
Telpon tersambung pada Kelvin, dan langsung diangkat olehnya.
"Halo, pah?" tanya Kelvin
"Vin, kamu dimana?" tanya Bryan
"Papa, aku di sekolah sama om Ken dan pak Han juga" jawab nya
"Di sekolah? bukannya kamu di rumah sakit, nak?" tanya Bryan heran
"Vin, keadaan Naina gimana? kenapa kamu malah disekolah bukannya temani adik kamu?" tanya Alma
"Ma.. pa.. tenang aja, Naina gak apa-apa. Aku sama om Ken lagi di sekolah, untuk menghukum orang yang sudah mencelakai Naina" jelas Kelvin
"Apa??! jadi Naina di celakai? oleh siapa nak?" tanya Alma dan Bryan tersentak kaget.
"Nanti saja Kelvin menjelaskan nya pah, sekarang Kelvin mau ngurus dulu pelaku nya" jawab Kelvin yang langsung menutup telpon dari papa dan mamanya.
Bryan dan Alma langsung kebingungan dengan kata-kata Kelvin. Mereka berdua langsung yakin untuk segera kembali ke Jakarta.
...****...
Kelvin dan Ken berada di sekolah, bahkan membawa beberapa polisi. Mereka langsung menangkap Risya yang sedang berada di dalam kelas.
Guru-guru juga sudah tau kalau Risya yang sudah mencelakai Naina, tapi ada hal yang lebih parah dari itu sampai polisi datang untuk menangkapnya. Risya menjadi tontonan semua orang yang melihatnya.
"Apa apaan ini? kenapa tangan saya di borgol?!" tanya Risya pada seorang polisi yang memborgol tangannya itu.
"Kejahatan itu tidak akan berlangsung lama, Risya kamu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan mu!" seru Kelvin marah
"Apa maksud kamu Kelvin? aku ada salah apa?" tanya Risya dengan wajah polos
"Nyawa adikku yang kamu hilangkan, kamu harus mempertangungjawabkan nya!" seru Kelvin emosi sambil mendorong Risya dengan kasar.
DEG!
Risya panik sekali dalam hatinya, ia tak menyangka bahwa kejahatan yang ia tutupi rapat-rapat itu akan berakhir dengan cepat. Kelvin, Ken dan orang-orang nya yang pintar bisa mengusut pembunuhan Albry.Lalu bagaimana dengan balas dendam nya pada keluarga Aditama.
Perkataan pedas mulai bermunculan dan ditujukan untuk Risya. Spekulasi negatif untuk Risya mulai merebak kemana-mana. Dalam hatinya Risya merasa tertekan dan sedih dengan kata-kata orang-orang itu padanya.
"Apa? benarkah selebgram Risya itu membunuh adiknya Kelvin?"
"Gila! bukankah ini artinya di psikopat"
"Rasanya gue gak percaya deh, wanita secantik itu bisa membunuh orang?"
"Bukankah dia juga yang menaruh kalajengking beracun di sepatu Naina?"
"Jahat banget!"
"Apa dia gila? bukankah ibunya juga masuk rumah sakit jiwa?"
"Bisa jadi tuh"
Risya tiba-tiba tertawa, wajahnya yang polos berubah menjadi menyeramkan. Risya tersenyum menyeringai, ia menatap Kelvin dengan penuh dendam.
"HAHAHA.. sayang sekali ya, adikmu yang satu lagi tidak mati" Risya tertawa seperti sudah kehilangan kewarasannya
"Jadi benar-benar kamu ya?" tanya Kelvin sambil menarik kerah baju Risya dengan kesal.
Kelvin teringat kematian adiknya yang menyakitkan dengan wajah yang rusak. Belum lagi ibunya yang sempat depresi karena kehilangan Albry, dan kejadian Naina yang hampir kehilangan nyawanya karena kalajengking beracun.
"Kelvin tenang! Kelvin!" ujar Ken sambil menarik Kelvin yang emosi pada Risya.
"Kenapa? kamu mau memukulku?" tanya Risya menantang
"Kamu sudah gila!" seru Kelvin marah
Ken dan beberapa polisi disana menghentikan Kelvin yang akan menyerang Risya.
Tidak kusangka semuanya akan berakhir disini, maafkan aku mama. Aku tidak bisa menjalankan amanat darimu sampai tuntas. Risya tersenyum sedih
Risya dibawa ke kantor polisi tanpa perlawanan. Kelvin masih emosi, hatinya masih tak bisa tenang. Ia mengambil tas nya di kelas dan berencana untuk kembali ke rumah sakit. Teman-teman nya turut merasakan kesedihan Kelvin tentang apa yang terjadi pada keluarga nya.
"Vin, Lo yang sabar ya, dan tenang juga. Syukurlah pelaku nya sudah ditangkap" Theo menyemangati Kelvin
"Gue.. gue selalu berfikir gue akan selalu jadi orang pertama yang melindungi saudara saudara gue. Gue pikir, kalau gue bisa melindungi mereka berdua. Tapi.. gue malah gak ada di saat mereka kesulitan, Albry sampai meninggal dunia, Naina juga jadi korban. Kakak macam apa gue ini" Kelvin sibuk menyalahkan dirinya sendiri
"Ini bukan salah Lo, Vin. Jangan nyalahin diri Lo lagi, yuk kita ke rumah sakit jenguk Naina. Kalau dia lihat Lo sedih kaya gini, gimana Lo bisa jelasin tentang Alm. Albry dan Risya?" tanya Theo
"Lo bener, gue harus kuat. Thanks, yo" Kelvin tersenyum
Aku harus berterimakasih dan balas budi sama si trouble maker itu, dia udah nyelamatin Naina. Kalau bukan karena dia, Naina udah tiada atau lumpuh.
