Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Dua couple



Setelah sadar dengan apa yang dilakukan yang dikatakan nya pada Laura. Pria itu langsung malu-malu. Wajahnya memerah seperti memakai pemerah pipi.


Disisi lain, Laura tampak syok dan terdiam. Hatinya seperti meledak-ledak tidak karuan, baru pertama kalinya ia menerima pernyataan cinta yang terdengar tulus dari seorang pria. Bahkan dari Jason yang sering mengatakan cinta setiap hari padanya, tidak bisa membuatnya sekaget ini.


Apa yang aku lakukan pada Laura? seharusnya aku tidak melakukan ini. Dia pasti akan marah, dia langsung diam begitu saja dan tidak mengatakan apa-apa.


" Ma-af, kamu pasti marah ya karena aku tiba-tiba melakukan itu padamu. Tanpa sadar a-aku mengucapkan nya dan me-me.. " kata-kata yang meluncur dari pria tampan itu terputus putus, menunjukkan betapa gugupnya dia.


" Be-benarkah itu Leon? kamu benar-benar suka aku?" tanya Laura yang jari nya masih menyentuh bibirnya yang masih terasa sedikit basah oleh sentuhan bibir Leon.


" Iya Laura. Walaupun begitu, harusnya aku tidak melakukan tindakan barusan. Aku minta maaf, maaf ya " Leon panik melihat Laura yang tidak menunjuk wajah


" Kenapa kamu minta maaf? aku tidak butuh maaf kamu "


" Kamu marah ya?" tanya Leon hati-hati


" Aku tidak marah. Aku hanya merasa kalau ini seperti mimpi "


Melihat Laura yang bingung, Leon berusaha meyakinkan Laura lagi dan mengatakan bahwa ia sungguh-sungguh menyukai Laura. Bahkan ia sampai mengucapkan kata cinta itu sebanyak 3 kali.


Laura masih linglung, bagaimana dirinya bisa dicintai oleh pria sesempurna Leon dengan status janda anak 1?


Leon meyakinkan lagi perasaan nya pada Laura dengan memeluk Laura. Wanita itu akhirnya bisa merasakan ketulusan hati Leon, merasakan sentuhan Leon yang nyata di tubuhnya. Pertanda bahwa semuanya bukan mimpi.


" Laura, aku suka kamu. "


" Leon, aku juga suka kamu. "


" Syukurlah " Leon tersenyum


Tanpa banyak bicara dan gerak cepat, Leon langsung mengatakan semuanya pada Laura bahwa ia tidak ingin menjalin hubungan yang singkat.


" Apa maksudnya kamu tidak mau menjalin hubungan yang singkat?" tanya Laura


" mengingat usia ku yang sudah tidak muda lagi, dan juga aku sudah kepikiran untuk merencanakan pernikahan. Aku ingin hubungan kita mengarah ke sana "


" Me-mengarah kesana?" tanya Laura kaget


" Ya, itu pun kalau kamu sudah siap. Aku tidak akan memaksa mu, kalau kamu mau bertunangan dulu sebelum kita menikah aku setuju saja "


Ya Tuhan! apa ini nyata? Leonardo Maxton, pria tampan perfek ini mengajakku menikah? Kalau aku sih siap saja, karena Kayla membutuhkan seorang ayah. Aku juga percaya kalau Leon bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Tapi, apakah aku pantas?.


" Apa kamu tidak berfikir ini terlalu cepat? kita baru kenal 4 bulan. " kata Laura sambil menatap lawan bicaranya itu dengan serius


" Terlalu cepat apanya? waktu itu bukan masalah untukku, tapi perasaan lah yang penting, Laura. Aku menyukai mu dan aku ingin menikahi mu. Atau apakah kamu tidak percaya aku bisa menjadi ayah yang baik untuk Kayla?" tanya Leon


" Bukan gitu, Leon aku selalu percaya kamu. Tapi aku yang insecure ! aku tidak percaya diri, apakah aku pantas untuk bersama dengan mu yang sempurna seperti ini? kamu kan bisa mendapatkan yang lebih baik" tanya Laura ragu-ragu


Leon tersenyum lalu memegang tangan Laura dengan lembut. Leon mengatakan pada Laura bahwa Laura juga sempurna untuknya, tidak ada wanita yang diinginkan oleh Leon selain dirinya. Setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan, tidak ada yang sempurna. Itulah kata Leon pada Laura.


