
Di rumah Bryan..
Albry terlihat sedang bermain rubik kesukaan nya, tidak terhitung berapa kali Albry menyatukan semua warna di rubik itu. Albry tidak bosan memainkan nya, karena itu adalah hadiah ulang tahun dari Naina.
Albry terlihat cuek dan jahil pada kakak perempuan nya itu tapi sebenarnya ia paling dekat dengan Naina daripada Kelvin yang sikapnya dingin. Albry mewarisi setengah sifat nya dari Alma dan setengah nya lagi dari Bryan. Ia tidak dingin dan tidak cerewet. Albry cenderung tenang, bahkan ia memiliki jiwa anak-anak seperti kakak nya Naina sewaktu sekolah dasar dulu.
Melihat anaknya asyik bermain rubik, Alma menghampiri nya dan mengajak nya bermain bersama.
"Loh, kenapa hanya rubik nya saja yang dimainkan? kenapa yang lainnya tidak dimainkan juga?" tanya Alma sambil melihat mainan lain yang berserakan di lantai.
"Aku udah bosan mah " jawab Albry sambil memutar mutar rubik nya
"Hem.. seperti nya kamu sangat menyukai hadiah ulang tahun dari kak Naina ya?" tanya Alma
"Aku.. biasa aja tuh, aku gak suka suka banget" jawab Albry
Albry benar-benar warisan papa nya kalau lagi jaim gini.
"Ya deh, ya deh kamu gak suka suka banget. Berarti kamu suka kan hadiah dari kak Naina?" tanya Alma
"Hem.. iya mah, Albry suka" jawab Albry malu-malu
"Sayang, kakak kakak kamu belum pulang ya?" tanya Alma yang melihat rumahnya yang tidak berisik seperti biasanya.
"Iya mau Kak Kelvin sama kak Naina belum pulang " jawab Albry
Hari sudah mulai gelap, Alma terlihat cemas karena kedua anak nya belum juga pulang. Saat itu malah Bryan yang pulang lebih dulu dari kedua anaknya.
"Assalamualaikum" ucap Bryan
"Waalaikum salam" jawab Alma dan Albry bersamaan.
"Ada apa nih? kok wajah kamu cemberut gitu sayang?" tanya Bryan pada istrinya
"Anak-anak belum pulang, ini sudah malam Bry"
"Kamu udah telpon pak Jeffry?" tanya Bryan
"Sudah, tapi pak Jeffry gak angkat. Aduh aku cemas " ucap Alma cemas
"Mereka pasti baik-baik saja sayang, mereka sudah besar pasti bisa jaga diri." kata Bryan menenangkan istrinya
"Tetap saja aku cemas "
Seperti biasanya, Alma selalu menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, setelah suaminya lelah mencari nafkah. Mereka berdua berada dalam kamar, Bryan sedang rebahan di ranjangnya yang empuk.
Sambil menunggu air panas nya siap, Alma memijat kepala suaminya. Pria itu masih saja bersikap manja meski sudah mulai menua, ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Alma.
"bagaimana sayang? kamu merasa lebih baik?" tanya Alma sambil memijat kepala suaminya pelan-pelan
"Ya sayang, sudah lebih baik. Terimakasih cintaku " Bryan memegang tangan istrinya lalu mencium nya.
"Hem... iya sayang, kamu cepatlah mandi. Airnya sudah siap "
"Baiklah, kamu tidak mau mandi bersama?" tanya Bryan menggoda istrinya
"Bryan, kamu ini sudah tua masih saja..." Alma tersenyum
GREP
Bryan memegang pinggul istrinya itu dan mendekapnya. " masih saja tampan kan? dan aku masih mencintaimu, aku akan selalu mencintai mu"
"Sayang.. kamu.. " Alma terlihat malu-malu, ia menundukkan kepalanya.
Walau sudah menua, pria itu masih tetap saja sama. Sikapnya pada Alma sama sekali tidak berubah, seolah mereka adalah pengantin baru. Kemesraan diantara mereka berdua, tidak berkurang sama sekali. Masalah yang dulu mereka lewati, ujian dan cobaan yang pernah mereka hadapi, menjadikan hubungan mereka semakin kuat. Rasanya hidup mereka sudah sempurna, yang ada hanya keharmonisan saja.
Saat wajah mereka akan mendekat..
Titt.. Tit..
Alma mendorong tubuh suaminya, dan segera keluar kamar untuk menyambut anak-anak nya yang pulang. " Itu pasti pak Jeffry sama anak-anak" kata Alma semangat
Bryan terlihat sedih melihat istrinya pergi menyambut anak-anak nya.
