
...πππ...
Kehidupan damai dan tentram di rasakan keluarga Leon, Bryan dan Ken. Meski terkadang ada sedikit pertengkaran dalam rumah tangga mereka, namun itulah bumbu pernikahan.
Sedangkan Naina dan Kelvin baru saja memulai kehidupan baru mereka di negeri orang yang sudah berjalan hampir 3 minggu lamanya. Mereka berdua bersama tinggal di sebuah rumah sederhana yang sudah dibeli oleh Bryan dan Alma.
Minggu ini adalah minggu terakhir Naina sebelum memulai aktivitas nya sebagai mahasiswa baru jurusan seni desain dan seni lukis di sekolah seni impiannya.
Sementara kakak nya Kelvin sudah mulai kuliah sejak minggu kedua mereka tinggal di London. Kelvin juga kuliah di universitas impiannya, universitas teknologi dan komunikasi. Tak ada niatan sama sekali untuknya menjadi Presdir pengganti ayahnya di perusahaan fashion Aditama grup.
Pagi itu sudah tercium bau masakan mengunggah selera Kelvin. Pria yang masih tidur lelap di ranjangnya. Sudah bisa ditebak pasti yang memasak adalah adiknya, karena suara memasaknya sangat keras dan beda dari yang lain.
Setiap Naina memasak, pastilah selalu ada suara barang-barang yang bergesekan. Entah itu suara panci, suara spatula, pisau, pokoknya benda benda dapur yang ia gunakan selalu berbunyi kesal.
TRENG
TRENG
BUK
BRAK
"Ampun Nai! berisik banget deh kamu pagi-pagi gini juga!" teriak Kelvin dari dalam kamarnya, ia sudah begadang semalaman untuk mengerjakan tugas kampusnya dan dia harus terbangun karena suara dari dapur.
"Eh, kakak udah bangun? ayo kak sarapan!" Teriak Naina dari dapur, pada kakaknya
"Ish.. anak itu" gerutu Kelvin kesal pada Naina yang berisik di dapur
Kelvin berjalan menuju ke kamar mandi, mata panda nya masih terlihat tebal. Pria tampan itu mencuci mukanya, menggosok gigi, dan terakhir bercermin.
Kelvin, aku mau kita putus..
Suara wanita yang ia rindukan, tiba-tiba terngiang di telinganya. Kata-kata terakhir yang menyakitkan hati, sebelum gadis itu menghilang tanpa jejak. Entah dia bersembunyi atau sengaja lari, tidak mudah untuk Kelvin melupakannya. Cinta pertama yang sudah meninggalkan dirinya.
Kenapa aku teringat lagi padanya?
CEKRET
Kelvin keluar dari kamar nya setelah membersihkan tubuhnya. Kelvin juga sudah mengganti bajunya dengan baju casual. Di dekat meja makan, Naina sudah menunggunya.
"Loh, kakak mau kemana udah rapi? bukannya hari ini kakak gak ada kelas?" tanya Naina pada kakak nya, memperhatikan penampilan rapi Kelvin.
"Aku mau ke perpustakaan umum cari referensi buat tugasku" jawab Kelvin sambil memakan nasi goreng telur buatan Naina.
"Kak, aku ikut ya!" Naina tersenyum sambil memakan nasgor
"Kamu mau ke perpus juga? atau kamu mau jalan-jalan? kalau kamu jalan-jalan, pergi saja dengan Diego!" ucap Kelvin pada adiknya
"Ya sih aku gak mau ke perpus, males. Aku mau cari insipirasi buat lukis. Kayanya aku butuh jalan-jalan sebelum masuk kampus" gumam Naina yang ingin jalan-jalan
"Kalau kamu ingin jalan-jalan silahkan, tapi aku gak bisa nemenin. Aku mau ke perpus, aku suruh Diego aja buat nemenin kamu ya?" tanya Kelvin menyarankan
"Gak usah, aku mau sendiri aja. Ribet kalau ada bodyguard itu!" keluh Naina pada bodyguard suruhan om nya itu
"Ya udah jalan-jalan nya udah aku pulang aja, aku temenin" ucap Kelvin cemas pada adiknya kalau jalan sendirian di kota besar itu.
