Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 35. Angry Cat



POV


JuNai


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Sebagai teman yang pengertian, Damar meninggalkan Juna dan Naina di dalam ruangan kelas itu berduaan saja. Damar berencana untuk mencari Keira yang katanya sedang pergi ke kantin sekolah.


Aku teman yang pengertian, aku teman yang baik. Juna selamat berduaan ya, aku juga mau cari Keira dulu biar bisa berduaan hihi. Damar senyum-senyum sambil melangkah cantik keluar dari kelas yang hanya ada Naina dan Juna di dalam sana


Naina memaksa Juna untuk minum obat nya, namun Juna menolak. Juna sangat tidak suka minum obat.


"Ayo minum dulu obatnya, barulah kamu bisa makan" Naija membukakan plastik yang membungkus obat tablet itu. Kini obat itu ada ditangannya.


"Gue langsung makan aja, gak usah minum obat"


"Arjuna Ardiwinata!!" teriak Naina dengan wajah galaknya


"Lo ngegas mulu deh, gue kan lagi sakit. Tega banget Lo marahin orang sakit" gerutu Juna sebal pada Naina yang marah-marah padanya


"Tau kan lagi sakit? tapi tetap gak mau minum obat! bandel ya kamu, cepet minum obat dulu!" bentak Naina kesal pada Juna yang terus menolak minum obat


"Gak mau, langsung makan aja" Juna membuka kotak bekal yang dibawanya itu, Naina langsung melotot dan memukul tangan Juna.


PLAK


"Aduh! sakit!!" Juna memegang telapak tangannya yang dipukul oleh Naina


"Siapa yang suruh kamu buka kotak bekalnya? kamu tidak boleh makan sebelum minum obat dulu!" ucapnya dengan mata tegas menatap Juna, sambil menyodorkan obatnya ke arah Juna. "Minum!!"


"Tapi pahit kan?" tanya Juna dengan wajah yang enggan minum obat tablet itu


"Namanya juga obat, ya pahit lah! kalau mau yang manis manis, kamu makan permen aja hah!" Naina terlihat galak dan tegas


"Galak amat sih, dasar kucing galak!" gerutu Juna sebal


Kenapa dia bisa se galak ini sih? cuma karena aku tidak mau minum obat? entah kenapa aku merasa dia sedang perhatian padaku. Juna senang dalam hatinya, dengan ketegasan Naina seperti bentuk perhatian padanya.


"Cowok preman, cepat minum obatnya!" seru Naina tegas


Juna pun tersenyum lalu meminum tablet yang ada di tangan Naina dengan cepat ia meneguknya bersama air minum.


"PWAH.. udah tuh" ucap Juna yang sudah selesai meminum obatnya


"Bagus, anak baik.. tunggu 5 menit lalu makan makanan mu. Aku pulang dulu ya" Naina memakai tas gendong nya setelah Juna beres minum obat


Lah? kok dia mau pulang aja sih? aku gak mau dia pulang sekarang. Aku gak mau makan sendirian lagi. Juna sedih teringat kalau ia sering makan sendirian sejak ditinggal kan kedua orang tuanya.


GREP


Tangan Juna memegang tangan Naina, gadis itu menoleh ke arah Juna dengan tatapan cemas. "Ada apa Jun? apa ada yang sakit lagi?"


"Enggak, tapi gue gak bisa makan kalau sendirian. Temenin gue disini bentar aja" Juna menatap Naina dengan memelas, berharap dikasihani


Hati nurani Naina terserang oleh wajah memelas Juna. Naina juga merasa kasihan pada Juna yang belajar sampai sakit seperti ini hanya untuk masuk rangking lima puluh besar.


Naina mengalah, ia pun duduk di kursi yang ada di depan Juna. Naina membuka kotak bekal makanan yang dibawa Juna, lalu menyuruhnya untuk makan.


