
...🍀🍀🍀...
5 tahun sudah berlalu, Kelvin dan Naina sudah menamatkan pendidikan mereka sampai ke jenjang S2 dengan cepat. Kelvin menyelesaikan pendidikan nya hanya dalam waktu tiga tahun dan setelah itu ia mengambil S3 selama 1 tahun, sambil membantu Bryan menjalankan perusahaan nya.
Kelvin dan Naina kembali ke Jakarta setelah sama-sama sukses. Kelvin menjabat sebagai presdir di perusahaan Aditama cabang terbaru yang bernama A-Tech. Perusahaan itu dibangun Kelvin sesuai dengan cita-cita nya, yaitu perusahaan Aditama berbasis teknologi.
Kelvin sukses dan mendapatkan puluhan penghargaan bergengsi kelas dunia. Presdir jenius termuda sepanjang sejarah, lulusan terbaik di universitas luar negeri. Sementara Naina, kini ia sudah menjadi pelukis dan desain terkenal. Naina membuka galeri di Jakarta, ia memanfaatkan ilmunya untuk membantu perusahaan Navin milik mamanya. Walau sebelumnya ia tidak mau masuk ke perusahaan itu yang berfokus di bidang desain.
Di depan bandara internasional, terlihat Naina yang sedang mendorong kopernya dengan terburu-buru.
"Aduh, gara-gara begadang nih aku jadi telat. 15 menit lagi take off, kalau aku telat ke kantor Navin bisa-bisa aku dimarahin mama!" Naina mendorong kopernya sambil berlari, roda kopernya lepas dan menggelinding di lantai.
BRAK
"Waduh! sial sekali aku, koper ini baru ku beli 2 hari yang lalu! kenapa bisa rusak?! Ishh! aku juga belum sempat mengikat rambutku?!" gerutu Naina sambil mengacak-acak rambutnya yang di gerai itu.
Seorang pria mengambil roda koper milik Naina, pria itu berjalan menghampiri Naina."Kamu masih aja ceroboh ya, Ninaina"
Naina melihat ke arah pria yang berada di hadapannya itu. Matanya membulat, bibir juga ikut membulat, Naina terpana melihat pria tampan itu.
DEG!
"Kak Theo??!!"
Kenapa kak Theo ada disini? dia tanpa kabar selama lima tahun, kenapa sekarang bisa ada disini?. Batin Naina keheranan sekaligus kaget melihat Theo.
"Apa kabar Nai?" Theo tersenyum lebar pada Naina.
Apa sekarang kamu akan melihatku sebagai sesuatu yang lain Nai? Setelah kita tidak bertemu dan tidak saling berkabar satu sama lain selama lima tahun.
Naina tersenyum melihat Theo yang juga tersenyum padanya. Naina tak percaya bahwa ia akan bertemu dengan Theo setelah 5 tahun lamanya tidak bertemu dan menghilang tanpa kabar.
Theo membantu Naina membawakan koper nya, mereka pun naik pesawat bersama dengan tujuan yang sama bahkan tempat duduk bersebelahan.
Kini mereka berdua duduk di salah satu tempat duduk VIP. Keduanya menjadi canggung satu sama lain, karena bertemu kembali setelah lima tahun.
Aduh, aku mau ngajak dia bicara tapi aku tidak tahu bagaimana cara memulainya. Bukannya biasanya Naina cerewet? kenapa dia mendadak diam? apa dia marah karena aku tidak mengabarinya selama lima tahun ini? batin Theo bingung
Bagaimana aku menyapa kak Theo? aku gak tau harus mulai darimana. batin Naina yang juga bingung memulai pembicaraan dengan Theo.
"Tu-tumben rambut kamu di gerai, biasanya juga di ikat, kan?" tanya Theo melihat rambut Naina yang tergerai panjang
Aduh, kenapa aku malah bertanya itu? pertanyaan lain kan masih banyak? dasar Theo!
"Ini sebenarnya mau di ikat, tapi ikat rambutku hilang. Karena aku pergi buru-buru. Oh ya, kak Theo kenapa bisa ada disini?" tanya Naina sambil menatap ke arah Theo
Syukurlah dia bertanya balik! batin Theo senang
"Aku kuliah kedokteran disini dan hari ini aku mau kembali ke Jakarta" jawab Theo
"Apa? jadi kakak kuliah disini? bukannya kakak kuliah di Jakarta?" tanya Naina kaget, ia tak tau kalau selama ini Theo kuliah di Harvard, Amerika.
"Aku melanjutkan kuliah disini dan Alhamdulillah aku sudah lulus. Sekarang aku akan bekerja di rumah sakit papa ku" jelas Theo
"Oh begitu ya" Naina hanya tersenyum tipis mendengarnya, tidak ada reaksi lain lagi.