Leon tertarik pada sisi Laura yang kuat, tegar, lemah lembut dan baik hati. Kepolosan nya sudah memikat hati Leon. Walaupun Laura pernah terluka oleh cinta, tapi Laura tetap berdiri tegak dan tabah demi anaknya. Leon ingin hidup bersama dengan wanita yang kuat seperti Laura, mama muda dengan satu anak itu.


" Lalu apa kamu yakin akan bersamaku seumur hidupmu?" tanya Laura " Kamu tak akan menyesal?"


" Seharusnya itu kata-kata ku, tapi akan ku katakan sekali lagi kalau aku tidak akan menyesal menikah dengan mu menghabiskan sisa hidupku dengan wanita seperti kamu Laura " Leon tersenyum


" Aku juga tidak akan menyesal Leon "


Setelah memantapkan hati masing-masing, Leon kembali ke kamarnya dan mengambil sesuatu di kamarnya. Beberapa detik kemudian, Leon kembali dengan sebuah kotak berwarna merah di tangannya.


" Apa ini? warna kotak nya merah seperti warna kesukaan ku " Laura melihat kotak kecil itu dengan takjub. " Kamu tau warna kesukaan ku?"


" Sebenarnya aku tidak tau warna kesukaan mu, dan aku hanya menebak saja. Karena setiap yang kamu pakai pasti ada warna merahnya, dari mulai baju, sepatu, bahkan tas warna merah. " jelas Leon


Laura tiba-tiba teringat kata-kata Alma tentang Leon. Jika Leon menyukai dan benar-benar menyayangi seseorang, dia akan memperhatikan semua nya tentang wanita itu tanpa terkecuali bahkan hal terkecil sekalipun.


" hum.. bukalah "


" Aku boleh membukanya sekarang?" tanya Laura


" Ya "


Laura membuka kotak kecil itu, dan terlihat lah sebuah bola salju berbentuk pohon disana. Laura tersenyum melihatnya.


" Po-pohon beringin? kenapa harus pohon beringin?"


" karena kamu seperti pohon " Leon tersenyum


" Apa? aku pohon? tapi kenapa aku seperti pohon?"


" Kamu seperti pohon karena kamu kuat dan tegar. Pohon selalu berdiri tegak di tempatnya dan tidak berpindah, meskipun ada hujan, meskipun dia kepanasan, terkena angin. Pohon selalu berdiri disana, tegak, kuat dan tidak peduli apapun yang menimpanya. Laura kamu spesial seperti pohon itu, tidak peduli apapun yang menimpa mu kamu tetap berdiri tegar dan kuat " jelas Leon


" Woah.. aku baru pertama kali mendengar hal hal seperti ini dari seseorang? aku seperti pohon ya.. " Laura tersenyum melihat bola salju berbentuk pohon itu.


" Iya kamu kuat seperti pohon itu "


Laura dan Leon berpelukan, mereka memantapkan hati mereka untuk segera bertunangan. Melupakan masa lalu dan menjalani masa depan bersama.


🍂🍂🍂


Keesokan harinya di rumah Bryan. Alma terlihat sudah bersiap siap dengan baju setelan bekerja nya, memakai blazer dan menggerai rambutnya.


Pagi itu ia membangunkan suaminya untuk segera pergi sarapan dan pergi mandi.


