
...πππ...
Setelah dipastikan Naina sehat dan baik-baik saja, Juna memutuskan untuk kembali ke Jakarta sesuai keinginan istrinya. Bryan dan Alma kembali lebih dulu ke Jakarta.
Pagi itu, Naina sedang membereskan barang-barang nya untuk dibawa pulang ke Jakarta. Dia melihat rumah yang sudah ditempatinya dan Juna selama 7 bulan.
"Sayang," ucap Juna sambil melingkarkan kedua tangannya pada tubuh sang istri.
"Juna? Kamu udah selesai sarapan?"
"Udah. Sayang, aku sangat bahagia karena keadaan kamu sudah membaik...tapi, hatiku belum sepenuhnya tenang," ucap Juna.
"Kenapa?"
"Sebelum mendengar langsung ucapan dokter Marcell tentang kondisi kamu, aku belum tenang,"
"Jadi apa mau mu?"tanya Naina sambil membelai lembut pipi Juna.
"Kita periksa ke rumah sakit sekali lagi sebelum kita kembali ke Jakarta,"
"Baiklah, kalau itu mau kamu. Mari kita ke rumah sakit lebih dulu dan menemui kak Marcell," jawab Naina setuju dengan permintaan suaminya.
"Salah! Bukan kak Marcell tapi dokter Marcell!" Juna membenarkan ucapan Naina yang menurut nya salah.
"Ya ampun, kamu cemburu hanya karena aku memanggilnya begitu?" tanya Naina sambil tertawa kecil mendengar ucapan suaminya.
"Hanya? Kamu bilang hanya?" gerutu Juna sebal.
"Baiklah, jangan marah. Yuk kita siap-siap ke rumah sakit, tapi sebelum itu aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Naina sambil melepaskan pelukannya dari Juna.
"Ya, aku tunggu di ruang depan," Juna tersenyum, kemudian dia mencium pipi istrinya.
cup
"Juna, kamu ini apa-apa main cium ya!" Naina memegang pipinya yang hangat karena dicium oleh Juna.
"Sekarang aku tau kenapa orang-orang menikah, supaya mereka bisa melakukan ini," Juna tersenyum lebar, dia mencium lagi pipi kanan Naina untuk kedua kalinya dengan mesra.
Cup
"Jadi kamu menikahi ku hanya untuk melakukan ini?" tanya nya.
"Tentu saja bukan. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu," jawab Juna sambil membelai rambut Naina yang mulai memanjang.
"Walaupun aku belum bisa memberikan apa yang kamu mau?" Naina menatap Juna dengan sedih.
"Memangnya apa yang aku mau? Ada kamu di sisiku saja sudah cukup," Juna mengernyitkan dahinya. Dia bingung dengan pertanyaan Naina.
"Aku belum bisa memberikan kamu seorang anak,"jawab Naina sambil menundukkan kepalanya. Dia terlihat tidak percaya diri.
Juna tersenyum, di dalam hatinya dia memang menginginkan seorang anak. Tapi, dia tidak bisa memaksa Naina. Mungkin saja Allah belum memberikan mereka amanah itu.
Sebisa mungkin Juna menghibur Naina, dia sampai berbohong padanya. "Anak? Aku tidak ingin cepat-cepat punya anak kok. Kalau kita punya anak sekarang, nanti aku jadi tersingkir,"
"Hah? Tersingkir bagaimana?"tanya Naina menatap heran pada suaminya.
"Kalau kita punya anak nanti. Kasih sayang kamu bukan hanya untukku saja, tapi kasih sayang mu akan terbagi. Aku masih ingin menikmati masa masa kita seperti sekarang ini, punya anak bisa saja nanti," tutur Juna pada sang istri.
Naina menatap dalam-dalam mata suaminya, dia melihat ada kesedihan dan harapan di dalam sana. Walau bibirnya tersenyum, tapi Naina tau kalau suaminya sedih.
"Iya baiklah," jawab Naina sambil tersenyum pahit memandang ke arah Juna.
Jun, aku tau kamu sedang sedih tapi kamu gak mau bilang...
#Flashback
Dua hari sebelumnya, Juna mengundang dua orang rekan bisnisnya ke rumah. Siang itu Naina memasak untuk kedua temannya. Salah satu temannya membawa seorang anak laki-laki dengan kisaran usia 3, entah 4 tahun yang terlihat sangat menggemaskan.