Kenapa dia cuma bilang oh aja? apa dia gak marah karena aku gak ada kabar selama lima tahun ini? atau dia sangat marah sampai tidak bisa bertanya lagi?. Batin Theo kecewa dengan reaksi Naina yang sama sekali tidak marah padanya.
"Apa kakak sengaja ganti nomor dan tidak mengabari aku?" tanya Naina akhirnya
"Apa? e-enggak kok" jawab Theo gugup dan bingung, ia memang sengaja tidak menghubungi Naina.
"Ya gak papa sih, semua orang punya alasan tersendiri. Mungkin karena sibuk, atau lupa" Naina tersenyum santai
"Aku tidak melupakan kamu Nai! aku hanya sibuk saja dengan pendidikan ku! Ma-maaf Nai" seru Theo menjelaskan
Aku salah besar memutus kontak dengan Naina, aku malah merasa semakin jauh darinya sekarang. Theo kamu bodoh!. Theo merutuki dirinya, ia menyesal memutus hubungan dengan Naina secara sepihak. Theo jadi merasa kalau Naina sekarang jauh darinya. Bukan teman, sahabat atau kakak, tapi Theo merasa seperti orang asing untuk Naina.
"Tidak usah bilang maaf kak, santai aja. Yang penting kita udah ketemu dan kakak dalam keadaan baik-baik saja. Kakak juga sukses sekarang, selamat ya" ucap Naina tulus pada Theo.
Mengapa aku merasa kak Theo seperti sengaja pergi tanpa kabar padaku? dan aku juga merasa kalau pertemuan ini disengaja. Naina tersenyum melihat ke arah Theo
Kenapa Naina terlihat biasa saja? apakah sikapnya akan sama seperti ini kalau dia bertemu dengan orang itu? Tidak, dia tidak mungkin kembali.. dia sudah pergi sangat lama, Naina juga pasti sudah lupa padanya. Theo merasa cemas walau saingan terberatnya sudah tidak ada disisi Naina. Theo tetap cemas karena ia tidak tahu isi hati Naina.
"Iya Nai.. Oh ya, kenapa kamu ada disini? bukannya kamu ada di London?" tanya Theo mengalihkan pembicaraan yang tabu dan canggung itu.
"Aku ada pameran galeri disini kak, tapi ini aku mau pulang ke rumah"
Iya aku tau Nai. Batin Theo
"Wah, apa akhirnya kamu jadi pelukis? apa kamu buka galeri sendiri juga?" tanya Theo dengan senyuman senang ikut bahagia
"Iya kak Alhamdulillah" jawab Naina singkat
Beneran kan? sekarang malah lebih canggung dari suasana yang dulu pernah tercipta. Sekarang aku siapa? apa aku orang asing untuk Naina? Seharusnya aku tetap mengabari Naina! sekarang apa aku bahkan bukan temannya yang bisa dekat dengannya lagi?
Theo terpana dengan jawaban singkat Naina. Naina yang dulu cerewet dan selalu bercanda bersamanya, mendadak bersikap seperti orang asing.
Pesawat pun lepas landas sore itu, perjalanan mereka akan sangat panjang karena waktu tempuh dari Amerika ke Jakarta adalah 25 jam. Dipotong waktu transit selama 3 jam
Theo dan Naina tidak banyak bicara karena Naina tidak cerewet dan ceria seperti dulu. Theo salah paham bahwa diamnya Naina adalah perubahan Naina. Padahal Naina tidak banyak bicara karena dia sedang lelah begadang untuk acara pamerannya.
Aduh, ngantuk nya. Tidur dulu bentar deh. Naina menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di kursi.
"Nai.. apa kamu marah sama aku? kita masih teman kan?" tanya Theo yang tidak berani menatap Naina.
Naina tidak menjawab, apa dia benar-benar marah?
"Nai aku minta maaf ya, selama ini aku memang sengaja gak ngabarin kamu. Aku pergi karena aku ingin kalau hubungan kita lebih daripada teman" Theo mengutarakan alasan dia menghilang tanpa kabar. Naina masih belum menjawab nya, lalu ia menoleh ke arah Naina dan melihat gadis itu sedang tertidur pulas.
"A-apa? jadi dari tadi dia tidur? ya ampun.. " Theo tertawa kecil saat menyadari bahwa sedari tadi ia bicara sendiri. "Ya, dia pasti lelah karena acara di pameran nya"
Theo mengecilkan AC yang ada di dekat Naina. Kemudian ia memakaikan selimut dan jaket hangat nya pada Naina. Theo menatap Naina dengan penuh kasih sayang.