"Gue bakal makan, tapi Lo temenin gue ya?" tanya Juna sambil memegang sendok makan nya bersiap untuk makan


"Iya, aku disini sebentar lagi. Kamu makan dulu sekarang, nanti perut kamu sakit lagi" Naina mengingatkan Juna


Kenapa kamu sebaik ini sih? aku jadi gak bisa kalau gak tertarik sama kamu Nai? kalau aku bilang aku suka kamu, apa jawaban kamu? aku takut kamu tidak menyukaiku sama seperti aku suka sama kamu. Batin Juna bingung


"Iya bawel" jawab Juna


PLETAK


"Aduh! sakit tau gak kucing galak! berapa kali Lo mukul gue hari ini??! huuhhh.." Juna mengeluh karena keningnya di pukul oleh Naina.


"Siapa suruh ngatain aku bawel? cepat habiskan makanannya!" seru Naina tegas


"Dasar kucing galak, iya iya gue makan"


Sambil menunggu Juna menghabiskan makanan di kotak bekalnya. Naina berbicara pada Juna tentang rangking 50 besar itu dan belajar Juna.


"Kamu gak usah berusaha sekeras ini untuk belajar masuk ke lima puluh besar, aku sudah senang banget kamu sudah berusaha. Nilai kamu juga udah meningkat kan? jadi udah gak usah belajar terlalu keras ya" Naina membujuk


"Gak mau! gue tetap mau masuk rangking lima puluh besar itu" kata Juna teguh pada pendirian nya


"Memangnya kamu mau minta apa dariku kalau kamu masuk rangking lima puluh besar? kamu sampai tidak mempedulikan diri kamu sendiri. Apa bagusnya rangking 50 besar itu? kamu naik kelas juga sudah bagus untukku. " tanya Naina penasaran


"Tentu saja bagus kalau gue masuk rangking lima puluh besar itu, gue bisa minta tiga permintaan dari Lo" Juna makan dengan semangat, kini wajah pucat nya itu sudah terlihat lebih fresh


"Minta aja sekarang, kalau aku bisa mengabulkan nya aku pasti akan kabulkan"


"Enggak bisa, nanti aja kalau gue udah masuk ranking lima puluh besar. Lo udah janji mau ngabulin permintaan gue. Jangan ingkar!" Juna tegas


"Iya ya udah deh, tapi kalau besok keadaan kamu masih kaya gini. Kamu melupakan jam makan kamu, perjanjian kita gak berlaku ya meski kamu masuk rangking itu" Naina mengancam Juna agar Juna lebih memperhatikan kesehatannya dan makanan nya.


"Apa? hey! gak bisa gitu dong, Lo udah janji!" seru Juna sebal


"Aku gak peduli tuh! kalau kamu melanggar yang satu ini, kamu gak akan dapat tiga permintaan itu." kata Naina tegas


Aku cuma gak mau sakit Jun. batin Naina cemas pada Juna


"Ya deh, gue gak akan melewatkan jam makan lagi. Gue akan makan teratur dan gue akan sehat" jawab Juna patuh


Seneng banget diperhatikan sama kamu kucing galak.


"Bagus, mulai sekarang kamu harus laporan sama aku setiap kali kamu mau makan atau beres makan"


"Apa?!!" Juna kaget mendengar Naina akan memperhatikan jam makan nya


"Dalam seminggu ini aku akan memantau perkembangan kesehatan, terutama makanan kamu" kata Naina mengingatkan


Juna mengalah, ia tersenyum pada Naina. Ya, Juna memang tidak bisa menang dari Naina yang sudah melunakkan hati premannya.


Setelah Juna menghabiskan semua makanan di dalam kotak bekalnya. Naina dan Juna berencana untuk pulang bersama.


"Gue anter Lo pulang ya, angry cat"


"Lah? kok jadi angry cat?" tanya Naina sambil tertawa-tawa kecil mendengar Juna memanggilnya kucing galak


"Habisnya Lo kaya kucing galak, kucing marah-marah yang ada di depan sekolah" jawab Juna sambil mengingat Naina yang dulu pernah menggendong seorang kucing di depan sekolah


"Kamu pernah lihat aku sama kucing?" tanya Naina


"Iya, gue inget banget kalau kucing itu nyakar tangan Lo. Terus Lo marah-marah tuh sama si kucing, padahal Lo sama aja kaya si kucing. Pemarah! cuma bedanya kucing itu nyakar, kalau Lo tuh mukul " jelas Juna sambil tersenyum melihat ke arah Naina dan mengejeknya


"APA??!"Naina naik pitam, ia mendengus kesal menatap tajam Juna.


