
***
Para pelayat satu persatu mulai meninggalkan pemakaman itu. Namun, keluarga Aditama masih ada disana. Alma menyandarkan kepalanya ke papan batu nisan milik putranya, ia masih menangisi kepergian anaknya.
Suara petir terdengar beberapa kali, langit sudah terlihat gelap. Menandakan hari akan segera malam, dan seperti nya akan turun hujan.
"Sayang, kita pulang yuk. Sudah mau malam" ajak Bryan pada istrinya
Alma belum minum air atau makan sesuatu dari tadi, aku khawatir dia akan pingsan. Bryan cemas melihat wajah istrinya yang pucat pasi.
"Aku mau temani Albry disini" jawab Alma dengan pandangan kosong
Melihat ibunya tidak mau pulang, Kelvin dan Naina berusaha membujuk Alma agar mau pulang. Walaupun mereka juga berat meninggalkan Albry di makam itu, hati mereka juga sedih harus meninggalkan Albry sendiri.
"Ma, ayo kita pulang... " ajak Naina pada ibunya
"Mama gak mau pulang, mama mau disini temani Albry. Albry sendirian di bawah sini.. mama tidak akan meninggalkan nya" kata Alma dengan pandangan kosong menatap batu nisan itu, ia duduk di tanah..tidak peduli tubuhnya kotor.
"Al, pulang yuk. Kita ke rumah, biarkan Albry istirahat dengan tenang. Kamu mau Albry sedih melihat kamu seperti ini Al?" tanya Laura sambil memegang bahu adik iparnya.
"Albry gak boleh sedih kak.." ucap Alma sedih
"Kalau kamu tidak mau Albry sedih, kamu harus pulang ya sekarang? Ayo Al.." ajak Laura membujuk Alma
Disisi lain, Ken, Viona, Bryan, Leon dan anak-anak melihat Alma dengan cemas.
"Albry akan senang kalau aku pulang?" tanya Alma tanpa ekspresi
"Iya, Albry akan senang kalau kamu pulang, istirahat dan makan" kata Laura lembut
"Tidak kak, Albry pasti tidak mau aku meninggalkannya. Dia selalu ingin aku menemaninya kak.." kata Alma
"tidak Al, tidak begitu.."
"Aku... tidak akan pu...."
BRUGGHH
Alma jatuh tidak sadarkan diri, semua keluarga panik melihatnya. Bryan sigap, langsung menangkup tubuh istrinya dan menggendongnya.
"Mama!!"
"Alma!!"
"Tante Alma!!" teriak Sonya, Alex, dan Kayla.
Mereka semua pulang ke rumah besar Aditama. Bryan sengaja membawa istrinya kesana karena ia takut kalau Alma akan sedih berada di rumah mereka, ketika teringat dengan Albry.
"kak.." panggil Ken pada Bryan yang duduk di sudut ranjang sambil memegang tangan istrinya yang masih tidak sadarkan diri.
"Ken?"
"Sebenarnya apa yang terjadi kak? apa benar ini murni kecelakaan?" tanya Ken
"Ken, tentang ini... mari kita bicara diluar" kata Bryan
"Ya, aku tunggu di luar ya kak" ucap Ken sambil melangkah pergi meninggalkan kamar itu.
Bryan melihat ke arah istrinya, ia mencium kening istrinya dengan lembut, menatapnya dengan cemas. Melepaskan genggaman nya dari tangan Alma.
"Sayang, aku keluar dulu" bisik Bryan sambil melihat ke arah Alma
Bryan keluar dari kamar tempat Alma tidur, ia meminta agar Viona dan Laura menemani Alma sebentar di dalam kamar. Mereka berdua pun menjaga Alma yang masih tidak sadarkan diri di kamar.
Leon, Bryan, dan Ken mengobrol bertiga di balkon lantai atas karena disana tidak ada siapa-siapa. Mereka membicarakan tentang kecelakaan yang menimpa Albry, Bryan menceritakan semua hal tentang kecelakaan itu.
"Orang gila katamu yang menabraknya?" tanya Ken terlihat berfikir.