Tak lama kemudian, seorang pramugari cantik mengantarkan makanan kepada para penumpang pesawat. Disana ada beberapa cemilan manis dan asin. Pramugari itu menghampiri Theo dan Naina yang berada di kursi tengah.
"Excuse me, what are.." pramugari cantik nan elegan itu kaget melihat Theo dan Naina ada disana.
Naina? kak Theo? kenapa mereka berdekatan seperti itu? apa akhirnya mereka pacaran?
"Eh, Nisha.. kamu jadi pramugari??" tanya Theo sambil tersenyum pada Nisha, Theo melihat seragam pramugari yang dikenakan oleh Nisha.
"Kak Theo, udah lama ya gak ketemu" sapa Nisha dengan senyum pahit di bibirnya. Nisha menatap Naina yang tertidur pulas.
Bagaimana bisa kak Theo bersikap biasa saja saat bertemu lagi denganku? setelah apa yang terjadi hari itu..
#FLASHBACK
Satu hari setelah Naina dan Kelvin pergi ke London. Nisha bertekad untuk menyatakan cintanya pada Theo. Nisha mengajak Theo bertemu di sebuah cafe.
Nisha tidak mempedulikan kalau ia mengatakan cinta lebih dulu kepada Theo, akan lebih baik kalau Nisha mengutarakan isi hatinya daripada di pendam terus. Dengan memantapkan hatinya, Nisha berkata bahwa apapun jawaban Theo ia akan menerimanya.
Hari itu Theo datang terlambat, Theo masih bersikap biasanya pada Nisha selayaknya pada sahabat.
"Nis, maaf ya aku telat.. tadi macet" ucap Theo sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi tempat Nisha duduk.
Kenapa Nisha mengajak ku bertemu di cafe pasangan ya?. Theo merasa aneh karena Nisha mengajak bertemu di cafe yang biasanya didatangi oleh pasangan.
"Gak papa kak santai aja, kakak mau pesan apa?" tanya Nisha dengan senyuman ramahnya pada Theo. Seorang pelayan menghampiri mereka dan menanyakan pesanan.
"Aku mau pesan kopi dingin aja"
"Mbak, macchiato latte dingin satu. Jus stoberi nya satu, ah ya sama cemilan yang pedas pedas. Kebab sama Cireng isi yang pedas" jelas Nisha pada pelayan yang sedang mencatat pesanan.
"Baik mbak, mas, tolong tunggu sebentar ya" ucap pelayan wanita itu ramah sambil melangkah pergi ke arah dapur.
Theo tersenyum heran, Nisha bisa mengingat minuman makanan favoritnya. Padahal hanya Naina dan Kelvin yang ia beritahu tentang informasi pribadinya.
Aku selalu memperhatikan semua yang kakak suka, karena aku suka banget sama kakak. batin Nisha sambil memandangi Theo dengan penuh cinta.
Kok suasananya jadi aneh gini? ada apa dengan tatapan Nisha?. Batin Theo heran dengan tatapan Nisha yang aneh padanya
"Oh ya Nis, kenapa kamu ngajak aku ketemuan berdua disini?" tanya Theo langsung pada intinya
"Maaf kak, kita ngomongnya udah makan aja ya. Aku lagi lapar" Nisha tersenyum, sebenarnya ia sedang mengulur waktu.
Maaf kak, tapi aku mau kita bicara disaat yang tepat. Dan ini bukan waktu yang tepat.
Kenapa Nisha yang hampir tidak bicara padaku sekarang tersenyum dan banyak bicara padaku? ini aneh.. ada apa ini? Theo kebingungan dengan sikap Nisha yang selalu terlihat malu-malu padanya kini menjadi sedikit aktif.
Beberapa saat kemudian, pelayan mengantarkan makanan dan minuman pesanan Nisha, Theo. Tak berlangsung lama mereka memakan cemilan ringan dan meneguk minuman nya juga.
"Gimana kak? makanan nya enak? aku denger kalau di cafe ini kebabnya enak" tanya Nisha
Nisha, kamu harus lebih berani. Kalau kamu diam saja, hatimu akan semakin berat menyimpannya. Aku harus mengatakannya hari ini.
"Iya, enak banget. Kebab sama makaroni nya pedas nya juga pas" Theo tersenyum puas menikmati makanan yang sesuai seleranya.
Nisha melihat Theo dengan tatapan serius, ia menghela napas panjang. Berusaha merangkai kata di dalam pikiran nya untuk diungkapkan pada Theo. Keberanian, nyali, sudah ia kumpulkan.
