
Alma tak berani menatap suaminya, ia terlihat malu-malu. Jari-jari Bryan sibuk membuka kancing kemeja yang dipakai Alma, beberapa. saat kemudian Alma menghentikan aktivitas Bryan dan menahan tangan Bryan. Kedua mata mereka akhirnya bertemu.
"Kamu mau ngapain, Bry?" tanya Alma, sambil menggigit bagian bawah bibirnya dengan gemas.
"Aku mau bantu Albry, supaya dia bisa minum asi ibunya "jawab Bryan
"Tu-tunggu.. Albry masih menangis " Alma segera berdiri dari pangkuan suaminya itu.
Pikiran nya pasti mulai macam-macam lagi nih!
Tak lama setelah Albry meminum susu formula yang sudah dibuatkan oleh Bi Inah. Bayi kecil itu tertidur, setelah yakin tidur lelap. Alma merebahkan tubuh bayinya di ranjang bayi yang letaknya tak jauh dari ranjang tempatnya dan Bryan akan tidur.
Segera setelah menidurkan anaknya, Alma merebahkan tubuhnya juga ke ranjang. Ia tampak lelah setelah seharian menyambut tamu yang hadir untuk melihatnya dan Albry kecil.
Alma merasa sangat senang karena banyak orang yang peduli dan sayang padanya meskipun ia tak punya orang tua. Di saat seperti ini Alma teringat pada sosok Pak Hardi dan Bu Delia yang. Membayangkan betapa bahagia nya mereka jika mereka tau kalau Alma dan Bryan sudah memiliki 3 anak.
"Sayang, kamu kenapa melamun? kamu lelah?" tanya Bryan sambil menyiapkan segelas air minum dan beberapa pil obat ditangannya.
"Hem, sedikit"
"Bangunlah dulu sebentar, minum dulu obat dan vitamin mu sebelum tidur " ucap Bryan sambil duduk di sudut ranjang, tepat di samping istrinya
"Entah kenapa aku malas minum obat " jawab Alma malas, wanita itu masih rebahan di ranjangnya dengan santai.
"Apa? malas? sayang, kamu baru habis operasi dan kamu tidak boleh malas biar luka mu cepat sembuh " Bryan cemberut melihat istrinya masih rebahan itu.
"Aku mau langsung tidur saja " jawab nya
Bryan pun memakan 3 pil itu langsung ke dalam mulutnya, ia menyuapi Alma obat itu dengan mulutnya. Mereka terlihat seperti sedang berciuman.
" Akhp!" Alma terkesiap menerima serangan dari suaminya yang begitu tiba-tiba itu. Bryan melepaskan ciuman nya, ia pun menelan air lalu menyuapi air itu melalui mulutnya ke dalam mulut Alma.
" Hmphh!"
Bryan tampak menikmati penyatuan bibir yang ia sebut sebagai menyuapi, atau suapan. Lama kelamaan Bryan dan Alma terlena terbawa suasana, mereka malah bermaksud lain selain daripada ciuman.
Kedua tangan Alma menggapai leher Bryan, menyentuh nya dengan lembut. Dengan senang hati Bryan menyambut sinyal dari istrinya, tangan nya membuka kancing kancing baju yang di kenakan Alma dengan cepat dan telaten seolah sudah terlatih.
Tangannya yang satu lagi, sibuk menggerayangi dada istrinya yang baru melahirkan itu, yang tampak membesar. Menikmati dan mengisapnya dengan penuh gairah.
Setelah lama berciuman, Bryan melihat ke arah perban yang ada di perut Alma, ia pun tersadar dengan tindakan nya dan segera melepaskan ciuman nya.
"Kenapa sayang?" tanya Alma bingung, karena Bryan tiba-tiba berhenti ditengah jalan.
"Aku tidak melanjutkan nya lagi, kamu masih terluka dan ini masih belum lewat 40 hari. Kamu masih berdarah " kata Bryan tersadar dari tindakan nya yang menginginkan lebih dari ciuman
"Kalau kamu tidak tahan, ciuman saja tidak apa-apa kok " kata Alma santai
" Kamu yang tidak apa-apa, tapi aku menginginkan lebih " ucap Bryan setengah menggerutu.
"Lalu, aku harus gimana?" tanya Alma bingung
"Tidak perlu gimana-gimana, aku akan bantu kamu mengeluarkan ASI saja " ucapnya
Sulit sekali menahan ingin berhubungan. Semoga 2 bulan cepat berlalu.
" Apa?"