" Sayang, bangunlah. Ini sudah pagi, bukankah kamu harus bekerja hari ini?" tanya Alma sambil menggoyang goyangkan tubuh Bryan yang masih rebahan di tempat tidur


" Haa.. aku malas sekali, rasanya aku masih ingin berduaan denganmu dan menikmati waktu bulan madu kita. Tapi, aku dan kamu malah harus bekerja " Bryan terlihat malas, ia menyelimuti dirinya kembali dengan selimut


" Sayang, kita harus menunda bulan madu kita. Bukankah terlalu banyak pekerjaan yang sudah kamu tinggalkan di kantor? kasian pak Andre, dia kesusahan mengurus semuanya seorang diri " Alma menarik selimut yang dikenakan suaminya


" Kamu kasihan pada nya bukan pada suami mu? " tanya Bryan kesal


" Ya ampun, kamu marah lagi? sudahlah ayo bangun, pergilah mandi, bersiap-siap lalu sarapan bersama ya " Alma menyambut pagi suaminya dengan senyuman hangat


Bryan pun beranjak dari ranjangnya dengan malas. Bryan tak mau pergi bekerja dan ingin nya bulan madu dengan istrinya. Akan tetapi pekerjaan yang menumpuk mengharuskan dirinya untuk pergi ke kantor. Rencana bulan madu pun harus ditunda.


Belum lagi orang yang ingin mencelakai Alma belum ketahuan siapa dalangnya, dan orang-orang Bryan secara diam-diam sedang mencari tau siapa dalang dibalik rencana racun itu.


Beberapa menit kemudian setelah Bryan selesai mandi dan bersiap-siap, Alma membantu suaminya itu untuk merapikan pakaian dan dasinya, ia juga menyisir rambut suaminya dengan penuh kasih sayang. Wanita itu memainkan rambut suaminya.


" Wah, mau bagaimana pun gaya rambut mu, kamu tetap terlihat bagus " Alma menyisir rambut suaminya


" tentu saja, aku kan tampan. Semua gaya akan cocok untuk orang tampan " Bryan tersenyum percaya diri


" Kebiasaan deh, narsis kamu itu tuh gak ilang ilang dari dulu " Alma terkekeh


" Bukannya itu daya tarik ku? makanya kamu suka sama aku?" tanya Bryan sambil meraih pinggul istrinya, membuat badan mereka berhimpitan


" Daya tarik apa nya? itu penyakit, penyakit!" tangan Alma beralih memasangkan dasi pada baju suaminya.


Bryan terus tersenyum memandangi wajah istrinya yang sibuk merapikan dasi. Bryan merasakan kasih sayang istrinya. Ia tidak menyangka bahwa setiap paginya kini akan disambut oleh seorang istri yang cantik rupawan. Mimpinya sudah terwujud, hidupnya sudah lengkap dengan kembali mendapatkan cinta dari istri dan kedua anaknya. Bryan berjanji akan selalu membahagiakan orang-orang yang sangat ia cintai itu.


Sebuah kecupan mendarat di kening Alma, membuat wanita itu menengadahkan kepalanya ke arah suaminya.


" Bry "


" Ciuman selamat pagi, istriku "


Alma tersenyum, kaki nya sedikit berjinjit lalu mencium pipi Bryan dengan manis.


MUACHH


" Ciuman selamat pagi juga suamiku "


Inginnya aku mencium keningnya juga. Tapi apalah dayaku, aku tak sampai. Bryan terlalu tinggi untukku.


" Wah sekarang Alma yang pemalu, jadi lebih berinisiatif ya "


" Kamu tidak suka? " tanya Alma sambil mengambil tas nya di ranjang


" Aku suka, tapi kamu kurang agresif. " goda Bryan pada Alma


" Hen-hentikan itu! ayo kita pergi sarapan " Alma terlihat malu


Bryan mengekori Alma yang pergi ke ruang makan, mereka pun duduk di kursi dan makan sarapan sederhana yang tersedia di meja. Setelah selesai sarapan, Alma mengepak barang-barang Bryan termasuk makan siang yang sudah ia buat untuk suaminya itu. Mengingatkan mereka pada masa lalu, dulu Alma juga selalu membuatkan bekal makan untuk Bryan.


" Terimakasih sayang, bekal cinta nya. "


Tuhan apa ini mimpi? jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku selamanya dari mimpi ini.


