
"Seperti yang Lo lihat, Naina masih belum siuman. Jika Naina masih belum siuman dalam waktu 1x24 jam, dokter akan segera mengambil tindakan" jelas Kelvin pada tunangan adiknya itu dengan wajah sedih
Juna menghela napas panjang, dia sangat lemas melihat Naina dalam keadaan seperti itu lagi. Terbaring lemah, tak berdaya, dan tidak tau kapan akan sadar. Juna duduk di kursi yang berada di tempat Naina terbaring.
"Nai.. aku kembali.. aku kembali cepat untuk kamu. Kenapa kamu terus buat jantung aku deg degan? kamu buat hati aku kaya rollercoaster, kadang diatas kadang dibawah. Kamu senang lihat aku seperti ini Nai? Kamu senang lihat aku sedih begini?? Kamu udah janji sama aku sebelum aku pergi kalau kamu akan baik-baik saja.. tepati janji kamu dong!!" Juna menangisi Naina dengan harapan gadis itu akan segera siuman.
Setelah bicara dengan Naina, Juna pamit pulang untuk mandi dan berganti baju terlebih dahulu. Ardi juga menyusulnya ke rumah sakit karena dia cemas dengan Presdir nya yang tidak tidur, makan ataupun beristirahat cukup selama berada di Sydney.
"Vin, Kei, aku titip Naina ya" ucap Juna pada Kelvin dan Keira
"Ya, kamu harus balik dulu. Nanti Naina bisa ngomel kalau dia tau kalau kamu belum mandi" Kelvin menyindir Juna yang penampilannya terlihat acak-acakan itu.
Juna tersenyum tipis, "Oke.. aku bakalan..."
BRUGH!
Tubuh Juna jatuh ke lantai, pria itu tidak sadarkan diri. Kelvin, Keira dan Ardi yang ada disana sampai tercengang melihat nya. Ardi langsung menghampiri Juna.
"Astagfirullah! Juna!" teriak Keira terkejut
"Pak! pak Presdir!" seru Ardi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Presdir nya itu.
"Bawa dia ke ruang rawat!" seru Kelvin panik melihat pria itu jatuh pingsan disana.
"Ju...naaa..."
Kelvin dan Keira terkejut mendengar suara lemah seorang wanita di sebelah ranjang tempat Kelvin berbaring, "Naina! Vin, Naina udah sadar!" seru Keira lalu menghampiri Naina ya baru saja siuman itu. Keira terlihat lega melihat adik iparnya sudah siuman.
"Naina...kamu udah bangun?" tanya Kelvin bersyukur melihat adiknya sudah siuman sebelum waktu satu kali 24 jam itu.
Naina melirik ke arah Juna yang tidak sadarkan diri sedang di papah oleh Ardi dan seorang anak buah Ken yang ada disana.
"Jun..Juna..." lirih Naina sambil menatap tunangannya dengan cemas
"Nai, tenang saja! Juna, gak apa-apa" ucap Keira seraya menenangkan Naina. Keira pun memanggil dokter, dia keluar dari ruangan itu.
Naina panik, dia beranjak dari ranjang nya tanpa pikir panjang begitu dia melihat Juna dibawa pergi dari ruangan itu. "Naina, kamu mau kemana?Kamu masih sakit!" kata Kelvin mengingatkan adiknya
"Juna..Juna pingsan, Juna jatuh.." ucap nya lemas dengan mata yang sayu.
"Juna gak apa-apa, dia cuma kecapean aja. Kamu tiduran lagi Nai, kamu masih sakit" ucap Kelvin
"Tapi kak.. Juna..." Tubuh Naina tidak bisa bertahan lebih lama lagi, pada akhirnya gadis itu kembali berbaring di ranjang nya.
Theo langsung memeriksa Naina begitu gadis itu sadar, kebetulan dokter Firlan pada saat itu sedang bertugas di luar. Jadi Theo lah yang memeriksa kondisi Naina pada hati itu.
Mereka sangat bersyukur karena Naina sudah siuman dan hal ini menunjukkan kalau Naina merespon baik tulang sumsum belakang dari saudara kembarnya. Keadaan Naina masih lemah, wajahnya sungguh pucat dan kering.
Ketika semua keluarga sedang berkumpul bersama nya, Naina terus menanyakan Juna dan keadaan Juna.
"Juna gak apa-apa sayang, katanya dia hanya kelelahan. Dia butuh istirahat yang cukup, kamu juga harus cepat sehat" ucap Bryan pada putrinya
"Pah...aku mau ketemu sama Juna" pinta Naina pada papa nya, dengan suara yang lemah
"Sayang, kamu masih lemah. Kata Theo, kamu masih belum bisa kemana-mana" kata Alma mengingatkan
"Nanti aja ya kak Nai, ketemu kak Juna nya..kak Juna nya harus istirahat" ucap Kayla pada kakak sepupunya itu
"Iya.. Juna harus istirahat.. dia juga mengingkari janji nya"
Betapa perih dan sakitnya hati semua orang melihat keadaan Naina. Yang harus mengalami penyakit mengerikan ini, berulang kali menjalani kemoterapi dan pengobatan yang menyakitkan. Laura sebagai tantenya juga tidak tega melihat Naina sakit di parah, dia teringat pada Almh. Bu Delia yang mengalami penyakit yang sama.