Tangan Naina sudah melayang di atas, ingin memukul badan Juna. Kali ini Juna berhasil menangkap tangan Naina dengan cepat.


"Haha, kali ini Lo gak akan berhasil. Gue tau trik Lo" Juna tersenyum puas setelah berhasil mengunci kedua tangan Naina.


Ngelihat dia kaya gini, dia benar-benar kaya kucing galak yang imut. Kini aku mengerti, kenapa papa, om, sama kakak nya bucin sama dia.


"Oh ya? kamu pikir kamu bisa menahan tanganku?!" Naina tidak terima Juna menghindar dari serangannya. Naina pun menyiapkan kaki kirinya untuk menendang kaki Juna.


SRET


Juna menghindar dengan cepat, memundurkan kakinya kebelakang. Naina tidak menyerah, satu kaki nya lagi mencoba menendang Juna.


"Junjun!!" seru Naina kesal dan mencoba melepaskan kedua tangannya dalam genggaman erat Juna. "Lepasin Juna!! ih!" gerutu Naina kesal


"Coba aja kalau bisa, bwee" Juna tersenyum mengejek Naina yang kesal


Mereka pun bercanda tawa bersama di lorong kelas. Juna merasa bahagia bisa dekat dengan Naina.


Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa kalau gak naik kelas adalah keberuntungan. Karena aku bisa sekelas dan dekat sama makhluk imut seperti kamu Nai. ucap Juna dalam hatinya. Matanya menatap Naina yang sedang tertawa.


🎢🎢


Sungguh aneh tapi nyata


Takkan terlupa


Kisah kasih di sekolah


Dengan si dia


Tiada masa paling indah


Masa-masa di sekolah


Tiada kisah paling indah


Kisah kasih di sekolah


Tiada masa paling indah


Masa-masa di sekolah


Tiada kisah paling indah


Kisah kasih di sekolah


Masa-masa paling indah


Kisah kasih di sekolah


🎢🎢


Juna dan Naina berjalan menuju ke parkiran sekolah.


"Kamu yakin gak papa nganterin aku?" tanya Naina


"Ya gue gak masalah sih" jawab Juna


"Aku bisa aja sih pergi sama kak Theo, dia bilang mau nganterin aku pas pulang sekolah. Tapi, dia masih ada ujian" jelas Naina


"Enggak! jangan dianter sama si mata empat itu, sama gue aja pulangnya! gue beneran gak papa kok, gue sehat walafiat! gue udah minum obat dan makan "


Gak boleh, mumpung si Theo masih di kelas. Aku harus curi start duluan. Enak aja tadi pagi dia udah berduaan boncengan sama Naina, terus pulangnya mau berduaan lagi gitu? jangan mimpi selama ada Arjuna Ardiwinata disini!. Juna terlihat kesal lagi saat memikirkan Naina yang tadi pagi memilih berangkat sekolah bersama Theo


Aduh, gak enak juga nolak Juna. Tadi pagi-pagi aku udah nolak dia dan dia kesel. Ya udah aku pulang bareng Juna aja deh. batin Naina merasa bersalah karena tadi pagi ia menolak berangkat bersama Juna


"Iya iya, aku pulang bareng kamu. Tapi aku chat dulu kak Kelvin sama kak Theo" Naina mengambil ponselnya dan mengirimi Theo, Kelvin SMS untuk pulang duluan dengan Juna.


"Si Kelvin gak akan pulang bareng Lo?" tanya Juna yang merasa heran karena Kelvin tidak kelihatan batang hidungnya dari tadi pagi. Biasanya Kelvin akan muncul kalau ada pria yang mendekati Naina.


"Mulai hari ini dia gak akan berangkat bareng atau pulang bareng sama aku lagi."


"Loh? kenapa?" tanya Juna penasaran


"Dia udah punya pacar, gak mungkin kan dia terus ngurusin aku. Dia juga sibuk" jawab Naina sambil tersenyum


"Apa? seriusan si cold man itu punya pacar??!!" Juna tercengang, dengan senyuman senang di wajahnya.


