
🍀🍀🍀
Theo kembali bersama kedua orang tuanya, begitu pula dengan Naina. Dalam perjalanan pulang, Bryan dan Alma senyum-senyum melihat Naina.
"Mama sama papa kenapa sih?" tanya Naina pada kedua orang tuanya yang senyum-senyum sendiri.
"Al, apa kamu berfikiran sama denganku?" tanya Bryan pada istrinya
"Kali ini seperti nya kita sepikiran deh" jawab Alma yakin pada suaminya.
"Apaan sih mama papa?" tanya Naina
"Naina, apa kamu udah pacaran sama Theo?" tanya Bryan langsung pada intinya.
Naina terperangah, ia langsung menyangkal dan mengatakan tidak pada papanya. Bahkan mama nya juga memikirkan hal yang sama, mereka sangat setuju kalau Naina berpacaran dengan Theo.
"Mama papa ku tersayang.. aku kan udah bilang kalau aku gak ada niat buat pacaran. Dan kak Theo itu udah ku anggap sebagai kakak ku sendiri, dia itu kaya kak Kelvin buatku" jelas Naina pada kedua orang tuanya
"Kamu masih memakai prinsip mu itu? langsung menikah tanpa pacaran?" tanya Bryan pada putrinya.
"Iya papa, mama. Jadi jangan bilang soal pacar pacaran ya"
"Nai, apa kamu gak ada niat menikah cepat? usia kamu kan sudah lewat dua puluhan" tanya Alma cemas
Sayang sekali seperti nya Naina tidak menyukai Theo sebagai seorang pria. Apa Naina seperti ini karena masih menunggu Juna? Alma menebak-nebak dalam hatinya
"Mama, aku tidak menargetkan harus menikah kapan. Kalau ada yang ngajak aku nikah dan dia serius sama aku, aku pasti akan mempertimbangkan nya. Tapi aku gak mau pacaran" jelas Naina sambil memakan permen cemilannya.
"Kalau ada yang serius sama kamu, kamu akan terima?" tanya Bryan penasaran
"Iya dong, tentu aja. Tapi aku juga gak langsung nerima, aku pertimbangkan dulu. Kalau aku dan dia cocok, mungkin kami akan menikah" jawab Naina penuh keyakinan dan kepercayaan diri yang tidak bisa diganggu gugat.
"Baiklah kalau maunya anak papa gitu" Bryan hanya tersenyum menanggapi nya, ia menghargai keputusan anaknya itu.
"Oh ya by the way, kak Kelvin dimana?" tanya Naina keheranan
"Dia udah berangkat kerja dari tadi pagi, gak tau kenapa tuh dia bersemangat banget" jawab Alma
"Apa ada yang bisa buat pria berdarah dingin itu jadi bersemangat?" Naina meragukan kakak nya bisa semangat pergi bekerja.
"Gak tau tuh, papa sama mama juga heran" jawab Bryan keheranan dengan putra sulungnya yang tiba-tiba bersemangat pergi pagi-pagi ke kantornya.
"Apa mungkin dia udah membuka hatinya sama Sherly?"tanya Alma cemas
"Gak mungkin ma, hati kak Kelvin itu gak mudah berpindah. Di dalam hatinya masih ada orang lain, tidak mungkin orang lain nya bisa masuk ke dalam sana. Kakak kan orang nya gitu" gumam Naina yakin kalau kakak nya tidak akan mudah jatuh cinta dan hatinya hanyalah untuk satu orang.
"Ya kamu benar, kakak kamu kan keras kepala dalam setiap hal. Dalam cinta juga dia keras kepala, padahal wanita masih banyak yang mengantri untuk nya. Dia masih saja mengingat wanita yang sudah mencampakkan nya" gerutu Bryan
"Bryan.. Kelvin itu gak kaya kamu" Alma melirik ke arah suaminya dengan tatapan pedas.
"Ehem ehem" Bryan langsung terdiam
Apa Alma sedang menyindirku?
