
...πππ...
Tok, tok, tok
" Nek, nenek ada di dalam kan? katanya nenek mau ngajak kita ke taman hiburan?" tanya Kayla
" Nenek baik-baik saja kan?" tanya Naina cemas karena neneknya itu belum kunjung keluar dari kamar untuk waktu yang lama.
Kedua gadis kecil itu sudah berdiri di depan pintu kamar Bu Delia. Menunggu sang nenek keluar dari sana.
" Iya, bentar ya " Bu Delia mengambil salah satu pil yang ada di dalam sebuah botol. Ia segera meminum nya bersama dengan segelas air putih yang ada di meja dengan ranjang nya.
Beberapa detik kemudian, Bu Delia keluar dari kamarnya dengan riasan yang lumayan tebal di wajahnya.
" Iya nenek udah siap nih, nenek ambil tas nenek dulu " Bu Delia menyambut kedua cucu nya dengan hangat, senyuman yang penuh kasih sayang dan ketulusan
Berapa lama lagi aku bisa melihat mereka? ya Allah.. kuatkan aku.
" Oh gitu, kita kirain nenek kenapa-napa di dalam. Soalnya nenek lama banget " gumam Kayla
" Iya sayang, nenek tadi nyari dulu tas yang cocok buat baju nenek hari ini. Biar serasi " Bu Delia tersenyum cerah
" Nenek, tumben nenek dandan?" tanya Naina heran
" Kenapa Nai? nenek jelek ya?" Bu Delia memegang pipinya
Semoga mereka tidak curiga deh.
" Enggak, nenek cantik kok lebih bercahaya kalau dandan seperti ini. Tapi tidak dandan juga cantik kok nek " jelas Naina memuji nenek nya itu.
" Makasih sayang sayangku, yuk kita berangkat ya "
Bu Delia menggandeng kedua cucu perempuan nya itu. Mereka sudah bersiap untuk pergi ke taman hiburan, sesuai yang sudah direncanakan. Bi Inah juga ikut ke taman hiburan, untuk membantu Bu Delia menjaga anak-anak.
Di sepanjang perjalanan kedua gadis kecil itu bernyanyi dengan riang, sementara Kelvin masih seperti biasanya dan tidak bereskpresi.
π΅π΅π΅
Naik, naik ke puncak gunung
Tinggi, tinggi sekali
Naik, naik ke puncak gunung
Tinggi, tinggi sekali
Kiri, kanan, kulihat saja
Banyak pohon cemara
Kiri, kanan, kulihat saja
Banyak pohon cemara
πΆπΆ
Kedua gadis kecil itu menyanyi dengan semangat dan riang. Hanya Kelvin saja yang cuek.
" Kelvin, kok kamu tidak ikut menyanyi seperti adik adik mu?" tanya Bu Delia pada Kelvin
" Malas nek, aku tidak suka menyanyi " jawab Kelvin malas
" Kamu ini benar-benar mirip dengan Papa mu waktu kecil, dia selalu bilang tidak suka bernyanyi. Tapi nyatanya papa mu memiliki suara yang bagus " Bu Delia bercerita tentang Bryan
" Benarkah nek?" tanya Kelvin mulai tertarik tentang Papa nya, tapi di depan Papa nya ia sangat cuek seperti musuh
" Iya, kamu penasaran bagaimana Papa mu saat masih kecil? " Bu Delia tersenyum senang melihat ketertarikan Kelvin tentang Bryan, ayahnya.
Di sepanjang perjalanan menuju taman hiburan, Bu Delia menceritakan tentang Bryan di masa kecilnya. Cerita yang lumayan cukup mengenang masa lalu Bu Delia saat ia harus mengurus kedua anak nya yang masih kecil-kecil tanpa seorang suami. Karena ayah Bryan, Fahri Alfarezi Aditama meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat.
Kelvin menikmati cerita dari neneknya tentang masa Papa nya. Bahkan Kelvin sampai tertawa tawa oleh neneknya.
" Oh ya, nek jangan bilang-bilang ya kalau aku nanyain tentang Papa " kata Kelvin
" Iya nenek gak akan bilang "
Bahkan sikap jaim nya pun sama dengan Bryan.
" Aku mau bilang bilang ah, kalau kak Kelvin kepo tentang Papa " goda Naina pada kakak nya itu
" Oh kamu berani ya? nanti aku bilangin Mama loh kalau kamu yang masukin baju seksi ke koper Mama" Kelvin tersenyum licik
" ah? kok kakak bisa tau?" Naina terpana
Bu Delia juga tercengang karena ia mendengar kalau Kelvin mengetahui rencana nya dan Naina.