Kalau dia punya pacar! bagus dong, dia gak sibuk dengan pacarnya dan gak gangguin lagi aku dan Naina. Yes, satu gunung es berhasil di lewati. Juna tersenyum penuh kebahagiaan


"Iya, tapi kamu jangan bilang-bilang sama siapa-siapa ya. Ini rahasia loh" kata Naina mengingatkan Juna


Kenapa Juna kaya yang seneng gitu ya denger kak Kelvin pacaran?. Juna menatap Naina dengan bingung


"Ok siap! ini rahasia, tapi ngomong-ngomong siapa cewek yang udah lelehin es batu di hati kakak Lo itu?" tanya Juna berbisik ke telinga Naina


"Dia KEIRA" jawab Naina sambil berbisik pada Juna


"Keira mana?" tanya Juna meyakinkan siapa Keira


"Keira sahabatku lah, memangnya siapa lagi" jawab Naina serius sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


Kak Kelvin pasti lagi berduaan sama Keira, dia bahkan gak balas sms ku. Ya sudah deh, yang penting aku sudah kirim SMS. gumam Naina pada ponselnya yang tak kunjung dapat balasan dari kakak nya


JLEB!


Juna dibuat tercengang lagi oleh Naina. Siapa katanya? Keira? pacarnya adalah Keira? gadis yang ditaksir temannya, Damar?


Celaka kamu Damar! telat kamu, sad boy lah dirimu, si Keira udah jadian sama si genius cold man. Kalah telak kamu, mar!


Juna mencemaskan perasaan temannya kalau dia tau cewek yang ia suka sudah berpacaran dengan orang lain. Pasti lah Damar akan patah hati.


"Oh ya Jun, aku ke toilet bentar ya!" kata Naina yang sudah kebelet pipis


"Oke deh, gue tunggu disini" ucap Juna sambil tersenyum santai.


Naina berlari menuju ke arah toilet wanita, sesampainya di sana ia langsung menuntaskan urusannya. Hanya dalam waktu 3 menit, urusannya sudah selesai. Naina keluar dari kamar mandi wanita itu, terlihat beberapa siswa masih ada di area sekolah.


Tak sengaja Naina berpapasan dengan seorang kakek yang duduk di kursi roda, sedang berada di luar ruangan kepala sekolah. Kakek itu sendirian dan tampak kesulitan mengambil sesuatu yang terjatuh di lantai.


BRUGH!


Naina panik dan langsung menghampiri pak Farid. Naina membantu pria tua itu naik kembali ke kursi roda dengan susah payah.


"Kakek! kakek gak papa? apa kakek ada luka?" tanya Naina sambil memperhatikan pak Farid yang tampak syok setelah jatuh dari kursi roda itu.


Pak Farid menatap Naina dengan mata yang sedih.


Naina mengambilkan bolpoin yang jatuh di lantai dan memberikannya pada pak Farid.


"Hati-hati dong kek, ini bolpoin nya" Naina tersenyum ramah, lalu senyumannya hilang saat melihat pak Farid meneteskan air mata.


"Kakek.. ka-kakek kenapa? apa kakek ada yang luka? apa kakek sakit?" tanya Naina perhatian dan cemas pada pria tua itu


"Delia.. kamu mirip dengan Delia.." pak Farid menangis melihat Naina. Naina tercekat mendengar nama Almh neneknya di sebut.


"Kakek kenal nenek saya? kakek menyebutkan nama Almh nenek saya? "tanya Naina memastikan bahwa pria tua itu mengenal neneknya yang sudah tiada


"Almh? apa maksud kamu memanggil nya begitu, nak?" tanya pak Farid sedih


"Ya, itu karena nenek saya sudah meninggal kek" jawab Naina dengan tatapan penuh pertanyaan pada pria tua yang ada di depannya itu


"Meninggal? Delia sudah meninggal?" Pak Farid memegang dadanya, ia menangis.


Delia.. ternyata kamu sudah tiada?. batin Pak Farid sedih


"Ka-kakek? kakek kenapa nangis??" tanya Naina cemas sambil mengusap air mata pak Farid dengan tangan lembutnya, ia tak tega melihat pria tua itu menangis sedih.


Naina tampak bingung melihat pria tua itu menangis ketika menanyakan tentang neneknya.


...---***---...