Sepulang sekolah, Juna mengajak teman-teman nya untuk menjenguk Naina di rumah sakit, Keira dan Nisha juga ikut. Nisha sudah pergi duluan naik motor bersama Theo.
"Kei, kamu juga mau ke rumah sakit?" tanya Kelvin yang akan naik mobil bersama pak Jeffry
"Iya aku mau jenguk Naina juga" jawab Keira
"Kei, gue juga mau ke rumah sakit. Yuk bareng gue aja" kata Damar mengajak
"Em..." Keira terlihat bingung melihat ke arah Kelvin dan Damar.
Kelvin kan gak ngajakin aku, ya udah aku sama Damar aja deh. Keira melangkah ke arah Damar, namun Kelvin memegang tangan Keira.
"Kel.. Kelvin.." Keira menengadah ke arah Kelvin
"Kamu naik mobil aja, bareng aku" ajak Kelvin
"I..Iya, maaf ya Damar.. aku ikut kak Kelvin aja" Keira tanpa ragu menolak Damar yang mengajaknya.
"Iya gak papa" jawab Damar kecewa
Apa ini perasaan ku saja? kenapa aku merasa si genius cold man itu suka sama si Keira? kenapa juga aku kesal?
Damar terlihat kesal melihat Kelvin memegang tangan Keira. Ada perasaan tidak nyaman dihatinya melihat Keira bersama pria lain.
"Mar, ayo! kenapa ngelamun aja Lo?" tanya Nando
"Si Juna udah cabut duluan tuh" ucap Bagas seraya melihat ke arah Juna dan motornya yang sudah melaju cukup jauh
"Ya kalau soal urusan si Naina dia emang garcep banget dah" timpal Reza
"Katanya dia juga mau beli sesuatu buat si Naina" kata Nando
"Dia jadi rajin sekolah semenjak deket sama si Naina, gue rasanya gak percaya dia jadi bucin gitu" Reza tersenyum sendiri
"Gue juga gak nyangka, yuk ah cabut!" ajak Damar pada teman-teman nya itu.
Keira? apa dia juga suka sama si Kelvin?
BRUM
BRUM..
Damar, Nando, Reza dan Bagas melajukan motor mereka menuju ke rumah sakit.
Di dalam mobil, Kelvin dan Keira duduk bersebelahan. Keira membuka tas gendongnya dan mengambil tas keresek yang ada di dalamnya. Keira langsung menyerahkan keresek berisi sesuatu di dalamnya itu pada Kelvin.
"Apa ini?" tanya Kelvin
"Kue.."
Kelvin membuka keresek itu, terlihat sebuah kotak bekal berwarna pink di dalam sana. Kelvin tersenyum melihat nya."Kamu masih suka warna pink?" tanya Kelvin
Diam-diam pak Jeffry melihat Kelvin dan Keira dari spion depan. Pak Jeffry tersenyum melihat tuan mudanya yang biasanya tidak berekspresi pada orang lain, bisa berekspresi di depan Keira.
"Hehe iya, memangnya kenapa?" tanya Keira
"Kamu tidak berubah" jawab Kelvin sambil membuka kotak berwarna pink itu. Disana ada kue vanilla bercampur coklat lumer di atasnya.
"Aku tidak berubah, aku masih Keira" jawab Keira sambil tersenyum "Dicoba dong kuenya, jangan cuma di liatin aja"
"Oke" Kelvin mengambil sepotong kue yang ada di kotak bekal berwarna pink itu, ia memakannya dengan perlahan. Coklatnya sampai belepotan di mulutnya. "Ini enak banget, gimana kalau kamu jualan aja Kei?" tanya Kelvin
"Hehe, aku juga pengennya jualan. Tapi kan waktu aku habis buat kerja"
"Kamu belum cerita pada Naina dan yang lain tentang kerjaan kamu ini?" tanya Kelvin
"Belum, rencananya aku mau kasih tau mereka hari ini. Tapi terjadi sesuatu pada Naina" jawab Keira
"Baiklah, kalau ada yang membuatmu kesulitan dan kamu ada masalah yang tidak bisa kamu selesaikan sendiri. Tolong beritahu aku ya" Kelvin tersenyum dan mengelus rambut panjang Keira
Kelvin! apa yang kamu lakukan?
Deg,Deg, Deg
Kelvin membelai ku?
Keira membeku saat Kelvin membelai lembut rambutnya, ia salah tingkah dengan sikap Kelvin padanya. "I..ini tadi di rambutmu ada daun" ucap Kelvin yang juga salah tingkah, ia pura-pura membuang sesuatu yang bahkan tidak ada di rambut Keira
"Ah iya hehe" Keira tersenyum canggung. Kedua nya sama malu-malu dengan tingkah masing-masing." Ah ya, Kelvin! itu ada coklat di mulut kamu. Belepotan tuh!"
"Oh ya?" Kelvin mengusap usap mulutnya.
"Ih bukan disitu, masih ada tuh" ucap Keira gemas melihat noda coklat yang belepotan di wajah Kelvin.
"Lalu dimana?" tanya Kelvin bingung
"Maaf ya Vin" Tangan Keira yang lembut menyeka coklat yang belepotan di bibir Kelvin dan sekitaran mulutnya. Keduanya bertatapan satu sama lain.
Ada apa ini? dadaku berdebar-debar!. Kelvin dan Keira panik sendiri, mereka saling memalingkan wajah setelah saling menatap.
...***...