Sebenarnya mungkin aku juga sama seperti kak Kelvin. Hatiku masih saja tertuju pada satu orang yang bahkan sudah meninggalkan aku. Naina terdiam mengingat seseorang yang sudah pergi selama 6 tahun dari kehidupan nya.
****
Jauh di negri orang, hari itu malam disana. Juna dan Ardi sekretaris nya, juga beberapa rekan bisnisnya sedang berada di club malam. Mereka ditemani oleh beberapa orang wanita penghibur.
"Senang nya pak Juna bisa datang kesini" ucap seorang pria pada Juna, di sampingnya ada seorang wanita cantik yang sedang memeluknya.
"Iya, terimakasih pak Erlan sudah mengajakku" Juna terlihat bersenang-senang, ia juga bersama seorang wanita penghibur di sampingnya.
"Pak, apa anda mau minum?" tanya seorang gadis yang ada di pelukan Juna.
"Boleh sayang" jawab Juna sambil tersenyum melihat wanita itu
Wanita penghibur itu mengambilkan segelas minuman untuk Juna. Dengan senang hati Juna menikmatinya. Begitulah keseharian Juna selama di luar negeri, entah kenapa ia berubah menjadi sosok yang berbeda setelah kakek nya meninggal dunia.
"Pak, ini sudah sangat larut. Besok anda masih ada rapat" ucap Ardi mengingatkan Juna yang sudah setengah mabuk
"Baiklah ayo pulang" Juna beranjak dari tempat duduk nya.
"Sayang aku ikut?" tanya wanita itu merengek pada Juna
"Kamu disini saja!" Juna menepis tangan wanita penghibur itu dengan kasar. Wanita itu langsung cemberut.
Cih! susah sekali sih menggodanya. batin wanita itu kesal
Ardi dan Juna dalam perjalanan pulang ke rumah Juna yang entah berada di mana itu. Juna terlihat melamun, sesekali ia menengok ke arah luar kaca mobilnya.
"Pak, bukankah anda selalu bilang kalau kita tidak boleh minum-minuman beralkohol?" tanya Ardi pada bos nya itu
"Ya, itu benar" jawab Juna
"Lalu kenapa anda meminum nya? biasanya anda akan menolak tawaran minum" Ardi cemas melihat sikap Juna yang terlihat berbeda.
Juna terlihat tertekan semenjak ia mewarisi perusahaan kakek dan ayahnya, tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Bahkan memikirkan cinta sekalipun. Juna sudah semakin jauh dari dirinya sendiri, ia sudah salah jalan. Niatnya melupakan cinta dan pertemanan nya, malah membuatnya semakin terpuruk.
"Ardi, aku sudah mencoba beberapa kali berkencan dengan wanita. Tapi aku tetap saja tidak bisa melupakan nya" Juna tersenyum pahit.
"Saya sudah menduganya, bahwa Presdir mencintai gadis itu lebih dari yang Presdir duga. Seperti nya seluruh hati Presdir itu hanya untuknya" Ardi tersenyum yakin
"Tapi aku tidak pantas untuknya, aku bahkan sudah pernah pacaran dengan orang lain. Aku juga tidak berani untuk menemuinya dan meminta maaf padanya"
"Presdir, anda hanya takut dia berubah pada anda kan? saya yakin, jika dia memiliki perasaan yang sama untuk Presdir.. dia pasti akan mengerti alasan Presdir pergi meninggalkan nya dulu. Presdir hanya perlu berani untuk menemuinya"
"Kamu benar, aku takut dia akan berubah padaku. Apalagi aku ini pria yang suka gonta-ganti pacar" keluh Juna tidak percaya diri
Apa yang akan Naina katakan padaku bila dia tau aku pernah punya banyak pacar?. Batin Juna takut.
"Tapi anda sama sekali tidak ada hati untuk mereka, anda juga tidak pernah melakukan hal di luar batas pacaran kan? dan hati anda hanya untuk nona Ninaina" Ardi tersenyum menyemangati Presdir nya agar ia berani menemui Naina.
