
...🍀🍀🍀...
"Eh! Kalian keterlaluan banget sih, cewek itu emang jelek tapi gak usah kali ngatain di depan orangnya juga" kata Darren pada teman-teman nya.
"Ya maaf, keceplosan" ucap salah satu temannya
"Huh!" Darren merasa tidak nyaman melihat Naina yang hampir menangis karena di ejek oleh teman-temannya.
Darren dan teman-teman nya kembali berjalan menuju ke dalam restoran. Namun saat pria itu melangkah dia menginjak sesuatu di kakinya. Darren memungut apa yang ada dibawah kakinya, sebuah kalung dengan liontin cincin.Darren melihat tulisan di cincin itu."Junai" gumam nya.
Juna datang dan langsung menyabet kalung berliontin kan cincin berlian itu dari tangan Darren. "Ini punya tunangan saya!" ucap Juna sambil menatap tajam Darren.
Darren langsung bergidik ngeri melihat raut wajah Juna yang seperti akan membunuhnya. Kemudian Juna berlari menyusul Naina yang entah kemana.
Dia berlari bersama dengan Keira, berpencar untuk mencari Naina di sekitar sana. Juna yakin dengan keadaan Naina yang seperti itu pasti Naina tidak akan pergi jauh.
"Nai! Kamu dimana Nai?!" Juna memanggil manggil nama Naina di sekitar tempat parkir restoran Damar. "Nai!"
Naina pasti mendengar kata-kata pak Arman. Kenapa dia harus mendengarnya? Naina pasti sangat sedih, hatinya pasti terluka. batin Juna sedih memikirkan Naina yang sudah pasti sakit hati dengan kata-kata pak Arman tentang dirinya.
Gadis itu berjalan sendirian di pinggir jalan dengan langkah linglung. Dia bermaksud untuk kembali ke rumah sakit dengan mencegat taksi yang lewat.
"Kenapa gak ada satu taksi pun yang lewat? Ah ya, aku lupa.. restoran Damar kan tempatnya terpencil. Ya sudah aku jalan saja ke jalan raya sedikit lagi" gumam Naina yang wajahnya masih tampak badmood itu
Gadis itu terus berjalan menyusuri jalanan menuju ke jalan yang ramai. Sinar matahari yang terik, membuat langkahnya hampir goyah. "Ayo Naina! Kamu bisa, kamu pasti bisa" langkahnya mulai melemah, keringat mulai bercucuran di wajahnya.
Semangat nya tinggi, tapi tubuhnya tidak merespon semangat itu. Pada akhirnya, hidungnya kembali mimisan. "Uhhh.." Naina mengusap darah di hidungnya. "Ughh...!" Naina merintih.
Aku gak tahan lagi..aku memang penyakitan.. aku tidak pantas untuk Juna.
Tubuhnya oleng, dia tidak kuat lagi. Dan akhirnya dia jatuh pingsan di pinggir jalan.
BRUGH!
Tidak ada siapapun disana, kebetulan jalanan sedang sepi. Tak lama kemudian, Juna, Ardi dan Keira melihat Naina tergeletak di jalanan tidak sadarkan diri.
"Ardi! Bawa mobil kemari! Cepat!" titah Juna kepada sekretaris nya itu
"Baik pak!" jawab Ardi patuh, pria itu segera berlari menuju ke parkiran restoran untuk mengambil mobil.
"Nai! Naina!" Keira panik melihat Naina yang tidak sadarkan diri di pangkuan Juna.
"Nai.. Nai bangun Nai..Nai maafin aku..maafin aku karena kamu harus mendengarkan omongan menyakitkan itu..maaf Nai.." Juna memegang pipi Naina, menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu yang terasa panas. Belum lagi ada bekas darah di hidungnya.
Tak lama kemudian, Ardi dengan mengendarai mobil sudah berada di hadapan mereka. Juna memangku tubuh gadis itu dan segera membawanya masuk ke dalam mobil. Keira juga ikut masuk ke dalamnya.
Dia merasa kalau tubuh Naina sangatlah ringan dibandingkan terakhir kali dia menggendongnya.
Mereka pun sampai di rumah sakit, Juna segera membawa tunangan nya ke ruang rawat. Alma, Bryan dan Mike masih ada disana sedang mengobrol di depan ruangan Naina.
"Juna, Keira! Naina kenapa?!" tanya Alma panik melihat anaknya tidak sadarkan diri.