"Silahkan dinikmati pak, maaf saya masak seadanya saja," ucap Naina setelah menyiapkan semua makan siang itu. Naina duduk di samping suaminya.
"Terimakasih ya Bu Ninaina, kelihatan nya enak nih," ucap seorang pria sambil tersenyum melihat masakan yang ada di meja. Dia adalah Jorge, teman kuliah Juna sekaligus rekan bisnisnya.
"Masakan istri saya memang sangat enak, bukan kelihatan nya lagi," Juna tersenyum pada istrinya.
"Pantas saja pak Juna jarang makan siang di kantor, itu karena pak Juna sudah jatuh cinta dengan masakan istri di rumah," ucap pria yang satunya lagi pada Juna.
Naina dan Juna sama-sama tersenyum setelah mendengar nya. "Ah, bapak bisa saja..masakan saya tidak seenak itu," ucap Naina malu.
Juna menoleh ke arah istrinya, "Itu benar pak, makanya saya gak bisa pindah ke lain hati. Untuk saya, Naina adalah wanita yang paling sempurna," dia memuji, membanggakan istrinya di depan kedua rekan bisnisnya.
"Benar sekali, bagaimana bisa pak Juna bisa pindah ke lain hati. Sudah mendapatkan istri secantik ini, saya pun pasti akan betah di rumah,"
"Apa bapak bilang?" Juna menatap tajam ke arah rekan bisnisnya itu.
"Sayang, kamu kenapa sih?" bisik Naina pada Juna, dia merasa kalau suaminya sedang marah.
"Ma-maaf, apa saya ada salah ucap?" tanya pria itu terheran-heran melihat Juna menatapnya.
"Oh tidak kok pak, hanya saja mendengar bapak memuji istri saya cantik..saya jadi cemburu," Juna kembali tersenyum seperti biasa. Dia mengatakan cemburu.
"Juna..,"Naina menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tersenyum manis.
"Hahaha.. ternyata pak Juna adalah tipe suami yang pencemburu ya?" Pria itu tertawa dengan sikap Juna.
"Dia memang pencemburu pak Erwin," jawab Jorge yang tau sifat Juna.
Pak Erwin duduk bersama anak laki-laki nya yang terlihat sangat lucu. Pipi nya chubby dan dia terlihat sangat menggemaskan.
Juna terus menatap anak itu, bahkan anak pak Erwin juga suka pada Juna. Dilihat dari caranya mendekati Juna.
"Papa, om gantwengg.." ucap anak itu sambil duduk di pangkuan Juna. Bicaranya agak terbata-bata.
"Makasih sayang, gemesin banget sih kamu," Juna mencubit gemas pipi anak yang chubby itu.
Naina tersenyum melihat suaminya dan anak itu dari kejauhan.
"Sudah cocok tuh buat gendong anak, pak Juna.. anda terlihat sangat menyukai anak-anak, anak saya juga sangat menyukai pak Juna," ucap pak Erwin sambil tersenyum.
"Jadi kapan nih? Udah ada rencana belum?" tanya Jorge pada temannya itu.
"Haha..nanti deh," jawab Juna sambil tersenyum pahit.
"Bukannya udah hampir setengah tahun ya kalian menikah? Tapi, belum ada kabar baik," ucap Pak Erwin.
Juna terlihat tidak nyaman dengan ucapan pak Erwin. Dalam hatinya dia ingin segera punya anak.
"Mungkin belum di kasih amanah aja," jawab Juna sambil berusaha tersenyum.
Naina melihat senyuman pahit suaminya, dia merasa Juna sedang sedih karena ucapan temannya tentang seorang anak. Dokter sudah memeriksa kondisi nya dan kondisi Juna, sama sekali tidak ada masalah dengan fertilitas mereka berdua. Lalu kenapa mereka belum mempunyai anak juga setelah tujuh bulan menikah?
#Endflashback
"Nai? Kenapa kamu malah melamun? Bukannya kamu mau ke kamar mandi?" tanya Juna heran melihat istrinya yang melamun.
"Iya Jun," jawab Naina lalu melangkah pergi menuju ke kamar mandi dengan wajah sedih. Dia masih kepikiran dengan Juna.
Tak lama setelah itu Naina dan Juna pergi ke rumah sakit. Mereka menemui Marcell untuk mengecek kondisi Naina sekali lagi.
