
Axel dan teman-teman nya melarikan diri setelah di buat babak belur oleh Juna dan teman-teman nya. Geng Virsche boys memuji muji Juna yang bisa membuat geng Thanios melarikan diri darinya. Tawuran antara geng Thanios dan geng Virsche boys itu bermula ketika salah satu teman Juna di buat babak belur di wilayah geng Virsche boys dan menyulut kemarahan Thanios.
Apa yang hebat dari pria pria yang bersembunyi di balik geng orang lain seperti Axel dan geng Thanios? Padahal Juna sudah cukup membalas dendam pada Axel dan geng Thanios lainnya yang sudah membuat temannya koma sampai masuk rumah sakit. Namun seperti nya Axel akan terus balas dendam padanya, kemarahannya seperti apa yang menyulut.
"Cih, berandalan itu." gerutu Damar kesal
"Mereka yang mulai duluan, tapi mereka terus menyerang kita. Kita kan hanya membalas apa yang sudah mereka lakukan" kata Bagas tidak senang
"Dasar, si Axel sialan itu suka membesar-besarkan masalah" gerutu Reza tidak senang
"Kali ini gue sudah cukup bersabar dan membiarkan nya masih bisa berdiri dengan kedua kakinya itu. Kalau mereka menyerang lagi Virsche boys, gue perintahkan kalian harus melawan. Kita gak boleh diam aja" jelas Juna dengan mata yang penuh kemarahan
Aku tidak pernah lupa kalau Axel sudah membuat Angga berada dalam keadaan koma.
"Lo benar Jun, seperti nya mereka terutama si Axel bakal menyerang lagi. " kata Damar
"Iya kalau gitu kita juga harus siap" jawab Juna kesal
Juna dan teman-teman nya itu saling mengobati luka-luka yang ada di tubuh mereka terutama luka di wajah. Mereka sangat solidaritas terhadap teman-teman satu geng mereka, jika salah satu ada yang diganggu maka salah satu dari mereka akan bertindak.
***
Keesokan harinya, Naina bersiap-siap memulai belajar di hari pertamanya masuk sekolah. Gadis itu terlihat bersemangat, tapi saat ia memikirkan Juna yang akan menjadi teman sebangku nya ia merasa kesal sendiri.
Alma dan Bryan yang sedang sarapan bersama, melihat kedua anak mereka yang berwajah cemberut tidak seperti biasanya.
"Sayang, ada apa ya sama Naina dan Kelvin?" bisik Alma pada Bryan
"Tidak tau sayang, dari semalam Kelvin sudah gitu. Tapi aku baru lihat pagi ini Naina kaya gitu juga. Menurutmu kenapa sayang?" tanya Bryan
"semalam sih waktu aku tanya pada Kelvin, dia bilangnya baik-baik saja..Cuma lelah karena belajar kelompok" jelas Alma pada suaminya
"Begitu ya? apa bukan karena masalah wanita?" gumam Bryan sambil berfikir
"wanita? apa mungkin Kelvin sudah punya pacar?" bisik Alma pada Bryan, ia sedikit tak percaya kalau Kelvin akan galau karena wanita
Masa sih Kelvin sudah mulai memikirkan wanita? bukannya selama ini temannya hanya laptop dan buku-buku? Batin Alma sambil melihat ke arah anaknya yang sedang cemberut itu.
"Sayang, dengan wajahnya seperti itu mana mungkin kan tidak ada wanita yang tidak tertarik padanya? dia sama kaya aku dulu, populer dan banyak yang suka. Tapi masih lebih tampan aku sih" Bryan tersenyum percaya diri
"Masih sempat-sempatnya kamu narsis di saat seperti ini, ampun deh" Alma tersenyum
"Memangnya menurut kamu, aku tidak tampan?" tanya Bryan
"Kamu tampan"
"Ya kan?" Bryan tampak senang
"Iya. Tapi kamu narsis!"
"Tapi kamu sayang kan?"
"Ya aku sayang" jawab Alma sambil tersenyum
"Aku juga sayang kamu dan anak-anak." Bryan memeluk Alma dengan mesra.
Kelvin dan Naina yang terlihat bad mood itu melihat di depan mereka ada kemesraan yang begitu hangat, manis. Entah kenapa melihat kedua orang tuanya yang sedang bermesraan itu, membuat Kelvin dan Naina merasa kesal.