Juna pacaran dengan mereka hanya untuk coba-coba, apakah ia bisa melupakan Naina atau tidak.Dan itulah penyebab Juna berpacaran secara singkat, hanya satu atau dua bulan. Itu pun karena para wanita itu hanya memanfaatkan kekayaan Juna saja.
"Itu benar, hatiku memang masih untuknya"
"Ini sudah 5 tahun pak, anda harus berani agar anda tenang. Kalau misalkan nona Ninaina keburu diambil orang gimana?" tanya Ardi memanasi
"Itu tidak mungkin, Naina tidak akan menjalin hubungan dengan siapapun karena dia gak mau pacaran" kata Juna sambil tersenyum yakin, ia mengingat prinsip hidup Naina.
"Ya itu kan kalau pacaran, lalu bagaimana kalau ada yang mengajaknya menikah? melamarnya melalui orang tuanya mungkin? itu bisa saja terjadi, pasti pria yang menyukai nona Ninaina itu tidak sedikit" Ardi tersenyum, ia terus menambahkan minyak ke dalam kompor berapi.
Aku tau ini adalah hal kekanak-kanakan yang pernah aku lakukan, tapi ini lah cara terbaik untuk membujuk presdir untuk kembali ke Indonesia dan mengurus perusahaan yang ada disana. batin Ardi lelah
"I-itu..." Juna gelagapan, matanya membulat kaget. Juna mulai menunjukkan ketakutan nya, ternyata sikapnya tidak berubah.
Sial! aku melupakan si Theo itu, apa dia sudah melamar Naina?
"Pak Presdir, saya lupa memberitahu kalau teman anda dari Indonesia menelpon saya tadi sore" kata Ardi
"Siapa? apa itu Damar?" tanya Juna pada Ardi
"Iya pak, dia berpesan agar bapak menghubungi nya secara langsung" jawab Ardi
"Baiklah" jawab Juna singkat
Ada apa ya si Damar meneleponku? Dan soal Naina, apa aku harus menemui kamu? kalau aku bilang maaf, apa kamu akan memaafkan aku Nai?
Saat itu juga Juna langsung mengambil telponnya dan menelpon Damar untuk menanyakan apa yang ingin dibicarakan Damar padanya.
Damar memberitahukan kalau Naina dan Theo tertangkap wartawan sedang bersama di bandara.
"Seriusan?!" tanya Juna terkejut
Naina sama Theo barengan? apa mereka pacaran? gak mungkin!. Juna panik, hatinya panas mendengar kabar Naina dan Theo dari Damar.
"Seriusan Jun, kalau Lo gak percaya cepet buka internet sekarang dan lihat beritanya sendiri" ucap Damar
"Ardi! tab!" ujar Juna pada Ardi. Dengan cepat Juna mengambil tab di tangan Ardi. Juna melihat berita tentang Naina dan Theo yang turun dari pesawat bersama, lalu digosipkan pacaran.
Selama ini Juna tidak pernah menerima informasi atau gosip tentang Naina dan Theo. Karena Juna tau kalau Theo dan Naina tinggal di negara yang berbeda selama bertahun-tahun.
"Lo udah lihat kan Jun? Lo mau terus diem aja?! capek tau gak gue ngomong sampai berbusa sama Lo, Lo nya pengecut sih gak mau balik dan gak mau ketemu sama dia" tanya Damar setengah memanasi Juna
"Gue bakal balik! tapi Lo harus bantuin gue mar" Juna semakin panas hati melihat berita Theo dan Naina.
Aku pikir semua nya bakalan baik-baik aja, tapi setelah lihat berita ini.. aku gak percaya sama kamu Nai. Aku harus berani untuk kembali. Kalau kamu menikah dengan orang lain, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Iya gue bakal balik, tapi Lo harus bantuin gue mar" pinta Juna pada Damar
"Ok, Lo mau gue bantuin apa?" tanya Damar dengan senang hati membantu sahabatnya.