"Gak usah, aku kesini buat hidup mandiri. Aku bukan anak kecil lagi kak, seperti nya kakak lupa kalau kakak hanya beda 1 jam denganku?" bibir Naina mengerucut sebal pada kakaknya yang selalu menganggapnya anak kecil
"Iya aku memang selalu lupa perbedaan usia kita. Aku selalu merasa kalau kamu seperti Sonya" Kelvin mengejek adiknya itu
"Apa aku tidak salah dengar? aku disamain sama anak usia tujuh tahun??" Naina menengadahkan kepalanya ke arah Kelvin yang sudah menyelesaikan sarapan pagi nya.
"Kamu selalu seperti itu di mataku Nai!" Kelvin menepuk kepala adiknya dengan lembut
"Ih kakak!! aku ini anak gadis berusia 17 tahun, jadi boleh gak nih aku pergi keluar sendirian?" tanya Naina dengan nada yang sedikit merengek.
"Oke, tapi jangan jauh-jauh. Dan kabari aku, kita pulang bareng nanti" Kelvin tersenyum lembut pada saudara kembarnya itu
"Asyik! kakak emang pengertian deh, gak heran saudara kembar ku yang tampan ini banyak yang suka meski sifatnya kaya es batu" Naina tersenyum memuji kakaknya lalu menjatuhkan nya
"Apa kamu bilang Nai?" Kelvin melirik tajam ke arah Naina.
"Aku bilang kakak tampan" jawab Naina cepat
"Ya aku tau yang itu, tapi apa yang terakhir?" tanya Kelvin tajam
Naina menggeleng," Gak kok, aku cuma bilang kakak tampan aja" Naina nyengir
Tajam banget pendengaran kakak ku ini.
"Ninaina!!"
"Ayo kak berangkat, nanti keburu siang loh" Naina mengalihkan pembicaraan, dan malah mengajak kakak nya cepat pergi. Naina mengambil tas gendong dan ponselnya.
Ciri khas Naina dan gayanya masih sama seperti zaman SMA, rambut nya yang selalu diikat satu, memakai celana jeans, kemeja panjang kadang dipadu padankan dengan tunik pendek. Dan kakinya selalu memakai sepatu kets.
Naina dan Kelvin keluar dari rumah yang memiliki view seperti di pedesaan. Pepohonan, kolam ikan yang berukuran kecil itu membuat suasana rumah yang ditinggali Naina dan Kelvin jadi lebih asri.
Saudara kembar itu berpisah di persimpangan jalan. Naina pergi ke arah taman, dan Kelvin ke sebelah kiri menuju ke kampusnya.
"Kita pisah disini ya, nanti kita ketemu dua jam lagi disini" ucap Kelvin pada adiknya sebelum pergi
"Oke deh kak" jawab Naina dengan senyuman ceria diwajahnya
"Ya..kamu hati-hati"
Kelvin naik taksi untuk pergi ke perpustakaan umum yang ia tuju. Sementara Naina dengan menggendong tas nya, ia berjalan kaki ke arah taman yang ada di dekat sana.
Terlihat beberapa anak sedang bermain di area bermain, ada yang main perosotan, ayunan, jungkat-jungkit dan sebagainya.
"Nah, kayanya disini cocok nih buat cari inspirasi" Naina mengangguk-angguk, bibirnya menunjukkan sebuah senyuman indah. Pertanda bahwa ia senang berada di tempat itu.
Gadis itu membuka tas gendong nya, disana ada tikar kecil, alat alat lukis, kotak pensil berbentuk kucing dan disana juga ada gantungan kue stoberi pemberian Juna. Kotak pensil dan gantungan yang selalu ia pakai selama 3 tahun ia menempuh pendidikan SMA. nya, bahkan sampai sekarang.
"Semangat Ninaina! ayo cari yang bisa di lukis disini!" Naina mengepalkan tangannya dengan semangat, matanya mengamati keadaan sekitarnya.
Semilir angin meniup rambut panjangnya yang di ikat. Gadis itu tersenyum cerah saat melihat sosok pemandangan seorang anak laki-laki yang sedang bermain bersama ibunya dan kakak nya.
Tangan Naina mulai bergerak menggambarkan pemandangan yang menurutnya sangat indah. Pensilnya bergerak mencoret-coret buku gambar yang ia pegang.
Setelah beberapa menit kemudian, gambar itu selesai. Naina memandang hasil gambarnya dengan penuh perasaan, tiba-tiba mata nya berkaca-kaca.
Kenapa aku seperti melihat Albry di dalam lukisan ini?
