
Bab 20. Objek yang membuat terkejut
^^^" Negatif thinking dapat menyebabkan penyesalan seumur hidup!"^^^
...πππ...
.
.
.
Pandu
Pagi ini ia benar-benar malas. Tak memiliki minta apalagi niat untu membuka bengkelnya. Bingung dalam menghadapi persolan yang seperti tak menemukan solusi.
Membuatnya resah sekaligus gelisah.
Ia menghisap batang sigaret dengan tatapan masygul. Menatap hamparan kebun pisang di belakang rumahnya.
Seketika atmosfer di sekitar dapur itu menjadi pekat, karena kepulan asap putih yang membumbung ke udara.
Glodak
Pryang
Suara benda terjatuh dan suara berisik lainnya membuat Pandu seketika membalikkan badannya, ibunya masih di pasar pagi ini. Lalu siapa yang kini berada di dapurnya.
Pandu lari tunggang-langgang demi melihat adiknya yang sudah berada di lantai dapurnya, dengan beberapa gelas yang berserakan jatuh.
" Ayuk!!!" Ia panik cenderung cemas.
" Astaga Ayuk, kamu kenapa gak manggil mas?" Pandu sampai berwajah pias, belum pernah sebelumnya adiknya itu pergi ke dapur se pagi itu. Ia biasanya masih mengurung diri.
Mata adiknya itu terbuka, namun hanya kabut tebal yang bisa ia lihat. Semua terasa sama. Ayudya yang jarang berinteraksi keluar tentu saja masih kesulitan. Terbukti dari dirinya yang menabrak meja tempat meletakkan lauk nasi.
.
.
Kini Ayudya duduk di kursi panjang yang berada di belakang rumah Pandu. Pandangannya kosong, namun wanita itu terlihat makin cantik. Kulitnya yang jarang terkena sengatan matahari juga menjadi kian putih.
Pandu menatap sendu wajah adiknya yang sesuai dengan namanya, Ayu ( cantik). Ini adalah kali pertamanya setelah sekian lama mereka tak berbicara normal layaknya saudara.
Sudah sangat lama semenjak Ayudya tak mau menerima kenyataan pahit yang menderanya.
" Aku mau minta maaf sama mas Pandu!" ayu berucap sembari menatap lurus kedepan. Air mata gadis itu jatuh begitu saja. Mengalir pipi mulusnya yang jarang terpapar ultraviolet.
" Gak seharusnya aku malah nambahin bebas mas Pandu sama ibuk dengan bersikap mengurung diri kayak gini!" Air mata Ayudya bahkan turut membasahi roknya yang menjuntai kebawah. Laju air matanya tak bisa ia hentikan.
Hati kakak mana yang tak nyeri melihat adiknya berucap seperti itu. Pandu meraih tangan kurus adiknya. Ia menekan ludahnya demi menetralkan rasa sedih yang membuncah.
" Maafin Ayuk mas!" suara Ayudya bergetar. Gadis itu benar-benar terlihat sangat menyesal.
" Mungkin udah nasib Ayuk begini, Ayuk bakal berusaha ikhlas mas. Ayuk gak mau makin membuat mas dan Ibuk tambah sedih!"
Pandu merengkuh tubuh adiknya seraya memeluknya. Lidah Pandu tercekat pagi itu. Pagi yang sendu dan mengharu biru. Namun jujur, Pandu merasa senang karena adiknya itu mau menganggap keberadaannya. Ia senang karena Ayudya yang berkata seperti itu.
Tapi, apa gerangan yang membuat Ayuk mendadak berubah sikap seperti itu?
" Kamu kenapa kok, mendadak begini Yuk?" Pandu menangkup wajah adiknya yang berurai air mata.
Sejenak suasana senyap. Ayudya terlihat menarik napasnya, sementara Pandu menyusut sudut matanya yang berair.
" Ayuk udah tahu semuanya, Ayuk udah tahu kalau mas Pandu mengusahakan pengobatan untuk Ayuk!"
Pandu menundukkan kepalanya, mungkin adiknya tak senagaja mendengar percakapan antara dirinya dan ibunya kemaren sore.
" Mas minta maaf Yuk!"
" Enggak mas, aku yang harusnya minta maaf!" potong Ayu cepat.
" Aku udah pasrah mas jika memang ini udah nasib Ayuk. Yang penting, mas sama Ibuk sehat dan bisa ngerawat aku. Aku sudah jadi beban, dan gak mau malah menjadi be..."
" Sssttt, Ayuk bukan beban buat mas, bukan beban buat Ibuk. Ayuk gak boleh mikir gitu. Kita hadapi sama-sama ya dek ya. Pasrah sama yang diatas, kalau memang itu masih rejeki kamu, suatu saat mas pasti akan menemukan orang yang mau donorin kornea mereka untuk kamu!"