"Aku seperti jadi nyamuk disini" gumam Kelvin
"Benar kak, aku juga sama. Kakak tidak lihat ada lope lope bertebaran di udara, diantara papa dan mama?" tanya Naina sambil menatap kedua orang tuanya yang sedang berpelukan.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang saja yuk" ajak Kelvin
"Yuk, dasar ! serasa dunia milik berdua saja" jawab Naina dengan wajah muram, dan setengah menggerutu
Aku harus melewati hari-hari ku di kelas, sebangku bersama cowok preman itu. Huh!
Seperti biasanya Albry diantarkan lebih dulu ke sekolahnya sebelum ke sekolah Naina dan Kelvin. Albry berpamitan pada kedua kakaknya itu dengan senyum ceria.
"Belajar yang rajin ya de" kata Naina mengingatkan
"Iya kak" jawab Albry sambil tersenyum
"Hati-hati ya de" kata Kelvin perhatian pada adik bungsunya itu.
"Oh ya kak, aku hampir lupa. Ini buat kakak!" seru Albry sambil menyerahkan sebuah gantungan mobil mainan pada Kelvin.
"Apa ini Albry?" tanya Kelvin
"Kakak waktu itu pernah bilang pengen mobil Ferarri, nih udah aku beliin kak." jawab Albry polos
Maksud ku mobil Ferarri sungguhan. Dasar Albry, lucu sekali.
"Makasih ya Albry" Kelvin langsung memasangkan gantungan itu di tas gendong nya" Kelvin mengelus-elus kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. " Kak Kelvin sama kak Naina berangkat dulu "
"Iya kak, sampai ketemu di rumah ya." Albry melambaikan tangannya pada kedua kakaknya sambil berlari masuk ke dalam sekolahnya.
Kelvin dan Naina tersenyum melihat adik mereka yang gemas. Naina juga bercerita saat di dalam mobil, kalau Albry memberikannya boneka beruang Stoberi yang ia inginkan. Naina sangat senang ternyata Albry tidak hanya menyayangi Kelvin saja, tapi menyayanginya juga.
"Oh ya pak Jeffry, nanti bapak jemput Albry lagi kan?"tanya Naina
"Tidak, saya hanya diminta nyonya untuk menjemput nona sama tuan muda saja. Katanya tuan muda Albry akan dijemput oleh nyonya" jelas Pak Jeffry
"Pantas saja Mama tadi bawa mobil sendiri" ucap Naina
"Nanti hubungi saja ya kalau nona sama tuan muda mau dijemput oleh saya" kata pak Jeffry
"Siap pak" jawab Kelvin dan Naina bersamaan.
...***...
Seperti biasanya, Naina diturunkan di dekat halte bus. Entah kenapa hari itu ia merasa tidak enak hati, seperti ada yang mengganjal hatinya.
"Wah, ini pasti gara-gara si cowok preman itu. Mood ku jadi rusak begini, dan hatiku juga tidak tenang." gumam Naina sambil melangkah menuju ke depan gerbang sekolahnya.
"Naina!"
"Kak Theo?" Naina berbalik dan melihat ke arah belakang.
"Naina kamu baru datang? mana Kelvin?" tanya Theo
"Kak Kelvin udah masuk duluan" jawab Naina
"Jadi kamu mutusin buat nyembunyiin ini lagi?" tanya Theo
"Ya kak, dan kali ini harus berhasil" jawab Naina
"Ya udah kalau itu mau kamu, aku dukung kok" jawab Theo
Saat Naina dan Theo berjalan bersama masuk ke dalam lingkungan sekolah. Ghina CS melihat Naina dengan tatapan sinis, mereka mengira Naina adalah wanita genit yang mengincar cowok-cowok populer di sekolah.
Pada siswi melihat Theo dengan tatapan yang kagum, penampilan Theo berbeda dari biasanya yang selalu memakai kaca mata dan rambut yang selalu di golep. Kali ini Theo hadir ke sekolah dengan tampilan baru yang membuat semua orang takjub terpana kepadanya, terutama pada gadis.
"Wah gila, itu si Theo kan dari kelas XI IPA 1?"
"Ternyata dia ganteng banget ya aslinya"
"Kaya boyband Korea" kata seorang siswi kagum.