Tanpa Naina sadari, ada sepasang mata yang melihatnya dari kejauhan. Pria itu memakai baju hitam, jaket hitam, masker, topi dan kacamata hitam.
Itu benar-benar Naina.. benar kata Damar, Naina ada disini!
Pria itu menatap Naina, ia ingin melangkah maju menghampiri Naina dan menghiburnya yang sedang sedih. Mata si pria ini berkaca-kaca.
Kenapa aku tidak bisa bergerak? ayo bergerak Jun! bukankah kamu ingin menemui nya? Kenapa malah diam? bodoh! kalau kamu bertemu dengannya, apa yang akan kamu ucapkan padanya?
Kenapa aku ngerasa ada yang ngeliatin aku ya?Naina melihat ke arah punggung pria yang memang baru saja memperhatikan nya.
Di sisi lain saat Naina menyimpan kotak pensil nya ke dalam tas, angin kencang menerbangkan buku gambarnya.
"A-apa?!! buku gambar ku!!" Naina berteriak-teriak sambil berlari mengejar buku gambarnya yang tipis itu terbang mulai jauh.
Naina masih terus berlari mengejar buku gambar itu. Buku gambar masih terus terbang dan semakin menjauh.
GREP
"Yes! dapet!! " Naina sampai di ujung jembatan, ia berhasil menangkap buku gambar itu, namun tubuhnya oleng. "KYAA!!"
Sepasang tangan melingkar ditubuhnya dan menahan tubuh Naina. Pria berpakaian serba hitam itu menolong Naina. Juna membantu Naina turun dari tiang jembatan.
Dia masih aja ceroboh.
"Kamu gak papa?" tanya Juna pada Naina
Aku keceplosan
"Eh, kamu orang Indonesia juga?" tanya Naina terkejut dengan pertanyaan pria yang ada di depannya itu.
Kenapa aku kayak kenal suaranya? Naina memperhatikan pria yang menolongnya itu.
Juna terlihat gugup, lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Naina dengan wajah bingungnya. "Hey! aku belum bilang makasih!" teriak Naina pada Juna
Juna pergi menaiki taksi dengan buru-buru, di dalam taksi ia membuka maskernya. Juna terlihat sedih dan merasa dirinya adalah seorang pengecut.
"Maafin aku Nai, aku takut bertemu dengan kamu. Aku belum siap menemui kamu dengan keadaan ku yang seperti ini.. maafin aku Nai, aku belum bisa cerita apa alasan ku pergi" gumam Juna sedih melihat Naina yang berdiri mematung setelah mengejarnya.
Naina sendiri merasakan perasaan familiar di dalam hatinya saat bertemu pria aneh berpakaian serba hitam itu.
"Kenapa dia pergi begitu aja? kenapa rasanya aku seperti sudah mengenalnya? suaranya itu sangat familiar.. tapi siapa ya?" gumam Naina berfikir.
Gadis itu kembali ke taman tempatnya menggambar tadi dan ia mulai mewarnai gambarnya itu dengan pensil warna biasa.
"Karena hari ini aku gak bawa kanvas, jadi cuma bisa menggambar biasa deh. Untung ada orang baik itu, walaupun penampilan nya aneh tapi dia udah nolongin aku. Pria aneh, dimana pun kamu berada semoga kamu selalu bahagia" Naina tersenyum mengingat pria aneh yang menolongnya, tangannya masih sibuk mewarnai gambar nya.
Tanpa Naina sadari, anak kecil yang ia gambar itu melihatnya dan gambaran itu. Naina tersenyum malu.
"Beautiful sister, is it me??" tanya anak laki-laki itu pada Naina, tangannya menunjuk ke arah gambar yang sedang Naina warnai.
"Ah.. yes it's you" jawab Naina malu ketahuan menggambar tanpa sepengetahuan orang yang ia gambar.
"Woah...very nice picture, great sister! my mother is very beautiful there!" Anak laki-laki itu tersenyum cerah, ia mengatakan bahwa ibu nya sangat cantik di lukisan itu.
Dengan jahil nya anak itu mengambil buku gambar Naina, lalu ia berlari ke arah ibunya menunjukkan gambar Naina. Naina terlihat panik karena ia takut ibu ibu akan marah karena melukisnya tanpa izin.
Namun si ibu malah tersenyum dan berkata pada Naina akan membayar jika Naina mau melukis nya dan anaknya.Tentu saja memakai kanvas dan alat lukis.
