
...🍀🍀🍀...
Juna dan Naina sama sama tidak bisa mengalihkan pandangan satu sama lain. Kedua mata itu baru bertemu setelah hampir 6 tahun lamanya tidak bertemu. Mata yang menyimpan kerinduan, bahagia dan luka terpendam.
Naina memperhatikan penampilan Juna yang terlihat rapi, dengan setelan jas nya. Terlihat berbeda dengan Juna yang berada di dalam ingatannya dulu.
"Nai, kamu gak apa-apa?" tanya Juna sopan
Naina menggeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya terlihat bingung.
Enggak! dia gak mungkin Juna, Juna itu gak mungkin berpenampilan rapi, terus ngomong sopan kaya gini. Dia selalu bilang gue-elo bukan kaya gini. Gadis itu tidak mempercayai kalau pria yang ada di depannya itu adalah Juna.
Pria yang sudah meluluhlantakkan hatinya, selalu dirindukan olehnya. Terutama saat bertengkar, bercanda tawa dengan Juna. Hal itulah yang paling Naina rindukan dari Juna.
Naina kenapa sih? kenapa dia geleng-geleng kaya gitu? Juna merasa aneh melihat Naina yang diam dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nai, mobil kamu kenapa? mogok ya?" tanya Juna sambil melihat ke arah mobil berwarna putih yang di kendarai oleh Naina.
Ini pasti hantu, ini bukan Juna! gumam Naina dalam hatinya.
"Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum.."
"Naina! kamu kira aku setan?" tanya Juna sambil tersenyum, ia memegang tangan Naina dan menghentikan Naina melantunkan ayat kursi yang sedang ia baca.
Sentuhan Juna terasa nyata ditangannya, Naina menatap Juna lagi dengan mata yang berkaca-kaca. Tangan Naina membelai pipi Juna, pipi Juna memerah ia mesem di buat oleh Naina.
Naina kenapa?
Gadis itu kemudian mencubit pipi Juna dengan keras.
"Auw!! Nai sakit!!" Juna memegang pipinya yang baru saja dicubit oleh Naina.
"Beneran nyata, itu kulit benaran!" Naina terlihat bingung, ia menunjuk ke arah pipi Juna.
"Ya iyalah ini kulit, masa ini batu sih. Sakit tau" keluh Juna dengan bibir monyong nya itu.
"Junjun??" tanya Naina yang masih belum yakin kalau pria itu adalah Juna.
"Iya ini aku angry Cat" jawab Juna sambil tersenyum pada Naina.
DEG!
Kata-kata dan senyuman Juna, sukses membuat hati Naina berdebar kencang. Tidak ada yang memanggil Naina dengan sebutan angry cat selain Juna.
Dia benar-benar Juna.
Naina melangkah pergi ke arah mobilnya, meninggalkan Juna yang masih berdiri untuknya. Juna terkejut karena Naina seperti menghindar darinya.
"Nai.. tunggu Nai!" Juna memegang tangan Naina.
"Apaan sih?!" Naina menepis tangan Juna, wajahnya terlihat kesal.
Kenapa Juna ada disini? kenapa dia datang lagi? kenapa juga perasaanku campur aduk begini melihatnya? Ya Allah aku ingin menangis. batin Naina keheranan dengan perasaan nya yang campur aduk itu
Juna, jangan takut.. kamu harus hadapi semua ini. Kamu yang salah, kamu kesini untuk menjelaskan semuanya pada Naina. Jangan menghindar.
Juna menguatkan tekadnya untuk menggapai Naina yang sudah berada di dekatnya.
Naina tidak sanggup menatap Juna. Juna malah menarik tangannya lalu mendekap Naina dengan erat.
"Juna.. kamu..."
"I miss you, angry cat" ucap Juna dengan nada yang lembut, ia tersenyum bahagia dapat bertemu lagi dengan Naina dan memeluk gadis itu.
DEG!
Lagi-lagi Naina sukses di buat berdebar oleh Juna. Kedatangannya yang tiba-tiba, sudah membuat Naina kaget. Di tambah lagi dengan Juna yang memeluknya dan mengatakan bahwa pria itu sangat merindukan nya. Naina hanya berharap hatinya tidak akan meleleh oleh sikap Juna.
"Lepas! lepas, Juna!" seru Naina yang berusaha mendorong Juna, melepaskan dirinya dari pelukan Juna. Namun, Juna malah memeluknya semakin erat.
Aku juga rindu sama kamu Jun, tapi aku masih marah.
"Gak mau, memangnya kamu tidak kangen sama aku? Kita pelukan lebih lama lagi ya" kata Juna dengan muka tebal nya.
"Gak tau malu!" Naina bersiap dengan kaki kanannya untuk menendang Juna, dengan cepat Juna menghindar.
"Haha.. masih trik yang sama. Kamu gak berubah ya" Juna tertawa lalu ia melepaskan pelukannya.