Dengan semangat Bryan mengisap kedua buah gunung itu, dengan alasan membantu agar air susu istrinya keluar. Bryan tampak menikmati nya, bahkan Alma juga merasakan hal yang sama. Ia sampai mengeluarkan beberapa suara yang aneh ketika bagian atas tubuhnya itu di jamah, di hisap oleh suaminya.
Akhirnya, dengan bantuan Bryan mengisap. Air susu nya keluar, mengalir deras. Alma berterimakasih pada suaminya itu.
" Terimakasih sayang, ternyata caramu berhasil." kata Alma sambil menyimpan air susu nya ke dalam botol susu.
" Iya sayang, kalau air susu mu susah keluar lagi. Aku siap membantumu " ucap Bryan
" Hem, dasar maunya " Alma tersenyum
Bryan beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. " Sayang, kamu mau kemana?" Alma melihat ke arah suaminya
" Aku mau mandi "
" Baru saja kamu mandi, sudah mandi lagi?" tanya Alma heran
" Kenapa ya? kurasa aku harus menenangkan bagian bawah ku di dalam kamar mandi, atau kamu mau bantu?" goda Bryan
"Ka-kamu! apa maksudmu? Dasar me-mesum! " wajah Alma langsung memerah.
" Kita sudah menikah dan punya tiga anak, kamu masih saja malu-malu. Dasar kamu.." Bryan tersenyum manis, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.
Selain pasangan Bryan dan Alma yang bermesraan, pasangan Leon dan Laura juga semakin mesra saja. Malam itu Leon memanjakan istrinya dengan memijat tubuh Laura, memasakkan makanan untuknya. Leon merasa kasihan melihat tubuh istrinya yang semakin berat, bahkan kakinya juga bengkak.
" Kamu pasti lelah ya, hari ini menyambut tamu-tamu " ucap Leon sambil memijat kaki Laura dengan pelan-pelan dan hati-hati
"Lumayan, tapi aku senang hari ini karena rumah tidak sepi. Alma dan Bryan juga menginap disini " Laura tersenyum
Kali ini giliran Laura yang merasakan tendangan dari dalam perutnya. Leon terlihat bahagia, karena ia bisa merasakan tendangan pertama dari anak yang ada di dalam perut Laura.
Leon mengelus perut buncit itu dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia tak sabar menantikan hari dimana sang buah hati lahir ke dunia dan memperlihatkan wujudnya. Di saat sedang bersantai, Kayla dengan manja nya ingin tidur dengan Leon dan Laura.
"Ada apa ini? tiba-tiba saja mau tidur sama Mama dan Papa. Bukannya kamu mau tidur sama Naina?" tanya Laura sambil mengelus rambut Kayla yang panjang
"Enggak jadi, malam ini Kay mau tidur sama Papa dan Mama. Boleh kan?" tanya Kayla
"Boleh aja sayang. Tapi, bukannya Kay lebih sayang sama om Ken ya daripada papa " Leon cemberut
" Kata siapa pa? Kay sayang Papa Leon juga kok "
"Terus, kamu pilih siapa? Papa Leon atau om Ken yang jadi papa kamu?"
" Kay, pilih papa Leon lah. Makanya Kay mau tidur sama Papa Leon " Kayla memeluk Leon dengan senyuman manjanya. Leon tersenyum senang, lalu ia menggendong Kayla ke atas ranjang.
Mereka pun berbaring bertiga di ranjang itu, namun di wilayah Laura di batasi oleh guling dan bantal, karena takut Kayla yang tidak mau diam saat tidur akan menendang perut Laura.
Kemudian Leon menyuruh agar Kayla meletakkan tangannya di perut Laura. Kayla merasakan sebuah gerakan di perut Mama nya itu. Matanya berbinar-binar tampak bahagia, seolah kejadian itu adalah keajaiban dunia.
" Ma, apa dulu Kay juga bergerak-gerak seperti ini di perut Mama?"
" iya dulu kamu juga menendang perut mama seperti ini " jawab Laura teringat saat mengandung Kayla.
Ketiga orang itu terlihat seperti keluarga yang bahagia, bercanda tawa sebelum mereka tertidur lelap.
...🍂🍂🍂...
Malam itu Ken dan anak buahnya habis menghajar beberapa orang yang menyerang markas bawah tanah black dragon. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
" Jika aku pulang jam segini ke rumah, aku akan menganggu mereka yang di sedang tidur " gumam Ken
" Bos kita akan kemana?" tanya Han yang sedang memegang setir kemudinya
"Putar balik saja ke markas " jawab Ken
"Baik boss!" jawab Han patuh.