" tentu saja, kamu kan bodoh. Aku bisa tau siasat mu dengan mudah " Kelvin tersenyum
" Dasar! siapa yang Kakak panggil bodoh? Nenek, lihat kakak memanggilku bodoh " Naina merengek pada neneknya itu, dengan wajah yang sedih merasa tertindas
" Kak Kelvin jahat sama kak Naina nek " ucap Kayla yang juga ikut-ikutan menyalahkan Kelvin
" Kalian yang buat masalah, kenapa aku yang disalahkan?" Kelvin cuek dan datar menanggapi kedua adiknya itu
" haha kalian ini, sudah jangan bertengkar lagi ya " Bu Delia tertawa melihat kelakuan cucu cucu nya yang menggemaskan itu. Dalam hatinya Bu Delia memuji ketiga cucu nya yang pintar dan cerdas. Terutama Kelvin, yang sikapnya terlihat seperti orang dewasa dan dia adalah sosok yang pengertian.
Suamiku, seandainya kamu masih ada disini dan melihat cucu cucu kita.
" Nyonya besar, kita sudah sampai " ucap Pak Maman ( supir bu Delia )
Bu Delia, Bi Inah dan ketiga cucu Aditama turun dari mobil. Mereka sampai di depan pintu gerbang taman hiburan, Bi Inah membeli tiket masuk di loket pembayaran.
Tak lama setelahnya mendapatkan tiket, Bu Delia, Bi Inah, si kembar dan Kayla masuk ke area taman hiburan. Kayla dan Naina langsung memburu komedi putar, akhirnya Bu Delia dan Kelvin juga ikut naik komedi putar bersama. Tak lupa Bu Delia mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel nya. Bu Delia banyak mengambil gambar ketiga cucu yang sangat ia sayangi sama rata itu.
Mereka bersenang-senang hampir setengah hari di taman hiburan. Kayla dan Naina yang paling bersemangat, mereka seperti tidak pernah lelah.
" Nenek, aku sama Kayla mau naik mobil mobil-mobilan yang ada disana itu ya " rengek Naina
" Ya ya boleh, tapi nenek gak akan ikut ya. Nenek lihat aja disini "
Anak-anak ini tenaga nya sungguh tidak ada habisnya. Kepalaku sudah sangat pusing, padahal aku sudah minum obat.
" Nenek baik-baik saja kan?" tanya Kayla cemas
" Iya nenek gak apa-apa, nenek cuma mau duduk disini aja istirahat sebentar. Kelvin, kamu mau naik juga?"
"Iya nek, aku mau balapan bom-bom car sama Naina dan Kayla " Kata Kelvin
" Ya sudah, hati-hati yang kalian " ucap Bu Delia pada ketiga cucunya itu.
" Iya nek siap!" jawab Si kembar dan Kayla kompak
Ketiga cucunya berlari menuju ke tempat bermain Bombom car. Mereka di bantu oleh salah seorang petugas saat akan menaiki Bombom car nya.
" Nyonya besar, apa perlu saya temani mereka?" tanya Bi Inah
" Tidak usah ,kamu disini saja dan cukup awasi mereka. Aku akan pergi ke kamar mandi sebentar "
Bu Delia beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba saja dari hidungnya mengeluarkan darah.
CLAK
CLAK
Darah itu menetes dari hidungnya, Bu Delia segera berlari ke arah kamar mandi terdekat yang ada disana. Bu Delia membersihkan darah di hidungnya, dan mengusap make up yang ada di wajahnya karena sudah berantakan. Wajah pucat nya kini terlihat jelas. Bu Delia teringat saat ia bertemu dokter sebulan yang lalu.
#FLASHBACK
1 bulan yang lalu, satu hari setelah pernikahan Alma dan Bryan.
Pada suatu pagi, Bu Delia merasakan tubuhnya demam dan menggigil, bahkan mual dan muntah yang tidak tertahankan. Terlebih lagi ia sering merasakan sakit kepala, tubuhnya mudah lelah.
Bu Delia pun memeriksakan dirinya ke pada dokter pribadinya, yaitu Dokter Haris secara diam-diam tanpa sepengetahuan kedua anaknya.
" Dokter, jadi bagaimana hasil pemeriksaan kesehatan saya?" tanya Bu Delia sembari duduk di kursi yang ada di depan dokter Haris.
" Saya tidak bisa menyimpulkan kondisi Bu Delia untuk sekarang. Bu Delia harus menjalani pemeriksaan darah terlebih dahulu untuk memastikan nya " jelas Dr. Haris dengan wajah yang cemas
" Baiklah, boleh saja. Tapi, jika saya harus di tes darah apakah penyakit saya cukup parah?" tanya Bu Delia
" Saya khawatir dari gejala yang di rasakan oleh Bu Delia adalah gejala kanker "
" Iya, Bu Delia. Tapi ini baru asumsi saya saja, jika Bu Delia ingin diagnosis lebih jelas mari lakukan pengujian darah "
Bu Delia setuju dengan saran Dr. Haris untuk melakukan tes darah. Setelah beberapa hari dari melakukan tes darah, Bu Delia kembali ke rumah sakit untuk bertemu Dr. Haris dan mengambil hasil tes nya.
