
Maaf, wedding day nya kepotong dulu.. jadi chapter berikutnya βΊοΈπ
...πππ...
Bryan dan Kelvin langsung mengurus masalah Claysia. Gadis itu pasti akan menganggu lagi dan lagi, dan bisa membahayakan keluarga Kelvin. Sudah berulang kali dia mencelakai orang-orang yang dekat dengan Kelvin.
Mereka memutuskan untuk menjebloskan Claysia ke dalam penjara. Pada hari itu juga, Claysia ditangkap di apartemen nya dengan tuduhan mengganggu kenyamanan dan stalking, sampai mencelakai orang yang termasuk tindakan kriminal.
Ayahnya, Vincent tentu tidak diam saja ketika dia mendengar berita bahwa anaknya dijebloskan ke dalam penjara. Dia sudah tau, setiap masalah yang anaknya timbulkan pasti berkaitan dengan keluarga Aditama yaitu, Kelvin. Karena anaknya begitu terobsesi dengan pria yang bernama Kelvin Aldara Aditama.
Vincent menemui Kelvin dan Bryan, untuk memohon maaf sekalian meminta mereka untuk melepaskan Claysia dari balik jeruji besi.
"Saya mohon Kelvin, pak Bryan.. tolong, maafkan kesalahan anak saya. Saya janji ini tidak akan terulang lagi, saya akan menjaga anak saya dengan baik, kalau perlu saya akan mengurungnya di rumah agar tidak mengganggu kalian lagi," Vincent mengatupkan kedua tangannya seraya memohon kepada ayah dan anak itu untuk melepaskan putrinya.
"Tidak pak, bukan itu maksud kami menjebloskan anak bapak ke dalam penjara" kata Bryan dengan sorot matanya yang tajam.
"Saya mohon pak.. Kelvin, bapak mohon sama kamu untuk memaafkannya" Vincent menatap Kelvin dengan mata yang berkaca-kaca, pria tua itu bahkan seperti rela berlutut di depan Kelvin dan Bryan demi putri satu satunya.
"Maafkan saya pak, saya tidak bisa mentoleransi lagi apa yang sudah diperbuat oleh anak bapak. Clay, sudah mencelakai adik saya dan dia juga sudah merencanakan untuk mencelakai istri dan anak saya yang masih berada di dalam kandungan. Saya tidak bisa membiarkan Clay, terus menerus menyakiti orang-orang yang ada di dekat saya. Semoga Bapak paham apa maksud saya ini" jelas Kelvin pada Vincent, dia sudah tidak bisa lagi memaafkan Clay yang berkali-kali menyakiti orang-orang terdekat Kelvin, apalagi Naina.
Naina selalu menjadi sasaran kemarahan Clay, ketika dia tidak mendapatkan keinginannya. Vincent tau hal itu, dia juga merasa ada yang aneh dengan kepribadian anaknya. Ketika dia menginginkan sesuatu, maka dia harus mendapatkannya begitulah dia dari kecil sampai sekarang. Entah itu barang ataupun seseorang.
Vincent akhirnya mengambil keputusan berat dan ia menyarankan nya pada Bryan dan Kelvin, hal itu dia lakukan untuk menyelamatkan Clay dari hukuman penjara.
"Baiklah, saya tidak akan memaksa kalian untuk memaafkan anak saya lagi. Tapi, Saya ingin kalian memberikan anak saya kesempatan" Vincent terlihat sedih.
Bryan dan Kelvin tercekat mendengar ucapan Vincent. Apa maksudmu kesempatan?
"Apa maksud bapak?" tanya Bryan pada pria tua itu, sebenarnya ia tidak tega melihat Vincent harus memohon demi anaknya. Tapi ,Bryan tidak ingin kedamaian dan keselamatan anak anak nya berada di dalam bahaya karena kehadiran Clay.
"Bebaskan anak saya dari hukuman penjara dan.. kirim dia ke rumah sakit jiwa" Vincent memegang dadanya, dia menguatkan hatinya untuk memberikan saran itu.
Bryan dan Kelvin saling lirik satu sama lain, mereka mengernyitkan dahi. Apa katanya? Rumah sakit jiwa?
"Kenapa anda bicara seperti ini? Memangnya anak bapak mempunyai gangguan mental?" tanya Bryan tajam.