"Wah, kasih sayang mu padaku sekarang terbagi dua.. eh tidak, mungkin terbagi empat. Aku merasa bukan kesayangan Alma lagi" Bryan memegang handuknya dan masuk ke kamar mandi dengan wajah cemberut.
🍂🍂🍂
Naina, Theo dan ibunya turun dari mobil, mereka berjalan menuju ke depan pintu rumah Naina.
"Kak Theo, makasih ya udah nganterin aku" kata Naina
"Ya sama-sama" jawab Theo santai
Apa sih yang enggak buat kamu Nai.
"Oh ya tante Vera juga.. makasih ya Tante"' kata Naina pada ibu Theo yang menyetir dan mengantar nya ke rumah.
"Iya sama-sama cantik" jawab Vera santai
Alma keluar dari rumah, lalu segera menyambut Vera dan Theo yang sudah mengantar Naina. Alma menanyakan kenapa Naina pulang bersama Theo dan bukannya bersama Kelvin dan pak Jeffry. Naina pun menjelaskan situasi nya kalau Kelvin mengantar temannya yang rumah nya jauh dari sekolah.
"Ayo Bu Vera, Theo, masuk dulu yuk. Kebetulan saya sudah buat makan malam. Mari kita makan malam bersama"
"Aduh gak usah ah ngerepotin saja Bu Alma" kata Vera sambil tersenyum ramah
"Ngerepotin apa Tante? enggak kok, ayo masuk makan malam sama-sama dulu. Ini sudah jam makan malam" kata Naina mengajak
Vera tersenyum, ia terlihat sangat menyukai gadis ceria di depannya itu. Ia sempat melirik ke arah Theo yang selalu tampak malu-malu di depan Naina. Vera pun mengerti kenapa anaknya seperti itu.
Hem, seperti nya anak ku ini sudah mulai jatuh cinta. Kalau Naina sih aku setuju banget. ucap Vera dalam hatinya.
Akhirnya Vera dan Theo masuk ke dalam rumah dan ikut makan malam bersama keluarga Naina. Alma dan Naina menyiapkan makanan, meletakkannya ke meja makan satu persatu.
Pandangan Theo tak lepas dari Naina yang sedang sibuk membantu ibunya menyiapkan makan malam.
"Hus, kalau di liatin terus bisa bolong tuh" Vera tersenyum melihat gelagat anaknya.
"Mama, apaan sih?" Theo terlihat malu
"Kalau orangnya Naina, mama sih setuju" bisik Vera pada anaknya
"Mama ngomong apa lagi sih?" Theo tersenyum malu
" ciahh elah.. anak mamah malu-malu " goda Vera pada putra satu satunya itu.
Tak lama kemudian Albry memberitahu pada Theo dan Vera kalau makan malam sudah siap. Theo dan Vera pun segera bergabung bersama keluarga Bryan untuk makan malam bersama.
Saat akan memulai makan malam, Kelvin baru pulang mengantar Keira.
"Kakak udah pulang?"
"Vin, cepat ganti baju kamu. Kita makan bersama " kata Bryan pada anak sulungnya itu
Kelvin langsung memasang wajah tidak senang saat melihat Theo ada disana. Persis seperti waktu kecil, Kelvin masih tidak senang Theo terlalu dekat dengan Naina.
Kenapa si Theo ada disini? pakai ikut makan malam segala lagi. Harusnya aku gak biarkan Naina pulang sama dia, dia pasti ngemodus. Kelvin menatap tajam pria berkacamata yang sedang duduk di kursi meja makan itu.
Apa si Kelvin masih belum suka sama aku?padahal kita sekelas, tapi dia tetap dingin sama aku. batin Theo.
Tanpa bicara sepatah katapun, Kelvin menunduk pada Vera sebagai rasa hormatnya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
"Mohon maaf Bu Vera, Kelvin memang anaknya begitu " Alma tersenyum " Anak itu, dasar.. dia mirip siapa sih!" gerutu Alma kesal melihat anaknya yang dingin dan cuek.
Apa Kelvin tidak suka sama Theo, ya? tatapannya pada Theo terlihat tidak menyenangkan.
"Silahkan nikmati makanan nya, Bu Vera, Theo.." kata Bryan ramah
Makan malam itu berlangsung menyenangkan, suasana rumah yang terasa hangat karena keluarga yang saling menyayangi. Membuat Vera bertekad menjadikan putri satu satunya di keluarga itu untuk menjadi menantu masa depannya.
🍂🍂🍂
Di rumah sederhana yang letaknya berada di gang sempit.
Keira sedang duduk di depan rumah itu, di kursi plastik. Ia sedang tersenyum sendiri, memikirkan Kelvin yang mengantarnya pulang sampai ke rumah.