Entah apa yang Juna bicarakan pada Damar, Damar hanya mengangguk saja. Damar mengakhiri telpon itu dengan kata," Oke Jun, Lo cuma perlu datang. Gue yang urus teknis nya"
"Thanks mar, Lo emang the best" Juna tersenyum senang, ia bahagia memiliki sahabat seperti Damar.
Tut..
Juna menutup telponnya, ia langsung menyuruh Ardi untuk menghapus berita tentang Naina dan Theo di media karena Juna memiliki koneksi dengan beberapa media massa di Indonesia. Juna tidak mau ada berita tentang Theo dan Naina lagi, yang semakin membuat hatinya panas dan takut.
"Ardi, atur tiket pesawat pulang ke Jakarta dengan keberangkatan paling awal" titah Juna pada Ardi, matanya mengarah pada foto Naina yang memakai seragam putih abu ada di dompetnya.
"Bapak benar-benar akan ke Jakarta?" tanya Ardi senang
"Iya, aku akan kembali. Aku tidak akan bersembunyi lagi" jawab Juna yakin
Aku akan pulang Nai. Aku rindu kamu..
"Siap pak! saya akan siapkan tiket pesawat keberangkatan yang paling cepat!" Ardi semangat, ia tersenyum lebar.
Asyik! akhirnya aku juga bisa pulang ke kampung halaman ku. Ardi senang karena sudah lama ia tidak kembali ke negara nya sendiri dan orang di luar negeri bersama Juna.
🍀🍀🍀
Jakarta..
Siang hari..
Sepulang dari perjalanan nya, Naina merebahkan dirinya di ranjang yang sudah 1 minggu tidak ia tempati. Terlihat berbagai
macam piala dan piagam penghargaan yang ia dapatkan dari bakat desain dan melukis.
"Huuhh..capeknya" Naina tengkurap, ia resah memikirkan Nisha yang salah paham padanya. Naina pun berencana untuk menemui Nisha di rumahnya esok, karena hari itu Naina sangat lelah
Drett...Drett..
🎵🎵🎵
"Aduh siapa sih yang nelpon? orang mau tidur siang juga" gerutu Naina pada ponselnya yang berdering di meja
Naina langsung mengangkat telponnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Halo, Assalamualaikum Nai!" seru pria dari balik telpon Naina
"Halo waalaikum salam, ini siapa ya?" tanya Naina yang masih sangat ngantuk
"Nai, Lo baik-baik aja kan? ini gue Damar" tanya Damar
"Oh Damar? maaf ya, aku baru pulang dari luar negeri jadi aku ngantuk banget. Ada mar?" tanya Naina pada temannya itu.
"Gue ganggu Lo, ya?" tanya Damar merasa tak enak hati pada Naina yang merasa menganggu tidur Naina
"Gak papa kok santai aja, ada apa mar?" tanya Naina langsung beranjak dari ranjangnya.
"Sebenarnya gue mau ngundang Lo ke acara peresmian restoran gue, ada teman-teman juga disana. Itu sih kalau Lo ada waktu" jelas Damar
"Wah selamat ya! akhirnya restoran kamu mau buka, oh ya kapan acaranya mar?" Naina tersenyum senang karena salah satu temannya itu menjalankan bisnis restoran.
"Besok malam, itupun kalau Lo bisa sih" ucap Damar pada Naina
Bisa lah Nai, bisa. batin Damar berharap
"Kebetulan sih aku libur sehari lagi besok, insyaallah aku akan datang. Kirimkan saja alamat restoran kamu" Naina setuju
"Seriusan Nai? oke oke nanti gue kirimin Lo alamatnya. Lo harus dateng ya!!" ucap Damar semangat
Jun, aku sudah membantumu.
"Oke mar, tapi aku boleh tanya satu hal gak?" tanya Naina
"Apa Nai?"
