
...🍀🍀🍀...
Tangan Juna bergetar hebat, wajahnya berkeringat ketika dia menjabat tangan Bryan. Naina keheranan melihat calon suaminya yang seperti itu.
Deg, Deg, Deg
Jantung Juna berdegup begitu kencang sampai tubuhnya ikut gemetar. Dia yang selalu percaya diri, mengalami gugup di hari pernikahan nya saat ijab kabul.
"Bagaimana? Apa bapak Arjuna dan bapak Bryan sudah siap?" tanya penghulu pada Bryan dan Juna.
"Saya sudah siap" jawab Bryan sambil menjabat tangan Juna, dia merasakan tangan calon menantunya itu berkeringat dan gemetar.
"Sa-saya juga.. su-sudah.." Juna bicara dengan terbata-bata.
Kenapa suara ku jadi seperti ini?
"Juna, kamu kenapa?" bisik Naina pada calon suaminya.
Teman-teman Juna yang melihat dan mendengar suara Juna, menahan tawa.
"Si Juna gugup bro" bisik Nando pada Bagas.
"Dia? Bisa gugup juga?" Bagas tersenyum tidak percaya, menatap ke arah Juna. Wajahnya yang pucat terlihat sangat jelas.
"Tegang tuh dia.. hihi" Reza cekikikan melihat Juna.
Bryan melepaskan jabatan tangannya, dia pun memberikan sebotol air minum pada Juna untuk menenangkan nya.
"Nih minum!" kata Bryan dengan wajah kesalnya.
"Ma-makasih om" jawab Juna sambil meminum air di dalam botol itu.
Juna, kamu kenapa? Ayo tenang.. tenang.. Juna berusaha memenangkan hatinya. Naina terus melihat Juna dengan cemas.
Apa Juna gak apa-apa? Apa dia sakit ya?
Glup glup
Setelah meneguk air minum itu, Juna mengambil napas nya dalam-dalam. Dia berusaha menenangkan dirinya.
"Bagaimana pak Arjuna? Apa bapak sudah merasa lebih baik?" tanya Penghulu itu sambil menoleh ke arah Juna.
"Iya pak, saya sudah siap!" kata Juna dengan senyuman percaya diri dan mantap.
"Baik, bismillahirrahmanirrahim.."
Bryan menjabat tangan Juna, mereka bersiap mengucapkan prosesi akad nikah.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Arjuna Ardiwinata bin Fauzan Ardiwinata dengan anak saya yang bernama Ninaina Alyssa Aditama dengan maskawinnya berupa 200 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
Bryan mengucapkan nya dengan lancar, dia menggerakkan tangan nya dengan Juna.
"Sa-saya terima..ni-"
Penghulu menggelengkan kepalanya, kata-kata Juna yang terbata-bata membuat pernikahan dan akad nikah itu tidak sah.
"Juna, kamu kenapa? Kamu sakit ya?" tanya Naina khawatir.
"Kamu niat tidak sih menikahi anak saya?" tanya Bryan ketus karena Juna malah gugup.
"Ma-maafkan saya om," jawab Juna gugup.
"Pa, kalau Juna lagi gak enak badan.. kita nikahnya nanti saja. Gak apa-apa kok" kata Naina dengan wajah polosnya.
"Ya, kayanya mending ditunda aja" Bryan melirik tajam ke arah Juna.
Juna tercengang mendengar kata-kata Naina dan Bryan, pria itu jadi takut. "Saya siap pak! Nikahnya sekarang aja! Jangan ditunda-tunda!" teriak Juna panik, dia takut Naina akan membatalkan pernikahan nya.
"Yakin kamu gak apa-apa Juna?" tanya Naina cemas.
"Iya Nai" jawab Juna sambil tersenyum.
"Kalau begitu mari kita lanjutkan" kata penghulu sambil tersenyum.
Bryan kembali menjabat tangan Juna, keduanya berwajah serius. Orang-orang di sekitarnya menantikan prosesi sakral ijab kabul itu.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Arjuna Ardiwinata bin Fauzan Ardiwinata dengan anak saya yang bernama Ninaina Alyssa Aditama dengan maskawinnya berupa 200 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Bryan menggerakkan tangannya yang berjabatan tangan dengan Juna.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ninaina Alyssa Aditama binti Bryan Alvaro Aditama dengan maskawinnya yang tersebut, tunai!" kata Juna dengan lantang tanpa ada kesalahan dan terbata-bata seperti pertama kali mengucap ijab kabul.
"Saksi sah?" tanya penghulu kepada para saksi, yaitu Leon dan Ken.
"Sah!"
"Alhamdulillahhirobil Alamin.." Penghulu membaca doa setelah selesai akad, diikuti oleh Naina dan Juna yang sama-sama berdoa. Mereka berdua saling melemparkan senyuman bahagia.
Namun, sebelum itu Juna melakukan ciuman romantis nya pada Naina di depan semua orang. Lalu Nando mengambil foto mereka berdua.