Mike terpana melihat kondisi Naina, dia prihatin pada Naina. Melihat tubuhnya yang kurus dan wajah pucat itu membuat Mike ingin menangis. Pantas saja Alma dan Bryan sangat sedih ketika membicarakan Naina yang terkenal penyakit kanker.
Selama ini Mike belum pernah melihat orang yang terkena penyakit kanker secara langsung, melihat Naina dia merasa penyakit itu mengetikan dan bukan hanya kabar burung saja tapi fakta.
"Tante, nanti Juna sama Keira akan jelaskan ya! Kita harus periksakan Naina dulu ke Dokter" kata Keira seraya menenangkan mama mertuanya yang sudah panik duluan
Beberapa menit kemudian, setelah Naina diperiksa Firlan...
"Kalian tidak usah khawatir, Naina hanya kelelahan dan sedikit stress makanya dia pingsan. Sebentar lagi Naina juga akan siuman" Firlan tersenyum seraya menenangkan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.
Setelah kepergian dokter Firlan, barulah Alma menanyakan apa yang terjadi pada Naina, kepada Keira dan Juna.
"Kalian bisa jelaskan sama mama, apa yang terjadi sehingga Naina kelelahan dan stress?" tanya Alma sambil menatap menantu dan calon menantunya dengan tajam.
"Tante, maafin Juna ini salah Juna.. Juna tidak bisa menjaga Naina dengan baik" Juna terlihat sangat merasa bersalah, dia juga sakit hati mengingat kata-kata pedas Armand tentang Naina sebelum nya di restoran.
"Juna, tolong jelaskan sejelas-jelasnya apa yang terjadi! Jangan meminta maaf dulu pada Tante" kata Alma tegas
"Biar Keira yang jelasin ma" kata Keira menawarkan diri untuk menceritakan apa yang terjadi di restoran Damar.
Keira menceritakan semua yang terjadi pada Alma dan Bryan tanpa terlewatkan. Alma dan Bryan langsung sedih mendengar nya, Bryan juga tampak marah.
"Perusahaan mana Jun?"
"Ya om?"
"Cowok yang menghina Naina, dia dari perusahaan mana?!" tanya Bryan dengan mata yang tajam
"Jx kontruksi om" jawab Juna
"Oh jadi itu, perusahaan kecil saja belagu" kata Bryan dengan senyum merendahkan perusahaan bernama Jx kontruksi itu. Bryan langsung mengambil ponselnya, dia menekan tombol di ponselnya dan menelpon seseorang.
Tak berlangsung lama, telpon Bryan langsung diangkat. "Andre"
"Ya pak saya disini!" jawab Andre cepat tanggap
"Apa ada perusahaan bernama Jx kontruksi bekerja sama dengan kita?" tanya Bryan
"Belum pak, tapi seingat saya dia meminta kerjasama dengan perusahaan kita namun masih dalam proses antrian" jelas Andre
"Aku tidak mau mendengar nama Jx kontruksi dalam dunia bisnis lagi, aku ingin perusahaan b*bi itu gulung tikar sekarang juga!"
Andre terperangah mendengar kata-kata Bryan yang tegas ingin menghancurkan perusahaan yang bernama Jx kontruksi itu.
Wah? Ada masalah apa perusahaan ini dengan pak presdir sehingga pak presdir ingin menghancurkan nya?
"Baik pak!"jawab Andre patuh tanpa bertanya
"Ah ya, Andre! Masukkan juga perusahaan itu ke dalam daftar hitam seluruh perusahaan di negeri ini. Terutama orang yang bernama...." Bryan melirik ke arah Juna, seraya memberi isyarat siapa nama orang yang sudah menghina Naina itu.
"Arman Ferdian, om" jawab Juna
"Arman Ferdian? Orang itu tidak boleh menginjakkan kakinya ke dalam dunia bisnis lagi!" ujar Bryan pada Andre
Bahaya sekali jika ada orang yang menyinggung Bryan. Pasti akan dihancurkan nya berkeping-keping, dia sudah mulai belajar tega dari Ken saudara kembarnya.
"Heh! Berani menganggu anaknya Bryan Alvaro Aditama, belum tau saja dia" Bryan menyilangkan kedua tangannya dengan kesal.
Lagi-lagi rumah sakit, tempat dimana Naina terbangun. Sudah hampir dua bulan dia dalam keadaan yang sama dan ruangan yang sama. Dia melihat kearah Juna yang berada di samping nya.
Aku pasti pingsan lagi.
"Nai, kamu sudah sadar?" tanya Juna sambil menggerakkan tangan Naina dengan perasaan lega
"Ngapain kamu disini?" tanya Naina dengan suara ketus
...---***---...