Hari itu Dr. Haris tampak tegang, tidak santai seperti biasanya. Seperti nya ia sudah tau kalau hasil tes Bu Delia tidak baik.
Bu Delia membuka pintu ruangan Dr. Haris, dan masuk ke dalam ruangan itu.
" Selamat siang Dr. Haris " sapa Bu Delia kepada Dr. Haris
" Bu Delia sudah datang, silahkan duduk " Dr. Haris mempersilakan Bu Delia untuk duduk di kursi yang sudah tersedia di depannya.
Bu Delia duduk di kursi, begitu pula dengan dokter Haris, mereka duduk berhadapan. Dr. Haris menyerahkan sebuah amplop yang berisi laporan hasil pengujian darah Bu Delia.
" Dokter bagaimana hasil tes nya?" tanya Bu Delia
" Anda bisa membuka nya sendiri, nanti saya akan menjelaskan nya "
Bu Delia membuka surat yang ada di dalam amplop itu,ia membacanya dengan seksama. Membaca dengan waktu yang cukup lama, memastikan apa yang ia lihat itu benar.
" Saya benar-benar positif leukimia, dokter?" suara Bu Delia mulai meninggi, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat
" Benar Bu Delia, kanker nya sudah stadium akhir " ucap Dr. Haris dengan wajah sedih
Deg!
Jantung Bu Delia serasa berhenti saat mengetahui kenyataan pahit tentang penyakit nya. Rasanya ia ingin menangis, dan kesal. Kenapa ia harus mendapatkan penyakit seperti ini di saat keluarga nya sedang asyik memetik buah kebahagiaan?
Dr. Haris menjelaskan bahwa Bu Delia harus menjalani kemoterapi dan memberitahukan kepada keluarga nya tentang kondisi nya. Namun, Bu Delia melarang Dr. Haris memberitahukan tentang penyakit nya pada anak-anak nya.
Ibu paruh baya itu malah bertanya tentang berapa lama ia hidup dan bagaimana proses penyembuhan nya.
" Berapa lama saya hidup dokter? berapa lama saya bisa bertahan? " tanya Bu Delia sedih
" Bu Delia, mohon maaf tapi saya bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang."
" Saya meminta analisis anda sebagai seorang dokter, bukan nya saya mengira anda sebagai Tuhan! tolong katakan saja dokter Haris !" ujar Bu Delia tegas, tangannya terkepal erat
" Dengan kondisi Bu Delia saat ini, karena sel kanker sudah menyebar ke seluruh organ dalam Bu Delia. Mungkin hanya tinggal satu bulan lagi " jelas Dr. Haris pada Bu Delia, karena kanker Bu Delia bukan lagi stadium awal tapi stadium akhir, tentu saja kondisi nya lebih buruk.
Bu Delia berusaha tenang, dan ia memiliki positif thinking yang tinggi bahwa ia akan sembuh. Namun setelah menjalani kemoterapi secara diam-diam dengan Dr. Haris, keadaan Bu Delia malah semakin memburuk. Akhirnya Dr. Haris memvonis bahwa hidup Bu Delia tidak akan lama lagi, kankernya sudah terlanjur menyebar meski sudah melakukan terapi.
Bu Delia pun hanya pasrah pada takdir Tuhan, berapa lama Tuhan akan memberikan nya waktu melihat kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Ia tidak mau menghancurkan kebahagiaan keluarga nya dengan penyakit nya dan memilih menyembunyikan penyakit nya sendiri.
Dan setelah kemoterapi tidak diterima oleh tubuh nya, Bu Delia hanya bergantung pada obat-obatan nya dan menunggu kapan ajal akan menjemputnya. Bukannya Bu Delia menyerah, tapi ia merasa memang pantas mendapatkan nya, ia pasrah dengan semuanya.
#ENDFLASHBACK
Bu Delia memuntahkan semua isi perutnya. " Uwekk...uwekk.. "
Setelah beres dengan urusannya di kamar mandi..
" Ini adalah hukuman untukku dari Tuhan, semoga dengan sakit ku ini bisa menebus semua dosaku di masa lalu. Aku hanya ingin pergi dengan tenang tanpa meninggalkan luka untuk mereka semua yang kucintai. Dengan waktu ku yang tersisa aku akan memanfaatkan nya dengan baik "
Bu Delia tersenyum memandangi dirinya di dalam cermin, ia menahan sakit didalam tubuhnya sekuat tenaga.
