
Malam semakin larut hingga sampailah pada dini hari menuju ke arah subuh.
Bryan tidak mengindahkan kondisi lelah pada tubuhnya. Matanya menghitam, tidak tidur sama sekali. Semalaman ia dan anak-anak buahnya mencari keberadaan Alma dan Gerry yang menghilang. Bryan menggunakan semua kekuasaan dan kekuatan koneksi nya untuk menemukan keberadaan Alma. Mike juga membantunya, tampak wajahnya babak belur karena di hajar oleh Bryan. Selain menghajar Mike ,ia juga menghajar para bodyguard yang bertugas menjaga Alma karena emosi.
Bryan ingin menelpon polisi, namun waktu tidak memperbolehkan nya melapor. Harus sudah lewat 24 jam barulah bisa melapor.
Sebelum nya Bryan sudah menaruh pelacak di kalung yang pernah ia berikan pada Alma. Namun, kalung nya jatuh dan ditemukan oleh Viona. Dini hari itu Bryan sedang memeriksa CCTV di semua tempat yang ada di kota besar itu. Ternyata semuanya tidak mudah juga bagi Bryan yang memiliki kekuasaan luas, memeriksa CCTV setiap tempat sudah menyita banyak waktunya.
Bryan terlihat sangat khawatir, wajahnya tampak cemas dan sedih. Jantungnya berdebar-debar, memikirkan istrinya yang belum diketahui keberadaannya itu.
" Bryan maafkan aku, anak buah ku juga belum menemukan sesuatu tentang Gerry " ucap Mike menyesal
" Kamu pikir maaf itu berguna sekarang?!" suara Bryan meninggi, tangannya memegang kepala nya.
πΆπΆπΆ
Drett..
Bryan mendengar suara dering dari ponselnya. Ia heran siapa yang menelpon dini hari seperti ini.
Laura Calling...
" kak Laura? ngapain dia telpon jam segini?" gumam nya malas
" Siapa tau itu penting, angkat lah Bryan " ujar Mike
Bryan mengangkat telpon dari kakaknya yang masih berada di Paris itu. Ia memberitahu kan pada adiknya itu bahwa Selina pergi ke Jakarta setelah menyiksa Risya dan dilaporkan ke polisi oleh Jason.
" Apa? apa kakak serius?" tanya Bryan tercengang
" Iya, dari keterangan Jason dan Risya seperti nya Selina tidak waras. Dia masih terobsesi sama kamu Bryan, kamu dan Alma harus hati-hati " Laura mengingatkan
Ini semua udah jelas sekarang, kalau Selina adalah dalangnya.
" Terimakasih atas info nya yang berharga kak " Bryan terdengar sedih
" Ada apa Bryan? apa kamu ada masalah sama Alma? kalian baik-baik saja kan?" tanya Laura cemas
" Kak, Alma hilang dan aku tidak tau bagaimana keadaan nya "
" Apa? Alma hilang??!" Laura terkejut
" Aku tutup dulu telponnya kak, aku harus melanjutkan pencarian istriku " Bryan cepat memutus sambungan telpon dengan Kakak nya itu. Padahal Laura belum selesai bicara.
" Ada apa Bryan? " tanya Mike
" Sekarang fokuslah mencari keberadaan Selina! " ujar Bryan pada anak buahnya.
" Selina?" tanya Mike
Bryan dan Mike gencar mencari keberadaan Alma, Selina dan Gerry. Setelah berjuang semalaman mencari cara, secercah harapan mulai terlihat saat salah satu anak buah Mike menemukan sebuah mobil mencurigakan keluar dari apartemen tempat Gerry tinggal, dan mobil itu menutup plat nomornya.
" Siapa yang bisa memecahkan plat nomor yang ditutupi ini? " tanya Mike bingung " Jika memanggil teknisi, itu akan membutuhkan waktu lama "
" Aku tau seseorang yang bisa memecahkan nya " Bryan tersenyum, ia terpikirkan seorang jenius yang dekat dengannya dan selalu bisa memecahkan masalah yang berkaitan dengan teknologi modern.