CUP
Juna mengecup kening Naina dengan lembut dan penuh kasih sayang, kini mereka sudah menjadi suami istri. Apapun yang dilakukan oleh Juna pada Naina akan menjadi halal dan sah.
"Aku cinta kamu Nai"
"Hm.. aku juga Juna"
"Nanti kita lanjutkan di ranjang, disini banyak orang" bisik Juna dengan senyuman jahilnya.
Wajah Naina memerah begitu mendengar ucapan Juna yang terdengar vulgar untuknya. Dia tersenyum malu, dan memalingkan wajahnya.
GREP!
Pria itu menangkup tubuh Naina dan membawanya ke pelaminan. Dia tidak mengizinkan Naina berjalan jauh dan kelelahan. Juna sangat menjaga Naina, hal itu membuat keluarga Aditama respect terhadap Juna. Mereka percaya bahwa Juna bisa menjaga Naina dengan baik.
Naina dan Juna duduk di pelaminan, mereka menyambut tamu yang hadir. "Kamu duduk aja Nai, biar aku yang nyambut tamu.. kamu gak boleh kelelahan" kata Juna mengingatkan istrinya dengan perhatian.
"Iya Jun"
"Sayang.. panggil aku sayang" bisik Juna pada istrinya.
"Juna, banyak orang" Naina menepuk tangan Juna dengan wajah nya yang memerah.
"Ya udah, nanti di kamar ya?" bisik Juna pada Naina.
"Apa yang mau dilakukan di kamar?" tanya Naina polos.
"Mau apa lagi kalau di kamar?" Juna tersenyum menggoda, bertanya balik kepada istrinya.
Teman-teman Juna berfoto dengan pasangan yang baru saja menikah itu. Mereka terlihat sangat bahagia, Kayla dan Damar, Theo dan Nisha terlihat bersama-sama.
Ketika tamu yang hadir mulai membludak dan keributan dimana-mana, Naina merasakan kepalanya mulai pusing. "Ughh" Gadis itu memegang kepalanya.
"Kenapa Nai? Kamu pusing?" tanya Juna sambil duduk berlutut di depan Naina.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Alma dan Bryan cemas pada Naina.
"Aku...aku sedikit pusing" jawab Naina lemas.
"Pa, ma, aku bawa Naina pergi istirahat dulu ya.."Juna memegang tangan Naina dengan cemas, memperhatikan wajah gadis itu yang terlihat pucat.
"Ya udah, kamu bawa dia ya Jun.. biar mama sama papa yang nyambut tamu disini"kata Bryan pada menantunya.
"Aku gak apa-apa kok, aku cuma pusing dikit aja" Naina merasa tidak nyaman harus meninggalkan pesta pernikahan nya sendiri.
Juna menangkup tubuh Naina, menggendong nya dengan penuh perhatian.
"Sayang, kata dokter Firlan kamu gak boleh kecapean" ucap Alma pada putrinya.
"Tapi ma..."
"Gak apa-apa, mama sama papa yang akan disini. Kamu istirahat saja dulu, nanti kalau kamu sudah baikan.. kamu boleh kesini lagi" jelas Bryan pada Naina.
"Tuh kan? Gak apa-apa? Aku bawa kamu ke ruang istirahat" kata Juna pada istrinya itu.
"Iya udah deh" jawab Naina sambil melingkarkan tangannya di leher Juna dan berpegangan pada suaminya.
Naina dan Juna pergi meninggalkan pesta resepsi pernikahan mereka, kemudian pergi ke sebuah kamar kosong di gedung itu. Dengan sigap Juna mengambilkan air minum untuk Naina dan cemilan kesukaan nya. Naina merasa bersalah, dia merasa menjadi pengacau dalam acara pernikahan nya sendiri.
"Nai.. kamu insecure lagi?" Juna sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu tanpa bertanya.
"Kamu kaya peramal aja" Naina cemberut.
"Isi kepalamu, aku sudah tau semuanya tanpa harus bertanya sama kamu" Juna tersenyum manis.
"Maaf ya, aku malah membuat kamu repot Jun" Wanita itu menundukkan kepalanya.
"Eh.. eh, kok ngomongnya gitu sih?!" Juna melotot pada istrinya, dia melarang nya untuk mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Tapi kan aku memang membuat kamu repot" Naina bicara dengan bibir nya yang mengerucut seperti bebek.
Dengan lembut Juna mengecup bibir Naina, mengunci Naina dengan bibirnya. Seraya memintanya untuk tidak bicara yang macam-macam. "Sayang, aku tidak apa-apa.. aku tidak merasa repot sama kamu"
Mata Naina membulat ketika mendapatkan ciuman itu,"Jun.. Juna apa yang kamu lakukan?!"
"Kenapa? Kita kan suami istri, apa aku tidak boleh mencium istriku?" Juna membelai pipi Naina dengan lembut.
Benar juga! aku dan Juna kan sudah menikah...apa malam ini aku dan Juna akan... Naina memegang bibirnya dengan gemas, dia memikirkan dengan apa yang akan terjadi nanti malam.
...---***---...