Di dalam perjalanan menuju ke markas, Han melihat seorang wanita yang sedang dihadang oleh beberapa pria di jalanan yang sepi.
"Bos, lihat itu! jam segini masih ada wanita yang berkeliaran di luar " ucap Han sambil melihat ke arah wanita itu yang tak jauh di depannya
"Bukankah sudah jelas wanita yang keluar jam segini adalah wanita yang seperti apa" ucap Ken tidak peduli, dan fokus melihat wallpaper si kembar dan Kayla yang terpasang di ponselnya. Seperti nya pria itu sudah bucin pada keponakan-keponakan nya.
" Tunggu.. bos.. seperti nya saya pernah melihat wanita itu. Dia wanita yang ada di rumah keluarga boss " ucap Han yakin
Ken menjadi tertarik setelah mendengar kata-kata Han, ia kaget saat melihat wanita itu. Dia adalah Viona, yang sedang diganggu beberapa orang mabuk yang ada di jalan.
" Dia kan? sekretaris nya kakak ipar ku " ucap Ken yakin
Disisi lain, Viona berusaha melarikan diri dari 4 orang pria mabuk itu dengan membawa tas selempang, dan keresek putih ditangannya. Namun ke empat orang itu tak mau melepas nya.
" ayolah wanita, kita bersenang-senang dulu " ucap pria 1
" Kami akan menghangatkan mu " kata si pria 2 sambil memegang tangan Viona
" Lepaskan saya! saya mohon, ibu saya sedang sakit di rumah. " kata Viona memohon, ia tampak ketakutan.
" Ayolah, jangan malu-malu.."
" KYAA!! " Viona berteriak saat salah satu pria itu akan memeluknya dengan paksa.
BRUK
BRUK
Ken datang dan langsung memukul ke 4 pria itu dengan satu tangan dan satu tendangan nya. Ke empat pria itu langsung jatuh tersungkur ke aspal.
" Cih cecunguk brengsek! sampah masyarakat " ucap Ken pada ke empat orang itu.
" Sialan Lo! Lo mau mati ya " ucap seorang pria mabuk itu dengan kesal pada Ken.
" bos, apa perlu saya bereskan?" tanya Han yang bersiap dengan tangannya untuk meninju
" Tidak perlu, cecunguk seperti mereka aku sendiri bisa menangani nya " kata Ken dengan wajah yang menakutkan, senyum yang mematikan.
Benar saja, dalam hitungan detik ke empat pria itu langsung kabur. Terlebih lagi saat mereka melihat tato naga yang ada di tangan Ken. Mereka menciut berbekal wajah mereka yang babak belur.
" Bos, apa perlu kita mengejar nya?" tanya Han
Ken menjawabnya dengan gelengan kepala. Perhatian nya tertuju pada Viona yang duduk jongkok, wanita itu tampak ketakutan.
" Hey, sekretaris kakak ipar.. kamu tidak apa-apa?" tanya Ken sambil mengulurkan tangannya ke depan Viona.
Viona mengulurkan tangannya. " berikan tas mu, pasti berat "
Viona menahan tawa, ia pikir Ken mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri ternyata maksudnya adalah untuk membawakan tas nya.
"Saya tidak apa-apa pak Ken" jawab Viona lembut
Apa-apaan? bukannya dia sudah tau namaku? kenapa dia memanggilku sekretaris kakak ipar?
Dengan menahan malu dan tawanya, Viona berdiri setelah memunguti beberapa pil obat-obatan yang berserakan di aspal.
Apa dia sakit?. Batin Ken sambil melihat obat-obatan di dalam kresek yang dibawa oleh Viona.
"Terimakasih pak Ken sudah menolong saya "
" Rumahmu dimana?" tanya Ken sambil menggaruk telinga nya.
Han kaget saat melihat bos nya menunjukkan reaksi seperti itu. Reaksi yang hanya ditunjukkan Ken saat ia malu-malu dan gugup pada seseorang.
Apa ini? Apa bos Ken benar-benar sedang malu? bos black dragon merasa malu dan gugup? apa jangan-jangan...
"Ya? rumah saya berada di dekat sini "jawab Viona
"Aku akan mengantar mu " ucap Ken
"Apa? tidak usah repot-repot pak " kata Viona merasa tak enak
"Tidak merepotkan kok, lagi pula aku sedang menganggur" jawab Ken
Melihat wajah Ken yang datar dan dingin, Viona tidak bisa menolak tawaran Ken untuk mengantar nya pulang. Ken juga memberikan jaket nya pada Viona, melihat tubuh Viona yang kedinginan dengan baju tipis/ piyama tidurnya.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah Viona, mereka sedikit mengobrol.