"Iya, polisi bilang seperti itu." jawab Bryan
"Kamu sudah menemui pelaku nya?" tanya Leon
"Belum sempat, karena aku harus menjaga Alma juga mengatur pemakaman"
"Benar juga. Tapi kita harus memastikan apakah dia benar-benar gila atau tidak. Feeling ku tidak bagus soal hal ini" jelas Ken merasa ada sesuatu yang salah
"Aku juga merasa aneh, memang ada beberapa hal yang belum jelas disini, aku juga merasa janggal. " jawab Bryan tampak bingung
"Biar aku dan Ken yang menemui pelaku itu, kamu jaga saja Alma. Saat ini dia paling membutuhkan kamu" ucap Leon pada Bryan
"Iya, terimakasih Leon, Ken" ucap Bryan sambil tersenyum tipis
Setelah pembicaraan diantara mereka bertiga,malam itu Leon dan Ken segera berangkat ke rumah sakit jiwa, untuk menemui pelaku yang sudah menabrak Albry. Ken juga ditemani anak buahnya yang banyak, jaga-jaga kalau terjadi sesuatu.
...****...
Tengah malam itu, Alma terbangun dari tidurnya. Ia melihat Bryan yang sedang tidur pulas disampingnya. Perlahan-lahan Alma turun dari ranjangnya, pandangan nya kosong dan terlihat sedih.
Alma teringat lagi putranya, ia menyadari bahwa ia tak sedang berada di rumahnya tapi di rumah besar Aditama.
"Albry.. Albry dimana kamu nak?" Alma berjalan mencari-cari anaknya, bahkan ia sampai naik ke lantai atas.
Alma memanggil manggil nama anaknya dengan sedih, dan air mata yang bercucuran. Beberapa saat kemudian, ia melihat sosok Albry yang sedang berjalan di dekat balkon lantai dua.
"Albry, kamu ada disini nak? Mama udah cari Albry kemana-mana.."
Sosok anak kecil yang sudah tiada itu hanya tersenyum melihat Alma, wajahnya pucat. Sosok Albry tidak bicara sepatah kata pun.
"Mama sudah menduganya, bahwa ini hanya mimpi buruk saja. Mama, akan temani kamu ya nak" ucap Alma pada bayangan sosok Albry yang berdiri di dekat balkon
Alma tersenyum pada sosok anaknya, ia berjalan menuju ke balkon mendekati Albry. Setelah Alma sampai di balkon, Albry tersenyum dan menghilang.
"ALBRY!! Albry!! kamu kemana nak? Albry!! tunggu Mama nak, mama akan temani kamu.. hiks hiks " teriak Alma histeris
Alma sudah berada di ujung balkon, ia nekad naik ke balkon itu seperti kehilangan kesadaran nya. Ia terus memanggil manggil nama Albry, sambil menangis.
Kamu pasti kesakitan dan sendirian disana nak, Mama akan temani kamu nak.. mama akan temani kamu.
Wanita itu menutup matanya, ia sudah berdiri di tiang ujung balkon lantai dua rumah itu. Ia bersiap untuk melompat dari atas sana. Tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya dari belakang, mereka berdua jatuh ke lantai.
"Mama!!" teriak Kelvin dan Naina yang panik setelah melihat ibu mereka akan melompat dari balkon.
Kelvin dan Naina tidak menyangka bahwa Alma akan melakukan hal yang tidak terduga, mencoba menghabisi dirinya sendiri. Ya, bagaimana mungkin Alma akan tetap sadar dan waras? menerima kenyataan yang sulit untuknya, kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya,buah hatinya. Apalagi melihat kematian itu di depan matanya, hal itu lebih buruk dari mimpi buruk.
"Mama.. jangan lakukan ini ma.." ucap Naina sambil menangis
"Apa yang kamu lakukan hah?! apa kamu sudah gila, Al?!" bentak Bryan yang panik sambil memeluk erat istrinya
"Lepaskan aku! Bryan, aku mau menyusul Albry!! aku mau menyusul nya, dia pasti sendirian disana.. disana gelap, dia kesakitan.." Alma terus memberontak, ia ingin lompat dari balkon itu dan mengakhiri hidupnya.
Mendengar teriakan Alma, Viona, Laura dan Kayla juga ikut terbangun. Mereka kasihan melihat Alma yang tampak depresi, sampai ingin mengakhiri hidupnya.
Bryan dan si kembar berusaha membujuk agar Alma menghentikan aksi gilanya itu. Dengan berbagai cara, Bryan dan si kembar berusaha menenangkan Alma. Akhirnya Alma berjanji akan menghentikan aksi nya itu asalkan Bryan dan si kembar membawa nya kembali ke rumah mereka.
