
🍂🍂🍂
Di sebuah mobil yang melaju, terlihat Bryan dalam kondisi terikat, matanya ditutup kain dan ia di bopong oleh orang-orang suruhan Ken keluar dari mobil itu. Mereka menuju ke salah satu rumah yang jauh dari jalan raya, letaknya ditengah hutan dan sepi dari penduduk.
Aku yakin, tadi malam aku naik pesawat. Itu artinya aku tidak berada di Singapura lagi. Lalu dimana aku sekarang?
Tubuh Bryan di lempar dengan kasar oleh seseorang yang membopongnya. Mereka mengikat Bryan di sebuah kursi dengan sangat kencang. Sampai pergelangan tangan Bryan memerah dan berdarah, saking kencangnya tali yang mengikat tubuhnya itu.
Tali ini terlalu kencang. Mereka juga terlalu banyak. Dimana Andre dan yang lainnya? mereka pasti tau aku hilang dan sedang mencari ku, bukan?. Pikir Bryan di dalam hatinya
Seseorang membuka kain yang menutup mata Bryan. Bryan mulai membuka matanya, ia melihat seorang pria tua berdiri di hadapan nya. Ada kumis tipis di atas bibirnya, pria tua itu tersenyum pada Bryan.
Bryan tampak terkejut melihat pria tua yang berada di hadapan nya itu. Ia juga melihat sekeliling nya dan yakin kalau ia berada di negara nya sendiri. Dari pepohonan yang terlihat di kaca ruangan yang sempit itu.
" Kenapa kamu melihatku begitu? kamu mau bicara?" tanya pria tua yang sebelumnya terlihat bersama Ken. Kemudian pria tua itu membuka kain yang menyumpal mulut Bryan.
" Om.. om Wildan ??" tanya Bryan pada Wildan
" Iya ini om mu, adik Papa mu " jawab Wildan dengan senyuman sinis di wajahnya
" Apa om ada hubungannya dengan Ken? Apa om Wildan orang dibalik semua ini?" tanya Bryan pada om nya itu
" Benar, aku tidak mau berbelit belit lagi. Bagaimana rasanya bertemu dengan saudara kembar mu yang sudah lama dianggap mati oleh keluarga Aditama? atau bagaimana rasanya ketika saudara kembar mu menatapmu penuh kebencian Bryan? " tanya Wildan dengan tatapan sinis nya, pria itu itu duduk di depan kursi yang ada di hadapan Bryan.
" Jadi dia benar-benar Ken? adikku masih hidup. " gumam Bryan merasa lega karena Ken adalah adiknya yang sudah lama dianggap mati. Namun, kenapa Ken masih hidup? dan bagaimana Ken bisa selamat dari kecelakaan yang menimpa nya itu?
" Kamu kaget kan? adikmu masih hidup karena aku yang menyelamatkan nya, karena kalian yang membuang nya " kata Wildan
" tidak! kami tidak pernah membuangnya, kami kehilangan nya. Kami berfikir kalau Ken sudah tiada!"
Wildan tersenyum, ia pun mengakui semua nya dihadapan Bryan kalau ia menggunakan Ken sebagai alat untuk balas dendam kepada keluarga Aditama.
Bertahun-tahun yang lalu Wildan adalah anggota keluarga Aditama, adik dari Papa Bryan.
Namun, Wildan melakukan kesalahan di perusahaan yang menyebabkan kerugian besar, ditambah lagi skandal nya dengan wanita yang ada dimana-mana. Membuat Wildan dikeluarkan oleh Pak Hardi dari kartu keluarga dan hanya mengakui Papa Bryan sebagai ahli warisnya. Karena itu Wildan merasa dendam dan tidak terima dengan keputusan Pak Hardi.
Saat Laura, Bryan dan Ken masih kecil, Wildan berusaha meracuni pikiran mereka tentang pak Hardi dan keluarga Aditama yang lain. Menebarkan kebencian pada anak-anak kakak nya itu. Akan tetapi upaya nya tidak berhasil pada Laura dan Bryan. Ken lah yang terprovokasi oleh Wildan, menumbuhkan rasa iri di dalam hati Ken untuk saudara kembarnya Bryan.
Ken merasa kalau ia dan Bryan dibedakan oleh kedua orang tua mereka. Bryan selalu unggul segalanya dari Ken, dalam hal kecerdasan dan popularitas, Bryan selalu lebih unggul dari saudara kembarnya itu meskipun wajah mereka sangat mirip. Hal itu membuat Ken merasa insecure terhadap saudaranya.
