
"Nay !! Ngapain lo berhenti disitu, kayak orang gila tahu nggak." Kaget Zahra ketika melihat Nayla yang duduk selonjor di lantai mall di tengah kepadatan manusia - manusia yang sedang berlalu lalang.
Nayla hanya diam tak berkutik, diam di tempat dan memandang Zahra malas. Sampai Zahra jengah lalu menghampirinya menarik tangan Nayla agar bangun.
"Bangun Nay !! Lo berat sumpah." Ucap Zahra sambil membangunkan Nayla.
Karena tak terima Nayla pun bangun dengan sendirinya. "Enak aja gue nggak berat tahu. Badan lo aja yang kerempeng makanya nggak kuat."
Zahra terkekeh pelan, sahabatnya ini memang selalu mengelak jika dikatai berat atau semacamnya. "Iya oke lo nggak berat, lo ringan. Bahkan kayak selembar kertas." Dikatai seperti itu membuat Nayla berdecih tak percaya.
"Ngapain sih lo tadi ?" Heran Zahra.
"Capek nungguin lo belanja, gue laper daritadi muter - muter mall mulu dari nyalon sampai belanja ini itu ter--" Cerocos Nayla.
"Sssttt.... iya - iya maaf buat lo muter - muter terus. Kalau gitu kita makan deh." Potong Zahra.
Wajah Nayla berbinar dia langsung menyeret Zahra untuk pergi ke tempat makan yang ada di dalam mall.
•••
"Pesan apa mbak mas ?" Tanya pelayan itu sambil menggenggam bulpoin dan kertas kecil untuk mencatat pesanan.
"Satu pasta dan satu jus alpukat, lo pesen apa Put ?" Tanya Revan.
"Aku yang ini, terus ini, ini juga, sama apalagi ya. Ahh... ini - ini pokoknya semuanya yang mahal - mahal." Ucap Putri.
Revan terkejut mendengar pesanan Putri. Bukan Revan tak bisa membayar semua tagihannya. Dia bahkan bisa membeli tempat makan ini atau lebih tepatnya mall ini karena mereka sedang makan di sebuah mall, itu adalah permintaan Putri.
"Apa lo bisa ngabisin semuanya ?" Tanya Revan.
'Whathever.' Batin Revan.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pesanan sudah datang tinggal minuman yang sedang diantarkan oleh pelayan. Terlihat dari beberapa meter pelayan wanita itu membawa nampan berisi minuman tatapannya tak fokus karena melihat kearah Revan.
Mungkin pelayan itu terpesona oleh ketampanan Revan. Sampai tak sadar salah satu gelas yang ada di nampannya sudah jatuh mengguyur rambut salah satu pengunjung.
Pengunjung itu terlihat marah, wajahnya tidak asing di mata Revan sepertinya Revan pernah melihat dia di kantornya. Revan terperangah waktu melihat kearah samping wanita itu ada sosok yang tak asing lagi di mata Revan.
'Dia seperti Salsa, tunggu Salsa. Apa !!' Batin Revan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Revan berdiri, dia akan berjalan kearah keributan itu terjadi tapi cekalan tangan Putri menghentikannya.
"Kamu mau kemana Revan ?" Tanya Putri ikut berdiri.
"Gue mau kesana." Tunjuk Revan kesebuah meja yang ditempati dua orang wanita tadi. Tapi ketika bola matanya menatap meja itu, ternyata mejanya sudah kosong tinggal seorang pelayan yang sedang membersihkan tumpahan minuman itu.
"Kemana dua wanita itu ?" Batin Revan berpikir.
"Sudahlah ayo duduk kita makan bersama." Pinta Putri.
Revan mendengkus kesal setelah itu duduk. Dia harus berpura - pura di depan Putri demi kelancaran rencananya. Senyuman palsu terus terukir di wajah tampan Revan supaya tak membuat Putri curiga.
Rencananya harus berjalan dengan lancar menjatuhkan keluarga Baiquni ke tempat yang paling bawah. Demi membalaskan dendamnya karena sudah berani korupsi di perusahaanya.
•••
Jangan lupa klik like. Masukan favorit ya supay dapat notifikasi kapan updatenya. Semoga suka.