Dengan senang hati Naina melukis ibu dan anak itu menggunakan alat-alat yang sudah dibeli oleh ibu itu untuk Naina.
πππ
Juna kembali ke apartemen nya setelah ia bertemu Naina. Pria itu merebahkan dirinya di sofa, melepas kacamata, masker, jaket dan topi yang ia kenakan. Juna terlihat sedih.
Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan nya dengan hangat.
"Presdir sudah datang" sambutnya ramah
"Ya aku sudah pulang" jawab Juna malas
"Apa Presdir sudah bertemu dengan pacar Presdir?" tanya nya
"Apa kamu bilang? Pak Ardi dia bukan pacarku!" sangkal Juna
"Oke, tapi apa presdir udah bertemu dengan gebetan Presdir?" tanya Ardi lagi
"Capek ya bicara sama kamu. Mending kamu bilang deh, gimana keadaan kantor?!" Juna membentak sekretaris nya itu
"Ya Presdir" jawab Ardi
Ardi memaparkan keadaan perusahaan pada Juna. Kini Juna adalah Presdir muda dan satu satunya pewaris perusahaan Ardiwinata. Kakeknya sudah meninggal 2 tahun yang lalu di meja operasi saat pria tua itu menjalani operasi jantung di Amerika.
Keadaan yang terdesak membuat Juna tidak sempat menghubungi Naina ataupun teman-teman nya. Naina dan teman-teman nya hanya tau kalau Juna pergi tanpa kabar dan tak tau akan kembali atau tidak.
Sejak saat itu demi melindungi perusahaan yang dibangun ayah dan kakek nya dari ibu dan adik tirinya, ia menjadi Presdir muda. Juna dipaksa belajar tentang perusahaan dan tidak punya waktu luang untuk bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Bahkan ia hanya bisa menatap Naina yang ia rindukan lewat selembar foto yang di ambil Damar saat kelulusan Kelvin.
Dreet... Drett..
πΆπΆπΆ
Ponsel Juna berbunyi, Juna mengangkat telponnya.
"Jun, gimana? Lo udah ketemu Naina?" tanya Damar pada sahabatnya
"Udah"
"Terus gimana? Lo udah ngomong semuanya kan sama dia?" tanya Damar senang
"Gue gak bisa mar, gue belum siap ngomong sama dia" jawab Juna frustasi
"Jun! apa Lo bakalan terus kayak gini? Apa Lo mau gue yang kasih tau dia?" tanya Damar kesal pada Juna
"Gue belum siap mar! gue gak sanggup kalau dia gak mau maafin gue"
"Jun, kenapa sih Lo jadi pengecut kaya gini? Lo kayak bukan Juna yang gue kenal lagi tau gak? apa Lo tau betapa Naina menantikan kabar dari Lo?! dia peduli sama Lo lebih dari yang Lo duga!!" teriak Damar di dalam telpon nya
"Gue tau! tapi gue gak bisa, gue takut gue bakal nyakitin dia lagi.. gue gak bisa Mar..gue gak bisa membagikan duka gue sama dia.." Juna terdengar sedih dan merasa bersalah pada Damar, Naina dan orang-orang yang ia tinggalkan
"Lo tinggal bilang maaf doang dan kalau Lo gak sanggup bilang maaf secara langsung, Lo bisa kan hubungin dia? balas sms dan telpon dia? bukannya sembunyi kayak gini Jun. Pengecut tau gak Lo!" Damar memaki sahabatnya itu yang tidak memiliki keberanian menemui Naina
"Iya gue emang pengecut! gue pengecut mar! gue akan temuin dia, itu pasti.. di saat keadaan gue udah membaik, gue akan temuin dia tapi gak sekarang !" seru Juna pada sahabatnya itu.
"Oke terserah Lo aja, yang penting gue udah ngasih tau Lo"
Dan setelah itu, 5 tahun sudah berlalu...
...--***---...
Readers mohon maaf up nya terlambat π author lagi kurang sehat ya, doakan Author semoga sehat selalu yaπππ jangan lupa komen like nya..
Makasih juga yang sudah mendukung karya ku yang lainπ.. Alhamdulillah berkat dukungan Readers, karya Author mendapatkan gelar juaraππ
Mampir juga ke karya author yang lain ya...Kasih like komen favorit nyaπ