Bryan memegang ponselnya dan langsung menelpon seseorang.
πππ
Sinar mentari, sedikit menerangi ruangan yang gelap dan sempit itu. Gerry terbangun dan melihat Alma yang masih tertidur tak jauh dari tempatnya di ikat. Seperti nya Gerry sudah sepenuhnya sadar, bebas dari pengaruh obat yang ada di tubuhnya. Terlihat dari matanya yang sudah mulai normal, penglihatan nya juga membaik seperti semula.
" Rupanya dia masih tidur, dia tertidur sangat lelap. Itu pasti karena semalam ia tidak tidur. Syukurlah pengaruh obat dalam tubuhku sudah hilang. " gumam Gerry.
Gerry melihat Alma tertidur, wajahnya pucat dan kepalanya terkulai ke bawah.
" eh, dia tidur atau pingsan sih?" Gerry mulai panik melihat wanita yang ada disebelahnya itu tak sadarkan diri. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka.
Apa itu Selina? bagaimana ini?
CEKRET
" Wah wah ternyata kalian masih hidup " ucap anak buah Selina sambil membawa nampan berisi sepiring makanan di tangannya
" Ini makan lah dulu, sebelum kalian mati haha "
Gerry tak berkomentar apa-apa, dan terlihat mencari cari sesuatu untuk melepaskan ikatan nya. Salah satu pria itu mendekat ke arah Alma yang masih tidur, menatapnya dengan tatapan genit.
" Lihat dia, si mungil ini cantik juga ya "
" Tubuhnya lumayan, sayang kalau langsung dihabisi oleh bos Selina. Mending kita nikmati dulu saja "
" ide bagus "
" Kalian jangan sentuh dia !" Gerry menatap kedua pria itu dengan tajam, ia tak bisa apa-apa karena pergerakan nya terbatas. Gerry menendang salah satu pria itu dengan kakinya.
BUGH
" Berani sekali ya menendang ku!" Pria itu marah dan memukul Gerry habis-habis.
Tak lama kemudian, Alma sudah terlepas dari ikatan nya dan menjerat leher salah satu pria itu dengan tali. Ia juga membawa pecahan kaca di tangannya yang bercucuran darah.
" Hentikan itu, atau teman mu mati ! " Alma mengancam pria yang memukuli Gerry
Kalau saja aku tidak buru-buru, aku pasti tidak akan melukai tanganku dan membuatnya terluka. Aku harus cepat keluar dari sini sebelum aku kehabisan darah.
" ACK ! lepaskan aku!" pria itu kesakitan karena lehernya di jerat oleh Alma, Alma bahkan mengikat kedua tangan pria itu dengan erat dan kuat. Ia menodongkan pecahan kaca ke arah pria itu.
Kapan dia melepaskan diri?
Kedua pria itu dan Gerry kaget melihat Alma sudah terlepas dari ikatannya. Padahal baru saja mereka melihat Alma tidak sadarkan diri dan tidak berdaya di depan mereka.
Wanita yang cerdik, bernyali besar. batin Gerry
" Ba-baik aku tidak akan memukul nya lagi. Tapi lepaskan temanku "
" Tidak akan, sebelum kamu membuka ikatan nya! cepat buka !" teriak Alma marah, sambil menggores sedikit pecahan kaca itu ke leher teman si pria dan membuatnya berdarah.
" selamatkan aku bro! wanita ini serius !" ujar temannya itu
Tidak disangka wanita yang kecil dan terlihat lemah lembut ini bisa sangat galak. batin pria bertubuh besar itu.
Dia menuruti permintaan Alma dan melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Gerry. Setelah itu dengan beberapa gerakan bela diri nya , Gerry leluasa menghajar dua orang itu. Melihat pintu terbuka, ia dan Alma segera berlari ke arah sana.
Mereka berlari keluar dari ruangan itu sebelum kedua anak buah Selina kembali mengejar mereka.