" I-iya, oh ya Bry hari ini anak-anak akan mulai pindah kemari kan? lalu siapa yang membawa barang-barang mereka "


" Anak buah ku yang akan melakukan nya, kamu tidak usah khawatir. Kamu bekerja saja, dan selalu kabari aku " tangan Bryan menyentuh pipi Alma


" Hem iya, kamu juga. Nanti siang aku yang akan jemput anak anak "


" Baiklah, tapi kamu akan ditemani pak Jeffry "


" Eh? kenapa? aku biasanya juga sendirian " Alma heran


" Tidak, mulai sekarang pak Jeffry akan menjadi supir mu sekalian menjaga mu juga. "


Aku juga sudah menambahkan 3 bodyguard untuk mengawasi Alma dan anak-anak secara diam-diam. Harusnya tidak ada masalah kan?


" Menjagaku? memangnya aku anak kecil apa


yang harus dijaga? " tanya Alma


" Tentu saja kamu harus dijaga, karena kamu adalah orang yang sangat berharga bagiku. "


" Baiklah baiklah jika itu bisa membuatmu tenang "


Kenapa aku merasa Bryan sedikit aneh? aku baru ingat kalau dia terlihat lebih protektif padaku dan anak-anak saat hari pernikahan kami. Ada apa sebenarnya?


Pak Jeffry sudah standby di depan rumah Bryan untuk mengantar Alma ke kantor. Sedangkan yang bertugas mengantar si kembar ke sekolah adalah Hanan, seorang bodyguard sekaligus menjadi supir di rumah keluarga Aditama.


Alma tak lupa mencium tangan suaminya seraya berkata " Sayang, aku berangkat dulu ya "


" Iya, kabari aku kalau ada apa-apa. "


" Iya, kamu juga "


Alma melangkah menuju ke dalam mobil. Tapi Bryan menghentikan nya, ia memberikan ikat rambut pada Alma, menyuruh Alma untuk mengikat rambut nya.


" Tapi aku sengaja menggeraikan rambutku, kenapa malah menyuruh ku mengikat nya?" tanya Alma sebal


" Ikat saja! mulai sekarang jika kamu pergi ke kantor atau keluar rumah, kamu harus selalu mengikat rambutmu. " ucap Bryan tegas


Ini sangat menganggu sekali, Alma terlihat sangat cantik jika menggerai rambutnya. Aku tidak boleh membiarkan pria lain melihatnya seperti itu. Kecantikan istriku, hanya milikku.


" Oke, ikat rambut kan?" Alma mengambil ikat rambut dari tangan Bryan dan mengikat rambutnya. " sudah selesai kan "


" sial! aku bisa gila, mau seperti apapun gaya nya tetap saja dia menawan " gumam Bryan kesal


" Bryan kamu bilang apa?" tanya Alma yang tak mendengar jelas gumaman suaminya itu.


Bryan meraih pinggang Alma, membenamkan bibirnya pada bibir Alma. Sehingga warna lipstick nude milik Alma, membekas di bibir Bryan.


Pak Jeffry langsung tersenyum malu-malu saat melihatnya.


Huhu, aku jadi rindu istriku di rumah. batin Pak Jeffry


Alma malu karena menyadari pak Jeffry yang masih berdiri di belakangnya dan mungkin pria yang sudah mulai tua itu melihat kemesraan pengantin baru.


" Bryan, apa yang kamu lakukan?! kamu sudah gila ya?" Alma mendorong suaminya dengan pelan


" hum rasa stoberi, lipstik mu rasa stoberi " Bryan tersenyum menggoda istrinya dan menyeka bekas lipstik di bibir nya


" Aish sudahlah, aku mau berangkat " Alma masuk ke dalam mobil dan tampan sebal dengan suaminya itu.


Kamu selalu saja membuatku malu malu seperti ini. Dasar.


Bryan tersenyum puas melihat wajah merah istrinya. Seperti nya Bryan sudah gila karena wanita itu.


****


Alma dan Bryan pergi ke kantor mereka masing-masing dan mengerjakan pekerjaan mereka seperti biasanya. Rutinitas sehari-hari mereka yang sibuk di kantor.