Saat itu juga, di tengah malam yang dingin. Bryan, dan si kembar membawa Alma kembali ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, Alma langsung berjalan menuju kamar Albry.
"Kalian istirahat saja, Papa yang akan jaga mama" ucap nya pada kedua anaknya
"Iya pa, kalau ada apa-apa. Papa kasih tau kami" kata Kelvin
"Iya, sudah kalian istirahat saja ya" Bryan tersenyum pahit. Seperti nya hari itu adalah hari yang berat untuknya.
Bryan mengikuti istri nya, masuk ke dalam kamar Alm. Albry. Ia melihat Alma sedang terbaring disana sambil memeluk guling keropi dengan erat.
"Sayang.." lirih Bryan sambil duduk sudut ranjang itu.
"Ini semua salah ku Bryan, ini semua salahku..Albry tiada karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku tidak bisa menjaga amanah yang dititipkan Allah kepada ku"
"Sayang, jangan bicara begitu. Allah mengambil Albry, karena Allah sangat menyayanginya. Bukan karena dirimu, dan ini sudah takdir.."
"Takdir yang sangat kejam! bagaimana bisa seorang anak baru berusia 8 tahun, diambil dengan cara seperti itu? kenapa bukan aku saja yang mati?!!" Lagi-lagi Alma menangis tersedu-sedu, entah berapa banyak air mata yang ia keluarkan hari itu. Matanya terlihat merah dan sembab, bahkan kepalanya terasa sangat pening.
Bryan tidak tau bagaimana meringankan duka dan luka hati istrinya. Karena ia sendiri juga merasakan hal yang sama dengannya, berduka kehilangan anak yang sangat disayanginya. Orang tua mana yang tidak akan sakit hati dan sedih?
Rasanya seperti setengah hati mereka dibawa pergi, hati mereka seperti tercabik-cabik. Hanya pelukan dan saling menghibur lah yang bisa mereka lakukan.
Disisi lain, Naina yang hendak tidur setelah dari kamar mandi membasuh wajahnya. Melihat boneka beruang Stoberi, pemberian Albry 2 hari yang lalu sebelum anak malang itu meninggalkan dunia.
Naina duduk di sudut ranjangnya, ia mengambil boneka beruang itu. Hadiah terakhir yang ia terima dari adik nya yang tersayang.
"De... kakak sayang kamu" Naina memeluk boneka beruang itu, sambil menangis.
π΅π΅
Hai kak Naina, I Love you kak Naina..
Albry sayang kakak..
π΅π΅
Naina kaget mendengar suara Albry dari dekat, tepatnya dari boneka beruang yang sedang ia peluk itu. Apakah Naina berhalusinasi saking sedihnya ditinggalkan oleh Albry?
"Suara apa..?" Naina tak sengaja menekan bentuk hati yang dipegang boneka beruang itu. Tak sengaja Naina memegang tombol yang ada disana.
Suara Albry terdengar lagi saat Naina memencet tombol hati itu. Suara yang membuatnya semakin sedih.
π΅π΅
Kak Naina.. selamat ulang tahun, tapi buat nanti ya kak..hehe.. aku sengaja belikan kado ini buat kakak sekarang, karena aku takut kalau aku kehabisan bonekanya. Kakak kan sangat menginginkan boneka ini, kakak aku sayang kakak. Sama kak Kelvin juga. Semoga kakak panjang umur, sehat selalu, keinginan kakak semuanya tercapai.. Hem.. ngomong apa lagi ya? udah ah.. malu haha ..
π΅π΅
"Kenapa de.. kenapa kamu seakan-akan sudah tau kalau kamu akan pergi.. huu..huu..."
Suara itu membuatnya sangat sedih, dan makin galau lah hatinya. Ia tidak percaya bahwa Albry akan meninggalkan kenangan yang begitu menyakitkan untuk dirinya kenang.
Di kamar Kelvin juga terjadi kegalauan yang sama, Kelvin berbaring di ranjangnya. Matanya belum bisa menutup dengan rapat, jam menunjukkan sudah pukul 2 pagi. Ia masih belum bisa tidur.
Pria itu menatap komputer dan 2 tempat duduk yang ada di sudut kamarnya. Hati Kelvin sedih, karena salah satu tempat duduk itu adalah tempat adiknya Albry selalu duduk saat bermain game dengannya.