Saat ini Naina tengah berjuang untuk hidup lebih lama, karena di dunia ini hanya sedikit orang yang bisa sembuh dari penyakit kanker. Hati Alma sebagai ibu nya juga teriris, terluka, melihat Naina putrinya yang masih muda dan ceria akan sakit seperti ini.
1 minggu kemudian..
Keadaan Kelvin mulai membaik, begitu pula dengan Naina yang sudah bisa berjalan-jalan walau di sekitar rumah sakit. Namun efek kemoterapi, masih dirasakan olehnya. Selama satu minggu itu, Juna datang menemui Naina setiap ada waktu. Mau itu pagi, siang, sore atau malam.
Pagi itu Alma sudah menyuapi anaknya untuk makan bubur dan buah potong. Sama seperti biasanya tanpa garam dan gula, Naina mulai bosan dengan semua makanan yang dimakannya selama kurang lebih dari satu bulan.
"Kenapa? hambar ya sayang?" tanya Alma melihat raut wajah Naina yang kurang menyenangkan ketika memakan bubur itu.
"Gak apa-apa ma, udah biasa kok" jawab Naina sambil tersenyum walau dalam hatinya dia merasa sangat sedih dengan makanan yang dia makan.
Aku gak boleh buat mama cemas, aku selalu buat mama menangis. batin Naina
Naina pasti merasa sedih dan muak dengan semua makanan yang tidak ada rasanya ini. Maafkan Mama Nai, mama tidak bisa menggantikan rasa sakit kamu nak. Alma menatap anaknya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama, mama nangis ya?" tanya Naina cemas melihat mama nya menangis, dia merasa bersalah
"Gak kok, mama gak apa-apa" Alma memakan bubur yang hambar itu sambil tersenyum
"Kenapa dimakan buburnya? kan gak ada rasanya ma?" tanya Naina heran melihat mama nya memakan bubur yang hambar itu.
"Mama lapar, mama mau makan bubur juga" Alma tersenyum sambil memakan lahap bubur itu
Dengan seperti ini, mama bisa merasakan apa yang kamu rasakan sayang.
Naina tersenyum menatap mama nya, dia tau kalau Alma melakukan ini untuk menyemangati nya. Setelah itu Naina meminta mama nya untuk menyisir rambutnya, karena sudah lama dia tidak menyisir rambut. Naina ingin jalan-jalan ke luar bersama Kayla dan Keira yang mengajaknya pergi ke restoran Damar.
Naina terlihat senang sekali karena dia diperbolehkan untuk pergi ke luar dari rumah sakit walaupun tidak boleh keluar lama. "Memang harus ya jalan-jalan keluar, kenapa gak di taman rumah sakit aja?" tanya Alma cemas
"Tapi kata dokter Firlan boleh kok Tante, Tante gak usah khawatir karena aku sama kakak ipar kan ada buat jagain Naina" kata Kayla seraya menenangkan Alma.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya" ucap Alma setuju, dia menyisir rambut panjang anaknya itu. Alma terpana melihat mahkota wanita itu rontok dalam jumlah yang banyak dan menyangkut di dalam sisir.
Rambut Naina sudah terlihat sangat tipis, kini bagian tengah kepala Naina sudah botak dan rambut nya sudah habis. Alma kehabisan kata-kata, dia menahan air matanya. Rambut panjang yang selalu menjadi kebanggaan Naina, harus menjadi korban dari kemoterapi.
Kayla dan Keira juga menahan tangis mereka melihat keadaan rambut Naina, bagian tengah nya sudah botak. Mereka sedih dan ikut merasakan sakit nya dari kemoterapi yang dijalani Naina.
"Ya Allah, kak Keira.."Kayla berbisik dan bersandar di bahu Keira, dia menahan air matanya sekuat mungkin. Naina tidak melihat orang-orang yang dibelakang nya karena di berdiri membelakangi mereka.
"Ma, Naina mau di kepang" pinta Naina pada mama nya
"Maaf sayang, men-mending di ikat satu saja? atau kamu pakai topi saja ya sayang?" kata Alma dengan suara gemetar
"Rambutku udah gak bisa di kepang ya? jadi akhirnya aku akan botak" Naina tersenyum tegar mengetahui bahwa mahkota dirinya mungkin tidak akan ada lagi di kepalanya.
...---***---...