
Attention! untuk yang dibawah umur, no baca chapter ini ya 🥰🙏
...🍀🍀🍀...
Kata-kata dokter Firlan selalu teringat di kepala Juna, jika ingin melakukan hubungan itu dengan Naina maka Juna harus berusaha lembut.
"Nai..kamu harus bilang ya sama aku, kalau kamu sakit, saat itu aku akan langsung berhenti," ucap Juna dengan kondisi telanjang dada, hanya tersisa segitiga pengaman saja ditubuh nya.
"Iya, aku akan bilang," jawab Naina, sambil merengkuh tubuh Juna hingga tubuh mereka saling bersentuhan.
Apa yang keras dan menabrak ku ini? Pekik nya begitu merasakan ada sesuatu yang keras berasal dari tubuh Juna dan menabrak bagian bawahnya.
"Baik, kita mulai pelan-pelan ya sayang," ucap Juna sambil melorotkan lingerie yang dikenakan sang istri.
Dia menatap istrinya dengan tatapan nanar, terlihat wajah cantik itu malu-malu kucing. Dia bahkan menutupi dua buah gunung itu dengan kedua tangannya.
"Nai.."
"Maaf, ini pertama kalinya untukku.. jadi, aku gak yakin bisa memuaskan kamu,"
"Ini juga pertama kalinya untukku, soal puas atau tidak. Mari kita belajar bersama-sama setelah ini ya Nai," Juna tersenyum, dia mengelus pipi Naina dengan lembut. "Aku akan melakukan pemanasan dulu,"
"Pemanasan? Seperti apa?" tanya Naina dengan polos.
"Kamu akan merasakan nya sendiri, hal ini sulit dijelaskan dengan kata-kata," ucap Juna lembut.
Naina hanya mengangguk pelan, kemudian Juna memulai hubungan itu dengan bibirnya. Setelah membuat Naina tanpa sehelai benar, bibirnya menyusuri bagian tubuh Naina, seperti sedang menghitung jumlah ruas tengkuk ditubuh istrinya.
Cup, cup, cup
Suara itu terdengar, tatkala Juna menyusuri tubuh Naina dengan bibir, dia menjilat dan mengecup nya dengan penuh kasih sayang, juga kelembutan.
"Auwww.. Juna geli," pekik Naina menggelinjang kegelian dengan sentuhan Juna menghampiri bagian lehernya dengan bibir panas itu.
"Ini baru pemanasan, Nai," Pria itu tersenyum senang, dia bahagia melihat istrinya kegelian. Juna terus menciumi tubuh Naina, sampai bekas yang merah itu tercipta.
Tangan mulai bergerilya ke bagian dua buah gunung yang menyembul, menyentuh, memelintir dan memeganginya dengan lembut.
"Ugghhh.. Juna...,"
"Nai, sayang...,"
Bibir pria yang panas itu tidak berhenti mencium nya, kini ciuman nya bermain-main di leher nya.
Juna terlihat kenikmatan dengan aktivitas nya itu. Dia tidak menyangka, bahwa dia akan dengan bebas menyentuh wanita yang ia cintai dan melakukan apa yang ia mau. Namun, satu catatan ada di kepalanya! Dia harus bermain lembut.
"A-Apa aku harus me-melakukan sesuatu?" tanya Naina bingung, karena dari tadi hanya Juna saja yang bergerak menjamah tubuhnya, sedangkan dia hanya diam menerima semuanya.
"Tidak, kamu cukup diam saja. Biar aku yang melakukan nya," Juna membalikkan tubuh Naina sehingga menghadap ke arahnya, kemudian dia membaringkan tubuh Naina.
Salah satu kaki Juna masuk ke dalam kaki mulus dan putih itu, kini kakinya berada di tengah tubuh Naina. "Juna, jangan menatapku begitu, aku malu..," ucap Naina malu.
"Kenapa? Kamu cantik," puji nya kepada sang istri, tepat dibawah tubuh kekarnya.
Hasrat mulai menggelora, panas membuncah, menyeruak dari tubuh Juna. Tatapan panas, perangai yang memburu, terlihat dari pria itu. Hasrat seorang suami yang ingin segera melakukan penyatuan tubuh dengan istrinya.
Mulut Juna mendekati dua buah gunung yang menyembul itu, dia menghabisi nya dengan jilat dan gigitan. "Uhh,, Juna..," tanpa sadar tangan Naina bergerak secara naluriah, membenamkan kepala Juna ke bagian depan tubuhnya. Sehingga mereka berdua dalam keadaan berpelukan.