"Ternyata Kelvin langsung mengenali ku, padahal 4 tahun tidak bertemu. Apa itu artinya aku boleh berharap padanya seperti dulu? aku rasa aku benar-benar menyukai Kelvin. Ah ya.. dan dia juga masih menyimpan gelang persahabatan dariku. Dia menjadikannya gantungan di tas nya. Aahh... senangnya.. " Keira memegang pipinya, ia tersenyum bahagia sambil memegang sebuah gantungan berbentuk kelinci.
#FLASHBACK
4 tahun yang lalu saat Keira kelas 5 SD..
Tahun-tahun itu adalah tahun tahun terberat yang dialami keluarga Keira. Keira yang awalnya berasal dari keluarga kaya, tiba-tiba jatuh miskin karena krisis yang dialami oleh keluarga nya. Ibu tiri dan saudara tirinya mengambil semua aset dan kekayaan papa nya setelah papa nya meninggal. Mereka juga mengusir Keira, akhirnya ia terpaksa harus pindah ke Bandung untuk mencari pertolongan dari keluarga pihak neneknya.
Hal itu memaksanya untuk pindah rumah dan pindah sekolah. Satu hari setelah pengumuman kenaikan ke kelas 6, tepat saat hari kelulusan Kelvin.
Keira bersiap-siap untuk pergi meninggalkan sekolah, dan kota yang telah sangat melekat padanya. Memberikan banyak kenangan indah untuknya, terutama Kelvin, Naina dan teman-teman nya yang lain. Ada rasa tidak ikhlas di dalam hatinya, ia tak mau meninggalkan kota kelahiran nya. Tapi mau tidak mau ia harus pindah menemui keluarga nya yang masih tersisa.
Hari itu Keira akan pergi bersama ke Bandung, dengan salah satu pengasuhnya. Mereka pergi naik bus ke Bandung.
"Non, ayo kita pergi. Bus nya sudah mau berangkat " ucap ibu paruh baya itu
Mata Keira berkaca-kaca, ia terlihat sedih. Terpaksa ia menarik kopernya dan berjalan bersama pengasuh nya menuju ke bus yang akan menuju Bandung.
"KEIRA!!"
Itu kayak suara Naina?
Suara yang tidak asing, menghentikan langkahnya. Keira membalikkan badan dan menoleh ke asal suara itu.
Naina, Kelvin, Theo, Nisha menghampiri Keira sambil berlari terburu-buru. Apalagi Naina, gadis kecil itu berlari dan memeluk temannya sambil menangis.
"Ternyata kamu benar-benar mau pergi, aku kita bohongan.. hiks.. " ucap Naina sambil menangis memeluk Keira
"Bagaimana bisa kamu pergi gitu aja tanpa bilang sama kita?" tanya Theo kesal
"Kamu masih menganggap kita teman, kan?" tanya Nisha sedih
Ketika semua temannya bicara mengomel padanya, Kelvin hanya menatap Keira dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maaf teman-teman, aku harus pergi. Nai, jangan nangis lagi ya" Keira tersenyum dan menyeka air mata Naina
"Huaahh.. Keira jahat, Keira mau ninggalin aku" Naina masih menangis dan memeluk sahabatnya itu.
"Nai, udah jangan nangis lagi. Kamu hanya akan buat Keira gak bisa pergi" ucap Kelvin tajam
"Aku emang gak mau Keira pergi.. kak"
"Biarin aja dia pergi, toh dia juga gak peduli sama kita. Dia bahkan gak ngasih tau kita kepergian nya." ucap Kelvin sinis
Keira terlihat merasa bersalah mendengar kata-kata Kelvin yang menusuk hatinya.
"Kakak gak boleh ngomong gitu dong!" seru Naina sebal pada kakaknya
"Jadi kamu mau pergi? ya udah pergi aja, jangan kasih tau kami. Pergi aja diam-diam, gak usah anggap kami teman " Kelvin kesal
" KAKAK! " Ujar Naina pada kakak nya.
"Kelvin, aku gak bermaksud kaya gitu. Maafin aku teman-teman, bukan maksudku menyembunyikan ini dari kalian" Keira merasa bersalah, terutama pada Kelvin yang marah padanya.
"Maksud kak Kelvin ngomong kaya gitu tuh karena dia marah, kamu gak bilang mau pindah dan pergi gitu aja. Dia gak bermaksud ngomong kasar sama kamu, Kei " jelas Naina akan sikap kakak nya yang kasar dan dingin itu.
"Iya itu benar, saat tau kamu pergi. Kelvin yang pertama kali dan paling semangat mencari kamu" kata Theo memberitahu
"Ngomong apaan sih kamu Theo? aku gak kaya gitu" sangkal Kelvin.
Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, Keira menjelaskan secara singkat kepada teman-teman nya, tentang alasannya pindah ke Bandung. Semua temannya mengerti keadaan Keira, dan mendukung nya untuk tetap semangat.