Hanya tinggal beberapa hari lagi dari perkiraan dokter Haris. Aku harus semangat.
Bu Delia kembali memolesi wajahnya dengan make up yang tebal agar wajahnya tidak terlihat pucat.
***
Bu Delia kembali dari kamar mandi, kemudian melihat ketiga cucunya sedang duduk di kursi dan memakan eskrim.
" Nenek, nenek darimana saja? nenek lama sekali" kata Naina cemas
" Nenek habis dari kamar mandi, ada apa sayang?" tanya Bu Delia
" Kami beli ini buat nenek " kata Kayla sambil menyerahkan sebuah gelang rajutan berwarna pink
" Wah, gelangnya bagus sekali" Bu Delia tersenyum melihat gelang yang diberikan oleh Kayla
" Mau Naina pakaikan nek?" tanya Naina
" Boleh sayang " jawab Bu Delia sambil tersenyum
Naina memakaikan gelang berwarna pink itu ke tangan kiri neneknya dengan perasaan senang.
" Yee.. gelang kita samaan deh " Kayla menunjukkan tangannya yang ada gelang sama dengan gelang yang dipakai Naina dan neneknya itu
" Iya sekarang kita couple an deh " Naina juga senang dengan gelang yang samaan itu
" Loh loh, kenapa Kelvin tidak memakai gelangnya juga?" tanya Bu Delia sambil melihat ke arah Kelvin yang hanya memegang gelang berwarna pink itu
" Masa aku pakai gelang warna pink seperti ini, aku kan bukan cewek " gerutu Kelvin
" memangnya cewek aja yang pake gelang pink? kamu ada ada saja deh Kelvin "
" tau tuh nek, kak Kelvin gak asik " ucap Naina
" Huh kalian para wanita itu ribet dan nyebelin " ucap Kelvin " Bukan nenek, tapi kedua gadis kecil ini "
" Hahaha " Bu Delia hanya tertawa kecil mendengar keributan ketiga cucunya itu.
Hari pun sudah sore, si kembar dan Kayla sudah kenyang makan dan bermain di taman hiburan itu. Mereka pun bersiap untuk pulang.
***
Kelvin terlihat cemas melihat wajah neneknya yang berkeringat, bahkan riasan nya pun hampir luntur.
" Nenek, apa nenek sakit?" tanya Kelvin
" APA?! Si-siapa yang sakit?" tanya Bu Delia dengan mata yang tercengang
kenapa reaksi nenek seperti itu? nenek sangat kaget. Kelvin yang selalu peka dengan keadaan sekitar nya, merasa kalau ada yang salah pada neneknya.
" Iya nenek, soalnya wajah nenek keringatan banyak. Riasan nenek juga mulai luntur " ucap Kelvin
" Iya nek, hari ini juga nenek banyak ke kamar mandi. Apa nenek sakit perut? " tanya Naina cemas
" Nenek gak apa-apa kok hehe " jawab Bu Delia tersenyum santai " Nenek cuma kecapean aja kok "
Kelvin menatap neneknya itu dengan curiga dan penuh pertanyaan di kepalanya. Apa yang terjadi pada neneknya itu.
πππ
Di pantai Hawai..
Malam itu Alma dan Bryan duduk di dekat api unggun, menikmati langit malam penuh bintang. Alma bersandar di bahu suaminya, berada di dalam dekapannya.
" Bry..
" Hm..
" Ayo kita pulang besok " jawab Alma
" Apa? ini baru dua hari kita disini, dan 3 hari itu plus perjalanan kita. " Bryan heran
" Aku merasa sesuatu yang tidak nyaman, dan aku pikir kita sudah cukup bulan madu nya " kata Alma
" Kamu merasa tidak nyaman soal Mama?"
" Iya, entah kenapa aku merasa sikap Mama agak aneh. Aku takut terjadi sesuatu, kita pulang besok ya " Alma membujuk suaminya
" Baiklah, tidak baik juga meninggalkan pekerjaan kita terlalu lama disana. Anak-anak juga pasti sudah kangen pada kita. " jelas Bryan setuju
Alma seperti nya benar, ada yang aneh dengan Mama.
" Iya kamu benar. Bry, aku ngantuk mau tidur "
" Kamu belum makan malam, kita makan dulu ya. Aku akan memanggang daging ayam yang sudah ku siapkan. Mari kita makan daging ayam kecap "
Ketika Alma dan Bryan sedang berbahagia dengan bulan madu mereka. Ada Andre yang menderita karena harus begadang setiap harinya menghandle pekerjaan Bryan.
" Pak Presdir! kapan anda pulang? saya bisa mati nih " Andre merebahkan dirinya di meja, matanya hitam ditambah tumpukan kertas terus bertambah setiap harinya
...---***---...