Dari sanalah permasalahan muncul, Wildan yang dendam pada kakak nya menambahkan api ke dalam kompor hingga api itu membesar dan memanas. Sehingga membuat Ken semakin membenci Bryan dan iri padanya. Lalu Wildan dengan sengaja membuat Bryan dan Ken terjebak dalam sebuah kecelakaan mobil bersama ayah mereka.
Kekecewaan di rasakan Ken saat ia melihat ayahnya menyelamatkan Bryan lebih dulu daripada dirinya. Dan disana lah Wildan berperan sebagai pahlawan yang menyelamatkan Ken, memupuk rasa kebencian di hati Ken yang saat itu baru berusia 6 tahun dan menjadikan nya alat balas dendam.
" Jadi, kecelakaan Papa semua ini om yang merencanakan nya? om sudah gila ya? papa ku itu adik nya om!"
Pantas saja Ken berkata seperti itu, dia merasa telah dibuang oleh kami. Aku harus menjelaskan semua nya padanya, bahwa dia salah paham selama ini.
Bryan sedih mengetahui kenyataan pahit yang diceritakan oleh om nya itu. Seandainya ia masih menggenggam ponsel disampingnya, ia akan merekam semua pembicaraan om nya yang sudah gila itu. Ternyata semua kemalangan yang menimpa dirinya, Ken dan Papa nya di masa lalu adalah ulahnya. Bryan ingin sekali membunuh orang yang ada dihadapannya itu, tapi ia tak berdaya.
" Kamu terkejut kan Bryan? sifat kamu sama seperti Papa mu, dan aku membencimu !" seru Wildan dengan penuh amarah dan dendam
" Om, om katakan saja apa mau om sebenarnya! dan lepaskan aku dari sini, anak dan istriku pasti sedang menungguku ! mungkin juga mereka mencari ku !" seru Bryan sambil berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya.
" Anak dan istri mu menunggu kamu? oh aku tidak yakin kalau mereka menunggu mu atau mencari mu. Kamu kan ada disana, jadi mana mungkin mereka menunggu mu " Wildan tersenyum licik, ia puas melihat Bryan tak berdaya di depannya.
" Apa maksud om?" tanya Bryan tak mengerti
Wildan menunjukkan foto Alma sedang bersama dengan copy an dirinya di dalam rumah. Bryan kaget karena Ken melakukan hal senekat itu untuk balas dendam. Bryan semakin marah pada Wildan, ia bahkan sampai bersumpah untuk membunuhnya.
Bryan tidak menyangka ternyata musuhnya adalah keluarga nya sendiri. Jika ia tau sejak awal semuanya akan berbahaya, ia tidak akan bertindak bodoh dan pergi ke Singapura dengan gegabah. Sekarang hatinya semakin cemas dengan keselamatan Alma dan si kembar, juga bayi yang ada di perutnya.
Alma, Kelvin, Naina semoga kalian menyadari kalau yang disana bukan Papa tapi orang lain. Kalian pasti akan menyadarinya. Semoga kalian baik-baik aja, Ken tolong jangan sakiti istri dan anak-anakku. Kamu hanya salah paham. ucap Bryan di dalam hatinya penuh harapan
...🍂🍂🍂...
2 hari sudah berlalu sejak Ken berakting sebagai Bryan. Mau berusaha sekeras apapun Ken menjadi Bryan, pasti akan terlihat perbedaan nya dari dekat. Dari mulai hal-hal kecil, apalagi Kelvin yang mulai curiga dengan perubahan pria yang wajahnya mirip dengan Papa nya itu.
Selama 2 hari itu Ken tidak pergi ke kantor seperti biasanya Bryan yang selalu berangkat bekerja dalam kondisi apapun dan selalu semangat. Ken hanya asyik bermalas-malasan di rumah, ia sengaja tidak pergi ke kantor agar tugas-tugas Bryan semakin menumpuk dan Bryan akan terkena sidang pemegang saham.
Siang itu, Alma berusaha berbicara dengan Ken yang sedang duduk di sofa dan menonton TV.
" Sayang, kamu tidak akan berangkat bekerja lagi hari ini?" tanya Alma sambil menyimpan segelas kopi di meja
" Kenapa? katanya aku disuruh istirahat di rumah, apa kamu tidak suka aku di rumah?" tanya Ken sambil merokok, ditambah lagi dengan kaki nya yang terangkat di meja. Asap rokok itu sampai terhirup oleh Alma dan membuatnya batuk.
