Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 153. Pingsan



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Malam itu Naina menunggu Juna yang masih belum pulang. Kesedihan nya agak berkurang ketika dia curhat pada Mama nya dan Ken. Kapan Allah akan mengabulkan doanya untuk memiliki momongan?


"Kenapa Juna belum pulang ya?" Naina bertanya-tanya kenapa Juna belum pulang ke rumah. Sudah berkali-kali Naina menelpon Juna, dan mengirimi nya pesan, tapi Juna tidak membalas.


Akhirnya dia menelpon Damar, dia menduga kalau suaminya ada disana.


Tut...tutt..


Di restoran Damar..


"Jun, Lo gak mau balik? Udah malam Lo, nanti Naina nungguin,"


"Heh! Lo mau bikin Naina cemas ya? Kalau Lo buat sepupu gue nangis, habis Lo ditangan gue!" Kayla kesal karena Juna meninggalkan Naina sendirian di rumah.


"Kay sabar sayang, kamu lagi hamil.. jaga emosi kamu ya,!" Seru Damar cemas karena Kayla marah-marah.


"Hamil hamil hamil! Kenapa sih orang-orang di sekitar gue pada hamil?! Hah!" Gerutu Juna kesal mendengar kata hamil, dia sangat sensitif. Karena kata hamil ini membuat Naina sedih dan menangis.


"Lo tuh pengecut ya, bukan nemenin istri Lo di rumah! Lo marah disini marah-marah, Naina lagi butuh Lo! Dia pasti lagi nangis sendirian, Lo malah pergi ninggalin dia! Balik sono Lo!" Damar meminta sahabatnya itu untuk pergi dan menemani istrinya.


Damar benar, aku harusnya menemani Naina. Tapi aku malah sendirian disini. Juna termenung.


Dreet...


Dreet..


🎢🎢🎢


"Ponsel siapa tuh?" Tanya Kayla.


"Punya aku Kay," jawab Damar sambil merogoh saku celana nya. Dia mengambil ponsel lalu melihat siapa yang menelpon nya.


Naina calling..


"Siapa sayang?" Tanya Kayla pada suaminya.


"Sepupu kamu sayang, Naina," jawab nya sambil menoleh ke arah Juna.


"Naina?" Juna terperangah mendengar nama istrinya di sebut.


Damar mengangkat telpon dari Naina." Halo Nai,"


"Mar, apa Juna ada disitu?" Tanya Naina dengan suara pelan.


"Iya disini nih, kamu mau ngomong sama dia?" Tanya Damar pada wanita yang sedang bicara dengannya di telpon itu. Damar menyalakan pengeras suara di ponselnya, agar Juna juga bisa mendengar nya.


"Gak usah, aku rasa dia butuh sendiri. Bilangin aja sama dia jangan pulang terlalu malam dan makan malam dulu," tutur Naina menitip kan pesan pada Damar untuk suaminya.


"Jun, Lo denger kan?" Bisik Damar pada Juna.


Juna hanya diam saja, dia terlihat sedih. Dia berniat pulang ke rumahnya tapi dia takut menghadapi Naina.


"Oke Nai, dia udah denger sendiri kok," ucap Damar pada Naina.


"Iya makasih ya mar.. Ughhh...!!" Naina merintih memegang perutnya.


"Nai? Kamu kenapa Nai?" Tanya Kayla cemas mendengar suara Naina.


Juna terkejut dan langsung merebut ponsel Damar, "Sayang kamu kenapa?"


"Aku gak apa-apa. Juna makasih udah bicara sama aku, kalau kamu mau sendirian dulu, gak apa-apa kok," Naina memegang perutnya yang terasa sakit.


Naina seperti nya salah paham.


"Aku akan pulang Nai!" Seru Juna pada istrinya.


"Ughhh..iya.."


Butuh waktu setengah jam dari restoran Damar untuk sampai ke rumahnya, karena jarak cukup jauh. Tapi Juna hanya menghabiskan waktu 10 menit saja untuk sampai ke rumahnya.


Sesampainya disana, Juna disambut pak Kusno. "Pak, dimana Naina?"


"Nyonya lagi tiduran di kamar, tuan.. seperti nya nyonya sedang sakit," jelas pak Kusno pada Juna.


"Gak usah panggil dokter, aku baik-baik saja. Cuma keram perut biasa," ucap Naina sambil menuruni tangga rumahnya.


Juna langsung berlari menghampiri istrinya di tangga rumah. Dia menggandeng tangan Naina dan membawanya ke dalam kamar.