"Kenapa kamu keluar jam segini?" tanya Ken
"Saya keluar untuk membeli obat "
"Kamu sakit?" tanya Ken
"Tidak, ibu saya yang sakit." jawab Viona
Ken sedikit bersimpati pada Viona yang rela keluar rumah pada dini hari yang dingin untuk ibunya yang sedang sakit. Viona adalah teman Alma saat duduk di bangku SMA, dia dan Alma berteman baik. Saat masa SMA, Viona banyak membantu Alma di sekolah, karena itu lah Alma sangat percaya pada Viona untuk mengurus perusahaan nya.
5 menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Alma yang dulu. Ternyata Viona dan ibunya menempati rumah mendiang orang tua Alma.
"Ini kan rumah.." gumam Ken sambil melihat ke arah rumah yang sederhana itu.
"Iya, ini rumah Bu Alma " jawab Viona sambil tersenyum cerah
Viona mengatakan terimakasih pada Ken, tapi ia tak bisa mengundang Ken masuk ke dalam rumahnya karena tidak baik seorang pria asing berkunjung malam hari ke rumah seorang wanita yang belum menikah. Ken agak terkejut mendengar kata-kata Viona, tapi ia tak tersinggung. Menurutnya Viona ini adalah wanita yang berpendirian kuat, mandiri, lemah lembut, wanita berbudi luhur dan juga penyayang keluarga.
Seperti nya tatapan Ken sudah mengarah pada Viona, gadis cantik, sosok sekretaris kakak iparnya yang bekerja di kantor Navin desain.
"sosok wanita yang seperti ini lah yang aku cari untuk membangun sebuah keluarga, tapi apa dia akan menerima statusku sebagai ketua mafia? Tenanglah Ken, jangan buru-buru. Perlahan-lahan saja. Bukankah ada yang namanya pendekatan " gumam Ken sambil senyam-senyum sendiri
Han melihat ke arah bos nya itu yang senyam-senyum sendiri. Han pun mengerti apa yang sudah terjadi pada bosnya. Dalam sekejap, ekspresi Ken berubah menyeramkan saat memandangi Han.
" Ngapain kamu bengong disitu Han? ayo pergi! kamu seperti idiot " ucap Ken sambil tersenyum menyeringai
" Haha iya bos " jawab Han sambil tertawa dengan paksaan, memasang senyum profesional.
Bos, anda yang seperti idiot. Senyam-senyum sendiri begitu seperti orang gila.
"Han, cari tau tentang sekretaris kakak ipar ku itu "
Woah! akhirnya bos yang tidak pernah mengenal kata cinta, hatinya mulai tergerak juga. batin Han senang
" Siap bos! saya akan segera mendapatkan informasi tentangnya secepat nya " kata Han patuh
Karena ini berkaitan dengan wanita pertama yang membuat bos tertarik, maka informasi tentang wanita ini harus sempurna dan detail. Semangat Han, akhirnya aku melihat cahaya di dalam hidup bos Ken!
Selama hidupnya Ken selalu berada di dalam kegelapan atau berada di dalam bayangan. Wildan sudah melatihnya untuk balas dendam, bahkan ia menjadi ketua mafia geng terbesar di Singapura yang memiliki banyak cabang di kota kota besar di seluruh dunia.
Geng mendominasi, tapi bukan geng yang membunuh orang. Melainkan geng mengamankan wilayah dan membereskan sampah-sampah masyarakat. Ken yang selalu bersikap dingin dan datar terhadap apapun, akhirnya memiliki titik cerah dalam hidupnya ketika ia keluar dari jeratan dendam salah paham yang selama ini membelenggu hatinya. Kini Ken berhak hidup bebas, memiliki keluarga dan merasakan kasih sayang. Karena belum terlambat untuk merasakan semua itu.
...***...
Hari-hari berjalan dengan sangat baik dan tenang selama 3 bulan itu, untuk semua anggota keluarga Aditama. Seakan akan kegelapan sudah lenyap dari hidup mereka sepenuh. Terutama untuk Bryan dan Alma yang sudah melewati berbagai macam ujian berat dalam kisah mereka.
Setiap pagi Alma menjalankan rutinitas nya mengurus keluarga nya, terutama si kecil Albry yang semakin hari semakin menggemaskan. Meski sering bangun tengah malam untuk menyusui bayinya, atau menenangkan bayinya yang menangis, Alma tidak pernah mengeluh karena Bryan juga selalu membantunya
Mereka secara bergantian mengurus Albry kecil dengan senang hati. Bahkan Alma juga diperbolehkan untuk pergi ke kantor lagi jika ada hal penting yang harus ditangani oleh Alma, lalu mereka selalu bergantian mengurus Albry.