Apapun jawabannya kamu harus kuat Nisha.
"Kak Theo.."
"Ya?" Theo menengadah ke arah Nisha, mulutnya menyeruput kopi dingin lewat sedotan. Setelah ia menghabiskan cemilan nya.
"Kakak.. apa kakak mau tau kenapa aku ngajak ketemu berdua ke tempat ini?" tanya Nisha dengan tangan gemetar
"Ada apa sih? kok kamu serius banget Nis?" tanya Theo santai
"Kak Theo, aku suka kak Theo" ucap Nisha sembari menutup matanya.
"Apa?" Theo mengernyitkan dahinya keheranan
"Aku suka kak Theo bukan dalam artian sahabat atau teman" ucap Nisha sambil memberanikan dirinya menatap Theo.
Bagus Nisha, kamu akhirnya mengatakan nya.
DEG!
Theo tersentak kaget, ia langsung tau dengan maksud Nisha.
"Nisha.. kamu bilang apa sih?"
"Aku suka kakak, sudah sejak lama. Sejak kita berada di sekolah dasar" ucap Nisha jujur
"Nisha, aku hanya menganggap kamu sahabat dan adik yang baik. Itu gak lebih dan kamu tau kan kalau aku suka nya sama Naina?" Theo menatap tajam Nisha
"Aku tau kak, tapi aku tetap ingin mengatakan nya pada kakak. Aku suka kakak, kakak adalah cinta pertama ku" jelas Nisha
Jadi ini maksud Nisha dan sikap anehnya? batin Theo tidak terima Nisha menyatakan perasaan nya.
"Nisha, maaf hari ini aku gak bisa ngantar kamu sampai pulang ke rumah. Kalau kamu sudah selesai makan, gimana kalau kita pulang. Aku akan pesan taksi online buat kamu" Theo berdiri dan bersiap pergi
Nisha juga ikut berdiri, matanya berkaca-kaca. Sudah jelas apa jawaban yang didapatkannya. Sikap Theo sudah menunjukkan penolakan terhadap perasaan Nisha padanya.
Nisha, kamu harus kuat! bukankah kamu sudah menyiapkan segalanya. Jangan nangis Nisha! jangan! batin Nisha menahan air matanya
"Kenapa kakak harus suka Naina? dari sekian banyak orang kenapa harus Naina?!!" tanya Nisha menatap sedih dan marah ke arah Theo
"Apa perlu alasan untuk menyukai seseorang? apa kita bisa memprediksi kepada siapa kita akan jatuh cinta? begitulah perasaan ku pada Naina" jelas Theo tegas
"Terus kenapa harus Naina?! kenapa kakak tidak suka pada orang lain saja?! kenapa harus sahabatku?" Nisha patah hati, ia menumpahkan kekesalan nya pada Naina yang bahkan tak ada disana.
"Jangan salahkan Naina, Nis. Dan aku minta maaf, karena aku hanya akan menyukai Naina. Aku tau saat ini kamu pasti sakit hati" Theo merasa bersalah
Akhirnya air mata Nisha jatuh juga, Nisha meninggalkan tempat itu setelah mendengar jawaban Theo. Katanya dia tidak akan menangis, tapi akhirnya dia menangis juga.
Keesokan harinya, setelah itu Theo pergi ke Amerika dan sekolah di luar negeri.
#END FLASHBACK
"Nis, ada kue stoberi dan coklat disana gak? Naina suka itu" Theo melihat kereta makanan yang dibawa oleh Nisha.
Ternyata setelah 5 tahun pun, yang ada dipikiran kamu cuma ada Naina. Selalu Naina dan Naina.. Nisha tersenyum pahit dengan pertemuan itu
"Iya nih ada kak" Nisha tersenyum profesional di depan Theo, ia mengambil beberapa cemilan manis di roda nya.
Nisha memberikan cemilan itu pada Theo. "Makasih Nis"
Bagaimana bisa kamu seperti ini setelah menghancurkan hatiku? dan bagaimana bisa Naina bersama orang yang aku suka? dasar munafik! Nisha menatap Naina yang sedang tidur dengan tatapan tajam
Naina terbangun dari tidurnya. Ia terkejut bahagia bisa bertemu dengan Nisha. Naina menyapa bahkan memeluk Nisha dengan bahagia.
"Nisha! aku gak mimpi kan? ini benar-benar kamu, ya ampun.. udah lama ya gak ketemu!!"
Nisha menyingkirkan pelukan Naina darinya, ia tersenyum profesional. "Maaf, aku masih harus kerja Nai" ucap Nisha dingin
Naina merasa Nisha tidak senang bertemu dengannya. Nisha kenapa sih?
...---***---...