" Bukannya gitu sayang, sudah terlalu lama kamu meninggalkan kantor.. Uhuk uhuk.. sayang kenapa kamu merokok lagi ? merokok kan tidak baik untuk kesehatan dan juga .. "
Sudah bertahun-tahun Bryan meninggalkan kebiasaan nya merokok dan minum minuman keras, Alma tau itu. Dan sekarang Alma merasa heran karena semenjak pulang dari Singapura suaminya berubah seperti orang lain. Alma sedih karena sudah 2 hari ini Ken bersikap kasar padanya, bahkan tidak mengelus perutnya lagi seperti biasanya.
" Heh! kamu cerewet sekali ya. Mau aku merokok, mau aku tidak merokok terserah aku lah !" Ken mematikan rokoknya, lalu memegang tangan Alma dengan kasar dan erat.
Ini sangat sulit, aku lelah berakting sebagai suami yang baik. Sekarang aku mau berakting sebagai suami yang jahat saja. Aku akan menghancurkan reputasi Bryan di depan semua orang, agar semua orang membencinya
" Auww!! Bryan.. sa-sakit, tanganku sakit.. lepaskan !" ujar Alma kesakitan
Ada apa dengan Bryan? ya Allah, suamiku seperti bukan dirinya.
Ken melepaskan genggaman tangannya yang kasar itu, lalu mendorong Alma sampai jatuh ke lantai. Wanita hamil itu sampai memegang perutnya karena takut bayinya kenapa-napa. Bi Asih melihat semua itu, lalu menolong Alma.
" Nyonya, nyonya tidak apa-apa?" tanya Bi Asih khawatir.
Kenapa tuan tiba-tiba berubah?
" Uh.. iya, aku tidak apa-apa " jawab Alma sambil melihat Ken yang menatapnya.
Bryan, kenapa kamu seperti ini? kenapa?. Alma sakit hati dengan perlakuan Ken yang ia anggap sebagai Bryan, suaminya.
Ken! jangan kasihan padanya, jangan. suara hati Ken
Dalam hatinya Ken ingin menolong Alma, namun ia mengurungkan niatnya. Ken mengambil jaket nya lalu pergi begitu saja dari rumah itu dengan mobil Bryan.
Alma berusaha mengejar nya, tapi Ken sudah pergi jauh. Bi Asih mencemaskan Alma yang akhir-akhir ini sering diperlakukan kasar oleh Ken.
" Bryan! Bryan kamu mau kemana! Bryan!" teriak Alma emosi melihat Ken pergi begitu saja.
Bryan kenapa kamu berubah? kenapa kamu melakukan ini lagi padaku?!!. Teriak Alma di dalam hatinya sedih
Alma berlari dengan tubuh beratnya itu sampai ke jalanan, tapi mobil suaminya sudah sangat jauh dari jangkauan nya. Bi Asih dan satpam di rumah itu menyusul nya karena cemas.
" Nyonya, nyonya ayo kita kembali ke rumah. " ucap Bi Asih sambil membantu Alma yang terduduk di aspal itu untuk berdiri.
" Iya nyonya, nyonya terlihat lelah " ucap Satpam rumahnya yang bernama pak Joko
" Tidak, aku harus menyusul Bryan. Aku yakin ada sesuatu yang membuatnya berubah. Bi Asih ambilkan kunci mobilku ku, cepat !" ujar Alma sambil mengatur napasnya
" Tapi nyonya.. keadaan nyonya sekarang.." Bu Asih tampak cemas melihat kondisi Alma.
" Ambil kunci mobilku!" teriak Alma menahan amarahnya di hatinya yang akan membludak.
Apa kamu melakukan ini karena kamu bosan padaku? kamu memiliki wanita lain? atau kamu tidak mencintai ku lagi? Aku akan melihatnya sekarang juga! Bryan, kesempatan ku untukmu tinggal tersisa sedikit lagi.
Bi Asih akhirnya menurut saja dan mengambil kunci mobil di dalam rumah. Segera setelah kunci mobil berada di tangannya, Alma menyetir sendiri mengikuti mobil Ken. Ia melajukan mobilnya dengan cukup kencang.
Bi Asih yang khawatir dengan keadaan Alma, segera menelpon seseorang untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.
****
.
.
Theo yang baru saja dari ruang guru, melihat Naina dan teman-teman nya di taman.
Wah, Naina semakin bersinar saja. Dia sangat cantik, kalau dia sudah dewasa dia pasti makin cantik. Aku bisa tenang deh, kan aku sudah melamarnya. ucap Theo di dalam hati nya, Naina sudah memesona dirinya.