Marcell bilang kalau kanker di dalam tubuh Naina sudah bersih dia dinyatakan sembuh, hanya saja Naina harus menjaga kesehatan tubuhnya dengan baik. Rahim dan kondisi Juna juga baik-baik saja untuk memiliki seorang anak.
"Kak, terimakasih atas bantuan kakak selama ini," Naina tersenyum bahagia menyambut kesembuhan nya dari kanker yang sudah membuat dia menderita selama kurang lebih satu tahun.
"Benar, saya berhutang banyak pada dokter Marcell. Hari ini kami akan kembali ke Jakarta, kami sekalian pamit pada Dokter," ucap Juna sambil tersenyum pada dokter itu.
Deg!
Marcell terpana menndengarnya, matanya membulat terkejut menatap Juna dan Naina. "Jadi, kalian akan kembali ke Jakarta?" tanya Marcell.
"Kenapa kamu bicara begitu, Jun?" tanya Naina keheranan dengan ucapan suaminya.
"Ya kan? Kalau kita bertemu dengannya lagi, maka keadaan kamu sedang tidak baik. Jadi, aku harap keadaan kamu baik-baik saja supaya kamu tidak harus bertemu dengannya lagi," jelas Juna sambil tersenyum pada istrinya.
"Oh begitu, aku pikir kenapa," Naina tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
"Iya, semoga Naina sehat selalu. Kalian berhati-hati lah dalam perjalanan," Marcell tersenyum dan berdoa tulus untuk Naina dan Juna.
"Terimakasih dok, " jawab Juna.
Marcell tidak tahu harus senang atau sedih. Dia senang karena Naina akhirnya bisa sembuh setelah lama berjuang, tapi dia juga sedih karena mungkin dia tidak bisa melihat Naina lagi jika Naina pulang kembali ke Jakarta.
*****
Keesokan harinya, mereka sampai di bandara tanah air tercinta setelah menempuh perjalanan cukup panjang.
"Udara Indonesia, udara Jakarta..sudah lama aku tidak menghirupnya," Naina tersenyum lebar, dia merentangkan kedua tangannya dan merasakan udara hangat di negerinya.
Juna menoleh ke arah Naina, dia juga bahagia karena sudah kembali ke Indonesia. Naina tidak sabar ingin melihat Keira dan Kelvin lebih dulu, dia ingin melihat kandungan Keira.
Di depan rumah Kelvin..
Ting!
Tong!
πΆπΆ
Keira membuka pintu rumah itu, ketika mendengar bunyi bel rumah nya.
CEKRET..
"Assalamualaikum," Naina tersenyum lebar melihat ke arah Keira yang perutnya sudah membesar dan buncit.
Mata Keira membulat melihat Naina dan Juna ada di hadapan nya, dia tak percaya kalau Naina dan Juna ada disana.
"Wa-waalaikumsalam," Keira terpana.
"Kakak ipar, apa kabar?" tanya Juna sambil tersenyum.
Keira mencubit tangan Naina dan Juna untuk meyakinkan dirinya.
"Aw!!"
"Kalian benar-benar ada disini! Aku tidak bermimpi kan?" tanya Keira tak percaya. Dia langsung memeluk Naina dengan bahagia.
"Iya, kami sudah pulang kakak ipar," Naina menangis dan memeluk kakak ipar nya itu. Dia terharu karena bisa kembali ke Jakarta.
"Hiks.. Naina, ternyata kamu kembali. Aku kangen banget sama kamu...," Keira menangis haru, dia rindu pada adik iparnya itu.
"Jadi kamu akan biarkan kami disini? Gak disuruh masuk nih?" tanya Juna.
"Juna kamu ganggu suasana aja deh," ucap Naina sebal.
"Ya udah, yok masuk yuk!" ajak Keira pada Naina dan Juna.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, disana juga ada pembantu yang menemani Keira dan membantu nya mengerjakan pekerjaan rumah.
Mereka mengobrol sambil minum jus yang dibuat oleh Keira sebelumnya. Keira tidak percaya kalau Naina sudah berada di hadapan nya dalam kondisi segar bugar, tidak seperti orang sakit.
Keira senang karena Naina sembuh dari penyakitnya. Ketika sedang mengobrol tiba-tiba dan Keira mengeluh sambil memegang perut buncitnya," Uhhh...,"
"Kak Keira kenapa?"tanya Naina khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya saja dia menendang," jawab Keira sambil tersenyum.