Sabar Juna, kamu memang pantas dapatkan ini.
"Kamu mau kemana, Nai? mobil kamu mogok ya?" tanya Juna pada Naina. Naina mengabaikan Juna yang sedang bicara padanya.
Tidak tahu malu! dia masih aja mengoceh kaya dulu. Nyebelin! gerutu Naina pada Juna
Naina beranikan ke mobil nya, ia mengambil tas, kunci mobil dan ponselnya juga. Naina mengambil ponselnya lalu ia mengirim pesan pak Jeffry untuk menjemputnya, lalu membantu membantu orang untuk membawa mobil nya yang mogok ke bengkel.
"Apa kamu mau ke restoran nya Damar?" tanya Juna sambil mendekati Naina yang seperti sedang menunggu sesuatu.
"Ya" jawab Naina jutek
"Kebetulan aku juga mau kesana, bareng aku aja yuk" ajak Juna sambil tersenyum lebar
Selama ini dia pergi gak tau kemana, terus tiba-tiba muncul dan mau ke restoran Damar. Apa dia kesini untuk Damar? batin Naina berfikir
"Gak usah, aku nunggu pak Jeffry aja" jawab Naina cuek bebek
"Udah bareng aku aja, aku juga mau kesana" Juna tersenyum membujuk Naina untuk berangkat bersamanya.
Ayo Nai, ikut lah denganku dan aku akan jelaskan semuanya sama kamu. Juna berharap agar mau ikut dengannya.
"Kita gak cukup dekat untuk berangkat bersama, kalau kamu mau pergi yang pergi saja sendiri!" ucap Naina ketus. Naina masih menyimpan kemarahan, kesal di hatinya untuk Juna. Naina tidak pernah lupa kalau Juna pernah meninggalkannya.
Membiarkan dirinya menunggu ditengah hujan, tanpa kabar. Lalu Juna menghilang dari hidupnya. Kesalahan Juna yang tanpa kabar itu lah yang membuat Naina bersedih dan marah.
"Kata siapa kita gak dekat? kita kan sangat dekat dan kita juga adalah teman baik saat SMA" oceh Juna, memancing Naina yang masih berwajah kesal
Aku harus setidak tahu malu apa agar kamu mau menatapku Nai? aku harus bicara sama kamu Nai..
"Teman baik? kamu bercanda ya? memangnya kamu pernah menganggap ku sebagai teman?" tanya Naina sambil menyilangkan tangan di dada.
"Naina.. sebenarnya aku.."
BRUM..
CKITT...
Sebuah mobil berhenti di depan Naina, itu adalah mobil pak Jeffry. Juna merasa sial karena pak Jeffry datang disaat yang tidak tepat.
"Non, bapak udah telpon teknisi buat bawa mobil non ke bengkel. Ayo non, saya anter" ajak Pak Jeffry
"Iya pak" ucap Naina sambil membuka pintu belakang mobil yang di naiki pak Jeffry. Dengan berani Juna menutup kembali pintu mobil itu.
JEBLAK!!
"Ka-kamu.." Naina menatap Juna dengan kesal. Naina lebih terkejut lagi saat Juna menggendong tubuhnya dengan paksa.
"Kyaaa!!! Juna kamu udah gila ya? dasar tidak tahu malu! turunin aku! Juna!!"
BUK
BUK
Gadis itu memukul-mukul tubuh Juna, meminta diturunkan dari gendongan Juna. Naina bahkan sampai mencubit cubit keras tubuh Juna yang kekar itu.
"Non Naina!" Pak Jeffry panik melihat Naina yang dibopong oleh Juna di bahunya.
"Arjuna Ardiwinata! kamu cowok preman!" Naija memaki pria itu dengan kesal.
"Maaf pak Jeffry, bapak juga kenal sama saya kan? bapak gak usah khawatir, saya gak akan ngapa ngapain Naina. Saya ada masalah yang harus di selesaikan sama Naina, mohon pengertiannya ya pak" jelas Juna sambil menahan sakit tubuhnya di cubit dan di pukul oleh Naina.
"Tuan Juna tapi..."Pak Jeffry terlihat bingung. Namun, pak Jeffry percaya kalau Juna tidak akan menyakiti Naina.
"Pak Jeffry! jangan dengerin si gila ini! telpon polisi aja pak Jeffry!" teriak Naina marah-marah.
Juna malah menertawakan Naina yang sikapnya masih sama seperti dulu. Juna bersyukur karena Naina masihlah Naina yang dulu, Naina yang pemarah. Sesuai julukannya si angry cat.
"Udah pak, bapak tenang aja. Biar saya yang urus" Juna tersenyum santai.
Juna membawa Naina masuk ke dalam mobilnya di bangku depan. Pak Jeffry menatap mobil Juna yang baru saja melaju itu.
"Apa non Naina akan baik-baik aja ya?" gumam Pak Jeffry dengan wajah bingungnya.
...---***---...