" Akhirnya kita bisa keluar juga "
" Ternyata kamu cukup pintar " Gerry memuji
" Dan ternyata anda bodoh pak Gerry "
" Kamu mengejekku hah?"
" Jangan marah, dan jangan lupa aku yang menyelamatkan mu " kata Alma bangga
" Wah wah, kamu bangga sekali ya " Gerry tersenyum tipis
" Sudahlah, ayo kita keluar dari sini " Alma mengajak
" Tunggu dulu sebentar!"
Gerry merobek sedikit dari kain bajunya, dan memberikan nya pada Alma untuk menutupi luka di tangannya.
Saat mereka berlari kearah luar ruangan itu, ternyata mereka berada di atas gedung. Itu artinya jika mereka ingin keluar dari gedung itu mereka harus melompat atau kembali ke dalam ruangan sempit itu dan bertemu lagi dengan anak buah Selina.
Ditengah kegelisahan Gerry dan Alma, Selina dan ketiga anak buahnya datang menghampiri mereka yang sedang diujung tebing.
" Mau kabur kemana kalian?" tanya Selina yang sudah berdiri tak jauh dari Alma dan Gerry, wanita itu memegang pistol ditangannya.
" Hentikan ini Selina! " ujar Gerry
" Tadinya aku ingin memberikan waktu untuk hidup kalian lebih lama. Tapi, kalian sendiri yang meminta nya. Alma dengarkan aku ya, jika aku tidak bisa memiliki Bryan maka kamu juga tidak bisa. " Selina mengancam Alma melalui mata
" Selina sadarlah, ini bukan dirimu. Kamu tidak boleh seperti ini hanya karena cinta. Kamu harus menerima kenyataan ! kamu akan mendapatkan cinta yang sesungguhnya, tapi bukan dari Bryan .."
Alma menasehati Selina dengan tulus, karena semalam ia mendengar cerita tentang Selina yang tidak disayangi oleh orang tuanya, karena ia ternyata adalah anak angkat. Alma merasa kasihan pada Selina yang begitu menginginkan kasih sayang.
" Selina, kamu tidak akan melakukan ini. Aku percaya kamu orang baik " bujuk Alma pada Selina
" Bullshit ! aku akan tetap membunuhmu!"
Wiuww.. wiuwww.. wiuww..
Suara sirene mobil polisi terdengar keras disekitar gedung tua itu. Anak buah Selina langsung berlarian panik dan pergi dari tempat itu begitu polisi datang dan mengatakan bahwa mereka sudah di kepung, dan harus menyerahkan diri mereka.
" Tidak! aku tidak akan berakhir disini " gumam Selina dengan air mata yang jatuh ke pipinya, tangannya masih menodongkan pistol ke arah Alma
" Selina, kamu bisa melewati semuanya. Kamu orang baik " Alma mendekati Selina dan tersenyum tulus padanya.
" Alma !" teriak Bryan dari helikopter yang ada di atas Alma dan Gerry.
Bryan turun dari helikopter itu dan menghampiri Alma. Bryan sangat cemas pada istrinya itu, terlihat di dalam helikopter itu ada Kelvin juga.
" Bryan " Alma memeluk suaminya dengan penuh kerinduan.
" Kamu tidak apa-apa Al? kamu terluka.." Bryan melihat luka ditangan dan beberapa bagian tubuh Alma yang lain, ia langsung melihat ke arah Selina dengan marah. " Selina kamu sudah dikepung, serahkan dirimu. Aku beri kamu pilihan, rumah sakit jiwa atau penjara!" ancam Bryan
Beberapa polisi sudah berjaga-jaga di belakang Selina untuk menangkapnya.
" Bryan sayang, akhirnya kamu datang juga. Aku merindukan mu." Selina tersenyum bahagia melihat Bryan ada di depan matanya ia menjatuhkan pistolnya dan mendekati Alma dan Bryan.
Dengan sengaja Selina mengalihkan perhatian semua orang, lalu mendorong Alma dari atas gedung.
" AHHH Bryan ! "
" ALMA !" teriak Bryan panik, Gerry juga terlihat panik melihat Alma terjatuh.