Pandu memeluk tubuh adiknya. Ada rasa syukur yang terselip di balik kejadian itu. Kini setidaknya Ayudya sudah meruntuhkan dinding tebal pemisah antara dia dan adiknya itu.
.
.
" Kamu pegangan, kita cari ikan yang banyak ya!"
Pandu pagi itu sengaja mengajak Ayudya untuk memancing di sungai yang berjarak satu kilometer saja dari rumahnya.
Ia sudah mendandani adiknya pagi itu dengan cantik. Ayudya memang cantik, kulitnya bersih dan rambutnya panjang hitam menjuntai sebahu.
" Mas, aku takut!" Ayu berpegangan erat saat ia sudah berada diatas motor kakaknya. Itu juga menjadi kali pertamanya bagi Ayudya pergi keluar rumah setelah selama ini.
" Enggak tenang aja, mas pegangi. Mas pelan kok. Kamu yang kenceng begini pegangannya!" Pandu memegang tangan kedua adiknya, dan melingkarkannya ke perutnya.
Membuat Ayuk cekikikan " Kalau mas punya pacar, yakin deh pasti cemburu ngelihat aku begini mas!" Ayu tergelak. Membuat hati Pandu senang.
Ayu merasa lebih baik , udara pagi itu terasa sejuk. Meski tak bisa melihat. Namun ia bisa mendengar geliat dunia disana.
Sebenarnya para tetangga dan sanak saudara sudah memberikan permakluman pada Ayudya sedari dulu. Mereka juga amat menyayangkan aksi tabrak lari yang pelakunya belum di ketahui hingga saat ini.
" Siap?" Tanya Pandu bersemangat.
" Siap!" Ayudya menjawab seraya tersenyum. Yang bisa ia lakukan hanyalah, percaya penuh kepada kakaknya.
.
.
Pagi pertama di desa itu Dita jalani dengan jalan-jalan keliling kampung, sebelum ia besok harus mengikuti serangkaian acara seremonial di Puskesmas tempatnya bertugas.
" Eh Fin, anak-anak disini lucu-lucu ya. Tuh lihat mereka ke sekolah masih pada jalan kaki loh. Aku seneng banget lihatnya!" Dita sumringah saat berpapasan dengan segerombolan bocah SD yang berangkat mencari ilmu.
Fina hanya memutar bola matanya malas " Miss lebay, senantiasa alay!" cibir Fina.
" Ye.., elu mah mana ngerti keindahan kearifan lokal!"
Ucapan Dita menguap begitu saja, dan sama sekali tak ada yang melewati kendang telinganya, lantaran kedua netra Fina menangkap hal yang membuat hatinya berdetak lebih kencang.
Ia melihat Pandu membonceng seorang wanita cantik, dengan sepasang tangan bersih yang melingkar di perut pria berbadan tegap itu.
" Banyak yang bisa kamu lukis padahal, tuh yang gembala kerbau.." Dita masih saja nyerocos saat ia melihat pemandangan dan asri yang menyejukkan mata.
Namun Fina semakin menajamkan pandangannya, saat melihat Pandu yang tertawa riang sambil memegangi tangan bersih wanita itu. Terlihat begitu dekat dan akrab.
" Ya gak Fin!" ucap Dita.
" Fin!" panggilnya lagi karena merasa tak mendapat jawaban apalagi sahutan.
Dita mengikuti arah pandangan Fina yang nyalang menatap sesuatu.
Kini Dita tahu apa yang membuat sahabatnya itu tak menggubris dirinya sedari tadi. Dita seketika diam dan terlihat mengikuti objek yang kini menghilang usai melewati perempatan jalan.
Hati Fina mencelos demi melihat Pandu yang berboncengan dengan seorang wanita cantik. Kenapa dia bodoh dan tak berpikir taktis. Pandu pria ganteng, tak mungkin pria itu masih sendiri.
Kini ia semakin bisa mengumpulkan kepingan puzzle yang berserak tentang sikap pria itu. Tentang mengapa Pandu yang cuek dan berbicara seperlunya jika bersama wanita lain, dan lebih banyak bicara jika bersama yang lebih tua.
Seketika Fina merasa bodoh. Merasa sunyi, dan merasa ingin sendiri.
" Fin, kamu mau kemana?" Ucap Dita karena kaget lihat Fina yang tiba-tiba berbalik arah.
" Fin, duh... katanya mau nganter aku beli tahu lontong buat sarapan. Ih Fina...." sahabat Fina itu menggerutu seraya tak mengerti dengan sikap Fina yang mendadak berubah.
Fina mengabaikan rengekan sahabatnya itu, entah mengapa dadanya sesak. Hey, wasn't Pandu a nobody to her? ( Bukankah Pandu bukanlah siapa-siapa untuknya?)
Entahlah, Fina hanya ingin merasa sendiri saat ini.
.
.
.
.