Kenapa Kelvin gak bicara apa-apa? apa dia masih marah padaku?. Keira terlihat sedih, ketika semua orang bicara padanya dan menyemangati nya, tapi Kelvin diam saja seperti acuh tak acuh.
"Kei, semangat ya. Kami berharap kamu bisa balik lagi kesini dan sekolah bareng kami" kata Naina
"Iya, semoga aja ya. Teman-teman, aku pergi dulu" Keira tersenyum pahit, berpamitan pada teman-teman nya.
"Ayo non, supir bus nya udah nunggu tuh" ucap pengasuh Keira sambil menarik koper besar ditangannya.
Kelvin, apa sampai akhir kamu akan tetap begini? aku akan pergi dan gak tau kapan akan kembali, kamu malah bersikap seperti ini?
Keira berjalan menuju ke arah bus.. Tiba-tiba saja Kelvin berteriak pada Keira. " Hei Kei kelinci! tangkap ini!"
Kelvin melempar sebuah benda pada Keira, dengan cepat Keira menangkap benda yang dilemparkan oleh Kelvin. Keira tersenyum senang melihat benda kecil berbentuk kelinci itu, ternyata sebuah gantungan.
Gantungan kelinci itu mengingatkannya, kalau ia selalu di panggil Kei kelinci oleh Kelvin, karena Keira suka melompat-lompat kalau sedang senang dan selalu mengikuti nya seperti kelinci. Gadis itu tidak menyerah untuk mendekati Kelvin, dan akhirnya menjadi sahabat nya melalui pertaruhan nilai semester.
"Sampai jumpa lagi, aku yakin kita akan bertemu lagi Kei kelinci" ucap Kelvin pada Keira
"Semangat Kei " kata Theo dan Nisha menyemangati
"Woah.. kaya adegan romantis dalam drama Korea.. sweet.." Naina terpana melihat pemandangan di depannya yang di kira nya romantis itu. Ia heran melihat kakak nya yang cuek itu bisa peduli pada gadis lain selain dirinya dan ibu mereka.
Oh jadi kak Kelvin beli gantungan kelinci itu buat Keira. Fiks, ini semakin jelas. ucap Naina dalam hatinya
Keira memegang gantungan kunci itu erat-erat, ia menangis dan masuk ke dalam bus bersama pengasuh nya. Keira melambaikan tangan pada semua teman-teman nya melalui jendela bus yang akan berangkat itu.
" Kei, aku bakalan kangen kamu!" seru Naina
"Aku juga aku juga" teriak Nisha
"Jangan lupa kirim surat ya" kata Naina
"Iya, aku akan ngabarin kalian semua!" seru Keira
Naina, Theo, Nisha dan Kelvin melambaikan tangannya pada Keira. Melepas kepergian Keira yang tidak mereka tau kapan gadis itu akan kembali.
Teman-teman, aku akan akan kembali bagaimana pun caranya. Terutama untuk dekat dengan kamu lagi Vin. Teman-teman, aku akan kembali lagi.
Dan 4 tahun pun berlalu, tanpa ada kabar dari Keira. Lalu Keira kembali dan memberi kabar pada Naina dan Nisha lebih dulu kalau ia akan masuk sekolah yang sama dengan kedua sahabatnya itu.
Dengan perjuangan kerasnya, ia kembali ke Jakarta. Mengikuti tes masuk ke SMA yang sama dengan Naina dan Kelvin. Keira yang awalnya selalu malas belajar, menjadi rajin belajar demi masuk ke SMA yang bisa di masuki orang-orang dengan nilai tinggi itu.
#END FLASHBACK
"Non, ayo masuk diluar dingin " kata mbok Darmi, pengasuh Keira yang sekarang menjadi satu satunya keluarga Keira
"Iya mbok, bentar lagi. Kenapa sih mbok masih manggil aku non? mbok kan bilang kalau aku kan sudah kaya anak mbok sendiri" tanya Keira
"Maaf non, habisnya udah kebiasaan sih hehe " mbok Darmi tersenyum
Keira tinggal dengan mbok Darmi sejak papa nya meninggal. Keluarga satu satunya Keira di Bandung juga sudah meninggalkan nya, dan sekarang ia hidup bersama pengasuh yang sudah seperti orang tuanya sendiri. Saat Keira tak punya siapapun, mbok Darmi lah yang tulus dan ikhlaskan menolong Keira.
Mbok Darmi juga tidak punya siapa-siapa lagi selain Keira, karena suami dan anak nya satu satunya sudah lama pergi meninggalkan nya. Mbok Darmi pun mencurahkan semua kasih sayang nya pada Keira, layaknya pada anak nya sendiri.
...---***---...