
...🍀🍀🍀...
Naina berkata bahwa tidak ada gejala seperti itu dan meyakinkan dirinya dan dia tidak perlu pemeriksaan lebih lanjut, karena dia yakin pingsan nya ini karena hanya lelah saja.
Setelah itu Nisha pulang bersama Theo, Kelvin mengantar Keira. Dan Naina pulang bersama Juna. Di sepanjang perjalanan, Juna terus mengoceh pada Naina agar memeriksakan kondisi nya ke rumah sakit. Namun tetap saja gadis itu menolaknya.
"Benarkah kamu hanya kelelahan? mama kamu benar, kamu harus tes darah. Siapa tau ada sesuatu?" tanya Juna dengan tangan yang sibuk memegang stir kemudi dan mata yang fokus ke jalanan
"Kamu juga mau ikut ikutan kaya mama, ku? tenang aja Junjun. Aku gak apa-apa, cuma pusing sedikit aja karena lelah. Ya ampun.. kenapa sih semua orang berlebihan banget sama aku, gak mama gak papa, gak kak Kelvin juga kamu.." gumam Naina sambil merebahkan tubuhnya di jok mobil
"Karena semua sayang sama kamu Nai, keluarga kamu dan aku sayang sama kamu. Makanya kami bersikap berlebihan sama kamu karena kami sayang. Makanya kamu jangan buat kami cemas" terang Juna pada gadis yang duduk disebelah nya itu
"Hehe"
"Yeh, dibilangin malah cengengesan gitu? ada yang lucu ya?" tanya Juna sambil tersenyum mendengar Naina menanggapi nya dengan cengengesan.
"Kamu sayang sama aku, Jun?" tanya Naina dengan senyuman manis dibibir nya
"Kok kamu tanya nya gitu? emang harus ditanyain lagi ya?" tanya
"Jawab aja ih, aku pengen tau!" Naina tak sabar dengan jawaban Juna padanya
"Ya, sayang lah. Sayang banget" jawab Juna tanpa ragu
"Lalu, kalau kamu menikah sama aku nanti.. apa kamu akan setia sama aku?" tanya Naina mulai memasang wajah serius
CKITTT!!!
Juna terkejut mendengar pertanyaan Naina padanya, dia langsung menginjak pedal rem dan mobilnya berhenti di tengah jalan.
"Juna! kenapa kamu berhenti ditengah jalan? kamu sudah gila ya? gimana kalau ada mobil yang lewat?!" Naina panik karena Juna memberhentikan mobilnya disembarang tempat, dia takut kalau ada mobil lain dibelakang mereka dan mobil Juna menghalang jalan.
"Kamu masih ragu sama aku?" tanya Juna dengan suara yang sedih
"Aku bukannya ragu, aku hanya takut kalau kamu suatu saat nanti akan meninggalkan aku dan pergi bersama wanita lain" ucap Naina yang masih memikirkan sosok wanita yang berada di dalam ponsel Juna
"Nai, itu gak akan terjadi. Dari SMA, semenjak pertemuan pertama kita aku hanya cinta sama kamu" ucapnya serius dan jujur
"Kalau kamu hanya cinta sama aku, kamu tidak mungkin pacaran dengan orang lain selama berada di luar negeri. Kamu akan tetap setia menunggu ku atau menemui ku, tapi kamu malah punya pacar disana" jelas Naina mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya.
Juna tak bisa menyangkal itu, memang beberapa kali dia pacaran dengan wanita lain di luar negeri. Tapi itu pun karena dia ingin mencoba melupakan Naina melalui berhubungan dengan wanita lain. Namun, hatinya tetap untuk Naina.
"Kenapa gak jawab? apa aku salah, Jun?" tanya Naina sambil menatap ke arah Juna yang bingung.
"Kamu gak salah, memang benar aku pacaran dengan wanita lain selama berada di luar negeri. Tapi aku hanya suka sama kamu, aku juga hanya mau menikah sama kamu Nai.. kumohon percayalah"
"Baik, aku akan mencoba percaya. Tapi kalau sampai ada wanita idaman lain, aku tidak bisa mentolerir nya, Jun" ancam Naina pada Juna
"Kamu saja sudah cukup" Juna membuka seat belt yang mengikat tubuhnya, kemudian Juna mendekat ke arah Naina, lalu mencium bibir Naina dengan lembut.
Kedua mata Naina membulat, tangannya merem*s baju yang dikenakan oleh Juna dengan gemas.
CUP
"Juna!" wajah Naina memerah mendapatkan kecupan lembut penuh kasih dari Juna
"Nai, gimana kalau kita nikahnya bareng Keira sama Kelvin aja?" tanya Juna
"Kita gak usah buru-buru Jun, tunangan dulu aja. Aku belum mau nikah buru-buru kok" ucap Naina yang masih memikirkan karirnya.