Naina tersenyum, ia tak sengaja mendengar pujian-pujian untuk Theo dan penampilan barunya. Namun saat bersama Naina, Theo tidak peduli dengan hal lain kecuali Naina saja. Bahkan saat orang lain menatapnya, ia sangat cuek.
"Kakak, apa hari ini adalah hari yang spesial?" tanya Naina berhati-hati
"Hari spesial? enggak kok"
"Apa hari spesial nya itu kemarin?" tanya Naina polos
Kak Theo berpenampilan seperti ini dari kemarin. Apa jangan-jangan kak Theo punya..
"Setiap hari juga spesial untukku" jawab Theo ceria
Karena aku bisa bertemu denganmu.
"Oh begitu ya, aku ngerti kak. Kakak akan segera dapat pacar kok, tenang saja" Naina menepuk bahu Theo
"Pa-pacar?" tanya Theo bingung
"Ah.. aku juga tau, kakak berpenampilan seperti ini karena kakak ingin punya pacar kan?" goda Naina pada sahabat nya itu
"I.. itu.. " Theo menggaruk kepalanya, dan tampak salting.
Itu memang benar sih, aku berpenampilan seperti ini karena mau menarik perhatian.
"Kakak gugup seperti ini berarti itu benar kan? siapa kak cewek beruntung itu? yang sudah menarik perhatian kakak ini, aku akan bantu deh" kata Naina semangat pada sahabatnya itu
"Sebenarnya orang itu adalah..."
Kata-kata Theo tiba-tiba terhenti!
BRUK
Seseorang yang entah muncul dari mana, tiba-tiba saja menengahi mereka berdua dan menubruk kedua orang itu. Begitu melihat wajahnya, Naina langsung naik darah.
"Kamu lagi dasar cowok preman!" tunjuk nya pada Juna si trouble maker sekolah.
"Sorry, gue pikir tiang. Eh ternyata manusia. Haha.." Juna nyengir, mengejek Naina dan Theo
Si mata empat itu mau ngomong apaan barusan sama si cewek gila? apa jangan-jangan mau nembak? tapi kenapa aku kesel. Juna tersenyum tipis melihat ke arah Theo, mata nya terlihat marah.
Dia pasti sengaja, lihat aja tuh senyum nya. Theo membalas senyuman Juna dengan senyuman sinis, mata mereka saling melirik satu sama lain.
"Woy cewek gila, hari ini gue mau duduk di pinggir jendela" ucap Juna tiba-tiba.
"Jangan mimpi! kata Bu Febby, tempat itu milikku!" seru Naina
"Loh kok kalian rebutan tempat duduk? apa kalian duduk sebangku?" tanya Theo
"Iya gue sama si cewek gila ini teman sebangku" jawab Juna sambil tersenyum
Tuh kan bener, si mata empat punya perasaan sama si cewek gila!
"Haah?" Theo terlihat tidak senang mendengar nya.
Walaupun gak mungkin terjadi apa-apa sama Naina dan si trouble maker ini. Tapi kenapa diantara sekian banyak teman sekelas, Naina harus sebangku sama dia.
"Kenapa kak? kakak marah aku sebangku sama dia?" tanya Naina
"Marah? tidak kok" jawab Theo. " Kenapa aku harus marah Nai?" tanya Theo bingung
"Kakak kan teman dekat si cowok preman ini, kakak cemburu aku dekat-dekat dengannya ya?" tanya Naina
"Walah?!!" Theo dan Juna kaget mendengar nya
Teman dekat? aku dan dia?. Theo dan Juna sama-sama panik di dalam hati
Ternyata Naina salah menanggapi maksud dari senyuman dan tatapan kedua pria itu. Pria yang terlihat bermusuhan itu malah dikira teman yang sangat akrab.
"Tenang aja kak Theo, aku tidak akan merebut cowok preman ini dari kakak. Aku juga tidak mau punya teman seperti nya" Naina tersenyum polos, ia pun berjalan ke dalam kelasnya dan mendahului mereka berdua yang berdiri mematung di belakang.
"Sebenarnya apa yang ada di otaknya itu?" tanya Juna bingung
Naina itu polos banget, kalau kaya gini bagus atau tidak ya?. Theo terlihat bingung, meski ia sudah berpenampilan menarik di depan Naina. Tapi gadis itu terlihat cuek saja, dan tidak menunjukkan ketertarikan yang lebih padanya.