Dalam bayangannya, ia melihat Albry sedang duduk di kursi kecil itu. Ilusinya mendengar suara Albry yang tertawa di kamar itu.
Yes! aku menang kak. Kakak kalah hehe
Kini suara anak kecil itu mungkin hanya ada dalam kenangan saja.
πΆπΆ
Ingin ku sampaikan
Salam terakhir untukmu
Sebelum 'ku tutup cerita cinta ini
Bila ku hanya kata
Denganmu bisa jadi kalimat
Menyusun semua perjalanan cinta kita
Kamu biasa denganku
Kamu biasa ada aku
Namun hidup ini jangan berhenti hanya bila aku pergi
Kenang lah aku di hati
Kenang lah senyum dan tangis ku
Baik dan marahku dan segalanya simpanlah saja dalam-dalam
Simpanlah selamanya dalam kenangan...
πΆπΆ
Pria itu tersenyum pahit, ia memegang erat gantungan kunci mobil Ferrari berwarna merah ditangannya, hadiah terakhir yang diberikan Albry padanya. Kelvin menangis, ia berdoa agar adiknya bahagia di alam sana.
"De.. yang tenang ya de.. kakak sayang Albry" ucap Kelvin penuh kesedihan di dalam hatinya.
***
Di kamar Albry..
Setelah lama menangis, akhirnya Alma bida tertidur di pelukan suaminya. Mungkin Alma lelah terlalu banyak menangis. Bryan merasa sakit hati melihat kondisi istri dan anak-anak nya saat ini. Kehilangan Albry adalah pukulan yang berat untuk semua keluarganya. Ya, memang hidup tak selamamya akan bahagia. Pasti ada ujian dan cobaan, apalagi dalam sebuah rumah tangga dan keluarga. Dan mungkin ini adalah ujian untuk Bryan dan keluarga nya.
Drett..
Drett..
π΅πΆπΆ
Ponsel Bryan yang ada di dalam saku celananya bergetar, seperti nya ada panggilan masuk atau pesan masuk di ponselnya. Dengan hati-hati Bryan, melepaskan pelukan nya dari istrinya dan melangkah perlahan keluar dari kamar Albry.
Bryan menerima telpon dari Ken, di dapur rumahnya. Wajah nya terlihat lelah.
"Kak..
"Ya Ken, aku disini. Ada apa?" tanya Bryan
"Pria pelaku penabrakan itu, dia mengakhiri hidupnya" jawab Ken
"Apa?!!" Bryan tersentak kaget." Bagaimana bisa?" tanya nya sambil mengambil botol berisi air di kulkas
Bunuh diri? kenapa dia melakukan nya? apa mungkin ada seseorang yang menyuruhnya?dia tidak mungkin bunuh diri begitu saja.
"Entahlah, menurutmu bagaimana kak? kenapa dia mengakhiri hidupnya? pasti ada alasan, bukan? dia mengakhiri hidupnya tepat saat dia dinyatakan tidak gila oleh pihak RSJ " kata Ken dengan nada yang serius
"Ken, bisakah sementara ini kamu berada di Jakarta?" tanya Bryan
"Baiklah kak, aku akan menyelidiki siapa cecunguk yang sudah menganggu keluarga mu." Ken tersenyum, ia langsung setuju
"Terimakasih Ken"
"Aku sudah menempatkan beberapa orang orang ku di dekatmu untuk jaga jaga bila terjadi sesuatu."
"Terimakasih"
"Kakak ingat, kan? pakaian mereka?"
"Jaket hitam, tato naga di leher." jawab Bryan
"Bagus kak, kalau begitu jagalah Kakak ipar dan si kembar. Aku dan kak Leon juga akan berhati-hati"
"Ya, baiklah" jawab Bryan.
...πππ...
3 hari sudah berlalu setelah kepergian Albry, selama itu juga Alma menjadi pendiam. Ia sering melamun. Bryan dan si kembar selalu berusaha menghibur Alma, bahkan Bryan juga mengerjakan pekerjaan nya di rumah untuk menemani Alma. Selama 3 hari itu juga, Kelvin dan Naina mengambil cuti sekolah.
Pada hari ke 4, saat Kelvin dan Naina bersiap untuk kembali sekolah. Mereka berdua sama-sama tertegun melihat kursi kosong yang selalu ditempati oleh Albry saat sarapan bersama.