Pria itu berhenti sejenak dari aktivitas nya,"Kamu milikku Nai, aku cinta kamu,"
"Aku juga, " jawab Naina dengan senyum mengembang di bibirnya.
Entah ke berapa kalinya, bibir itu melahap bibir cantik Naina. Mereka mengerang, mendesah, suara mereka sampai menggema di kamar itu. Beruntunglah karena rumah yang mereka tempati jauh dari keramaian, tidak ada siapapun disana karena Juna belum memperkerjakan pembantu ataupun penjaga.
"Juna,..hah...huhh..,"napas Naina terengah-engah setelah serangan ciuman panas dari Juna.
Jawab Naina dengan anggukan kepala, dia bersiap untuk melakukan itu dengan Juna. Dalam hati, Juna mengucapkan bismillah.. dia takut jika apa yang akan ia lakukan bisa menyakiti Naina.
Kedua Naina membulat, begitu melihat bagian bawah suaminya yang mengeras.
"I-itu...," baru pertama kali dia melihat bagian sensitif tubuh seorang pria, bagian paling berbahaya.
"Sudah terlambat untuk mundur, Nai..aku sudah mengingatkan kamu, katakan kalau sakit." ucap Juna lembut.
"He-em," jawab Naina singkat.
Pria itu tersenyum, tangannya melorotkan segitiga pengaman milik Naina. Di lihatnya bagian sensitif itu.
"Juna!" Naina malu dengan tatapan suaminya.
"Ah ya, baiklah.. aku akan mulai,"
Pelan-pelan, Juna menyentuh tangan Naina, dia membenamkan miliknya pada pintu yang tidak pernah dimasuki oleh apapun dan oleh siapapun.
"Sudah masuk..ugh,"
"Akhhhhhh!!" teriak Naina, begitu benda itu melesat masuk ke dalam tubuhnya.
Kedua tangan Naina merengkuh punggung Juna, sehingga kuku kuku cantiknya menggores kulit suaminya.
"Sakit, tidak?" tanya Juna pada istrinya, sambil mengusap sedikit keringat di kening Naina.
"Sedikit...,"jawabnya jujur.
Sedikit perih, panas.
"Mau berhenti saja?" tanya Juna tak tega
"Enggak, lanjutkan saja," jawabnya dengan gelengan kepala.
"Aku akan bergerak pelan-pelan," ucap Juna berhati-hati.
Pria itu melakukan itu sesuai dengan kata-kata nya, lembut, pelan dan hati-hati. Dia takut wanita yang seperti kaca itu akan pecah karena dirinya. Gerakan hati-hati, lembut, bahkan tidak dalam waktu yang lama itu berakhir dengan kata cinta terucap dari mulut mereka.
Melihat Naina kelelahan, dia menghentikan aktivitas itu. Hari juga sudah semakin larut, kegiatan yang hanya berlangsung selama 30 menit itu, sudah cukup membuat Juna puas.
"Juna, kenapa berhenti?" tanya Naina pada Juna yang tiba-tiba berhenti. Tubuh wanita itu berkeringat, dengan napas yang ngos-ngosan. Dia tampak mengantuk.
"Ini sudah cukup, tidurlah sayang.. aku akan pergi ke kamar mandi," ucap Juna sambil mengecup kening istrinya, dia juga menyelimuti tubuh Naina dengan selimut hangat.
Walaupun aku masih kuat, tapi stamina Naina tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.
"Benaran udahan? Kamu mau aku siapkan air hang-" ketika Naina akan beranjak bangun, dia merasakan sakit di tubuhnya.
Tulang-tulang ku seperti mau patah rasanya.
"Kenapa Nai?" tanya Juna, dia berjalan enghampiri istrinya.
"Gak apa-apa, maaf Jun.. kayanya aku gak bisa jalan ke kamar mandi sekarang buat siapkan kamu air hangat,"
"Its okay, kamu mau aku pijat dulu?" tanya Nina pada istrinya.
"Gak usah, aku bobo aja.. aku ngantuk," jawab Naina kembali berbaring di ranjang empuknya. Dia masih belum berpakaian.
"Ya udah, kamu tidur ya.. yang nyenyak, dan makasih buat malam ini," ucap Juna sambil tersenyum manis, berterimakasih pada istrinya.
Naina pergi tidur, sementara Juna pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
...----***---...