"Kenapa kamu udah pulang? Ini baru jam 10 malam,"


"Apa kamu sedang menyindir ku?" Tanya Juna sambil berlutut di depan istrinya yang duduk di ranjang.


"Aku hanya bertanya," jawab Naina sambil tersenyum.


"Nai, apa yang sakit? Aku panggil dokter ya?" Tanya Juna perhatian pada istrinya. Perhatian yang sama dengan perhatian selama 1 tahun pernikahan mereka dan tidak pernah ada yang berubah.


"Gak usah, aku cuma butuh istirahat. Kamu udah makan malam belum? Aku siapkan ya," Naina beranjak dari ranjang nya.


Juna memegang tangan Naina dan memintanya duduk saja disana. Juna khawatir melihat wajah istrinya yang pucat.


"Kamu istirahat saja.. maafkan aku, seharusnya aku menemani kamu Nai. Tapi, aku malah pergi ninggalin kamu sendirian, padahal kamu yang paling sedih. Maaf aku egois," Juna menyesal telah pergi begitu saja meninggalkan Naina sendirian disana.


"Gak apa-apa kok, tapi lain kali kalau kamu mau pergi tolong bicara dulu sama aku ya Jun. Jangan bikin aku khawatir,"


Juna memeluk Naina dengan lembut, "Iya, aku minta maaf.. maafin aku Nai, aku benar-benar gak harusnya seperti ini,"


Setelah pembicaraan itu, keesokan harinya...


"Sayang, kamu yakin mau pergi ke galeri?" Juna menatap wajah istrinya yang pucat.


"Iya, udah lama banget aku gak ke galeri. Aku gak apa-apa kok Juna.." ucap Naina sambil memasang tali dasi di baju suaminya.


"Tapi wajah kamu pucat. Ya, baiklah.. kalau ada apa-apa kamu harus telpon aku ya?" Tanya Juna sambil mengecup kening istrinya.


"Iyah sayang," jawab Naina sambil tersenyum kemudian dia memeluk suaminya.


Juna dan Naina sarapan bersama di meja makan yang hanya ada mereka berdua di rumah besar itu. Sarapan yang sederhana roti isi daging dan telur.


"Ughh.. uwekk.." Naina menutup mulutnya dengan telapak tangan. Perutnya bergejolak begitu melihat daging di dalam roti.


"Sa-sayang," Juna terkejut melihat istrinya tiba-tiba mual.


Naina berjalan menuju ke kamar mandi. Dua pelayan yang ada disana juga melihat Naina. Juna menyusul Naina ke dalam kamar mandi dilantai bawah.


"Uwekk...uwekk.."


Pria itu langsung khawatir melihat Naina seperti ini, dia langsung mengira kalau Naina sakit lagi. Juna memaksanya untuk pergi ke rumah sakit dengannya.


"Pak Juna, mungkinkah Bu Naina hamil?" ucap seorang pelayan mengira-ngira gejala yang dialami Naina adalah gejala kehamilan.


Naina dan Juna tercekat mendengar nya," Jangan bicara sembarangan BI!" Naina menangkis ucapan itu. Dia merasa bahwa tidak mungkin doanya terkabul begitu cepat, intinya dia tidak mau berharap dengan harapan kosong.


"Sayang, mungkin bi Lina benar! Kamu sedang hamil," Juna tersenyum dan menanggapi dengan positif ucapan pelayannya itu.


"Gak Jun, aku cuma masuk angin sama kran perut aja. Ini bukan hamil, " jawabnya dengan nada dingin.


Setelah itu Naina dan Juna pergi menuju ke galeri tempat Naina bekerja. Di sepanjang perjalanan, Naina hanya melamun saja. Dia bahkan tidak mau makan makanan yang asin karena itu membuatnya mual. Akhirnya Naina sarapan roti dengan selai coklat.


Sesampainya di depan Albry galeri..


"Jun, aku masuk dulu ya!"


"Hati-hati ya sayang,"


"Kamu juga," Naina tersenyum.


Naina berjalan masuk ke galeri itu, tiba-tiba saja dia jatuh pingsan.


Brugh!


"Bu Naina!" teriak Carol terkejut melihat Naina jatuh pingsan di depan galeri.


Juna yang akan masuk ke dalam mobilnya, mengurungkan niatnya. Dia berbalik dan menghampiri istrinya yang tidak sadarkan diri di aspal.


"Sayang! Naina!"


...--***---...