Naina, ayo semangat! Albry tidak akan senang melihatmu sedih terus. Naina berusaha tersenyum
"Wah, ada nasi goreng Omelet di meja. Kelihatannya lezat" kata Naina dengan senyuman ceri di wajahnya
Apa bi Asih yang membuatnya? tapi ini seperti buatan Mama.ucap Naina sambil melihat nasi goreng Omelet yang ada di piringnya
"Iya kayanya enak" jawab Kelvin setuju
Mereka berdua duduk di kursi meja makan, bersiap untuk sarapan pagi. Tak lama setelah itu, Alma menyajikan 2 gelas susu untuk kedua anaknya itu. Naina dan Kelvin kaget melihat Alma yang sudah kembali seperti sedia kala.
"Selamat pagi Naina, Kelvin" sapa Alma pada kedua anaknya dengan senyuman tipis
Aku masih punya Bryan, Naina dan Kelvin, aku harus semangat dan tidak boleh mengabaikan tanggung jawabku terhadap mereka. Albry tidak akan senang melihatku sedih terus.
"Pagi ma.." jawab Kelvin dan Naina
Dari kejauhan Bryan tersenyum senang melihat Alma sudah mulai terlihat pulih. Pagi itu berjalan seperti pagi yang biasanya, Alma meminta Bryan untuk pergi bekerja seperti biasanya.
Bryan pergi beketja bersama Alma, sementara pak Jeffry mengantar Kelvin dan Naina ke sekolah mereka. Seperti biasanya Naina turun lebih dulu daripada Kelvin.
Saat sampai di kelasnya, Naina mendapat sambutan dari semua teman sekelasnya. Juna, dan yang lainnya senang melihat Naina bisa kembali ke sekolah.
"Nai, kami turut berduka ya " kata seorang siswi di kelasnya
"Kamu yang semangat ya Nai, ada kita disini" Keira memeluk Naina
"Makasih teman-teman" Naina tersenyum dan terharu dengan dukungan teman-teman nya, walau hanya dalam bentuk kata kata.
Naina berjalan menuju ke tempat duduknya, disana ada Juna juga menyambutnya dengan senyuman.
"Lo boleh duduk deket jendela" kata Juna sambil mengambil tas Naina dan menyimpan nya di dekat jendela
"Wah, tumben kamu baik padaku"Naina tersenyum
"Hari ini panas, gue gak mau duduk deket jendela" kata Juna cuek
"Makasih" Naina duduk di dekat jendela di samping Juna. Naina tersenyum pada Juna.
Syukurlah.. aku bisa melihat senyuman kamu lagi Nai.
Bel masuk pun berbunyi, semua siswa-siswi masuk kelas mereka masing-masing. Di kelas X-A, semua murid sudah duduk di bangku mereka dengan rapi dan patuh. Tak lama kemudian seorang guru datang, membawa seorang gadis cantik berambut pendek dan memakai seragam sekolah mereka.
Semua siswa dan siswi di kelas itu memandangi gadis cantik dan asing yang sedang berdiri di depan kelas bersama guru mereka.
"Cih, cantik apanya. Biasa aja tuh" gumam Juna malas mendengar obrolan teman-teman di kelasnya yang memuji muji gadis cantik di depan kelas.
Kok seperti nya aku pernah melihatnya. Naina melihat ke arah gadis cantik yang berdiri samping gurunya.
"Hari ini kelas kita kedatangan murid baru dari Paris" kata Bu Yuli ( guru bahasa Indonesia)
Gadis pindahan dari Paris itu tersenyum ramah kepada semua orang yang ada di kelas.
"Wow paris.. " terdengar riuh siswa-siswi di kelas itu, langsung heboh begitu mendengar gadis rambut pendek dan kulit putih bersih itu berasal dari Paris.
"Baiklah sudah jangan ribut! silahkan kamu perkenalkan diri kamu pada teman-teman kamu" kata Bu Yuli
"Terimakasih Bu.. Teman-teman semua, hai salam kenal semuanya. Namaku Arisya Liona Macmille, aku pindahan dari Paris.. semoga kita bisa berteman baik ya.." Gadis itu tersenyum manis pada semuanya saat semua orang bertepuk tangan untuknya.
PROK
PROK
"Kami mau berteman sama kamu!!" ujar seorang siswa senang.
DEG!
Naina terkejut mendengar nama itu disebut. Apalagi saat Risya menatap ke arahnya.
...---***---...