"Kamu ngundang Nisha juga kan?" tanya Naina
Aku harus memanfaatkan pertemuan kami, untuk menjelaskan semuanya pada Nisha. Sebelum kesalahpahaman kami semakin panjang.
"Em.. itu..."Damar terlihat bingung.
Sebenarnya ini cuma acara Juna sama si Naina doang. Apa aku harus ngundang si Nisha juga? itu artinya aku harus ngundang teman-teman lainnya.
"Damar? gimana?" tanya Naina lagi
"Ya, oke. Dia sama teman-teman lainnya juga akan datang, gue undang mereka juga haha" Damar tertawa kecil.
"Oke, besok aku datang" jawab Naina sambil tersenyum
Lalu keesokan harinya, malam itu Naina sudah bersiap akan pergi ke alamat restoran yang sudah di berikan oleh Damar. Naina menyetir mobil sendiri, ia juga membawakan hadiah untuk Damar.
Saat sedang menyetir, tiba-tiba saja mobil Naina berhenti mendadak setelah terdengar suara ledakan kecil dari depan mobilnya.
DUKK!!
"Lah lah! kenapa berhenti?" tanya Naina kebingungan.
Setelah mencoba beberapa kali menyalakan mobilnya dan tak kunjung menyala, akhirnya Naina keluar dari mobilnya untuk mengecek apa yang terjadi dengan mobilnya itu.
Naina membuka kap depan mobil nya itu, terlihat asap keluar dari sana.
"Kenapa ya sama mobilnya? apa mesinnya? karburator? tadi sih baik-baik saja. Coba deh aku lihat-lihat dulu"
Naina yang tidak mengerti soal mesin sama sekali mencoba melihat-lihat ke bawah yang ada di kap mobilnya, ada benda berbentuk persegi yang gosong disana.
BRUM
BRUM
Tanpa Naina sadari ada beberapa pengendara motor berjalan ke arahnya. Mereka melihat Naina dengan tatapan tidak biasa.
"Mbak, kenapa mobilnya? mogok ya?" tanya si pria itu pada Naina
"Mau kami bantu mbak?" tanya pria yang satunya lagi sambil menghampiri Naina.
"Gak usah, gak papa. Saya udah telpon orang yang bisa bantu" jawab Naina jutek
"Si mbak judes banget sih, bikin geregetan aja deh" ucap si pria itu sambil mendekati Naina.
Mereka kenapa sih?. Naina terlihat kesal dengan gelagat pria-pria itu.
Ketiga pria dengan dua motor itu semakin mendekati Naina, seperti nya mereka punya maksud jahat.
"Kalian mau apa? jangan kurang ajar ya!!" teriak Naina sambil berjalan mundur. Matanya mengarah pada ponsel yang ada di dalam mobilnya.
"Kita cuma mau bantu mbak aja kok"
"Santai aja mbak" ucap pria itu sambil memegang tangan Naina dengan berani.
"Pergi! kalian mau mati ya! menjauh dariku!" teriak Naina sambil menendang kaki pria itu dengan keras.
BUK
"Aduh.. sakit.." rintih seorang pria bertato sambil memegang kakinya
Tanpa mempedulikan mobilnya, Naina berlari menjauh dari pria-pria yang menganggu nya itu. Lalu terlihat sebuah mobil menyorotkan lampu pada Naina dan ketiga pria yang mengejar Naina.
Orang itu keluar dari mobil nya, tanpa bicara banyak orang itu memukuli tiga pria itu habis-habisan. Membuat tiga pria itu kabur dalam sekejap mata.
Naina terpana melihat sosok pria yang menolongnya itu. Hatinya berdebar, matanya berkaca-kaca.
"Kamu gak papa?" tanya Juna pada Naina yang menatapnya itu. Juna menatap Naina dengan cemas.
Naina, ini benar-benar kamu. Kamu berubah menjadi semakin cantik saja. Tapi apa sikap kamu juga ikut berubah?
Ya Allah, ini pasti halusinasi. Juna tidak mungkin ada disini. Aku pasti mimpi.
...---***---...