"Haihh.. tapi aku inginnya buru-buru" gumam Juna dengan suara yang sedikit kecewa.
"Sabar ya Jun, kita jalani dulu pelan-pelan" Naina tersenyum seraya menenangkan Juna untuk bersabar.
***
Keesokan harinya, Naina bersiap siap untuk perjalanan ke Maldives. Acara pameran nya bersama perusahaan Ardiwinata. Gadis itu sudah mengemas koper berisi baju-baju dan perlengkapan nya selama tiga hari disana.
"Nai sayang, kamu yakin mau pergi? bukannya semalam kamu habis pingsan? kamu masih sakit Nai.." Alma masih terlihat mencemaskan putrinya itu
"Mama ku sayang, lihat nih aku udah baikan! tidurku cukup, makan ku juga banyak, tidak ada yang perlu mama khawatirkan. Semalam aku cuma lelah dan kurang tidur, mama jangan cemas ya" Naina menenangkan mama nya yang masih saja panikan.
"Haih.. ya sudah, kalau kamu sudah merasa baik-baik saja mama gak akan larang. Tapi, kalau kamu ada apa-apa telpon mama ya sayang" ucap Alma mengingatkan putrinya
"Siap ma!" Naina tersenyum sambil menghormat pada mama nya itu
Naina dan keluarganya sarapan bersama sebelum semua orang pergi bekerja. Alma, Bryan, Kelvin dan Naina semuanya sibuk dengan urusan mereka. Kelvin yang sedang menyiapkan ulang tahun perusahaan nya, Bryan yang sibuk dengan proyek barunya bersama Ken, Alma yang sibuk dengan kontes desain di kantornya, dan Naina yang akan pergi ke Maldives untuk pameran galerinya.
Setelah selesai sarapan pagi, Juna menjemput Naina di rumahnya. Disana juga ada Caroline dan Ardi.
"Anak sableng! awas kalau macam-macam sama anak saya ya!" seru Bryan mengingatkan Juna untuk tidak macam-macam pada Naina
"Papa mertua tenang saja, Juna akan menjaga Naina dengan baik" Juna tersenyum lebar, tanpa ragu dia memanggil Bryan dengan sebutan papa mertua
"PFut.. " Naina dan Kelvin kompak menahan tawa mereka melihat Juna yang tidak tahu malu.
"Aku belum menerima mu sepenuhnya, jadi panggil aku om saja. Dasar anak sableng ini!" seru Bryan dengan raut wajah kesal
"Sayang, udah dong jangan gitu ah. Juna, omongan papa Naina jangan dimasukin ke hati ya" ucap Alma sopan dan lembut
"Memang deh cuma mamah mertua yang memahami Juna. Makasih ma, mama baik banget" ucap Juna sambil menatap Alma dengan tatapan berbinar-binar
"Wah wah! anak ini cari ribut ya? udah godain anak gadis ku, sekarang mau godain istriku"
"Haha...papa mertua juga baik banget, kalau gak galak" kata Juna sambil nyengir
Bryan kalah telak oleh sikap tidak tahu malu Juna. Bryan dan Alma pun segera berangkat bekerja, mereka berpesan pada Naina dan Juna agar berhati-hati dalam perjalanan.
Juna dan Naina naik pesawat menuju ke Maldives bersama dua orang asisten mereka juga. Sesampainya di bandara Maldives, Naina dan Juna turun dari pesawat.
"Jadi ini ya Maldives, dari dulu aku ingin sekali kesini. Papa sama mama dulu pernah bulan madu disini" Naina mengangumi langit pagi yang cerah di tempat itu.
"Kalau kamu mau, saat kita bulan madu kita kesini aja" ucap Juna serius
"Juna... kamu tuh ya" Naina tersenyum memandang ke arah Juna yang selalu mengungkit-ungkit soal pernikahan pada Naina.
Saat Naina akan memegang tangan Juna, seorang wanita cantik tiba-tiba saja datang dan memeluk Juna. Dengan senyuman nya yang lebar, wanita itu mencium pipi Juna.
CUP!
"Sayang.. sudah aku duga kamu akan kesini Akhirnya, aku bisa ketemu sama kamu juga" wanita itu masih merangkul leher Juna dengan tangannya.
Kenapa dia bisa ada disini?. Juna juga terlihat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
Naina kembali menyimpan uluran tangannya.
Siapa dia? kenapa dia memeluk Juna seperti itu?. Batin Naina sakit hati melihat Juna di peluk dan dicium seorang wanita, terlebih lagi saat wanita itu memanggil Juna dengan sebutan sayang.
Di belakang mereka, Ardi dan Caroline juga terkejut melihat pemandangan yang ada di depan mereka.
...---***---...
Hai Readers? masih belum puas crazy up nya😍 kalau kalian masih like, komen, gift dan vote.. author crazy up lagi deh besok.