Theo pun bertekad akan terus mendobrak persahabatan mereka dan mengubahnya. Theo akan membuat Naina melihatnya sebagai pria.
Ting tong..
Ting tong..
Bel masuk pun berbunyi, semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Mereka memulai pembelajaran seperti biasa, di bimbing oleh guru mereka masing masing. Sebelum itu mereka juga mengatur struktur organisasi kelas yang terdiri dari ketua kelas, wakil ketua kelas, bendahara, sekretaris dan lain-lain nya.
Melalui kesepakatan bersama dan pilihan Bu Febby, Juna ditetapkan sebagai ketua kelas X-A, wakilnya adalah Naina, sekretaris nya adalah Keira. Juna terlihat tidak senang dengan pemilihan ketua kelas itu, karena mulai sekarang pria itu harus rajin ke sekolah karena tanggungjawab nya sebagai ketua kelas.
"Sial, gue jadi ketua kelas. Ini ulah Lo kan cewek gila?" tanya Juna sebal
"Aku punya nama, jangan panggil aku cewek gila terus dong" gerutu Naina
"Siapa nama Lo? nainai? Nina? ya ampun.. gue lupa" kata Juna sambil tersenyum mengejek
Mana mungkin aku lupa nama kamu. Namamu unik dan tidak mudah dilupakan, Ninaina.
"Apa? aku Ninaina, tapi panggil aja aku Naina"
"Oke, Naina.. kalau gitu Lo juga harus manggil nama gue dong"
"Nama kamu siapa ya? junjun? Jujun? atau nana?" tanya Naina sambil pura-pura berfikir
"Lo bener bener ya"
"Aku bercanda deh, haha.. gitu aja ngambek" Naina tertawa " Juna.. Arjuna" Naina tersenyum pada Juna.
TING!
Sesaat setelah melihat Naina tertawa dan tersenyum, Juna langsung terdiam. Ia merasa seperti ada bunyi bel terngiang-ngiang di telinganya, entah bunyi apa itu. Jantung nya merasakan debaran yang aneh lagi.
Cewek ini manis juga.
Mereka resmi menjadi ketua dan wakil ketua kelas yang diakui oleh semua teman sekelas mereka. Selain menjadi teman satu bangku, menjadi ketua wakil ketua kelas, mereka juga berada dalam kelompok belajar yang sama. Juna, Damar, Keira dan Naina ada dalam satu kelompok yang sama dan hari itu juga sepulang sekolah mereka harus kerja kelompok menyelesaikan tugas.
"Baru aja masuk sekolah udah banyak tugas aja. Mar, kenapa Lo semangat banget sih?" tanya Juna pada temannya yang sedang menulis sesuatu di buku tulisnya
"Gue gak mau tinggal kelas lagi Jun" jawab Damar serius
"Ah iya gue juga gak boleh tinggal kelas lagi" gumam Juna
"Oh ya Naina, gue gak ngerti yang ini..Lo bisa bantuin gue caranya?" tanya Damar sambil menyodorkan buku catatan nya pada Naina.
"Oh yang ini.. oke aku jelasin ya" kata Naina sambil tersenyum ramah pada Damar.
Juna tampak tidak senang melihat Damar dekat-dekat dengan Naina saat belajar kelompok itu. Juna langsung mengambil buku Damar yang ada di tangan Naina dan memberikan nya lagi pada Naina.
"Hey cewek gila, Lo ajarin gue aja, nanti gue yang bakal ajarin Lo, mar. " kata Juna sambil membawa buku catatannya sendiri.
"Gue mau diajarin sama Naina aja, diajarin Lo gue gak bakalan ngerti" kata Damar
Asyik juga nih godain si Juna. Hihi.
"Lo.. Lo diajarin aja tuh sama si Keira, dia nganggur. Gue mau diajarin sama si Naina" kata Juna tegas
"Ya udah, sini Mar sama aku aja ajarin" kata Keira ramah
Juna langsung menggeserkan kursi tempat temannya duduk itu, dan dia membawa kursinya lalu mendekat ke arah Naina. Damar tersenyum melihat temannya yang itu.
Benaran Jun, gue bilang juga apa, Lo bentar lagi bakal bucin. ucap Damar dalam hatinya melihat kearah Naina dan Juna.