" Apa apaan kamu melihat adikku seperti itu?!" Kelvin memegang bahu Theo, menatap pria berkacamata itu dengan tajam
" Ma-maaf aku tidak sengaja lewat kesini dan melihat nya. Aku mau menyapanya saja " jawab Theo gelagapan
" Heh! jangan macam-macam pada adikku ya, tarik kembali perkataan mu tentang lamaran itu. Pikirkan saja belajar, kamu masih kecil " ucap Kelvin menasehati Theo
Perasaanku, aku kan lebih tua dari nya. Tapi kenapa aku merasa sedang di nasehati oleh orang dewasa?
" Hey! kenapa kamu bengong saja? jawab aku, kamu tidak boleh dekat-dekat lagi dengan adikku. Kalau kamu masih main kata lamar lamaran itu. Kamu harus bertingkah sesuai umur mu. Paham?!" ucap Kelvin sambil menyilangkan tangannya di dada
" Lalu apa kamu juga bersikap sesuai umurmu? kamu seperti orang dewasa." gumam Theo
" Kamu bilang apa?" tanya Kelvin tajam
" ah tidak ,aku tidak bilang apa-apa " jawab Theo sambil nyengir
Mampus aku, kakak ipar ku di masa depan sangat mengerikan!
Naina dan Nisa melihat Theo yang ada di lorong, mereka pun menyapa Theo dan Kelvin yang kebetulan juga sedang bersama Theo.
" Kak Theo, hai !" kata Naina ramah
" Hai peri cantik " jawab Theo sambil melambaikan tangannya
" Kelvin, hai " sapa Nisa pada Kelvin
" Eh.. iya " jawab Kelvin dingin. Nisa langsung cemberut melihat tanggapan Kelvin yang dingin padanya.
" Kak Theo lagi jam istirahat ya? kita main lompat tinggi yuk. Ada anak cowok juga kok " ajak Naina sambil memegang tangan Theo dengan semangat
" Eh.. ehm.. "
Kenapa aku merasa aliran listrik disini?. Theo merasa berdebar saat Kelvin menatapnya
Kelvin menatap tajam ketika tangan adiknya bergandengan dengan tangan Theo. Kelvin langsung menarik tangan Naina dari Theo.
" eh kakak, apa-apaan sih? gak sopan tau gak. Aku lagi mau ajak sahabatku main " keluh Naina pada kakak nya itu.
" Sahabat?" tanya Kelvin
" Iya, kakak gak tau ya kalau kak Theo sama aku udah jadi sahabat.. Cincin yang kak Theo kasih ke aku waktu itu adalah tanda persahabatan kami " jelas Naina polos
" Sahabat ya? bagus deh kalau cuma sahabat " tiba-tiba saja raut wajah Kelvin berubah menjadi cerah saat mendengar Naina mengakui Theo sebagai sahabatnya.
Sahabat? rasain tuh cuma dianggap sahabat. Adikku memang benar-benar polos.
Sementara itu Theo terdiam, seolah ia sudah mendapatkan penolakan secara langsung dari Naina. Mereka hanya sebatas sahabat, dan Naina menganggap cincin itu adalah tanda persahabatan mereka.
" Apa aku salah? Kak Theo sahabatku kan?" tanya Naina pada Theo serius
Aku harus jawab apa nih. Sebenarnya niatku yang mau menikah dengannya itu serius, tapi dia menganggap ku sebagai sahabat saja. Tapi, kalau aku jawab aku bukan sahabatnya, Naina pasti menjauhi ku kan? tidak apa, asalkan bisa dekat dengan Naina sebagai sahabat juga tidak masalah. Lagipula kalau sudah dewasa nanti, papa bisa bantu aku melamar Naina.
" Iya kita sahabat!" jawab Theo sambil tersenyum
" Kalau sebagai sahabat, aku setuju kamu mendekati Naina " Kelvin berbisik pada Theo, ia tersenyum menang.
" Haa.?" ucap Theo pada Kelvin dengan wajah yang bingung
" Hehe, kak Theo dan Kak Kelvin semakin akrab saja deh " ucap Naina melihat keduanya yang bicara sambil berbisik-bisik
Ya ampun Naina, orang musuhan disangka akrab. Batin Nisa sambil tertawa kecil melihat kepolosan temannya itu
Theo pun mengikuti Naina dan Nisa untuk bermain lompat tinggi bersama anak-anak kelas 1 lainnya.