Vincent sedikit tidak nyaman mengatakan tentang kepribadian Clay. Namun, akhirnya dia buka mulut juga. Vincent menceritakan kisah masa kecil Clay, dia pernah membunuh kucing hanya karena kucing itu menyakiti temannya. Bahkan dia pernah menusuk tangan temannya dengan pisau dengan dalih tidak sengaja. Sejak saat itu Vincent merasa ada yang aneh dengan Clay, dia yakin bahwa anaknya mempunyai gangguan mental tapi dia tidak berani mengatakannya pada orang lain.
Setelah mendengar cerita Vincent, atas kesepakatan bersama, tuntutan untuk Clay ditarik kembali dan dia dibawa ke rumah sakit jiwa. Masalah Clay akhirnya dianggap beres!
****
Di rumah sakit..
Juna langsung meninggalkan semua pekerjaan nya untuk menemui tunangan nya. Di depan sebuah ruang rawat, Juna melihat Keira bersama tiga bodyguard nya.
"Juna?" Keira terperangah melihat Juna sudah berada di depannya. Padahal belum lama dia berkomunikasi dengan Juna lewat telpon, tapi pria itu dengan cepat sudah sampai di rumah sakit.
Cekret..
Juna dan Keira secara bersamaan menoleh ke arah seseorang yang membuka pintu ruang rawat Naina. Terlihat lah seorang pria tampan dengan kacamata dan jas putih khas dokternya
"Tenang saja, Naina baik-baik saja. Ketika cairan infusnya sudah habis, Naina sudah boleh pulang ke rumah" kata Theo pada Juna dan Keira.
Kedua orang itu menghela napas panjang, lega karena tidak terjadi hal yang serius pada Naina."Tapi, lain kali Naina tidak boleh sampai lupa meminum obatnya.. bisa berakibat buruk untuk kondisi nya, untunglah Naina cepat-cepat di bawa ke rumah sakit" Theo kembali mengingatkan Juna dan Keira.
"Makasih Yo" kata Juna dengan senyuman ramah di bibirnya.
"Sama-sama, dan selamat untuk pernikahan kalian ya. Gue pasti datang" Theo tersenyum ramah, dia pun melangkah pergi dari sana.
"Telat minum obat? Kenapa bisa Naina telat minum obat?" tanya Juna bingung, karena dia tau Naina selalu memasang alarm di jam tangannya untuk mengingatkan nya minum obat tepat waktu.
"Juna, tunggu! Aku minta maaf" kata Keira pada Juna, dia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Naina.
"Kenapa kamu meminta maaf padaku? Minta maaf untuk apa?" tanya Juna heran.
"Karena wanita jahat itu tidak bisa menyerang ku makanya dia menyerang Naina, aku benar-benar minta maaf,"
"Apa maksudnya? Wanita jahat siapa yang menyerang Naina?" tanya Juna penasaran.
Secara singkat, Keira menjelaskan tentang Claysia pada Juna. Juna terkejut karena wanita itu adalah wanita gila yang sempat diceritakan oleh Naina padanya. Setelah mendengar cerita itu, Juna langsung masuk ke dalam ruang rawat untuk melihat Naina.
Naina masih bangun dengan selang infus di tangannya, dia tercekat langsung duduk di ranjang melihat Juna ada disana."Juna? Ngapain kamu disini? Kita gak boleh ketemu dulu sebelum hari pernikahan" omel Naina pada tunangannya, alias calon suaminya itu.
Juna mendekati Naina dan memeluknya dengan lembut. "Juna.."
"Nai, kamu gak apa-apa kan?" tanya Juna khawatir.
"Aku gak apa-apa Jun, kenapa kamu kesini? Apa kak Keira atau kak Kelvin nelpon kamu? Aku kan udah bilang gak usah, huh" gerutu Naina sebal.
"Kamu senang sekali ya buat aku khawatir Nai, mana bisa aku tidak kemari setelah mendengar kamu masuk rumah sakit," Juna membelai pipi Naina dengan lembut.
"Juna.." Mata Naina terlihat sayu, dia seperti mengantuk.
"Oke, kita bicara lagi nanti ya. Kamu tidur dulu, kata Theo kamu harus istirahat" Juna mendorong pelan tubuh Naina untuk merapat ke ranjang.
"Iya aku ngantuk, maaf ya udah bikin kamu cemas Jun" Naina mengedipkan matanya beberapa kali, entah kenapa dia sangat ngantuk.
Tak lama kemudian, Naina tertidur pulas. Juna melihatnya dengan penuh cinta. Hanya tinggal melewati satu hari lagi dan mereka akan hidup bersama.
...---***---...