Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 95. Sabar



πŸ€πŸ€πŸ€


Theo merasa bersalah melihat Nisha memberikan banyak perhatian padanya. Disisi lain, hatinya hanya untuk Naina. Theo sempat berfikir untuk mengakhiri hubungan pura-pura ini dengan Nisha, tapi dia tidak tega.


Setiap hari di sela-sela kesibukannya sebagai pramugari, Nisha selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Theo. Nisha sangat gigih untuk berusaha mengambil hati Theo, ia yakin bahwa suatu saat nanti Theo akan berpindah hati padanya.


"Dia sudah berpuluh-puluh kali mengirimkan pesan padaku hari ini. Aku akan jadi orang jahat kalau aku mengabaikan pesannya terus terusan. Aku tau seberapa lelahnya menunggu jawaban seseorang, Nisha.. kali ini aku akan membalas mu tapi bukan karena cinta, aku hanya kasihan" gumam Theo sambil memencet tombol memanggil Nisha.


🎢🎢


Nisha yang akan segera berangkat untuk penerbangan, terkejut karena dia mendapatkan panggilan dari Theo. Wajahnya berseri-seri, terlihat sangat bahagia seolah mendapat Jack pot.


Kak Theo Calling.


"Kak Theo! tumben banget dia menelpon ku?" Nisha tersenyum melihat nama Theo tertera di ponselnya.


Kedua teman nya disana tersenyum melihat Nisha yang bahagia mendapatkan telpon dari Theo.


Nisha segera mengangkatnya dengan gugup,"Halo kak"


Kak Theo menelpon ku! dia berinsiatif menelpon ku. Nisha senyum-senyum tidak karuan


"Halo Nish, maaf ya aku gak bisa balas pesan kamu satu satu. Jadi aku telpon kamu aja"


"Iya kak gak papa, apa kakak sudah makan? kakak sudah istirahat?" tanya Nisha perhatian


"Ini aku lagi jam istirahat, aku habis dari ruang operasi" jawab Theo


"Oh gitu ya, kakak jangan lupa makan ya. Kakak selalu melewatkan makan kalau lagi bekerja. Aku tau kakak sibuk, tapi kakak harus tetap berusaha untuk makan tepat waktu.. atau kakak akan sakit" ucap Nisha lembut, perhatian nya sangat tulus


Kenapa aku tidak merasakan apa-apa saat Nisha memberikan perhatian nya padaku? kenapa aku malah membayangkan kalau Naina yang memberikan perhatian padaku?. Theo terdiam mendengar ucapan Nisha padanya.


"Kakak? kak Theo gak apa-apa?" tanya Nisha cemas karena tak kunjung mendengar suara Theo.


"Aku gak apa-apa. Kamu juga jangan lupa makan dan istirahat" ucap Theo dengan suara yang pelan


"Kak Theo bilang apa? aku gak dengar jelas" tanya Nisha


"Aku bilang, kamu jangan lupa makan dan istirahat. Bukankah hari ini kamu ada penerbangan? jangan sampai sakit"


Deg!


Nisha tersenyum lebar, hatinya kembali berdebar hanya karena satu kalimat dari Theo berisi perhatian padanya.


"I-iya kak, kakak juga"


Drett..


Saat sedang bicara dengan Theo, panggilan lain masuk ke ponselnya. "Nisha? kenapa?" tanya Theo yang mendengar suara aneh saat menelpon Nisha


"Maaf kak, ada panggilan masuk dari Damar nih. Kenapa Damar menelpon ku ya? akhir-akhir ini dia sering menelpon" gumam Nisha sambil melihat panggilan masuk dari Damar ke ponselnya.


"Damar? dia sering menelpon kamu?" tanya Theo terdengar tidak senang


Sejak kapan Nisha dekat dengan Damar? apa sejak di restoran waktu itu ya.


"Iya kak, aku angkat dulu telponnya ya" ucap Nisha yang akan memencet tombol putus untuk panggilan Theo dan tombol menjawab untuk Damar, namun pertanyaan Theo membuatnya terdiam.


"Penting mana mengangkat telponnya atau telpon dariku? kamu mau memutus panggilan dariku untuk dia?" tanya Theo kesal


Kenapa aku kesal ya?


"Tentu saja dari kak Theo" jawab Nisha


"Aku masih dengar suara panggilan nya, kenapa tidak ditutup? atau kamu mau menutup telpon dariku?" tanya Theo gusar


"Ah iya.. aku akan putus panggilan dari Damar sekarang" ucap Nisha buru-buru, lalu menekan tombol tolak panggilan pada Damar


Ini perasaan ku saja atau memang kak Theo sedang kesal padaku?. batin Nisha keheranan


Kenapa aku senang, Nisha memutuskan panggilan dari Damar?. Theo bingung dengan hatinya sendiri.


Mungkinkah ada sedikit cinta yang mulai bersemi di hati Theo untuk Nisha.


****


Mereka sampai di depan rumah Naina..


"Jun? kamu kenapa? dari tadi kok diam terus?" tanya Naina yang heran karena Juna tak kunjung bicara sejak berada di dalam pesawat bahkan sampai saat itu.