Sementara Kelvin melakukan kegiatan rutinnya saat jam istrinya sekolah, ia membaca buku di lorong yang sepi dan jauh dari keramaian anak-anak lainnya Kelvin juga memikirkan sikap Papa nya yang akhir-akhir ini berubah.
" Kenapa akhir-akhir sikap Papa berubah? terlihat seperti bukan Papa? apa yang terjadi? apa benar Papa mulai bosan pada Mama atau kembali ke kebiasaan lamanya menjadi Playboy? itu tidak mungkin, Papa sangat mencintai Mama dan tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan terakhir nya. Lalu kenapa? apa yang salah sebenarnya disini?" gumam Kelvin kebingungan, rasanya ia tak percaya kalau Papa nya akan berubah dalam satu hari.
Dan setelah Kelvin ingat-ingat lagi, Bryan berubah saat ia pulang dari Singapura. " Pasti ada sesuatu yang terjadi di Singapura, aku harus menghubungi sekretaris Papa dan sahabat Papa dokter Ian, juga om Mike untuk memastikan ini !"
" Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Keira pada Kelvin yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Kelvin kaget melihat gadis itu sampai menjatuhkan buku yang sedang dipegangnya itu.
" Astagfirullah!"
Dia lagi?
" Kenapa kamu kaya lihat hantu aja? ini aku teman sebangku kamu " ucap Keira
" Habisnya kamu kaya hantu, muncul gak tau dari mana. " ucap Kelvin ketus seperti biasanya
" Ternyata kamu suka kesini juga ya " Keira tersenyum ramah pada Kelvin
Kelvin bingung melihat gadis yang terlihat seperti penguntit itu terus bersikap ramah padanya padahal ia selalu bersikap ketus dan dingin padanya. Keira selalu menawarkan pertemanan pada Kelvin, dan selalu ditolak oleh Kelvin. Tapi gadis kecil itu tidak menyerah dan terus mendekati Kelvin.
" Hey, kamu mau kemana? kamu tidak marah melihat gebetan kamu lagi sama anak lain?" tanya Keira sambil mengekori Kelvin yang melangkah pergi.
Ternyata dia masih belum tau kalau aku sama Naina adik kakak. Bodoh, bodohnya sama kaya Naina. Apa? enggak ah mereka beda!. Diam-diam Kelvin tersenyum tipis
" Kamu cerewet sekali! lebih baik kamu belajar saja, nilai mu kan paling jelek di kelas !" Kelvin memukul kan buku pelan-pelan ke kepala Keira
BUK
" Uh sakit! iya sih nilai ku jelek, tapi gak usah bilang gitu juga kali" gerutu Keira kesal " Tapi, aku senang loh kamu perhatikan juga sama aku " Keira tersenyum
" Apa? perhatian? idih, siapa yang perhatian sama kamu? aku cuma tidak mau di suruh Bu Guru mengajarkan kamu lagi. Makanya kamu harus belajar yang rajin, kamu hanya malas saja " Kelvin menasehati Keira
" Jadi kamu tidak berfikir aku bodoh? padahal semua orang memanggilku bodoh. "
" Tidak ada orang yang bodoh, dan tidak ada orang yang pintar. Yang ada adalah orang yang rajin dan malas, pilihan nya tergantung kamu. Mau jadi orang yang malas atau rajin " jelas Kelvin bijak
Keira mendengarkan nasihat Kelvin baik-baik, melihat Kelvin dengan tatapan yang memesona. Ia seperti nya sudah kagum dalam level tingkat tinggi para teman sebangku nya itu.
" Kelvin, kalau aku masuk peringkat 10 besar kamu harus ngabulin permintaan aku ya!"
" Kamu ngomong apa sih?" tanya Kelvin
" Aku akan belajar yang rajin supaya masuk 10 besar dalam ujian kenaikan kelas ini. "
" Haha, kamu tidak akan bisa " Kelvin tertawa mengejek
" Kamu sendiri yang bilang barusan asalkan berusaha dan rajin pasti bisa. " ucap Keira kesal
" Oke, kalau kamu bisa masuk 10 besar dalam ujian kenaikan kelas. Kamu boleh minta satu permintaan sama aku " kata Kelvin menantang
Jika itu bisa memotivasi Keira untuk belajar, kan bagus juga. Selain dapat pahala, aku juga akan terhindar dari membantunya belajar di kelas yang selalu membuang-buang waktuku.
" Janji ya?"
" Oke janji "
Kelvin dan Keira mengikatkan jari kelingking mereka. Lalu saling melemparkan senyum satu sama lain.
...---***---...