" Mama !" teriak Kelvin panik melihat ibunya jatuh dari atas gedung yang tinggi.
Alma terjatuh melayang di udara dari gedung berlantai 5 itu. Bryan menyusul Alma dan memeluknya. Mereka pun jatuh bersama.
" Hahaha! hiduplah kalian berdua di neraka !" teriak Selina sambil tertawa terbahak-bahak melihat Bryan dan Alma jatuh dari atas gedung itu.
Setelah itu Selina dan anak buahnya ditangkap oleh polisi.
Bryan masih memeluk tubuh Alma dengan erat.
Ya Tuhan, apa aku akan mati seperti ini?
BRUKKK
Alma dan Bryan terjatuh ke bawah sebuah parasut besar yang sudah dipasang oleh polisi' untuk berjaga-jaga. Bryan dan Alma jatuh mendarat lalu terguling guling dari parasut besar itu dan akhirnya mereka berada di tanah. Bryan masih memeluk Alma dan melindungi tubuh istrinya dari benturan.
Bryan jatuh tak sadarkan diri, sedangkan Alma baik-baik saja dan berada di atas tubuh suaminya. Beberapa petugas kepolisian menanyakan keadaan Alma dan Bryan, dan segera memanggil petugas medis.
" Bry! Bryan bangun. Bryan kamu.. Bryan jangan buat aku cemas. Bryan bangun! " Alma menangis dan berusaha menggoyang-goyangkan tubuh Bryan.
" Bryan jangan mati! Bryan hiks "
Sesaat Alma merasakan jantungnya berhenti, melihat suaminya tak berdaya di depannya.
" Aduh kamu ternyata berat juga ya " ucap Bryan tersenyum lalu membuka matanya lebar-lebar
Alma merasa tenang mendengar suara suaminya itu. Ia menghentikan tangisannya.
" Bry.. Bryan! kamu masih hidup? syukurlah " Alma memeluk suaminya dengan perasaan lega dan penuh syukur.
" Tenang saja, aku tidak akan membiarkan mu menjadi janda di usia muda. Kalau itu terjadi kamu akan kesepian tanpa pria tampan seperti ku di sisimu " Bryan tersenyum dan membalas pelukan istrinya.
PUK
PUK
Alma menangis dan memukul mukul tubuh suaminya itu. " Disaat seperti ini kamu masih bisa bercanda! kamu benar-benar keterlaluan! hiks dasar kamu itu ya. Kamu menakuti ku dasar bodoh!! "
" Jangan menangis, kamu terlihat sangat jelek " Tangan Bryan menyeka air mata istrinya dengan lembut. Sekali lagi mereka berpelukan sebelum Alma di larikan ke rumah sakit.
Sementara itu Selina yang di nyatakan gila tidak di bawa ke penjara, tapi ke rumah sakit jiwa. Bryan dan anak buahnya membereskan semua orang yang sudah menyakiti Alma dengan kejam sebelum orang-orang itu masuk ke penjara. Selina berakhir mendekam di rumah sakit jiwa.
Bahkan Gerry juga mendapatkan hukuman nya karena terlibat dalam penculikan Alma. Gerry berada di dalam penjara. Gerry menerima hukuman nya dengan pasrah meskipun hukuman nya hanya sebentar.
Namun, Alma memaafkan Gerry dan membuatnya bebas dari penjara karena pria itu hanya di manfaatkan oleh Selina.
πππ
3 baru kemudian..
Di rumah sakit kota..
Terlihat Alma masih tertidur pulas di kamarnya, tidak sedikit pun Bryan beranjak dari sana kecuali jika ia pergi ke kamar mandi. Bryan juga membawa pekerjaan ke rumah sakit sambil menemani Alma yang masih dirawat disana.
Alma terbangun dan melihat Bryan yang sedang duduk di sofa, sambil memainkan laptopnya.
Begitu melihat istrinya sudah sadar, pria itu menghentikan aktivitas nya dan segera menghampiri istrinya, lalu menanyakan keadaan nya.