Juna dan Naina langsung menatap Keira dengan sedih. Entah apa yang ada dipikiran pasangan suami istri itu. Mendengar ucapan Keira tentang anak yang ada di dalam kandungan nya, tanpa sengaja telah menggoreskan luka di hati Naina dan Juna.
Kapan aku hamil? Kapan aku akan punya anak? Naina membatin sedih.
Kapan Naina akan seperti itu?
"Eh, kalian kenapa?" tanya Keira melihat ke arah Juna dan Naina yang sama-sama seperti sedang melamun.
"Ah.. aku gak apa-apa,"
Apa sih kamu pikirkan Nai?
"Aku juga gak apa-apa," jawab Juna sedih.
Kamu hanya belum diberikan saja, pasti nanti aku akan menjadi seorang ayah juga, ini baru 7 bulan sejak kami menikah.. batin Juna menyemangati dirinya sendiri.
"Oh ya, apa kalian sudah dengar? Anaknya kak Theo dan Nisha sudah lahir," ucap Keira memberitahu.
"Hah?!! Bukannya mereka belum lama nikah ya??!" Juna dan Naina terkejut mendengar dari Keira kalau Nisha sudah melahirkan, padahal mereka baru menikah sekitar 6 bulan. 1 bulan setelah Naina dan Juna menikah, Theo dan Nisha menyusul.
Setelah Theo dan Nisha menikah, Kayla juga menikahi Damar dua bulan setelahnya. Dan kini Kayla sedang hamil muda.
"Mereka kecelakaan, hamil sebelum waktunya jadi ya beginilah..,"jelas Keira singkat.
"Oh begitu," jawab Naina dengan bibir membulat.
Melihat orang-orang di sekeliling nya sudah mempunyai anak dan sedang hamil. Membuat Naina dan Juna sedih. Terutama Naina yang merasa bersalah karena belum bisa memberikan Juna keturunan.
Juna dan Naina tetap bersabar menantikan kabar bahagia itu.
****
3 bulan berlalu..
Pada suatu pagi, Keira sedang mengurus tanaman di halaman belakang rumahnya. Tiba-tiba saja dia merasa perutnya sangat kesakitan.
"Uhhh... Ahhhh!! Bi Ijah.. Bibi!" teriak Keira pada pembantu rumah tangganya yang ada di dalam rumah.
Keira merasa perutnya keram dan sangat sakit, belum lagi ada cairan yang keluar dari tubuhnya. Bi Ijah yang mendengar teriakan Keira, segera menghampiri Keira.
"Nyonya! Seperti nya nyonya mau melahirkan!" Kata bi Ijah setelah melihat cairan yang keluar dari tubuh Keira.
"To-tolong saya bi.."
"Saya akan telpon tuan, tapi.."
"Tidak ada waktu, bibi tolong bantu saya membawa kak Keira ke rumah sakit!" seru Naina yang entah darimana datangnya.
Karena sakit diperutnya, Keira tidak bisa bertanya pada Naina. Tubuhnya berkeringat, dengan susah payah Naina dan Bi Ijah memapah Keira masuk ke dalam mobil. Naina menyetir mobil menuju ke rumah sakit.
"Uhh.. Aahhhhh.... Ahhhh.." Keira merintih kesakitan memegang perutnya. Bi Ijah berusaha menenangkan nya.
"Kak Keira, sabar ya! Aku akan segera mengantar kakak ke rumah sakit," Naina panik melihat Keira kesakitan. Naina menyambungkan panggilan untuk kakaknya.
"Halo Nai," jawab Kelvin yang baru saja keluar dari ruang rapat.
"Kak, aku dalam perjalanan ke rumah sakit sama kak Keira,"
"Ada apa Nai?! Keira gak kenapa-napa kan?" tanya Kelvin tersentak kaget
"Kak Keira seperti nya mau melahirkan," jawab Naina sambil menyetir mobil dengan kecepatan lumayan tinggi.
"Ahhh!!! Sakit....uuuhhh...Haahhh.."napas Keira mulai tidak beraturan.
"Rumah sakit mana?! Aku kesana sekarang!!" teriak Kelvin panik begitu mendengar suara istrinya merintih kesakitan di dalam telpon.
"Rumah sakit kasih ibu," jawab Naina cepat
...----****---...