Saat senggang juga, Kelvin dan Naina ikut membantu mengasuh adik mereka yang mungil itu. Lagi-lagi saat tenang Kelvin membuat ulah dan mengganggu Naina.
Kelvin merasa menang dari Naina, karena keinginan nya untuk mendapatkan adik laki-laki terwujud sedangkan Naina yang ingin adik perempuan tidak terwujud.
"Kakak kenapa sih selalu gitu sama aku? kenapa juga adik nya harus laki-laki " gerutu Naina sebal
" Bwee " Kelvin menjulurkan lidahnya mengejek Naina, ia selalu saja mengusili adiknya.
" Eh sayang kok kamu bilang gitu sih. Kelvin, kamu senang banget ya gangguin adik kamu " ucap Alma yang sedang menyiapkan makan siang dengan bi Asih di dapur.
" Memangnya kenapa kalau adiknya laki-laki? justru itu bagus loh buat Naina " kata Ken yang tiba-tiba muncul dan bergandengan tangan dengan Viona.
Selama 3 bulan itu, Ken sudah melakukan pendekatan dengan Viona, upaya itu berhasil dan akhirnya mereka memutuskan bertunangan. Karena Ken tidak mau berlama-lama lagi untuk membangun sebuah keluarga, ia tak sabar ingin segera memiliki anak-anak yang lucu seperti keponakan keponakan nya itu.
" Om Ken! om Ken.. " Naina langsung berlari dan menghampiri om nya itu. Ken langsung menggendong Naina. " Hua.. om Ken, kak Kelvin jahat om.."
" Lagi-lagi mengadu " gumam Kelvin
" Ken, tolong tenangkan mereka. Dari tadi mereka berisik terus " ucap Alma pada adik iparnya itu, ia masih sibuk berada di dapur.
" Tenang saja kakak ipar " jawab Ken " Nai, dengarkan om ya. Kamu harusnya merasa bersyukur mau punya adik laki-laki atau adik perempuan. Malah bagus loh kalau Nai punya adik laki-laki "
" Kenapa bagus om?" tanya Naina tak mengerti
"Tante Viona akan bantu jawab, ayo Tante Viona?" tanya Ken pada Viona
"Lah? kok aku sih?" tanya Viona kaget
Dasar si Ken ini! dia selalu melemparkan pertanyaan saat tidak tau jawabannya. Dasar.
"Tante Viona apa jawabannya? kenapa aku beruntung punya adik laki-laki?" tanya Naina penasaran, dan sangat menantikan jawaban nya.
"Hm..itu karena Naina menjadi putri satu-satunya dan paling cantik di rumah ini. " jawab Viona sambil tersenyum
Naina terlihat senang bercampur puas, dengan jawaban Viona, yang menurutnya benar. Jika ia punya dua saudara laki-laki maka ia lah yang paling cantik dan menjadi putri. Ia juga akan dijaga oleh kakak dan adik laki-laki nya.
Setelah memenangkan Naina..
Ken dan Viona duduk di sofa sambil melihat Albry kecil yang ada di ranjang gantung. Bayi itu tampak tertidur pulas.
" Lucu ya bayinya, gemesin " kata Viona sambil memandangi bayi kecil yang tertidur pulas itu " Dia mengisap jempolnya, imutnya " Viona mengambil gambar Albry dengan ponselnya.
"Kita juga akan segera memiliki nya nanti " ucap Ken sambil tersenyum pada Viona
"Nikah aja belum, udah mikir kesitu" kata Viona malu-malu
Makan siang pun sudah siap disajikan oleh Alma dan Bi Asih. Bryan sengaja pulang untuk makan siang di rumahnya bersama istri, anak-anak nya, Ken dan juga Viona calon istrinya.
Saat makan siang sedang berlangsung, kabar mengejutkan datang dari Ken yang mengatakan akan melangsungkan pernikahan nya dengan Viona dua minggu lagi.
" Wah selamat ya kalian " kata Alma senang, memberi selamat pada Ken dan Viona
"Tidak sia-sia istriku mengenalkan kalian " Bryan juga ikut senang mendengar keputusan Ken dan Viona untuk menikah
Mereka semua tersenyum dengan bahagia mendengar kabar baik itu. Terutama wajah calon pengantin baru yang akan segera melangsungkan pernikahan mereka.
...--***--...