin apa kalian asu?" Aji berucap meski dengan suara sangat lemah, pria itu tahu jika dua sahabatnya jelas menjadikan dirinya sebagai bahan pergunjingan. Asu asu!
" Oh Enggak, kita cuma.... mikir. Kenapa badan segede Bagong bisa kena entup ( sengat) Kolo njengking?" Sakti terkekeh.
Sepertinya Sakti belum pernah melihat Aji selemah itu.
" Jangan dibuat guyon mas. Ini keadaan emergency. Ini benar-benar sakit loh!" Wida memarahi Sakti. Kekhawatiran memang masih terpampang jelas di wajah Wida. Sedang Sakti malah cengengesan.
" Mampus lu Sak. Setelah pejantannya yang gampang marah. Noh... betinanya juga mau ngabruk- ngabruk elu!" Bisik Yudha yang terkikik geli demi melihat wajah Sakti yang melongo.
Mereka benar-benar tukang marah dua-duanya.
.
.
Kediaman Ajisaka
Mereka langsung membawa Ajisaka ke kediamannya. Ada banyak sekali orang- orang rupanya disana. Bahkan Arning dan Desinta juga terlihat menjadi penyambut disana.
Pandu sudah menghubungi Sukron untuk menyiapkan tempat karena Aji sudah di ketemukan. Membuat warga di sana heboh.
Warga lain yang mengetahui berita ini, kini turut berbondong-bondong menyongsong kedatangan Aji dan Wida.
Kejadian dramatis yang menimpa Wida, lalu tersiarnya kabar seputar aksi heroik Aji turut mengundang pertanyaan. Namun, beberapa dari mereka tentu tak berani bertanya kepada Aji. Mengingat tipikal pria itu yang benar-benar kaku dan pemarah.
Selain itu, Aji merupakan bos besar disana. Kepala sari perkebunan tempat para warga mencari Rizki.
Pak Atmojo membantu anaknya turun, sementara ketiga pria jantan itu meroyong Ajisaka untuk masuk karena keadaannya sudah lemah.
Namun, saat Wida hendak maju dan mensejajarkan posisinya bersama Aji, datang Bibi Arning dan Desinta yang langsung menggeser tubuh Wida hingga membuat wanita yang terlihat kusut itu kini terhuyung.
" Astaga Aji! Kamu ini kenapa bisa begini!" Ayo-ayo! bawa dia masuk!" Buk Arning terlihat sengaja melakukan hal itu kepada Wida.
" Astaga! Bibik biar aku panggil dokter dulu!" Desinta kini terlihat melirik tajam Wida sembari mengaduk tasnya untuk mencari ponsel.
" Ayo-ayo masuk dulu, gantian ya yang nengok!" Desinta melenggang pergi tanpa mempedulikan Wida dan bapaknya. Benar-benar sombong.
Aji yang sudah semakin lemas dan setengah tidak sadar tak bisa melihat Wida. Pria itu kini tengah di bawa masuk kedalam oleh ketiga sahabatnya.
" Wid!" Pak Atmojo mencekal tangan Wida yang hendak melangkah , lalu menggeleng dengan wajah putus asa. Membuat langkah anaknya itu terhenti.
Pak Atmojo merasa sikap Bik Arning dan anak dari Widyantoro tadi menunjukkan jika mereka tak suka kepada Wida.
" Tapi mas Aji pak?" Wida menatap bapaknya muram.
" Tidakkah kau lihat raut wajah bibinya Pak Aji? Dan juga anak Pak Widyantoro tadi?"
Membuat mereka berdua saling pandang. Sungguh mereka bukanlah siapa-siapa.
" Kita pulang. Ada Damar yang menunggu. Setelah ini bapak yang akan mengucapkan matur nuwun pada pak Aji!"
Pak Atmojo merasa ada sesuatu. Ia sadar, jelas anaknya akan di salahkan kala Aji terkena celaka seperti ini.
" Ayo!" Ajak Pak Atmo dengan wajah penuh kesedihan.
Wida menoleh sekilas ke dalam. Semua Menyambut Aji. Bukan dirinya. Ia dan pak Atmo berjalan berlawanan dengan para manusia yang datang dan sibuk ingin menjenguk keadaan pemilik perkebunan naga itu.
Entah mengapa, seketika Wida merasa kerdil. Apakah yang mereka lalui kemaren bisa berlanjut jika posisinya seperti ini?
.
.
.
.
.