Keira pun mengajari Damar tugas matematika yang tidak ia mengerti. Disisi lain Naina terlihat marah-marah pada Juna saat mengajarkan Juna rumus matematika. Tapi Juna mendengarkannya dengan baik, meski ia kesulitan mengerjakan tugas matematika nya.
"Karena kita dalam satu kelompok belajar, jadi kalian harus meningkatkan kemampuan kalian ya. Jangan berorientasi pada hasil, aku akan lebih senang kalau kalian mengerti jalannya. "jelas Naina
"Siap cewek gila" jawab Juna
"Apa kamu bilang?" tanya Naina kesal
"Maaf deh maaf, Naina " jawab Juna dengan nada rendah
"Nah gitu dong" kata Naina sambil melihat hasil kerja Juna di buku catatannya dengan serius.
"Gimana mar? kamu udah ngerti?" tanya Keira
"Sip Kei, penjelasan dari kamu mantul banget dah" Damar mengacungkan jempolnya. " Oh ya junai !"
"Kok manggilnya Junai sih?" tanya Naina bingung
"Hehe sorry, kecepatan manggil jadi gitu deh. Gak papa dong, Junai kan bagus. Kaya couple gitu" jelas Damar
"Couple? gue( aku) sama dia?" Naina dan Juna saling tunjuk satu sama lain
"PFut.. Junai bagus juga, kalau kalian pacaran kalian pake nama itu aja. " kata Keira
"Pacaran? gue( aku) sama dia? cih!" Naina dan Juna sama-sama memonyongkan bibir mereka dan saling tidak suka.
Damar dan Keira tertawa melihat tingkah kedua teman mereka yang berantem terus.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, tak terasa waktu sudah berlalu. Hari itu tepat pada pukul 12.30, para siswa satu persatu mulai bubaran. Terlihat Ghina cs sedang bersembunyi tak jauh dari kelas X-A dan memperhatikan Naina dan Keira dari jauh.
Keira, Naina, dan Nisha pulang bersamaan. Tadinya Nisha ingin mengajak Naina dan Keira makan siang bersama, tapi Naina dan Keira ada tugas kelompok bersama Juna dan Damar.
"Kita mau kerja kelompok dimana nih?" tanya Damar
"Jangan di rumah gue" jawab Juna cepat
"Ya udah, gimana kalau di rumah ku aja." kata Naina
"Ya, di rumah Naina aja. Rumah Naina juga gak terlalu jauh dari sekolah" kata Keira setuju
Aku harus izin sama pak Irwan siang ini, paling aku kebagian sip malam.
"Oke, gue bawa motor. Kita boncengan aja, Lo sama gue, si Junai berdua" kata Damar
"Junai? lagi-lagi Junai! panggil yang benar dong, Damar!" seru Naina kesal
Beda dengan Naina yang kesal, Juna malah biasa saja mendengar panggilan itu dari Damar. Ia malah senyum-senyum sendiri.
Sebelum pergi untuk kerja kelompok, Naina izin dulu ke kamar mandi untuk menuntaskan urusan kecilnya.
"Ghin, Lo yakin mau ngelakuin ini?" bisik salah satu teman Ghina yang membawa ember
"Kapan lagi kita ngerjain dia? dia suka kumpul sama teman-teman nya terus, ini kesempatan bagus. Dia lagi sendiri" kata Ghina berbisik-bisik pada temannya itu.
Saat sedang berada di kamar mandi, tiba-tiba guyuran air kotor membasahi seluruh tubuhnya. Tubuh Naina basah kuyup terkena guyuran air itu.
BYURR
"Ahh?!!!" teriak Naina kaget dengan air yang tiba-tiba jatuh ke arahnya dari arah atas.
Ghina cs tertawa puas mendengar teriakan Naina. " Lo kaget ya? rasain Lo, siapa suruh jadi cewek genit " ucap Flora( salah satu teman Ghina
"Jangan deketin Kelvin atau Theo lagi, kalau Lo masih kelihatan tebar pesona sama mereka berdua. Lo abis!" seru Ghina kesal
Suaranya, aku kaya kenal. Naina terdiam
"Hahaa, yuk ah cabut" ajak Ghina pada temannya
"Hey! kalian siapa sih? buka pintunya!" Naina hendak membuka pintu kamar mandi itu, tapi pintunya terkunci dari luar.
Ghina cs meninggalkan kamar mandi dengan perasaan puas sudah mengerjai Naina.
...---***---...