"Ehm.. gak papa Nai" jawab Juna dengan senyum pahitnya


Gimana ini, rencana lamaran ku untuk Naina jadi kacau. Padahal kapan lagi ada momen seperti ini. Dua hari lagi, aku juga ada perjalanan bisnis ke Singapura. Juna menghela napas panjang.


"Ada apa? jangan sampai aku bertanya dua kali! atau.. apa kamu lagi memikirkan wanita lain?" tuduh nya pada Juna


"Memikirkan wanita lain apa? aku hanya memikirkan kamu, saat ini juga aku sedang memikirkan kamu" kata Juna tegas


"Hem..benarkah? lalu apa yang kamu pikirkan tentang aku?" tanya Naina sambil menyilangkan kedua tangannya di dada


Tidak mungkin kan Juna mencurigai penyakit ku.


"Aku memikirkan untuk membuat kamu bahagia, aku memikirkan bagaimana aku bisa menikah dengan kamu sekarang juga!" terang Juna jujur mengutarakan isi hatinya.


"Jun, aku kan udah bilang kalau aku gak mau buru-buru" ucap Naina pada Juna


"Tapi aku ingin secepatnya, aku gak bisa nunggu lama-lama lagi. Setidaknya kita harus punya ikatan dulu" gerutu Juna sedih


"Juna, seperti nya kita jangan bicarakan ini dulu"


Benar, sebelum aku sembuh aku tidak boleh memikirkan dulu hal yang lain.


"Kenapa tiba-tiba kamu seperti ini? kamu tidak mau menikah denganku atau bagaimana? apa kamu tidak mencintai ku lagi? atau apa ini karena wanita itu? kamu masih salah paham padanya? bukannya aku sudah menjelaskannya semuanya kalau di.."


Sebelum Juna menyelesaikan kalimatnya, Naina mencium pipi Juna dengan lembut. Juna langsung berhenti bicara dan memegang pipinya.


"Kamu ngoceh terus, diam lah dan dengarkan aku Jun. Aku pasti akan menikah sama kamu, tapi gak sekarang. Semua ada waktunya, karena aku cinta kamu" Naina tersenyum lembut pada Juna


Hal itu membuat Juna berdebar-debar, dia ingin sekali melahap dan memiliki Naina saat itu juga. Tapi dia ingat dengan status diantara mereka yang belum memungkinkan untuk melakukan itu. Mereka belum memiliki ikatan resmi apa-apa, selain cinta yang mengikat hati mereka.


"Tapi kapan Nai?" tanya Juna merengek


"Tunggu setelah pernikahan kak Kelvin ya? aku mohon kamu untuk bersabar. Lagipula kamu belum dapat restu sepenuhnya dari papa ku sama om Ken, kan?" tanya Naina


"Iyah.." jawab Juna. Dia sendiri memang merasa kalau Ken dan Bryan belum memberikan jawaban setuju seratus persen pada nya untuk menikahi Naina.


"Pergunakan lah waktu itu untuk mendapatkan hati mereka, kalau mereka sudah setuju aku tidak akan menghalang-halangi kamu untuk meminang ku" ucapnya serius


"Janji ya?" tanya Juna tidak yakin


"Janji" jawab Naina sambil tersenyum lembut


Setelah satu bulan itu, mari kita hidup bahagia Jun. Tunggu sampai aku sembuh, kamu harus bersabar.


"Maka saat restu itu sudah kudapatkan sepenuhnya, jangan harap kamu bisa lari" Juna tersenyum lalu memegang kedua tangan Naina dengan lembut. "Nai.. kenapa tangan kamu dingin banget?" tanya Juna yang merasakan kalau tangan digenggam nya itu terasa dingin.


"Ehm.. Jun, aku gak apa-apa kok.. AC di pesawat terlalu dingin, makanya tubuhku jadi dingin"


"Kenapa kamu gak bilang kalau AC nya terlalu dingin? Nai, kamu kan masih sakit" Juna terlihat cemas, dia memegang tangan Naina dan menghangatkan nya.


"Juna.. kamu udah janji ya gak akan kasih tau tentang kecelakaan di Maldives itu" ucap nya pada Juna mengingatkan.


"Iya Nai..aku janji" Juna mengusap-usap tangan Naina untuk menghangatkan nya. Naina tersenyum bahagia mendapatkan perhatian dari pria yang dia cintai.


"Kecelakaan? siapa yang kecelakaan?" tanya Alma yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Naina.


"Ma-mama?!!"


"Mama mertua??" Juna dan Naina terperangah melihat Alma yang sudah berdiri disana sambil mengernyitkan dahi nya.


...---***---...


Hai.. Readers.. gak sangka ya udah sampai pada episode 200 juga novelku ini πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³πŸ’ͺπŸ’ͺ. Ucapan terimakasih dari author untuk readers tersayang...


Makasih ya untuk kalian yang selalu mensupport karyaku, d dengan komen, like, vote dan gift yang kalian berikan telah membuat author semangat πŸ₯°πŸ₯°β˜ΊοΈ


nah biar author crazy up lagi, ayo dong kasih like, komen nya ☺️