" Kamu sudah bangun sayang? bagaimana perasaan mu? " tanya Bryan
" Aku baik-baik saja, daripada itu kapan aku keluar dari rumah sakit?" tanya Alma bosan
" Kamu tidak boleh keluar dulu dari rumah sakit, ada beberapa pemeriksaan yang harus kamu lakukan. Aku tidak mau kamu mengalami luka dalam atau trauma dan semacamnya " Bryan terlihat cemas
" Aku baik-baik saja sayang, tubuhku dan hatiku sudah baik baik saja "
" Tidak bisa! kamu harus tetap di rawat sampai luka mu benar-benar sembuh dan sampai pemeriksaan mu selesai." kata Bryan tegas " aku akan panggil dokter untuk segera memeriksa mu "
" Bryan itu tidak perlu "
Tidakkah dia sangat berlebihan? luka luka ku bahkan sudah hampir sembuh dan aku masih harus tetap tinggal disini? aku benci rumah sakit.
Saat Bryan akan keluar, ada seseorang yang membuka pintu kamar itu. Terlihat Bu Delia dan si kembar datang menjenguk Alma.
" Mama, Kelvin dan Naina?" tanya Bryan
" Kalian datang " Alma menyambut Bu Delia dan si kembar dengan senyuman hangat, ia senang karena anak-anak nya datang
" Mama !"
Selagi Bryan memanggil dokter, Kelvin, Naina dan Bu Delia berada di kamar itu. Bu Delia terus memuji muji kedua cucunya yang hebat. Apalagi Kelvin yang ternyata telah membuat pencarian Alma yang saat itu diculik menjadi mudah.
" Oh ya apa Mama tau, kak Kelvin sangat cepat dan keren loh. Dia memecahkan plat nomor yang ditutupi itu. Semua orang-orang dari pihak teknologi memuji muji Kakak loh " Naina bercerita dengan semangat
" Benarkah begitu?" tanya Alma
" Iya Alma, Mama tau kalau Kelvin dan Naina adalah anak anak yang pintar. Tapi, Mama tidak menyangka kalau mereka adalah anak-anak yang genius. Oh ya dan kemarin gurunya Kelvin bilang kalau dia menang penghargaan dalam kompetisi matematika antar TK dengan nilai terbaik, dan Naina juga menang penghargaan melukis " Bu Delia tersenyum bangga untuk kedua cucunya itu
" Benarkah? maafkan Mama ya Mama tidak tau kalau kalian ada perlombaan di sekolah. " Alma terlihat menyesal
Karena sibuk dengan urusanku sendiri, aku sampai tidak tau kegiatan anak-anak ku di sekolah. Apa aku harus berhenti bekerja? tapi bagaimana?
" tidak apa-apa Ma, Mama kan lagi sakit. Lagian ada nenek yang selalu menemani kami " ucap Kelvin bijak
" Terimakasih sayang sayangku, atas pengertiannya " Alma memeluk kedua anaknya dengan bangga
Tak berselang lama, datanglah Ian dan Bryan. Ian memeriksa kondisi Alma dan mengatakan kalau Alma sudah baikan dan boleh pulang. Alma dan Bryan pun kembali ke rumah mereka bersama si kembar.
" Akhirnya aku pulang ke rumah juga " Alma melihat taman bunga di halaman rumahnya, dengan perasaan tenang dan nyaman.
Apakah semua ini sudah berakhir?
" Iya syukurlah. Alma mari kita lakukan bulan madu kita yang tertunda " ajak Bryan
" A-apa?" Alma terpana mendengar nya
Bryan tersenyum lalu memeluk istrinya dari belakang. Ia berbisik bisik di telinga istrinya. Entah apa yang ia bisikan, hal itu membuat wajah Alma memerah.
...--***--...
Hai Readers! jangan lupa like nya ya kalau udah baca.. komen juga buat bantu support author ππ dan di mohon kalau mau ngasih kritik dan saran, kasihlah kritik dan saran yang bijaksana dengan tidak menghina karya orang lain.
Makasih atas perhatiannya.