Siang nya, Alma menyempatkan waktunya untuk menjemput si kembar, padahal tidak bertemu sehari saja dengan anak-anak nya ia sudah merasa rindu.


***


Sore itu Alma ditemani Viona sekretaris nya pergi dan bertemu dengan Gerry di sebuah apartemen untuk membicarakan masalah desain.


" Apa Bu Alma yakin disini tempat pertemuan nya?" tanya Viona ragu-ragu


" Iya, pak Gerry sih bilangnya begitu "


" Entah kenapa saya merasa ini tidak benar Bu. Masa pertemuan bisnis dilakukan di apartemen pribadi " jelas Viona curiga


Ya, aku juga merasa heran dan bingung kenapa pak Gerry memintaku bertemu disini. Tapi, karena pak Gerry kenal dengan pak Mike dan Bu Sharla, pasti dia orang baik dan tidak akan berbuat macam-macam.


" Tidak akan terjadi apa-apa, kamu tenang saja " Alma tersenyum


Ting !


Lift berhenti tepat di lantai 4 apartemen itu, Alma dan Viona keluar dari lift dan mencari kamar tempat Gerry berada.


" Nah ini bu, nomor 508 " ucap Viona sambil melihat papan nomor di pintu


" Iya kamu benar " jawab Alma


Bismillah! semangat Alma, tidak akan terjadi apa-apa.


Alma dan Viona mengetuk pintu kamar itu ,tak berlangsung lama Gerry sendiri langsung membuka pintunya. Menyambut Alma dan Viona untuk segera masuk ke dalam kamar apartemen nya.


Alma dan Viona berbicara sopan dan profesional seperti biasanya. Namun, entah kenapa Gerry tidak tampak seperti biasanya. Gerry yang biasanya to the poin, hari itu banyak berbasa-basi. Gerry seperti sengaja membuat waktu Alma disana menjadi lebih lama, bahkan hari pun sudah mulai gelap.


" Aduh duh, masa datang datang langsung bicara bisnis sih. Mari kita minum dan makan cemilan dulu saja. Anda masih punya banyak waktu kan Bu Alma?" tanya Gerry sambil tersenyum


" Iya baiklah pak " jawab Alma


Alma tidak curiga pada tingkah Gerry yang berbeda dari biasanya. Ia memakan dan meminum minuman yang ada disana dengan santainya.


Mereka hanya berdua di dalam apartemen itu karena Viona turun ke lantai bawah untuk mengambil berkas yang tertinggal di mobil Alma.


Viona sampai di dalam mobil Alma dan mengambil berkas, Pak Jeffry ada disana standby menunggu Alma.


" Apa sudah selesai rapat nya Bu Viona?" tanya Pak Jeffry


" belum pak, saya lupa mengambil berkasnya. Saya akan segera pergi ke atas " Viona terlihat resah


Tidak akan terjadi apa-apa kan pada Bu Alma? tidak mungkin pak Gerry punya niat jahat pada Bu Alma kan? tapi kenapa tatapan dan senyuman nya hari ini sangat berbeda pada Bu Alma?


" Ada apa Bu Viona?" tanya Pak Jeffry cemas melihat keresahan di wajah Viona


🍂🍂🍂


Apartemen Gerry.


" Pak, seperti nya saya harus pergi " Alma memegang kepalanya.


Kenapa kepalaku pusing sekali?


" Oh kenapa? kita kan belum selesai bicara. Bu Alma, apa anda sakit?" tanya Gerry sambil menyentuh tangan Alma. Alma menepis tangan Gerry.


Tubuhku, kenapa terasa panas ketika disentuh olehnya. Ada apa ini? aku harus menelpon Bryan.


" kita bicarakan ini nanti saja, ya pak "


Kenapa ponselku tidak ada di tas? kemana ya?


" Kenapa harus buru-buru Bu Alma?" tanya Gerry sambil tersenyum sinis


Alma merogoh ponselnya di tas, namun ia tak kunjung menemukan nya. Setelah itu Alma kehilangan kesadaran nya, dan jatuh ke sofa. Gerry tersenyum menyeringai melihat wanita yang tidak sadarkan diri itu.


...---***---...